Monthly Archives

August 2017

    Ngomong Sendiri

    Rasanya Jadi Artis

    Beberapa kali orang bilang begini di kolom komentar sosial media gue. Entah itu Instagram atau YouTube:

    Git, cepetan balik ke Jerman lagi, ya! Kalau lo menetap di Indonesia, nanti lo jadi artis.

    Mungkin konotasi “artis” itu agak meh sekarang. Karena seperti yang kita lihat tayangan di TV jarang ada yang bermutu. Bahkan sekarang pun ada tayangan yang dikhususkan supaya orang-orang miskin bisa membayar hutangnya, dengan mikrofon. Begitu juga dengan sinetron. Hmm, kalau soal ini nggak usah dibahas lah, ya.

    Tapi siapa yang sangka, jadi “artis” dan lalu-lalang di NET TV setiap hari Minggu pagi ternyata adalah salah satu highlight dari kepulangan gue ke Indonesia kali ini.

    Alhamdulillah gue mendapat kesempatan untuk bisa memandu salah satu liputan, Halal Living namanya. Liputan ini adalah bagian dari program Indonesia Morning Show. Jujur, waktu gue diajak untuk jadi host untuk salah satu programnya NET TV, gue senengnya bukan main. Karena lagi-lagi gue dapet kesempatan untuk melakukan satu hal yang belum pernah gue kerjakan sebelumnya. Gue nggak punya pengalaman jadi host, hanya sebatas sebagai narasumber. Itupun hanya satu sampai dua segmen. Spiel dalam membuat liputan pun gue nggak tau. Apa yang harus dipersiapkan dan apa yang harus dilakukan? I had zero idea. Tapi menjadi Gita di umur 25 tahun adalah Gita yang nggak mikir bisa atau nggak. So, I was like, “let’s do this!”.

    Untuk yang nggak tau apa itu Halal Living, pada dasarnya itu adalah liputan mengenai daerah-daerah di Indonesia. Selain membahas tentang budaya, kuliner, dan tempat-tempat wisatanya, di sana dibahas juga tentang jejak Islamnya. Biasanya kita membahas masjid yang terdapat di wilayah tersebut.

    Intinya, menjadi host Halal Living ternyata dituntut untuk banyak baca sebelum liputan. Karena begitu lah fungsi host, yaitu menyampaikan atau mengulik apa yang ingin diliput untuk dikonsumsi oleh penonton. Kita harus tau apa yang kita bicarakan, supaya ketika ingin improvisasi pun nggak asbun. Kita juga harus banyak bertanya dan ngobrol sama narasumber, biar “tek-tok” ketika bagian chit-chat nya natural. Plus, buat nambah-nambahin info liputan. Karena selengkap-lengkapnya Wikipedia, pasti warga lokal lebih tahu. Yes, ternyata jadi “artis” itu nggak gampang. Harus banyak baca dan belajar sebelum on camera. Harus selalu aktif otaknya walaupun badan lagi kecapean karena selalu kurang tidur.

    Liputan pertama yang gue lakukan kebetulan di kota Makassar, bareng sama Hamidah. Hanya dalam 5 hari liputan, gue belajar banyaaaaaaaaaaaakkkk banget tentang kota ini. Gue belajar tentang Pelabuhan Paotere yang dulu ternyata adalah tempat parkirnya kapal Phinisi di zaman kerajaan Gowa. Gue belajar tentang Benteng Somba Opu yang ternyata dulu sempat rusak terkena ombak pasang. Gue juga belajar ternyata membangun benteng di zaman dulu hanya pake putih telur sebagai perekat bebatuannya. Ketika liputan gue juga baru tahu kalau Masjid Raya Makassar dulu dibangun tahun 1949 dan hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 1,000,000.-. Dan yang paling menarik adalah gue bisa bertemu dengan binatang endemik Sulawesi Selatan yang ternyata langka, Makaka Maura.

    Apakah gue akan tau hal-hal tersebut tanpa gue memandu liputan ini? Belum tentu. Kepikiran untuk baca-baca soal Makassar aja pasti gue males banget. Mungkin yang terpikir adalah gue pingin makan Sate Padang Ajo Ramon, mumpung gue lagi di Jakarta.

    Maka dari itu gue bersyukur banget bisa jadi “artis”, apalagi di acara liputan yang mengharuskan gue untuk mengulik bahan. Walaupun liputan serius, tapi ternyata di lapangan orang-orangnya seru-seru banget: Reporternya (halo Lia!), Campers-nya (camera person), Drivernya. Dari mereka gue bisa denger cerita-cerita suka dan duka kerja di pertelevisian. Cerita yang gue nggak pernah denger sebelumnya, karena gue nggak pernah ketemu sama orang yang kerja di TV. Terus sekarang sedikit-sedikit gue jadi tau proses pembuatan suatu liputan. Di TV hanya ditayangkan belasan menit, tapi ternyata prosesnya memakan waktu berhari-hari. Belum lagi sebelumnya harus ada proses mengajukan tempat buat diliput, meriset item-item liputannya. Intinya yang kita lihat outcome-nya sederhana, sebenarnya ada banyak sekali malam yang dilalui tanpa tidur oleh orang-orang di balik layar.

    Nah, kalau ada orang-orang yang kecewa gue di Indonesia masuk TV mulu, doi nggak tau aja gimana bersyukurnya gue bisa dapet kesempatan kayak gini. Karena doi nggak tau berapa banyak ilmu baru yang gue dapet :p