Monthly Archives

May 2019

    Ngomong Sendiri

    Black and White are My Favorite Color, But…

    Sejak awal pertama kali ditayangin di bioskop, entah udah berapa kali gue nonton film Avengers: Infinity War. I gotta admit, yang membuat gue akhirnya tergerak untuk nonton lagi dan lagi adalah adegan tiap kali satu per satu Avenger muncul. Gabungan antara background music tiap karakter yang berbeda-beda dengan cara kamera menyorot si Avenger tersebut bikin gue excited dan berasa lagi ada di Marvel Universe. Ditambah dengan cheesy punchlines yang mereka deliver, yang bikin gue makin lelompatan di dalam hati. It’s so cheesy, but apparently it works even for me.

    Tapi ada satu hal lain yang bikin gue merasa—walaupun ini film superhero yang biasanya gue anggap childish—patut diacungi jempol dalam menggali karakternya, Thanos. Thanos ini adalah contoh villain paling realistis dari film action super fiktif yang pernah gue tonton. Ehm, ketauan deh referensi film gue minim banget. But it’s true tho. I think at this point I’m pretty bored with the idea of Good vs Evil, White vs Black. Let’s call it simplification of someone or something. Karena walaupun itu film, paling nggak gue mau film itu punya sedikit taste of reality.

    Lewat karakter Thanos, para penonton Avengers dikasih lihat kalau sebenarnya nggak ada satu mahluk pun di dunia ini yang bisa kita kasih satu label. Bahkan seorang mahluk non manusia dari planet Titan aja nggak cukup dikasih satu label. Iya, Thanos memang jahat karena dia memiliki misi mau membumihanguskan 50% populasi alam semesta. Kalau kata Doctor Stranger, “Genocide.

    Tapi keinginannya untuk menghilangkan setengah mahluk hidup nggak semata-mata dia pingin membunuh aja. Thanos punya misi ingin memberikan keseimbangan sehingga mahluk-mahluk yang tersisa bisa hidup berkecukupan. Punya cukup tanah, cukup sumber makanan, cukup air, dan kecukupan lainnya. He wanted to save them and he would do anything for it. Even sacrificing his little one, Gamora. So, the question would be, is he actually plain evil? Or should we even root for Thanos? Because you know, over population is a real issue.

    Another close example to Thanos will be Hitler. Tenang, gue bukan tipe-tipe Muslim yang glorified Hitler karena dia membunuh Yahudi. I think it’s just pure evil. Tapi yang mau gue senggol di sini adalah ternyata salah satu manusia paling bengis yang pernah hidup di dunia adalah seorang vegetarian. Suatu praktik yang mungkin buat para SJW yang sangat concern dengan keprihewanan dan fakta bahwa industri daging adalah salah satu kontributor terbesar dalam emisi karbon, patut diacungi jempol karena Hitler ternyata woke enough untuk nggak mengikuti keegoisannya makan daging dan peduli pada lingkungan. Dan fakta bahwa Hitler nggak merokok dan minum alkohol mungkin juga di mata orang-orang judgemental yang beranggapan bahwa peminum alkohol dan perokok adalah orang-orang nakal, membuat Hitler terlihatnya nggak jahat-jahat amat (seandainya dia nggak ngebunuh orang).

    Ok, my point is manusia nggak sesimpel itu. Nggak manusia doang sih, EVERYTHING in this world is not that simple.

    Kenapa gue tiba-tiba nulis beginian? Seperti biasa, gue beberapa bulan ini kepikiran karena gue berulang kali melihat fenomena Black-and-White thinking di kehidupan kita. Dan itu ngerembet kemana-mana, salah satunya cancel culture.

    I would see some strangers talking about some famous person yang mereka cancel karena mereka pikir si famous person ini terlalu paradoksikal. Atau karena si famous person ini melakukan suatu keburukan tanpa mempertimbangkan kebaikan-kebaikan yang pernah atau sedang dia perbuat, dan itu terjadi sangat sering.

    Saking seringnya gue sering kali berpikir, orang-orang itu sebenernya punya ekspektasi apa sih terhadap manusia lainnya? Namanya juga manusia. We consist of many things and our standards of good and evil differ. Mau cari ke ujung dunia manapun juga nggak akan kita menemukan manusia yang tidak problematis. Karena pada dasarnya manusia memang ditakdirkan untuk menjadi problematis. Atau sebenernya para penggiat #cancelculture ini cuma ingin ikut-ikutan anak edgy internet zaman sekarang aja?

    Okay. Enough with people cancelling another people. Gue mau mengambil contoh konkrit untuk dibahas, yang kebetulan menjadi pelatuk untuk gue akhirnya membicarakan topik ini.

    Tadi pagi gue nonton salah satu video Hijab Alila yang berjudul Proud to be Feminist. Sebelumnya gue udah pernah nonton video mereka yang membahas tentang Illuminati. Hmm… About that illuminati video… I have A LOT to say but ended up not saying anything. Jujur, sampai sekarang gue sangat heran apa yang membuat mereka merasa harus membicarakan tentang teori konspirasi, lalu di-cocoklogi-kan sama agama. Buat apa? Tujuannya apa? Visi dan misinya apa? Namanya aja TEORI konspirasi. TEORI… TEORI… TEORI… Ah, sudahlah. Sangat disayangkan sebenernya. Padahal di video-video mereka yang lain paling nggak pembahasannya masih bisa didiskusikan untuk kemudian dicari jalan tengahnya.

    Kali ini Hijab Alila membahas tentang feminisme, karena isu feminisme ini memang lagi marak di tengah-tengah masyarakat kita. Apalagi setelah banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap (mostly) perempuan, anak kecil, dan penyandang disabilitas, yang nggak langsung diusut tuntas oleh pihak berwajib. Ditambah masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih sangat patriarki, tapi nggak sadar mereka udah terjerumus sangaaaaaaat jauh ke lubang patriarki tersebut. So messed up right? It reminds me of The Sunken Place on Jordan Peele’s movie “Get Out”.

    Semua itu menambah buruk rape culture yang udah bertahun-tahun mendarah daging di masyarakat kita. Lebih parahnya lagi, kultur patriarki tersebut sering disangkutpautkan sama agama Islam yang sebenernya dalam hal ini cukup innocent.

    Menurut gue pribadi, wajar aja akhirnya banyak yang gerah dan menuntut perubahan. Wajar aja akhirnya banyak dari kita yang merasa feminisme harus ditegakkan. Sekarang makin banyak perempuan yang sadar gimana selama ini kita sebenarnya nggak terlalu diikutsertakan di kehidupan bermasyarakat. Bagaimana perempuan selama ini selalu jadi objek pembicaraan, tapi jarang menjadi subjek yang membicarakan.

    Cuma… Bukan Muslim Indonesia namanya kalau nggak oversimplifying sesuatu. Baru-baru ini muncul akun macam @indonesiatanpafeminis yang menolak paham feminisme karena katanya nggak sesuai dengan syariat Islam. Mulai banyak ustadz-ustadz yang membahas tentang bahaya feminisme karena katanya itu adalah paham barat. Nggak jarang juga ada yang mencoba untuk nyeret-nyeret teori konspirasi ke pembahasan feminisme, berkata bahwa kata “feminisme” sendiri berarti “kurang iman”.

    Di video Hijab Alila tersebut, salah satu narsum menyatakan bahwa dirinya adalah mantan feminis. Lalu dia akhirnya mundur dari feminisme karena merasa konsep LGBTQ tidak sesuai dengan dirinya, seorang Muslim. Ada yang bilang ke dia bahwa inti dari feminisme adalah dukungan atas komunitas LGBTQ dan jika dia tidak mendukung, dia tidak bisa menyatakan bahwa dirinya adalah feminis. Menjadi sesuatu itu tidak boleh setengah-setengah, katanya.

    Dari pernyataan beliau di atas lagi lagi gue melihat fenomena yang sama, yang marak terjadi pada manusia di kehidupan sosial kita, Black-and-White thinking and oversimplification of one issue.

    Basis dari feminisme adalah mendukung kesetaraan. Bukan membenci laki-laki, tapi patriarki. Bukan ingin sama atau bahkan lebih dari laki-laki, tapi ingin disetarakan, didengarkan suaranya, diakui keberadaannya, dan diberi kesempatan untuk terlibat di dinamika kehidupan. Inget, ya. Setara, bukan sama. Kalau masih ada yang berargumen feminis itu hipokritikal karena teriak-teriak minta kesetaraan tapi giliran disuruh kerja berat nggak mau, ogut sentil nih lambenya.

    Gerakan awal feminisme sendiri cukup rasis karena nggak melibatkan atau bahkan mengakui isu-isu perempuan yang dialami women of color. Maka dari itu feminisme gelombang ketiga dan seterusnya mencoba untuk lebih intersectional. Sekarang WOC dilibatkan, perempuan LGBTQ juga dilibatkan. Karena nyatanya ada banyak nuances dan intricacies di dalam komunitas perempuan itu sendiri dan kita memang harus mengakui adanya layers of oppression yang dihadapi banyak perempuan.

    Buat gue, ini logika yang mudah. Karena keputusan untuk melibatkan, mendengarkan, dan merangkul kaum marjinal adalah asas kemanusiaan. Dan paham feminisme secara garis besar merangkum itu. Bahwa perempuan, apapun latar belakangnya, jika dia mengalami diskriminasi maka harus dibantu.

    Dan jika si narsum dalam video Hijab Alila ini sangat gusar dengan posisinya pada waktu itu sebagai wanita Muslim feminis terhadap LGBTQ, kita memang nggak pernah dituntut selalu menerima konsep suatu kaum. Kita punya hak untuk setuju dan tidak setuju. Yang dituntut dari kita adalah menghargainya. Dengan menghargai aja sebenarnya adalah alasan yang lebih dari cukup untuk kita akhirnya juga melindungi mereka dari segala bentuk diskriminasi yang ada.

    Seorang Muslim melindungi tetangganya yang beragama Kristen, bukan berarti si Muslim setuju dengan agama tetangganya. Seorang Muslim melindungi temannya yang gay, bukan berarti dia setuju dengan LGBTQ. It’s about humanity. Your solidarity and humanity should not be selective.

    Seringkali kita juga agak takut untuk memberi banyak label ke diri kita. Terlebih jika kita adalah seorang Muslim. Jika kita seorang Muslim, lantas kita nggak bisa mengadopsi ideologi lain di luar kerangka Islam. Seorang Muslim nggak bisa menjadi seorang feminis walaupun ideologi tersebut sebenarnya selaras dengan ajaran agama. Begitu, sih, narasi yang sering gue dengar di komunitas Muslim mainstream.

    Walaupun begitu sebenarnya gue sangat bisa mengerti ketakutan beberapa Muslim akan kata “feminisme”. Karena gue dulu juga begitu. Pertanyaan gue juga sama, “Kenapa gue harus mengadopsi pemikiran lain jika Islam udah mengatur semua?

    But here is the thing tho, Islam itu sangat sempurna, tapi apa yang terjadi di komunitas Muslimnya sendiri seringkali tidak. Termasuk dalam isu perempuan dan kesetaraan gender. Islam sangat memuliakan perempuan. Tapi seringkali praktik di dalam komunitas Muslimnya melenceng jauh dari teori. Bahkan ayat-ayat di Quran tentang perempuan yang sebenarnya bersifat melindungi, seringkali dijadikan senjata oleh mereka yang berada di lubang patriarki untuk menyerang perempuannya.

    Dari kacamata gue, banyaknya orang-orang Muslim yang merasa “Islam” dan “Feminisme” tidak kompatibel adalah karena culturally ada gender roles di tengah-tengah kita, yang mengindikasikan non eksistensi kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan di dalam Islam. Iya, bukan karena Islam-nya. Tapi karena kultur. Karena gender roles yang hadir di tengah-tengah masyarakat sedari dulu kala.

    Dalam berpakaian contohnya. How Muslim women should dress are heavily discussed, that we tend to ignore that Quran also mentioned how Muslim men should dress. We as society usually do not scrutinize a Muslim man who wears shorts. We also do not scrutinize a Muslim man who wears thin t-shirt revealing his awrah.

    It’s always the women. It has always been and always will be. We objectify women so much even in our discussion that we forgot to focus on the main thing. Bahkan pada kasus kekerasan sosial. What would then happen is what usually happened when a woman got sexually harassed or raped. People would ask what dress she was wearing. We are not interested in how she felt, what kind of help she needs. But we ask what damn dress she was wearing.

    Diskusi berlebihan tentang cara berpakaian dan bahkan fitrah perempuan Muslim ini lah yang menurut gue membuat kesan bahwa Islam sangat oppresive kepada perempuannya. Padahal seperti yang gue bilang di atas, Islam sangat innocent dalam hal ini karena Islam sarat akan nilai-nilai kesetaraan gender. Sementara tidak dengan Muslimnya.

    Gue nggak melihat di mana alasan kita untuk lantas tidak bisa mengadaptasi keduanya karena gue pribadi nggak takut untuk mengadopsi berbagai ideologi. In my opinion, it is necessary to bring feminism to the table to remind the Muslim community of further discussion of this topic. Untuk menyadarkan bahwa sering kali kita bawa-bawa agama untuk menjustifikasi kultur patriarki kita. Kalau gue boleh quoting Maslaha, “Feminism in Islam is not then an attempt to import ‘alien’ values in Islam; it is a rediscovery of what is already there and a reclamation of faith.

    What matters is, being a Muslim and feminist does not contradict each other. Both ideologies advocate equality and oppose gender discrimination. So, for you people out there who hate to be paradoxical, it’s a good thing, right?

    Last thing I want to add; Melihat sesuatu dengan menggunakan kacamata hitam dan putih memang bisa memudahkan kita dalam melihat apa yang ada di sekitar kita. Tapi kenyataanya manusia dan dunia nggak sesimpel itu. Try to see things the way they are, not the way we want them to be.

    So, please stop being denial dan berargumen bahwa Islam sudah sempurna dalam mengatur isu gender antara laki-laki dan perempuan. Being denial would hinder us from having important conversations, from solving the problem and from improving ourselves as religious community. Iya, Islam memang sempurna. Tapi tidak dengan Muslimnya.