Monthly Archives

February 2020

    Ngomong Sendiri

    Di Mana Aku Di Sini

    Beberapa hari yang lalu gue mengunggah video sesi tanya jawab di kanal YouTube gue. Salah satu pertanyan yang gue jawab di sana, yang kebetulan sering sekali dilayangkan netizen, adalah apakah di kemudian hari gue akan pindah negara untuk ditinggali.

    Beberapa bulan belakangan ini muncul rasa bosan terhadap Jerman. Sepertinya karena negara ini agak katro kalau soal makanan, musik, kultur, dan hal-hal yang buat gue tertarik. Salah satu alasan kenapa gue senang sekali bolak-balik Amerika Serikat yang lebih memberikan gue keseruan lewat orang-orangnya yang ekspresif dan easy going, lewat makanannya yang variatif, lewat industri musik dan perfilmannya yang lebih menarik. Negara kapitalisme itu memang pintar menggoda. Tapi satu hal yang masih menahan gue dari hijrah ke sana adalah sistem negaranya yang nggak jelas. Semua hal dipersulit. Dicari celahnya di mana supaya para pengusaha bisa mendapatkan keuntungan. Memang soal mentalitas untuk menjunjung tinggi kemaslahatan bersama, Jerman adalah salah satu yang juara. Negara ini jelas nggak sempurna. Tapi paling tidak jauh lebih baik ketimbang banyak negara lain yang pernah gue kunjungi.

    Di video tanya-jawab tersebut gue menyebutkan bahwa tinggal di Indonesia adalah pilihan terakhir dan itu adalah fakta. Yang menarik adalah respon beberapa orang atas fakta ini, yang bikin gue jadi pingin misuh-misuh dan berbincang soal ini.

    Tahun ini akan jadi tahun ke sepuluh gue tinggal di negeri Panzer. Nggak berasa. Kayaknya baru kemarin gue sampai di Bandara Tegel Berlin bersama Nyokap dan Adik, dijemput oleh Tante Elly. Sepertinya baru kemarin gue sibuk les Bahasa Jerman setiap hari dan mempersiapkan diri untuk tes Studienkolleg. Rasanya baru kemarin gue mendapatkan surat pengumuman penerimaan universitas. Entah karena memang mau kiamat atau hari-hari gue di Jerman sangat produktif sehingga gue nggak sempat lagi menghitung detik demi detik yang lewat begitu saja.

    Selama hampir 10 tahun itu pula banyak sekali orang-orang yang bertanya apakah gue suatu saat akan kembali ke Indonesia. “Banyak” di sini maksudnya gue mendapatkan pertanyaan tersebut dari 90% orang yang gue temui saat dia tau di mana gue berdomisili. Alasan pertanyaan ini biasanya ada dua: 1. Mereka memiliki persepsi bahwa Indonesia adalah rumah gue; 2. Sebagai orang yang masih berpaspor hijau, gue memiliki kewajiban moral untuk mengabdi kepada negara.

    Gue masih bisa mengerti alasan pertama. Sebagai masyarakat yang tidak memiliki budaya merantau yang besar, definisi “rumah” a la orang Indonesia itu cukup hitam-putih. Di mana kamu lahir dan tumbuh besar, di situ lah rumahmu. Tentu nggak semua orang berpikir seperti ini. Jadi jangan balas narasi ini dengan argumen, “Nggak semua orang mikir kayak gitu.”

    Kalau nggak salah gue pernah menulis di buku Rentang Kisah dan bahkan membuat satu video khusus didedikasikan kepada tema satu ini: Apa arti rumah untuk seorang Gita? Jawabannya masih sama seperti yang sudah-sudah, di mana gue merasa nyaman, gue akan sebut itu sebagai rumah. Nah, kenyamanan ini lah yang menurut gue sangat personal yang sayangnya nggak dimengerti oleh sebagian orang yang protes waktu gue bilang gue nggak ingin tinggal di Indonesia.

    Ada orang yang mendapatkan kenyamanan dari muka-muka yang familiar. Indonesia dianggap rumah oleh sebagian orang karena di sana lah keluarganya tinggal. Di sana ada teman-teman masa kecilnya dan sahabat-sahabatnya. Hal itu pun gue rasakan. Gue merasakan kenyamanan ketika gue dikelilingi orang-orang terdekat.

    Ada pula orang-orang yang menganggap Indonesia nyaman karena terbiasa dengan kehidupan orang-orangnya. Terbiasa melihat gerobak Mie Ayam di pinggir jalan yang banyak disantroni orang. Terbiasa melihat tukang parkir Indomaret yang tiba-tiba muncul ketika kita mau melipir. Terbiasa melihat motor-motor yang langsung putar balik manakala ada polisi di depan sana yang udah nungguin mereka karena mereka berada di jalur Trans Jakarta. Terbiasa berada di budaya kerja lembur tiap hari sehingga nggak mendapatkan work-life balance sampai sering lelah. Terbiasa melihat pengendara sepeda motor yang menyerobot palang kereta api seakan-akan dia adalah manusia yang paling buru-buru di dunia. Hal-hal tersebut sudah biasa ditemui di sekitar sehingga menimbulkan kenyamanan. Nggak semua hal tersebut positif dan benar untuk dilakukan, tapi kita terbiasa dengan hal tersebut.

    Buat gue, kenyamanan bukan sekadar dikelilingi oleh orang tua, sanak-saudara, ataupun teman. Sebagai orang yang cukup individualis, gue bisa membuat diri gue nyaman walaupun harus jauh dari mereka. Bukan karena nggak sayang, tapi kebetulan gue bisa membungkus hati gue rapat-rapat supaya bisa berhenti meromantisasi itu semua. Semacam “I love y’all but I need my space.”. Beda cerita jika gue punya rumah sendiri di Jakarta, gue akan memiliki ruang khusus untuk diri gue sendiri (dan suami gue tentunya). Paling tidak gue mendapatkan waktu di mana gue bisa detached dari orang-orang sekitar dan mendapatkan inner peace tersebut. Kebetulan gue bukan orang yang suka berbagi ruang bahkan dengan keluarga gue sendiri dan perlu gue tekankan di sini bahwa keinginan memiliki ruang sendiri dan rasa sayang terhadap keluarga bukan dua hal yang mutually exclusive.

    Sayangnya gue nggak ada uang milyaran untuk tinggal sendiri di tengah kota di mana hal tersebut akan mendukung gaya hidup dan pekerjaan gue yang cukup mobile. Sementara itu gue nggak mau tinggal di lokasi-lokasi luar Jakarta karena bolak-balik setiap hari akan makan waktu yang cukup banyak. Gue nggak mau tua di jalan. Menghabiskan waktu satu jam di dalam kendaraan cukup bikin gue berasa madesu. Gue juga nggak punya kesabaran ekstra untuk berurusan dengan beribu macam orang yang nggak semuanya punya common sense dan patuh pada peraturan.

    Merantau adalah hal yang biasa dilakukan oleh warga dari yang dulunya pernah ada perang atau mereka yang berasal dari negara berkembang. Filipina, Somalia, Modern day Bosnia, Vietnam, Thailand, Suriah, Palestina, Armenia, Eritrea, dan masih banyak lagi. Salah satu alasan para perantau meninggalkan negaranya adalah karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Hal ini sangat bisa dimengerti. Gue dan banyak perantau lainnya memutuskan untuk pindah negara karena kami ingin mendapatkan kesempatan yang lebih. Opportunity to learn, to thrive, to find comfort, to find peace.

    Hal ini yang mungkin sulit dimengerti oleh orang-orang yang seumur hidupnya menetap di satu tempat saja. Nggak ada pengalaman pribadi yang membuat mereka mengerti, mengapa seorang perantau memilih untuk tinggal di negara baru tersebut seakan-akan melupakan negara asalnya. Lucunya, berdasarkan hasil observasi pribadi, hal ini lebih terjadi antar orang Indonesia. Teman-teman gue yang berasal dari negara lain selalu gue tanyakan apakah mereka ada keinginan untuk pulang dan membangun negaranya. Jujur nggak sedikit yang menganggap pertanyaan gue ini absurd. Bisa gue pahami, mungkin mabuk nasionalisme nggak santer terdengar di tengah-tengah mereka. Nggak banyak narasi soal ini beredar, di mana mereka memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi kepada negaranya. Cuma di Indonesia, orang-orangnya disuruh memberikan sesuatu kepada negara, disuruh berbuat sesuatu agar bisa jadi warga yang baik. Yang lebih lucunya lagi, nggak jarang orang-orang yang julid kepada perantau yang menolak pulang juga bukan warga negara yang baik. Sering nggak bayar pajak, melanggar aturan-aturan, hidupnya pun seenaknya dhewe.

    Faktanya, Indonesia belum memberikan gue kenyamanan yang gue inginkan. Gue nggak nyaman dengan udara kotor yang harus gue hirup setiap hari. Gue nggak nyaman dengan lambannya pergerakan orang-orang sehari-hari. Gue nggak nyaman dengan segala keabsurdan yang sering dilakukan pemerintah. Gue nggak nyaman dengan banyak manusianya yang belum sadar akan isu sosial. Gue nggak nyaman dengan banyak manusianya yang senang mengintrusi kehidupan privat orang lain. Gue nggak nyaman dengan banyak manusianya yang nggak bisa menghargai pilihan hidup orang lain. Gue nggak nyaman dengan banyak hal dan itu lah yang gue rasakan. Gue nggak bisa menyembunyikan pendapat tersebut, menganggap baik negara gue padahal ada banyak hal yang gue permasalahkan atas itu semua. Gue belum nyaman dengan negara asal gue untuk tinggal di sana selamanya. Di sini gue pakai kata “belum”, karena gue masih ada harapan bahwa negara gue entah kapan bisa menjadi seperti yang gue impikan. Selain itu gue pun sadar ada zat yang lebih besar, yang memiliki hak membentuk takdir gue kelak di masa depan, ke mana pun nantinya gue harus kembali.