Monthly Archives

August 2020

    Ngomong Sendiri

    Perempuan yang Diperdebatkan

    Dua hari yang lalu Sakti nelfon gue. Gue pikir ada hal yang darurat. Eh, taunya dia lagi mumet ngerjain tugas akhir dan cari selingan pengen ngobrol. Biasanya kalau gue sama dia telfonan, kami saling bertukar cerita. Karena kolam konten yang gue dan Sakti konsumsi di internet cukup berbeda, gue sering berbagi cerita tentang konten-konten menarik yang gue dapat. Sakti lebih sering memberi update-an soal Berlin. Maklum, sejak gue pindah ke Hamburg gue udah nggak tau apa-apa lagi soal kisah ibukota. Alhasil Sakti jadi salah satu sumber beritanya.

    Dia cerita kalau dia lagi puasa media sosial. Tujuannya adalah ingin menetralisir otak dia lagi dalam menggunakan medsos kayak Instagram atau Twitter dan memakainya karena memang mau lihat apa yang terjadi di platform tersebut, bukan karena reflek. Itu ide bagus, sih. Gue pun kalau buka medsos seringkali karena reflek. Karena nggak tau lagi mau lihat apa. Padahal fungsi hape ada banyak.

    Dari tahun lalu gue udah berwacana untuk istirahat dulu mainan medsos, tapi sampai sekarang belum juga gue lakuin. Apalagi sejak pandemi gini, waktu yang gue punya banyak gue habiskan scrolling timeline. Sebenarnya yang bikin kenapa gue mesti stay away dari medsos buat gue pribadi bukan kontennya. Di Instagram, Twitter, dan YouTube gue banyak mengikuti akun-akun yang informatif. Gue banyak banget dapat pengetahuan baru. Yang bikin gue suka gumoh adalah kelakuan orang-orangnya. Terlebih beberapa tahun belakangan ini.

    Dari awal gue mulai aktif dan eksis di media sosial, yaitu tahun 2016, gue mulai banyak dihadapi pertanyaan-pertanyaan ciri khas warga +62 yaitu “Kapan mau nikah, Kak?”. Gue yakin banyak yang risih sama pertanyaan ini. Gue pun juga risih. Pertama, bahkan Nyokap gue sendiri menyarankan gue untuk nggak cepat-cepat kawin. Kedua, yang bayarin nikahan adalah gue sendiri. Kalau gue belom ada keinginan melanjutkan hubungan dan nggak ada duit, gue nggak akan kawin. Tapi tetap aja netijen selalu kepo seakan-akan mau ngasih sumbangan buat bikin pelaminan.

    Setelah gue akhirnya kawin dua tahun lalu, gue pikir hidup gue akan lebih tentram. Ternyata nggak. Warga Endonesah ujug-ujug muncul dengan pertanyaan lanjutan, “Kapan mau punya anak, Kak?”. Kalo kata temen gue yang udah punya anak sih hal-hal tersebut nggak akan pernah berhenti. Bahkan kalau lo udah punya anak pun, lo akan ditanya kapan mau nambah. Udah kayak di rumah makan Padang. Cuma satu hal yang nggak ditanya warga +62 yaitu kapan kita mati. Mungkin menurut mereka pertanyaan ini terlalu ekstrim. Oke, noted.

    Kekesalan yang gue miliki ini valid. Menurut gue mempertanyakan urusan rahim perempuan itu nggak sopan dan menginvasi privasi. Namun seperti yang kita semua ketahui, nggak semua orang ngerti soal privasi. Jangankan rahim, wong masih banyak yang gampang aja ngasih nomor pribadi orang lain tanpa izin.

    Mungkin lo berpikir, “Yah, Git. Kalau dengerin omongan netizen tuh nggak ada habisnya. Diemin aja.”. Gue juga maunya gitu. Gue juga berharap gue bisa diam aja dan worry-free selamanya. Tapi berdiam diri ketika lo ditanya berkali-kali hampir setiap hari sama bermacam-macam orang ternyata nggak gampang. Terlebih jika jawaban gue kembali dipertanyakan dan mereka menuntut penjelasan. Apalagi gue orangnya hyper sensitif. Makin-makin nggak bisa diam aja. Yang ada gedegnya gue makin numpuk.

    Lama-lama kuping panas, Bos.

    Dari awal mau menikah, gue dan Paul udah memutuskan untuk nggak punya keturunan. Kebetulan gue juga bukan tipe orang yang bisa mesem-mesem aja kalau ditanyain ini. Jadi, kalau ada yang nanya kapan gue mau punya dedek bayi, gue akan jawab apa adanya, “Nggak mau punya.”. Biasanya yang nanya akan kaget, “Loh kok gitu?”. Nah, di poin ini gue akan menimbang-nimbang dengan siapa gue berbicara. Kalau dia keluarga gue atau siapapun yang ada hubungan dekat dengan gue, gue akan elaborasi. I don’t mind having to explain my reason to them because I know they genuinely care. Berbeda jika yang bertanya adalah orang yang sekadar gue kenal atau bahkan netizen. To be completely honest, gue nggak merasa mereka berhak untuk bertanya kenapa. Mau apapun alasan gue, mau itu masuk akal buat lo atau nggak, mau lo setuju apa nggak, kalo itu bukan rahim lo, lo nggak ada hak untuk berkomentar. As simple as that.

    Beberapa kali gue mendapati orang-orang yang menjadikan tubuh gue sebagai topik pembicaraan. Tapi perkataan netijen yang satu ini menurut gue paling kelewat batas dan kurang ajar.

    Gue nggak tau ada berapa juta manusia yang memiliki cara berpikir seperti Kak Ode. Namun yang jelas buat gue orang-orang seperti Kak Ode adalah tipe manusia yang sebaiknya tidak dicontoh yaitu manusia sotoy, entitled, and clearly he does not know his place.

    Perkara memutuskan untuk nggak punya anak sebenarnya nggak ada hubungannya dengan tertutup atau terbukanya pikiran orang tersebut. Ini sebenarnya hanya soal hak asasi perempuan aja. Perempuan, sebagai pemilik rahim, berhak untuk memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya dia. Dan yang menurut gue juga nggak kalah penting adalah sebagai perempuan, gue memiliki kewajiban untuk unlearn, relearn, & reprogram gagasan soal keperempuanan yang terpatri di otak gue. Termasuk soal motherhood.

    Sebagai perempuan, gue dulu berpikir bahwa menjadi seorang ibu adalah the ultimate thing. Karena selama gue tumbuh besar, gue sering sekali mendengar omongan-omongan yang menyudutkan perempuan yang tidak punya anak entah itu karena pilihannya atau karena memang dia tidak bisa. Perempuan-perempuan yang nggak punya keturunan seringkali dikasihani. Dikasihani karena hidup sendirian sampai akhir hayat itu dianggap menyedihkan dan seakan-akan tanpa anak hidup dan pengalaman si perempuan tidak lengkap. Dikasihani seakan-akan mereka perempuan gagal.

    Ada kepercayaan umum di masyarakat bahwa perempuan yang nggak melahirkan buah hati bukan lah perempuan yang sesungguhnya. Menurut sebagian orang, mengandung janin selama 9 bulan dan melahirkan adalah keajaiban dan baru lah setelah kita mengalami sendiri keajaiban tersebut, kita resmi menjadi perempuan. Ya, gue setuju, science can be very impressive. Tapi gue nggak setuju bahwa femininitas harus berakar dari sana. Selain hal tersebut sangat shallow, mengukur keperempuanan dari kapabilitas mereka menghasilkan anak sudah termasuk pelanggaran otonomi tubuh perempuannya sendiri and that’s such a patriachal mindset to have.

    Karena cara berpikir seperti ini lah yang membuat laki-laki seperti Kak Ode bisa merasa berhak dan lancang berkomentar tentang pilihan gue, seorang perempuan. Laki-laki seperti Kak Ode merasa berhak atas tubuh istrinya. Dia merasa nggak ada poin dari pernikahan jika tidak punya anak dari rahim istrinya sendiri. Sorry to break your entitled bubble, but her uterus is not yours. Menikah dengan istri bukan berarti lo memiliki tubuh istri lo.

    Gara-gara orang seperti Kak Ode, bertahun-tahun perempuan menganggap dirinya nggak punya pilihan dan merasa diri dia bukan milik dia sendiri karena dihadapi banyaknya perbincangan atas tubuhnya dari orangtuanya, suami, mertua, bahkan saudara dan teman-temannya. Entah berapa ribu perempuan yang hamil dan punya anak karena beranggapan bahwa memiliki anak adalah langkah selanjutnya dan langkah satu-satunya setelah berumah tangga. Entah ada berapa perempuan di luar sana yang merasa sedih dan tidak berharga karena dia nggak bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Entah berapa banyak perempuan di luar sana yang akhirnya tidak sadar betul dan tidak mempertanyakan keinginannya memiliki buah hati. Betul-betul karena keinginan sendiri atau karena norma dalam masyakarat? Karena memang ingin menjadi ibu atau karena mertua ingin punya cucu? Karena ingin beribadah atau hanya untuk investasi akhirat? Karena memang ingin mencetak individu yang cemerlang atau supaya nanti ada yang mengurus di hari tua dan mendoakan jika meninggal dunia? Entah berapa banyak perempuan yang menginternalisasi narasi patriarki ini dan kemudian merendahkan perempuan lain yang tidak memiliki momongan?

    Yang kemudian bikin gue geram adalah setelah suami, keluarga, dan masyarakat sekitar memaksa si perempuan untuk memiliki keturunan, tidak jarang orang-orang tersebut kemudian menumpahkan semua kewajiban mengurus anak ke si perempuan saja tanpa peduli gimana keadaannya. Si penuntut nggak peduli bagaimana kesehatan mental si ibu yang baru aja melahirkan, cuma bisa memproduksi sedikit ASI atau bahkan nggak sama sekali, kebingungan karena bayinya nangis terus.

    Si perempuan dituntut untuk memiliki multiperan; sebagai istri yang tetap memasak dan mencuci baju suami, sebagai ibu yang harus menyiapkan makanan, ganti popok, dan siap sedia kalau si anak tiba-tiba terbangun di malam hari, dan sebagai wanita karir jika dia memutuskan untuk tetap ingin memprioritaskan dirinya sendiri. Kalau keteteran di salah satu peran aja, akan ada macam-macam omongan tetangga. “Ih, kok suami mau makan malam malah disuruh masak sendiri?”, “Gimana sih itu anaknya kurus banget. Apa nggak diurus?”, “Kok kamu kerja terus sih? Tega banget nelantarin anak.”. Sementara si laki-laki bisa bebas aja mau nongkrong-nongkrong di cafe sama kolega.

    Ada mitos yang beredar, katanya perempuan lebih jago multitasking ketimbang laki-laki. Ini salah besar. Perempuan dan laki-laki sama-sama nggak bisa melakukan banyak kegiatan dalam satu waktu. Hanya aja selama ini perempuan terpaksa untuk jadi superwoman karena mereka dituntut demikian.

    I think I made my point clear: Tidak memiliki momongan nggak lantas membuat hidup si perempuan tidak bermakna. Tidak memiliki momongan nggak membuat si perempuan lebih rendah dari perempuan lain. Bertanya kapan punya anak itu intrusif, gaslighting perempuan yang nggak mau punya anak itu nggak sopan, mocking perempuan yang nggak mau punya anak kalau dia akan berubah pikiran itu norak. Tubuh perempuan bukan untuk perdebatan kalian.

    Lastly, gue nggak ngerti dengan pertanyaan yang sering dilontarkan ke gue, “Kalo dikasih hamil sama Allah, gimana?”. Mungkin yang nanya sering bolos pelajaran Biologi. Perempuan nggak akan tiba-tiba hamil kalau nggak ada pembuahan. Kecuali kalo lo Maryam (AS). Itu beda cerita.