Monthly Archives

April 2020

    Ngomong Sendiri

    Balada Seorang Anak

    Salah satu hal yang paling berkesan dalam menjadi dewasa adalah melihat sisi lain dari orang tua gue. Semenjak dewasa, perlahan-lahan gue sadar bahwa orang tua bukan lah sosok yang sempurna. Perlahan-lahan gue sadar bahwa mereka punya banyak kekurangan dan banyak melakukan kesalahan.

    Dulu gue beranggapan bahwa Nyokap gue adalah orang yang cerdas, kritis, dan kuat. Kemudian setelah gue beranjak dewasa baru gue sadar bahwa Nyokap gue ternyata nggak secerdas itu. Ternyata dia bisa terperangkap oleh mulut manis Mbak-Mbak multilevel marketing dan membeli suplemen propolis mahal yang nggak tau gimana khasiatnya. Nyokap gue ternyata nggak sekritis yang gue bayangkan. Ternyata dia bisa diombang-ambing dengan politik dikotomi Cebong-Kadrun dan ngirimin gue video-video atau pesan berantai WhatsApp yang sangat provokatif, yang nggak jelas benar atau tidaknya.

    Nyokap gue memang kuat. Tapi setelah gue dewasa, baru lah gue sadar dia sebenarnya hanya cakap dalam terlihat kuat. Dia bisa tetap maju nggak gentar menerobos rumitnya kehidupan sembari menggendong dua anak perempuannya. Namum dia nggak sekuat dan seberani itu untuk mengakui bahwa dia hanyalah manusia biasa dan butuh pertolongan. Dia nggak seberani itu untuk bilang bahwa dia nggak selalu bisa kuat. Setelah gue dewasa, baru lah gue sadar kalau Nyokap salah dalam mengartikan kata “kuat” yang sesungguhnya.

    Gue masih inget waktu pertama kali gue dihadapkan dengan sisi lain kedua orang tua gue. Rasanya nggak percaya dan jujur, ilfeel. Kayak dibohongin. Bayangin aja. Selama ini gue habiskan hidup gue bareng mereka. Hampir 24 jam dalam sehari gue bareng-bareng dengan mereka (ehm, kecuali Bokap gue sih. But you get the point). Tapi ternyata sepanjang waktu tersebut nggak cukup untuk gue mengenal orang tua gue sendiri.

    Rasanya tuh campur aduk banget. Aneh, tapi gue butuh waktu untuk mencerna sosok mereka di dalam pikiran gue. Mencerna lagi gimana hubungan gue dengan mereka selama ini. Gue mulai mundur perlahan dan kembali mengamati dari jauh. Kadang-kadang mendekat lagi. Kayak main tarik-ulur. Tujuannya adalah untuk kemudian menerima bahwa orang tua, walaupun mereka adalah orang yang melahirkan gue, membesarkan gue, yang selama ini gue jadikan contoh dan panutan, adalah manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan.

    Dan setelah menyadari ini semua, gue jadi makin lelah dengan narasi bahwa anak nggak boleh berbicara hal negatif sedikit pun tentang orang tua. Bahkan mengakui kenyataan bahwa orang tuanya banyak kurangnya pun nggak bisa, tanpa dibayang-bayangi oleh konsep “Anak durhaka”. Padahal kita sangat mampu untuk merasakan segala liku-liku dan kompleksitas hubungan darah tersebut, bahwa seorang anak bisa menghormati orang tuanya DAN mengakui bahwa mereka banyak melakukan hal yang nggak menyenangkan entah itu terhadap orang lain maupun terhadap si anak.

    Gue berbicara sebagai anak dari orang tua yang jauh dari kata sempurna. Gue nggak mau banyak bicara tentang Bokap gue karena gue nggak merasa dekat dengan dia. Nyokap gue adalah Ibu yang, for lack of better word, rada nganeh.

    I grew up “tip toeing”, watching the shift of moods of my mother. Dari gue kecil, gue harus selalu pasang kuping, belajar membedakan langkah kaki anggota keluarga gue, dan mendengarkan secara seksama langkah Nyokap. Entah gimana, dari langkah kakinya gue bisa tau kalau Nyokap lagi biasa aja atau lagi marah. Dan tau nggak bagian yang paling fucked up? Pendengaran gue sekarang tajam banget. Gue bisa dengar kalau ada air menetes sedikit aja kalau keran rumah gue nggak ditutup kencang. Paul sampe heran.

    Sebagai anak yang udah ansos dari dulu, tidur sama orang tua itu nggak enak. Untungnya waktu remaja akhirnya gue punya kamar sendiri. Paling nggak gue bisa sendirian. Tapi sayangnya hampir tiap hari jantung gue rasanya deg-degan. Deg-degan karena Nyokap gue bisa tiba-tiba masuk dan nge-gap-in gue lagi main hape, terus hape gue diambil dan isinya dilihat-lihat. Dari remaja gue belajar untuk menyembunyikan hape dan pura-pura sibuk melakukan hal lain. Biar nggak dimarahin.

    “Kenapa kamarnya nggak dikunci aja?” you might ask.

    Nyokap gue nggak ngizinin. Katanya kalau gue mengunci kamar, tandanya ada sesuatu yang disembunyikan.

    Selama gue tinggal satu atap dengan Nyokap, dia nggak pernah memberi gue ruang aman di mana gue bisa melampiaskan apapun emosi yang sedang gue rasakan. Di saat gue butuh space untuk bersedih, dia nggak ngasih. Di saat gue butuh jarak karena gue sedang marah, gue malah dicibir. Dia mungkin nggak tau. Tapi saat gue lagi ngerasa down, gue bukan butuh nasehat. Gue cuma butuh didengar, ditenangin, bahkan dipeluk. Dan karena itu semua gue pun tumbuh jadi manusia yang sangat sensitif, tapi yang hati gue rasain selalu gue kubur dalam-dalam. Akhirnya gue selalu merasionalisasi (if that’s even a word) apa yang gue rasakan. Kenapa gue menjadi pribadi yang kurang lebih resentful terhadap manusia, karena selama gue kecil gue nggak diberikan privacy. Lebih tepatnya, kesehatan mental gue tidak diberi privasi. Iya, anak kecil ternyata butuh privasi. Ternyata anak kecil, walau masih bocah, udah punya kebutuhan yang harus dihargai oleh orang tuanya sendiri.

    Dari gue kecil sampai gue remaja, gue selalu bertanya-tanya tentang ini semua. Tentang apa yang gue rasain. Apa yang gue hadapin. Tentang jarak jauh yang gue rasakan antara diri ini dan orang tua. Tentang gue yang nggak bisa terbuka dengan mereka. Tentang resah dan amarah yang gue punya. Apakah yang gue ini rasakan valid? Atau gue berlebihan aja? Untung gue hidup di zaman udah canggih. Dari internet gue belajar ternyata ada sebutan khusus untuk orang tua kayak Nyokap gue, narcissist parent. Dan yang terpenting sekarang gue tau gue nggak gila.

    Sekarang di saat gue udah punya suami, di saat dua tahun lagi umur akan berkepala 3, gue masih harus learn & unlearn. Belajar untuk menjadi manusia yang lebih “normal” dan menghapus banyak hal dalam diri yang gue dapat saat gue kecil, yang ternyata nggak ideal.

    Teman-teman sekolah gue tau betul gimana takutnya gue dengan Nyokap. Gue sering banget bilang bahwa lebih baik gue ketemu kuntilanak daripada harus lihat Nyokap gue marah. I lived in a constant fear. And now I have to learn that I don’t have to walk on eggshells anymore. I don’t have to hide my thoughts and feelings anymore or fear that some people might use them against me.

    Despite all that, I still love my Mom. I would try my best to make her happy. Mungkin ini lah yang disebut sebagai unconditional love. Gue hormat sama dia. Gue hormat karena dia adalah Ibu kandung gue. Lagipula pada akhirnya gue hanya bisa menerima apa yang udah terjadi dan berjanji untuk tidak mengikuti kelakuan Nyokap gue yang ini. Tapi gue nggak bisa berterima kasih sama dia karena udah dilahirkan. Call me “kurang iman”, tapi gue nggak merasa lahir menjadi manusia adalah suatu berkah. Gue lahir karena Nyokap dan Bokap gue for some reason mau punya anak. That’s it.

    Gue bicara begini karena gue capek dihadapkan dengan respon bahwa gue nggak boleh bicara hal negatif tentang orang tua karena nanti gue bisa masuk neraka. Gue capek tiap kali gue cerita dengan orang lain, lalu gue ditemui dengan respon-respon klise a la sinetron. “Mau gimana pun juga, itu kan orang tua lo.”, “Nggak boleh ngomong gitu. Itu orang tua lo.” “Sejelek apapun mereka, lo tetap harus hormat.” Atau apapun itu. Seakan-akan pengalaman nggak enak yang gue rasakan itu tidak valid dan hanya mengada-ada. Seakan-akan gue nggak boleh merasakan kompleksitas tersebut terhadap orang tua gue. Seakan-akan gue hanya boleh punya SATU rasa terhadap mereka, yaitu rasa sayang. Hanya itu.

    I have to be fair. Walaupun nganeh, Nyokap gue bukan Ibu yang nggak mendidik anaknya, nggak ngasih basic necessities untuk anaknya, atau bahkan yang kerjanya mukulin anaknya. Dia banyak mengajarkan gue hal-hal baik. Banyak banget. She tried everything she could. She did the best she could to be a responsible parent and I appreciate her for that. She had a really tough life. Even tougher that she had to go through it all by herself while raising two kids in Jakarta. Jika gue ada di posisi Nyokap, bisa jadi gue akan lebih parah dari dia. Hal paling penting adalah setiap hari gue belajar untuk berdamai dengan itu semua. We cannot control the wind, but we can direct the sail.

    Masalahnya nggak semua anak beruntung kayak gue. Nggak semua orang tua bertanggung jawab terhadap anak yang udah mereka bikin ketika mereka lagi iseng dan nggak ada duit buat beli kondom, atau yang mereka bikin karena “Kalau kamu manusia, memang naturalnya untuk reproduksi”. Kenyataannya ada banyak banget anak di luar sana yang memiliki pengalaman tidak mengenakan selama tinggal satu atap dengan Ibu-Bapaknya. Ada banyak anak di luar sana yang literally nggak dipenuhi apapun kebutuhannya. Jangankan dididik, dikasih makanan bergizi aja nggak. Kadang karena orang tuanya nggak mampu, kadang karena orang tuanya memang kurang ajar.

    Ada banyak anak di luar sana yang dikasih makan dan disekolahin, tapi merasa tidak dirangkul, tidak diberi ruang untuk bisa cerita selepas-lepasnya tanpa dicibir atau dimarahi. Mungkin karena orang tuanya sibuk cari nafkah, yang ujung-ujungnya untuk kebaikan anaknya juga. Tapi mungkin juga karena orang tuanya nggak sadar bahwa anak nggak cuma butuh nasi dan belajar Matematika.

    Terlalu banyak Ibu dan Bapak yang menyakiti anaknya. Ada yang sepele, ada yang meninggalkan bekas luka sampai dia tumbuh dewasa.

    “Tapi kan mereka orang tua lo.”

    Sayangnya kita hidup di dunia di mana menjadi orang tua itu memberikan kita kuasa yang berlebih. Jika kita adalah orang tua, kita bisa meminta tanggung jawab si anak untuk mengurus kita nanti kalau udah tua renta. Jika kita adalah orang tua, kita bisa meminta tanggung jawab si anak untuk membiayai kita kalau sudah pensiun. Jika kita adalah orang tua, kita meminta mereka untuk mendoakan kita buat jadi amal jariyah.

    Sementara ketika kita menjadi orang tua, si anak nggak bisa meminta pertanggungjawaban kita untuk mendidik dan merawat dia. Karena si anak nggak tau apa-apa. Karena si anak nggak punya contoh orang tua lain yang bisa dia jadikan perbandingan. Kalau pun si anak protes atas perlakuan kita, sebagai orang tua kita bisa banget berkata, “Jangan kurang ajar kamu sama orang tua! Masih untung kamu dilahirin!”. #RIPlogic.

    Di dalam keluarga yang disfungsional, rasa-rasanya seperti berada di SMA yang kakak kelasnya galak-galak. Senioritasnya selalu berulang karena nggak ada yang mau memutus lingkaran setan tersebut.

    Atau… Buat mereka-mereka yang sadar akan kekacauan ini dan mereka berjanji untuk tidak mengulanginya ke anaknya, secara tidak sadar mereka juga mengacaukan anak mereka. Bukan seperti yang dilakukan orang tua mereka dahulu, tapi dengan cara yang berbeda.

    Cerita ini mengingatkan gue akan postingan Instagram teman SMA gue beberapa bulan lalu. Saat itu Ibunya meninggal. Alih-alih menulis kata-kata indah atas kepergian Ibunya, si teman malah menceritakan gimana semrawutnya hubungan dia dengan si Ibu. Kesemrawutan tersebut, dia bilang, mempengaruhi perasaan dia saat Ibunya wafat. Dia sangat jujur bercerita bahwa dia sedih kehilangan sosok yang selama ini ada di dalam hidupnya, tetapi dia juga merasa banyak hal yang dilakukan almarhumah saat masih hidup dulu, yang memberi dampak buruk terhadap teman gue ini.

    Banyak yang syok atas tulisan dia. Wajar aja. Nggak banyak orang yang bisa jujur seperti itu. Jujur mengakui bahwa pengalaman kita dan apa yang kita rasakan adalah satu kesatuan. Kita nggak mesti selalu mengenang yang baik-baik dan melupakan yang buruk. There is always the good and the bad, and that’s how it is. Kadang kita butuh untuk berani mengakui realita apa adanya untuk bisa berdamai dan menerima.

    Gue berharap ada banyak orang kayak teman gue ini. Ya, blak-blakan aja. Mengakui bahwa orang tua kita bukan Tuhan maupun malaikat. Mereka adalah mahluk yang intricate. Mereka bisa baik, bisa jahat, bisa benar, bisa salah. Tanpa takut dianggap anak yang nggak tau untung karena udah dilahirkan dan dibesarkan. Tanpa takut dicap durhaka.