Monthly Archives

November 2017

    Ngomong Sendiri

    Cuitan Subuh

    Kepeningan pagi ini dipersembahkan oleh lini masa Twitter seorang anak kuliahan belasan tahun.

    Bukan cuma sebagai tempat gue membagikan banyak hal, media sosial juga selalu gue gunakan untuk mengobservasi. Walaupun ujung-ujungnya selalu sama, selalu pening, tapi gerak-gerik manusia itu—nggak tau kenapa—punya daya tarik sendiri buat gue. Jujur, gue nggak tau apa yang akan gue lakukan di sela-sela waktu jika gue nggak lagi diperbolehkan untuk mengobservasi manusia. Mungkin hidup gue akan hampa.

    Anyways, cuap-cuap di Twitter-nya kurang lebih sama kayak anak muda pada umumnya. Penuh dengan penggunaan kata-kata kasar seperti “goblok”, “tolol”, dan semacamnya, retweet akun-akun yang sefrekuensi dengan cara pikirnya (in terms of religion), selain itu sesekali si Mbak (yep, doi cewek) nge-tweet kalau dia ingin meneguk minuman keras atau sekedar merokok. Iya, tweets macam gini bisa gue bilang umum, karena udah sering gue temukan. Termasuk lini masa yang diwarnai dengan kata-kata kurang apik. Walau tiap kali gue baca, ada sensasi masam yang gue rasakan entah dari mana datangnya. Yang gue tau, itu lah yang gue rasakan tiap kali mendengar atau melihat sebuah kata yang kurang enak.

    Lantas gue berpikir, “Ketika gue masih remaja dulu, gue begini juga nggak, ya?”

    Gue yang remaja nggak jauh beda dengan Mbak ini. Suka berkata kasar dan suka sinisin agama sendiri, as you might already know. Karena gue sadar manusia itu berproses, bukan yang dari lahir langsung menjadi manusia berakhlak, gue berharap si Mbak—di perjalanan kehidupannya—akan bertemu dengan orang-orang sholeh dan sholehah yang bisa membantu dia untuk jadi manusia yang baik di mata Tuhannya (btw, Mbak ini seorang muslim).

    Lewat Mbak ini juga gue diingatkan untuk banyak berdoa. Berdoa supaya gue selalu ditunjukkan jalan yang diridhoi Allah dan dijadikan hamba yang tunduk. Apalagi zaman sekarang, zaman di mana fitnah udah makin bertebaran, sepertinya berdoa bukan lah hal yang percuma untuk dilakukan.

    Zaman di mana fitnah udah makin bertebaran

    Hhh… Zaman di mana semua orang bisa self-proclaim kalo pemahaman agama dia lah yang paling benar, tetapi terlihat jelas bagaimana dia memelintir ajaran Allah. Ini baru manusia lho. Gimana Dajjal nanti? Yang lebih serem adalah, kita si manusia fakir ilmu, mengira dia manusia legit yang bisa serap ilmunya. Jeng… jeng… jeng… Alhasil kita termasuk orang-orang yang dipelintir pemahaman agamanya tanpa kita sadari. Tanpa kita sadari, kita semakin jauh dari kebenaran dan itu banyak terjadi di era digital seperti sekarang.

    Lantas gimana kita bisa tau mana yang salah dan mana yang benar? Satu, berdoa. Minta sama Allah untuk selalu ditunjukkan kebenaran. Minta sama Allah untuk didekatkan dengan hamba-hambaNya yang beriman. Minta sama Allah untuk dibukakan hati kita. Kedua, terus memperdalam agama. Belajar agama bukan untuk dicari dan dikritik kesalahannya, tapi karena kita si hamba yang nggak lebih dari butiran debu ini butuh guidance dari Tuhannya, butuh paham apa yang Tuhan minta.

    Baru lah beberapa tahun ini gue sadar betapa sulitnya mempertahankan iman. Baru lah gue sadar makin lama makin mengerikan dunia ini. Imam palsu, aliran palsu, gerakan dan pemahaman ini-itu yang digembar-gemborkan manusia modern, saling fitnah antara satu golongan dengan golongan yang lain, dan digembar-gemborkan pemahaman kalau setiap manusia bebas melakukan apa aja asalkan dia bahagia dan siapa lah kita sudah menghakimi dia, padahal kita tidak sesuci malaikat. Untuk hal satu ini, gue rasa tetap memberi batasan antara benar dan salah itu perlu. Biar nggak kebablasan manusianya, seperti yang kita lihat sekarang ini. Tapi entahlah, entah apakah gue akan tahan dengan tudingan “Elah, nyinyir aja lo, ny*t!”

    Mungkin sekarang ini yang berhak menyerukan kebaikan cuma yang memiliki gelar Ustadz. Ah, dikarenakan degradasi moral dan akhlak manusia, banyak tuh gue lihat orang-orang yang udah berani mencela pemuka agamanya. Padahal sekarang Rasulullah PBUH udah nggak ada. Siapa lagi yang bisa menasehati kita?

    Entahlah.

    Semoga sebagai muslim, kita selalu ingat bahwa hidup itu nggak bisa seenaknya.

    Semoga kita termasuk golongan yang bisa menikmati surga Allah, di zaman di mana makin banyak orang yang sudah muak dengan agama, di mana makin banyak orang yang merasa agama nggak bisa memberi aturan dan standar apapun dalam hidupnya.

    Semoga kita nggak pernah lelah untuk saling menolong dan mengingatkan dengan cara yang diajarkan Islam tentunya.

    Amin.