Ngomong Sendiri

Balada Seorang Anak

Salah satu hal yang paling berkesan dalam menjadi dewasa adalah melihat sisi lain dari orang tua gue. Semenjak dewasa, perlahan-lahan gue sadar bahwa orang tua bukan lah sosok yang sempurna. Perlahan-lahan gue sadar bahwa mereka punya banyak kekurangan dan banyak melakukan kesalahan.

Dulu gue beranggapan bahwa Nyokap gue adalah orang yang cerdas, kritis, dan kuat. Kemudian setelah gue beranjak dewasa baru gue sadar bahwa Nyokap gue ternyata nggak secerdas itu. Ternyata dia bisa terperangkap oleh mulut manis Mbak-Mbak multilevel marketing dan membeli suplemen propolis mahal yang nggak tau gimana khasiatnya. Nyokap gue ternyata nggak sekritis yang gue bayangkan. Ternyata dia bisa diombang-ambing dengan politik dikotomi Cebong-Kadrun dan ngirimin gue video-video atau pesan berantai WhatsApp yang sangat provokatif, yang nggak jelas benar atau tidaknya.

Nyokap gue memang kuat. Tapi setelah gue dewasa, baru lah gue sadar dia sebenarnya hanya cakap dalam terlihat kuat. Dia bisa tetap maju nggak gentar menerobos rumitnya kehidupan sembari menggendong dua anak perempuannya. Namum dia nggak sekuat dan seberani itu untuk mengakui bahwa dia hanyalah manusia biasa dan butuh pertolongan. Dia nggak seberani itu untuk bilang bahwa dia nggak selalu bisa kuat. Setelah gue dewasa, baru lah gue sadar kalau Nyokap salah dalam mengartikan kata “kuat” yang sesungguhnya.

Gue masih inget waktu pertama kali gue dihadapkan dengan sisi lain kedua orang tua gue. Rasanya nggak percaya dan jujur, ilfeel. Kayak dibohongin. Bayangin aja. Selama ini gue habiskan hidup gue bareng mereka. Hampir 24 jam dalam sehari gue bareng-bareng dengan mereka (ehm, kecuali Bokap gue sih. But you get the point). Tapi ternyata sepanjang waktu tersebut nggak cukup untuk gue mengenal orang tua gue sendiri.

Rasanya tuh campur aduk banget. Aneh, tapi gue butuh waktu untuk mencerna sosok mereka di dalam pikiran gue. Mencerna lagi gimana hubungan gue dengan mereka selama ini. Gue mulai mundur perlahan dan kembali mengamati dari jauh. Kadang-kadang mendekat lagi. Kayak main tarik-ulur. Tujuannya adalah untuk kemudian menerima bahwa orang tua, walaupun mereka adalah orang yang melahirkan gue, membesarkan gue, yang selama ini gue jadikan contoh dan panutan, adalah manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan.

Dan setelah menyadari ini semua, gue jadi makin lelah dengan narasi bahwa anak nggak boleh berbicara hal negatif sedikit pun tentang orang tua. Bahkan mengakui kenyataan bahwa orang tuanya banyak kurangnya pun nggak bisa, tanpa dibayang-bayangi oleh konsep “Anak durhaka”. Padahal kita sangat mampu untuk merasakan segala liku-liku dan kompleksitas hubungan darah tersebut, bahwa seorang anak bisa menghormati orang tuanya DAN mengakui bahwa mereka banyak melakukan hal yang nggak menyenangkan entah itu terhadap orang lain maupun terhadap si anak.

Gue berbicara sebagai anak dari orang tua yang jauh dari kata sempurna. Gue nggak mau banyak bicara tentang Bokap gue karena gue nggak merasa dekat dengan dia. Nyokap gue adalah Ibu yang, for lack of better word, rada nganeh.

I grew up “tip toeing”, watching the shift of moods of my mother. Dari gue kecil, gue harus selalu pasang kuping, belajar membedakan langkah kaki anggota keluarga gue, dan mendengarkan secara seksama langkah Nyokap. Entah gimana, dari langkah kakinya gue bisa tau kalau Nyokap lagi biasa aja atau lagi marah. Dan tau nggak bagian yang paling fucked up? Pendengaran gue sekarang tajam banget. Gue bisa dengar kalau ada air menetes sedikit aja kalau keran rumah gue nggak ditutup kencang. Paul sampe heran.

Sebagai anak yang udah ansos dari dulu, tidur sama orang tua itu nggak enak. Untungnya waktu remaja akhirnya gue punya kamar sendiri. Paling nggak gue bisa sendirian. Tapi sayangnya hampir tiap hari jantung gue rasanya deg-degan. Deg-degan karena Nyokap gue bisa tiba-tiba masuk dan nge-gap-in gue lagi main hape, terus hape gue diambil dan isinya dilihat-lihat. Dari remaja gue belajar untuk menyembunyikan hape dan pura-pura sibuk melakukan hal lain. Biar nggak dimarahin.

“Kenapa kamarnya nggak dikunci aja?” you might ask.

Nyokap gue nggak ngizinin. Katanya kalau gue mengunci kamar, tandanya ada sesuatu yang disembunyikan.

Selama gue tinggal satu atap dengan Nyokap, dia nggak pernah memberi gue ruang aman di mana gue bisa melampiaskan apapun emosi yang sedang gue rasakan. Di saat gue butuh space untuk bersedih, dia nggak ngasih. Di saat gue butuh jarak karena gue sedang marah, gue malah dicibir. Dia mungkin nggak tau. Tapi saat gue lagi ngerasa down, gue bukan butuh nasehat. Gue cuma butuh didengar, ditenangin, bahkan dipeluk. Dan karena itu semua gue pun tumbuh jadi manusia yang sangat sensitif, tapi yang hati gue rasain selalu gue kubur dalam-dalam. Akhirnya gue selalu merasionalisasi (if that’s even a word) apa yang gue rasakan. Kenapa gue menjadi pribadi yang kurang lebih resentful terhadap manusia, karena selama gue kecil gue nggak diberikan privacy. Lebih tepatnya, kesehatan mental gue tidak diberi privasi. Iya, anak kecil ternyata butuh privasi. Ternyata anak kecil, walau masih bocah, udah punya kebutuhan yang harus dihargai oleh orang tuanya sendiri.

Dari gue kecil sampai gue remaja, gue selalu bertanya-tanya tentang ini semua. Tentang apa yang gue rasain. Apa yang gue hadapin. Tentang jarak jauh yang gue rasakan antara diri ini dan orang tua. Tentang gue yang nggak bisa terbuka dengan mereka. Tentang resah dan amarah yang gue punya. Apakah yang gue ini rasakan valid? Atau gue berlebihan aja? Untung gue hidup di zaman udah canggih. Dari internet gue belajar ternyata ada sebutan khusus untuk orang tua kayak Nyokap gue, narcissist parent. Dan yang terpenting sekarang gue tau gue nggak gila.

Sekarang di saat gue udah punya suami, di saat dua tahun lagi umur akan berkepala 3, gue masih harus learn & unlearn. Belajar untuk menjadi manusia yang lebih “normal” dan menghapus banyak hal dalam diri yang gue dapat saat gue kecil, yang ternyata nggak ideal.

Teman-teman sekolah gue tau betul gimana takutnya gue dengan Nyokap. Gue sering banget bilang bahwa lebih baik gue ketemu kuntilanak daripada harus lihat Nyokap gue marah. I lived in a constant fear. And now I have to learn that I don’t have to walk on eggshells anymore. I don’t have to hide my thoughts and feelings anymore or fear that some people might use them against me.

Despite all that, I still love my Mom. I would try my best to make her happy. Mungkin ini lah yang disebut sebagai unconditional love. Gue hormat sama dia. Gue hormat karena dia adalah Ibu kandung gue. Lagipula pada akhirnya gue hanya bisa menerima apa yang udah terjadi dan berjanji untuk tidak mengikuti kelakuan Nyokap gue yang ini. Tapi gue nggak bisa berterima kasih sama dia karena udah dilahirkan. Call me “kurang iman”, tapi gue nggak merasa lahir menjadi manusia adalah suatu berkah. Gue lahir karena Nyokap dan Bokap gue for some reason mau punya anak. That’s it.

Gue bicara begini karena gue capek dihadapkan dengan respon bahwa gue nggak boleh bicara hal negatif tentang orang tua karena nanti gue bisa masuk neraka. Gue capek tiap kali gue cerita dengan orang lain, lalu gue ditemui dengan respon-respon klise a la sinetron. “Mau gimana pun juga, itu kan orang tua lo.”, “Nggak boleh ngomong gitu. Itu orang tua lo.” “Sejelek apapun mereka, lo tetap harus hormat.” Atau apapun itu. Seakan-akan pengalaman nggak enak yang gue rasakan itu tidak valid dan hanya mengada-ada. Seakan-akan gue nggak boleh merasakan kompleksitas tersebut terhadap orang tua gue. Seakan-akan gue hanya boleh punya SATU rasa terhadap mereka, yaitu rasa sayang. Hanya itu.

I have to be fair. Walaupun nganeh, Nyokap gue bukan Ibu yang nggak mendidik anaknya, nggak ngasih basic necessities untuk anaknya, atau bahkan yang kerjanya mukulin anaknya. Dia banyak mengajarkan gue hal-hal baik. Banyak banget. She tried everything she could. She did the best she could to be a responsible parent and I appreciate her for that. She had a really tough life. Even tougher that she had to go through it all by herself while raising two kids in Jakarta. Jika gue ada di posisi Nyokap, bisa jadi gue akan lebih parah dari dia. Hal paling penting adalah setiap hari gue belajar untuk berdamai dengan itu semua. We cannot control the wind, but we can direct the sail.

Masalahnya nggak semua anak beruntung kayak gue. Nggak semua orang tua bertanggung jawab terhadap anak yang udah mereka bikin ketika mereka lagi iseng dan nggak ada duit buat beli kondom, atau yang mereka bikin karena “Kalau kamu manusia, memang naturalnya untuk reproduksi”. Kenyataannya ada banyak banget anak di luar sana yang memiliki pengalaman tidak mengenakan selama tinggal satu atap dengan Ibu-Bapaknya. Ada banyak anak di luar sana yang literally nggak dipenuhi apapun kebutuhannya. Jangankan dididik, dikasih makanan bergizi aja nggak. Kadang karena orang tuanya nggak mampu, kadang karena orang tuanya memang kurang ajar.

Ada banyak anak di luar sana yang dikasih makan dan disekolahin, tapi merasa tidak dirangkul, tidak diberi ruang untuk bisa cerita selepas-lepasnya tanpa dicibir atau dimarahi. Mungkin karena orang tuanya sibuk cari nafkah, yang ujung-ujungnya untuk kebaikan anaknya juga. Tapi mungkin juga karena orang tuanya nggak sadar bahwa anak nggak cuma butuh nasi dan belajar Matematika.

Terlalu banyak Ibu dan Bapak yang menyakiti anaknya. Ada yang sepele, ada yang meninggalkan bekas luka sampai dia tumbuh dewasa.

“Tapi kan mereka orang tua lo.”

Sayangnya kita hidup di dunia di mana menjadi orang tua itu memberikan kita kuasa yang berlebih. Jika kita adalah orang tua, kita bisa meminta tanggung jawab si anak untuk mengurus kita nanti kalau udah tua renta. Jika kita adalah orang tua, kita bisa meminta tanggung jawab si anak untuk membiayai kita kalau sudah pensiun. Jika kita adalah orang tua, kita meminta mereka untuk mendoakan kita buat jadi amal jariyah.

Sementara ketika kita menjadi orang tua, si anak nggak bisa meminta pertanggungjawaban kita untuk mendidik dan merawat dia. Karena si anak nggak tau apa-apa. Karena si anak nggak punya contoh orang tua lain yang bisa dia jadikan perbandingan. Kalau pun si anak protes atas perlakuan kita, sebagai orang tua kita bisa banget berkata, “Jangan kurang ajar kamu sama orang tua! Masih untung kamu dilahirin!”. #RIPlogic.

Di dalam keluarga yang disfungsional, rasa-rasanya seperti berada di SMA yang kakak kelasnya galak-galak. Senioritasnya selalu berulang karena nggak ada yang mau memutus lingkaran setan tersebut.

Atau… Buat mereka-mereka yang sadar akan kekacauan ini dan mereka berjanji untuk tidak mengulanginya ke anaknya, secara tidak sadar mereka juga mengacaukan anak mereka. Bukan seperti yang dilakukan orang tua mereka dahulu, tapi dengan cara yang berbeda.

Cerita ini mengingatkan gue akan postingan Instagram teman SMA gue beberapa bulan lalu. Saat itu Ibunya meninggal. Alih-alih menulis kata-kata indah atas kepergian Ibunya, si teman malah menceritakan gimana semrawutnya hubungan dia dengan si Ibu. Kesemrawutan tersebut, dia bilang, mempengaruhi perasaan dia saat Ibunya wafat. Dia sangat jujur bercerita bahwa dia sedih kehilangan sosok yang selama ini ada di dalam hidupnya, tetapi dia juga merasa banyak hal yang dilakukan almarhumah saat masih hidup dulu, yang memberi dampak buruk terhadap teman gue ini.

Banyak yang syok atas tulisan dia. Wajar aja. Nggak banyak orang yang bisa jujur seperti itu. Jujur mengakui bahwa pengalaman kita dan apa yang kita rasakan adalah satu kesatuan. Kita nggak mesti selalu mengenang yang baik-baik dan melupakan yang buruk. There is always the good and the bad, and that’s how it is. Kadang kita butuh untuk berani mengakui realita apa adanya untuk bisa berdamai dan menerima.

Gue berharap ada banyak orang kayak teman gue ini. Ya, blak-blakan aja. Mengakui bahwa orang tua kita bukan Tuhan maupun malaikat. Mereka adalah mahluk yang intricate. Mereka bisa baik, bisa jahat, bisa benar, bisa salah. Tanpa takut dianggap anak yang nggak tau untung karena udah dilahirkan dan dibesarkan. Tanpa takut dicap durhaka.

You Might Also Like

90 Comments

  • Reply
    Ulfah Paradinta
    April 12, 2020 at 4:38 am

    “Salah satu hal yang paling berkesan dalam menjadi dewasa adalah melihat sisi lain dari orang tua gue.” Kalimat pertama yg sangat menggambarkan perasaan gw belakangan ini

  • Reply
    Abdul
    April 12, 2020 at 6:45 am

    That’s why banyak yang bilang kalo pekerjaan mendidik anak itu pekerjaan seumur hidup ya Mbak Gita, yang enggak ada manual book-nya. At least, dari tulisan ini gue bisa ambil pesan bahwa kita mungkin akan melakukan kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja, yang paling penting adalah dengan meminimalisir kesalahan-kesalahan itu….

  • Reply
    Hanik
    April 12, 2020 at 1:22 pm

    Good kak git 🙏mewakili perasaanku banget 😭

  • Reply
    Rodhiyatum Mardhiyah
    April 13, 2020 at 1:18 am

    Terimakasih ka Gita.. Tulisannya mewakilkan banget..

  • Reply
    Nurbani
    April 13, 2020 at 3:37 am

    Gw kok kebalik ya… dulu ema gw galak banget, tapi sekarang gw ngerasa ema gw itu an angel…. gw biasa ngritik ema bapak gw semenjak kecil… biasa yang ngelerai mereka dengan teriakan dari kamar kalo berdua itu lagi berantem… kudu kuat mental jadi anak ema bapak gw krn cara ngedidiknya beda ama yg lain… ga keras ga lembek tapi ga pas jg kadang2 hahahaha… ah i miss them

  • Reply
    Anonim
    April 13, 2020 at 5:35 am

    Ibu joker narsis. Orang tua gw mungkin narsis(?) Gw mungkin narsis(?). One thing for sure is that they -narcissist- rarely admit mistakes.

    Anyway when I realize how harmful I could be to the surrounding people, I began having withdrawals symptoms from friends, teacher, big family (grandma grandpa cousins). But I always talk to my parents as there’s an unconditional loves between us.

    There’s also the issue how everytime I see my parent do harm to others but I can’t do anything about it as they need to understand it themselves before they could actually change. And I’m not so morally and socially upright to concern myself with such problem.

    There’s also this about basic necessities. Count myself unlucky as I have the tendency to give others the best treatment without the shred bit of doubt, now having realized how long I’ve been taken advantage of, I hardly trust anyone. But in the case when the situation forced me to confront someone, I’d get nervous and blanked my mind and agree to anything the other party said to me. I’ve just recently discussed it with my mother, asking her for a bit of advice, and she told me she would never get taken advantage of.

    Funnily is, my condition starts from being taken advantage of my mom everyday when I was a kid. She told me to do this and that, and even though my brother or sister might not be helping, when I didn’t do as told then my mother would reprimand me. I heard from internet that it’s something called self entitled which mostly seen in a narcissist. And what’s more, from her story and preach, it looks like my mom’s behavior was influenced by her mother which is my grandma. And now I realized I also show this behaviour in my social interactions. So am I a narcissist? Probably yes, there’s more to it but my English suck.

    I would be anonymous with this comment, as I don’t like to spread any private informations on the cursed internet where everyone could see it as clear as a day. Especially something this sensitive. That’s not to say I don’t like this post, as I know there’s a need for transparency to give a sense of credibility. Anyway that’s my story.

  • Reply
    SalsaAprilia
    April 13, 2020 at 9:36 am

    Sungguh luar biasa cara pikir mu. Yang kau tulis sangat mewakili kehidupan ku. Makasih gitasav.

  • Reply
    ALHAAQ
    April 13, 2020 at 6:07 pm

    Benar begitu kenyataannya. Kadang gue merasa sebagai anak durhaka yang ga menghormati orang tua. Privacy, ya hal yang gabisa gue dapet pas masih kecil, masih bocah. mungkin bener orang tua gue takut dengan gue yang supel dan ga beda bedain temen. Karena gue sempet di-bully pas SD maybe, orang tua gue over protective sama gue. Atau mungkin dengan alasan lain yang gue gatau itu apa. Then setelah gue tamat SMA dan masuk ke perguruan tinggi gue baru sadar selama ini gue pernah apa sih sama orang tua gue? gue selalu jalan sendirian, gapernah cerita apapun. Lingkungan baru gue di kampus gapernah gue ceritain ke orang tua karena seumur hidup gue dari kecil sampe lulus SMA, apapun yang gue ceritain berujung jalan buntu. Kritik, nasihat, dan bahkan pelarangan.

    Akhirnya sampai saat ini gue ga pernah cerita apapun ke ortu gue karna gue takut semua yang udah gue rancang hancur berkeping keping. Gue dateng kerumah temen gue dan gue disambut hangat dengan orang tuanya, gue seneng banget. Gue mau bales dengan ngundang dia kerumah gue, tapi apa? ga gue lakuin. Why? gue takut setelah gue datengin kawan kawan gue ke rumah. orang tua gue kritik gue, dan gue gaboleh temenan lagi sama mereka. Just because dulu gue ga pernah dapat waktu untuk cerita.

  • Reply
    AnakSMA
    April 13, 2020 at 6:45 pm

    I want make a confession that everytime I read your books or your blog, except a video YouTube (I really enjoy them, I learn something from ur yt vid) but not for the writing, is it the sign of me that I’m not a good listener? *LOL* I realize it. Thank u kak git. Hopefully u get that point.

  • Reply
    Syifana
    April 13, 2020 at 10:22 pm

    Makasih Kak Gita ❤️

  • Reply
    Alfita Cho
    April 14, 2020 at 6:00 am

    Gue juga sering kecewa dengan perlakuan orang tua gue yang menurut gue berlebihan ketika gue ngelakuin sebuah kesalahan.. contoh gue dari dulu gasuka di pakein anting tapi nyokap maksa gue pake pas tu anting ilang dan gue ga ngerasa sengaja buat ngilangin, gatau aja bangun tidur udah Gaada itu ngungkit nya kayak kesalahan gue dilahirin sampe gue lulus kuliah yang gue ga amanah lah, gue gaberguna, gue gatau diuntung. Paling parah Gue sejak kecil sering dapet hukuman fisik paha lengan atas gue gapernah bener warnanya mesti lebam biru” kena pukul, cubit. Gue pikir bakal berhenti pas gue mulai dewasa ternyata berubah gak lagi fisik tapi pindah.. ke verbal kata” nyokap makin bikin gue stress.. sejak kecil Gue dituntut buat selalu perfect. Gue harus selalu dapet bintang kelas paralel gue harus hafal Qur’an, gue harus kalem. Gue gabisa nentuin sendiri pilihan hidup gue gue kuliah dimana, jurusan apa, gue mau jadi apa mungkin bagi mereka gapenting. Lebih penting sebagai perempuan harus dirumah dan merawat keluarga.. bukannya gue ga sayang sama keluarga tapi gue rasa sebagai manusia gue punya hak untuk menjalankan kehidupan sesuai yg gue harapkan.. itu yang bikin gue sampe sekarang gabisa nentuin arah. Mau kemana gak tau orang kaga punya skill.. dari kecil cuman suruh belajar belajar sampe gue muak sama namanya guru” yang gabisa disalahin sama kaya orangtua gue.. tapi perlahan gue mulai belajar memahami sedikit. Mungkin faktor pernikahan dini orangtua gue yg bikin mereka belum faham parenting yg baik kaya gimana. Dari kejadian macam itu penyikapan gue terhadap apapun udah B aja, gabutuh orang yang menye”.

    Tapi gue ttp sayang sama ibu ayah dengan jarak tertentu

  • Reply
    izma nurhayati
    April 14, 2020 at 6:01 am

    pas gue pertama kali liat postingan ka gita di sg tentang we need to be more mindfull tentang keputusan yang mau kita ambil dalam hal ini adalah punya anak, kata ka git kita ga harus punya anak. gue mikir iya juga ya nanti kalo kita punya anak padalah secara mental dan materi ga capable nanti si anak yang bakal kena imbas nya dan malah dia yang healing sendiri atas apa yang mungkin gua lakuin nanti. tapi gue mikir kalo gua tua nanti siapa yang ngurusin, kalo gua mati siapa yang doain? and read it dan ngerasa gue egois banget punya ingin punya anak cuman buat ngurusin gue, cuman buat doain. sampai saaat ini gue masih ga ingin punya anak tapi kalo suami gue nanti punya anak gue harus gimana

  • Reply
    Vihantika Rachma Fitri
    April 14, 2020 at 3:19 pm

    kak gita, terimakasih telah menulis ini.. saat ini gue merasakan betul apa yg kak gita tuliskan.. karena hal ini pula saya sampai harus konsultasi diam2 ke psikolog tanpa sepengetahuan ibu saya.. saya pikir saya nyaris depresi karena perlakuan tingkah laku ortu saya, saya beberapa kali berniat untuk mengakhiri hidup saya.. ya betul kak, gimanapun perilaku ortu kita, jauh di lubuk hati, saya masih menghormati dia.. meski byk hal yg ga sepenuhnya benar..

  • Reply
    Natasya Adistya
    April 15, 2020 at 6:23 pm

    La git.. bukannya mau gimana gimana.. ibunya la Gita gimana waktu baca tulisan ini. W ga ngebayangin ka seandainya w jadi ibu terus anak w nulis kek gini.. it’s like w ibu nulis cacatnya anak w di public platform.. I know maksudnya ka git biar people brave and be true honest and aware dengan realita hidup mereka yang selama ini terjadi. And I always appreciate and amazed of ur bravery.. I’m sorry ka bukan maksud gimana2 Kita readers netijen Kan ga Tau peristiwa Dan kisah ka git separah apa.. bukan niat judging disini kak.. but kalo dari aku sebagai anak w ngerasa ngelakuin lebih banyak Salah dari my parent.. even mereka juga bikin salah dan ga selamanya dan selalu bener.. but still dengan Aku yang mungkin kalo di posisi mereka ga bisa lebih baik dari mereka so.. rasanya aneh aja kalo mau bilang aneh2 tentang mereka while Aku sendiri gabisa lebih baik
    Terimakasih kak tulisannya 🙏 Dan juga pengalaman juga ur bravery semoga ka gita jadi ibu yang terbaik buat anak ka Gita kelak aamiin

  • Reply
    hehe
    April 15, 2020 at 7:24 pm

    “Salah satu hal yang paling berkesan dalam menjadi dewasa adalah melihat sisi lain dari orang tua gue.”
    Bener. Rasanya aneh, wkwkwk. Tapi buat kasus gue, justru rasanya gue yang juga harus membenahi diri. Semakin besar, semakin jelas alasan di balik perbuatan-perbuatan yang gue nilai salah dari nyokap-bokap dulu. Gue-lah yang rasanya terlalu egois menuntut, lupa bahwa bokap nggak selalu bisa kuat dan nyokap nggak selalu bisa sabar. Mereka manusia. Sekarang gue pengen nangis aja rasanya.

    Terlepas dari orang tua *gue*, gue punya teman yang punya orang tua yang … yah. Pada akhirnya, emang jadi banyak yang ‘salah’ juga dari temen gue. Tiap dia lagi cerita, ditambah ngeliat sendiri, gue jadi ikut ngerasa sakit …

  • Reply
    Idk
    April 16, 2020 at 8:11 am

    how come it’s related to my condition now

  • Reply
    Lembah tawa
    April 16, 2020 at 2:06 pm

    wkwkwkw kak gita, hahahahha lucu aja bacanya. yah pemikiran yang berbeda memang, dan aku yakin banget sih banyak anak-anak yang berfikir sama. hahaha, ngomongin orangtua drasa durhaka, menyadari ketidaksempurnaan orangtua dan berbagi cerita ke teman bakalan di cap “aneh bener sih kamu, orangtua sendiri dll” padahal dia juga merasakan yang sama. entahlah, terkadang takut buat dianggap bukan orang yang baik. wkwkwwkwk

  • Reply
    Saras
    April 17, 2020 at 5:19 am

    i feel you, kak, persis! thankyou sudah mewakilkan 🙂

  • Reply
    Cindy Aulia Basae
    April 17, 2020 at 5:39 am

    can relateee, thankyou kak git :”””(

  • Reply
    Cuty
    April 17, 2020 at 6:25 am

    Totally describe my condition right now. Taun ini berat banget rasanya memasuki dunia orang dewasa berkepala dua dan gw menemukan apa yang kak gita bilang juga soal ortu. Relate sama opini kak gita, gw pikir gada orang tua yang sempurna di dunia ini poinnya adalah ketika kita sebagai anak dilarang atau dibatasi untuk berpendapat soal tindakan mereka yang menurut kita salah karena nanti di cap “kurang ajar” dsb, kita cenderung dididik untuk selalu nurut sampai akhirnya segala tindakan mereka mau bener atau salah harus selalu kita maklumin hanya karena embel-embel orang tua, lagi-lagi karena mereka punya kuasa atas kita like you said which is sometimes can go wrong dan bener mereka juga bukan Tuhan yang kita puja-puja. Menurut gw dengan kasih tau pendapat kita tentang mereka itu udah jadi tanda sayang dan peduli jadi mereka bisa respect ke kita juga bukan sebagai anak kecil tapi sebagai manusia yang mana susah banget sih tanpa diomelin ato dicramahin balik XD (kebanyakan kasus di keluarga2 sih gitu)
    I still love my parents tho no matter what they do but that’s how reality works we can’t be completely blind, Gw udah beberapa kali mikir tentang hal ini tapi sulit nemuin kata-kata yang pas so thankyou for writing this, berharap ada lebih banyak open minded people yang berani stand up & speak up to validate their thoughts and feelings kaya kak gita dan temennya.

  • Reply
    abriellnaty
    April 18, 2020 at 1:48 am

    Mewakilkan banget kata-katanya… ini bener bangetsii… setelah gua dewasa begini, akhirnya gua secara enggak sadar gua sering mengkritik mama bapak gua… pas baca artikel ini gua merasa ini kek gua banget…. makasi ka gita ❤️

  • Reply
    talula andjanie
    April 18, 2020 at 4:25 pm

    mamanya ka gita itu keras banget yah kalo dari yang ku baca. cerita kita sama 🙂 but we still love our mom <3

  • Reply
    talula andjanie
    April 18, 2020 at 4:25 pm

    mamanya ka gita itu keras banget yah kalo dari yang ku baca. cerita kita sama 🙂 but we still love our mom <3333

  • Reply
    Natasha Adma
    April 18, 2020 at 5:57 pm

    Hai, Kak Gita. Your writing is already alleviating my ego to never again expecting too much to our parent. Selama ini kegelisahan yang gue alami sering banget gue deny krn alasan mereka adalah ‘orang tua’. And I actually never thinking of validating those feelings. Capek banget rasanya. Tapi, ketika kita mengakui segala kekurangan itu, being honest for every single thing they did, terlepas dicap sbg ‘anak durhaka’, it heals. Thanks banget Kak Gita. Im gonna try my best to accept them as they are.

  • Reply
    mawarni
    April 19, 2020 at 5:41 am

    ya Allah relatable bgt ka ceritanya, bnr bgt mau cerita ke orang lain jd mikir berulang kali karna kaya yg kaka tulis ga semua orang bisa nerima cerita kita dengerin apa adanya tanpa ngejudge. yang kaka ceritain ku alami semua even sampe skrg. sometimes i feel like jadi anak durhaka tp ya aku cuman manusia yg punya perasaan dan aku gabisa buat denial itu. rasanya pgn kasih ortu artikel ini tp ga berani. its normal kan ya ka buat punya perasaan seperti ini. aku keterlaluan ga si ka klo aku dah sampe di titik kaya hilang respect ke salah satu ortu huhu. aku gatau cara kasih tau ortu gmn yg aku rasain dan aku pgnin, pernah aku sindir-sindir halus dan mereka ttp hirauin aja. aku suka ngerasa i give up gitu. T_T

  • Reply
    elsa safira
    April 19, 2020 at 11:50 am

    aku biasa hidup senang dengan mamaku. semuanya udah diberikannya dengan lengkap, mamaku terlalu menyayangi ku . aku tau ya itu baik, sangat baik. tapi, masalahnya adalah jika aku melakukan satu kesalahan mamaku bakal marah besar. dan itu membuat aku takut. hal yang aku pelajari bahwa mamaku terlalu sayang padaku hingga jika aku buat salah dia bakal marah sejadi-jadinya. well, tulisan kak gita mewakili perasaan ku. aku takut banget mama aku tu marah, apalagi dia itu bisa marah di depan banyak org dg suara keras, serius aku malu:(

    oke, intinya aku sekarang sadar bahwa mama juga manusia, ada benar dan ada salahnya.

  • Reply
    Tarisa hayu
    April 19, 2020 at 3:35 pm

    Jujur tulisan ini mewakilkan sekali, tp kak git apa yg bisa kita lakukan agar mereka juga sadar bhwa mereka jg ada sisi salahnya? Mau bicara baik2 smpe mulut berbisapun mereka tidak mau tau “aku adalah org tua mu, kamu harus menghormati ku” kalimat itu menurutku sudah mendarah daging ditambah lagi aku hidup di negara ini, yg dimana pola pikir org2nya konservatif dn terlalu fanatik dg agama.
    Apa yg harus saya lakukan utk menyadarkan mereka? Menurut kaka,apakah pola pikir seperti ini bisa diubah? Atau ya kita berdamai saja dg semunya dan seneng susah telen ajalah,apakah lebih baik seperti itu dg mengesampingkan privasi dan bisa jdi kesehatan metal diri sendiri?
    Terima kasih kak git, semoga pertanyaan saya terjawab

  • Reply
    Anonim
    April 19, 2020 at 3:43 pm

    bener banget ini yang lagi gue rasain sekarang, tapi bedanya gue dilahirkan dari keluarga yang bener bener hangat dan sangat terbuka akan hal apapun. Hubungan gue dan nyokap sangat dekat, layaknya dengan soeorang temen atau bahkan sahabat, apapun yang pengen gue curhatin selalu ke dia dan selalu mendapatkan respon yang baik, bercanda, dan diakhiri dengan advice dia yang dengan mudahnya dapat gue terima.
    tapi sekarang justru beda banget setelah gue tau bahwa nyokap gue selingkuh dan udah ke gap berkali kali sama gue bahkan pernah ribut besar yang hampir buat keluarga gue hancur. sekarang gue merasa nyokap berubah, semakin lebih egois dan jelas gue gaterima. sampe sekarang gue kehilangan sosok nyokap walaupun keluarha gue sebenenrya masih utuh utuh aja. sedih bgt dan marah bgt. gue masih belum bisa menerima kekurangan nyokap gue, masih belum bisa ikhlas akan hal ini. sakit dan hancur bgt. yang sekarang gue pertanyakan adalah bagaimana seharusnya posisi gue sebagai anak menyikapi ini semua, kejadian ini udah 7 tahun yang lalu dan berlangsung sampai sekarang yang tanpa gue sadar ini semua bener bener ngubah sifat dan kebiasaan gue, yang dari smp temen temen gue kenal gue adalah anak yang lembut dan multitalent, sekarang semua first impression orang, temen sma sampe temen kuliah sekarang mengganggap gue orang yang super galak dan super jutek, gue kehilangan semua kepercayaan diri gue dan jadi gapunya tujuan, semua yang gue jalanin yaudah lempeng gt aja tanpa gue maknai dan tanpa gue tau apa tujuan gue melakukan ini semua. Jujur dampak dari apa yang nyokap gue lakuin, dampak dari ke egoisan dia dan kekurangan dia ngebuat kepribadian gue berubah 180 derajat. pengen bgt bisa berdamai sama semuanya, tapi diri gue masih terlalu keras dan belum mau memaafkan.

  • Reply
    Ali Wahyudin
    April 20, 2020 at 9:50 am

    Pendapat gue nih ya, belum tentu benar juga belum tentu salah, kalo salah nanti bisa dibantu lurusin lagi.
    Ketika kita sudah dewasa, supaya bisa berdamai dengan pemikiran mengenai salah atau benar proses pendidikan yang diberikan orang kepada kita yaitu dengan cara pergi merantau dengan waktu yang lama minimal 4 – 5 tahun, entah ketika sekolah ataupun kerja. Gue juga sadar kalo cara ini ngga semua orang bisa lakuin, tapi gue udah nglakuin hal ini dan hasilnya hari ini memahami semua yang udah diberikan oleh orang tua gue pasti ada efeknya sehingga gue jadi seperti sekarang.

    Honestly, ini hari pertama gue baca blognya mba gitasav, kayanya bakal sering baca baca disini 😀

  • Reply
    children broken home
    April 20, 2020 at 12:26 pm

    Umur gue sebentar lagi menginjak 17 tahun, tapi sebelum kagit up this topic gue udah mengakui bahwa kekurangan orang tua gue. Karena keputusan mereka untuk bercerai, gue jadi kena impact nya. Bahkan, ayah gue hampir 9 tahun jarang untuk sekedar menemui anaknya, dan kalaupun berkunjung bahkan bisa dihitung dengan jari. Ayah gue nggak beri gue nafkah atau basic necessities, ayah gue nggak biayain sekolah gue. Ibu gue menikah dan akhirnya gue ikut sama nenek gue. Dari bayi bahkan gue udah serumah sama nenek gue.

    Gue tahu alasan ayah gue nggak bisa nafkahi gue karena dia nganggur, tapi gue masih nggak abis pikir bisa-bisa nya dia nelantarin anak dia sendiri, gue bahkan nggak bisa lihat perjuangan ayah gue untuk anaknya, gue bahkan nggak bisa related seperti anak lainnya yang selalu mengagung-agungkan ayahnya. Gue cuma bisa diem, gue rasa nya ingin benci tapi gue sendiri takut dicap anak durhaka. Dan gue juga jarang mendapatkan kasih sayang dari ibu gue, ibu gue masih mending dari ayah gue, dia masih ngurusin surat2 sekolah gue, masih sering ke rumah nenek gue untuk berkunjung. Tapi terkadang gue iri, saudara gue yang seibu lebih mendapat banyak perhatian daripada gue sendiri.

    Gue dibiayain sama nenek gue, beliau yang beri gue makan, uang jajan, ngurusin gue. Tapi nenek gue ini adalah orang yang keras, nenek gue menyampaikan kasih sayang nya melalui teguran yang mengarah pada amarah. Dan dari itulah gue bener2 belum pernah ngerasain rasa kasih sayang yang diberikan secara terang-terangan.

    Gue selalu iri melihat teman gue yang sllu akrab sama orangtuanya, nganggep kayak temen, selalu dibeliin apapun yang mereka mau.

    Tapi yang membuat diri gue lebih miris lagi, ayah gue yang sekarang sudah mampu untuk membiayai gue bahkan masih lalai untuk sekedar membayar uang sekolah gue, ibu gue punya banyak anak beliau beri gue uang saku setiap hari, tapi ayah gue yang capable bahkan untuk memberi uang untuk kebutuhan sehari-hari aja bisa dihitung dengan jari. Kadang gue bicara didalam benak gue, sebenarnya orang tua gue ini mikirin anak nya nggak sih? Dia bilang dia sayang sama gue, tapi gue nggak menemukan pembuktian itu.

    Gue rasa gue punya luka masa kecil yang mungkin akan selalu gue ingat, salah satu nya kasih sayang yg nggak gue dapetin dari masih kecil, nggak ada yang mendukung gue dalam pendidikan bahkan gue iri sama orang tua yang rela les-in anak nya baik dihidangkan akademik maupun talent.

    Gue cuma bisa jujur dibenak gue, gue takut sama stigma orang yg bakal nganggep gue anak durhaka. Jauh di lubuk hati gue, gue juga sangat menghormati beliau, menyayangi beliau, bahkan gue mau bahagiain ortu gue dan nenek gue yang selama ini udah merawat gue.

  • Reply
    Fani
    April 22, 2020 at 5:00 am

    That’s what I feel, kak git. Thank you udh menyuarakan. I can’t tell anyone about my parents. Kek ada perasaan bersalah ketika curhat masalah ortu walaupun ke temen deket. Dan gak enak bgt mendem perasaan kek gini. 🙁 and I think it’s unfair ketika kita tersakiti tp disuruh diam menerima. Ga bisa cerita. Umur 15 I found that my parents are different dr apa yg ak liat pas msh kecil. Dan yg ak lakukan cuman diam aja. Ga bisa bilang ke ortu secara langsung bahwa apa yg mereka lakukan tanpa sadar menyakitkan dan apa yg mereka lakukan tuh salah.

  • Reply
    acpp
    April 22, 2020 at 2:11 pm

    Sudah ku suarakan Kak langsung ke ibu, karena akhirnya ibuku berasa banget ada jarak jauh walaupun serumah, dan itu dampak dari sejak aku kecil. aku juga setakut itu sama ibu kayak Kak Gita, persis. Akhirnya ibu kasih aku ruang buat bicara, aku memberanikan diri, aku bilang aku takut sama ibu dan diminta alasan kenapa kok takut, dipaksa buat kasih alasan dan aku gak tau alasannya apa karena udah dari sejak kecil aku takut banget sama ibu, malah lebih deket sama ayah udah kayak kakak adek bukan bapak-anak lagi. Ku kira aku sendirian yang kayak gini, ternyata banyak…

  • Reply
    ratih
    April 23, 2020 at 7:40 am

    aku gak bisa banyak berkata kata karena tulisan ini begitu indah dengan segala kalimatnya yang representatif dengan kehidupanku saat ini. i love you mbak Gitaaa, i am one of your fans now..

  • Reply
    Secret admirer
    April 24, 2020 at 12:13 am

    Setelah baca tulisan kak Gita rasanya plong aja, kaya ternyata apa yg aku rasakan ada jg di dunia ini yg merasakannya juga,,
    Kadang gue gk bisa menerima apa yg gue terima saat ini termasuk keluarga, dan untuk berdamai dengan itu butuh waktu yg gk sedikit butuh pikiran yg rumit butuh tenaga yg bahkan bisa nguras semua emosi gue.
    Seringkali gue nanya sm diri gue sendiri

    “Kenapa sih kaya gini?”
    “Kenapa sih gue dilahirin disini?”
    “Kenapa sih Allah memilih gue untuk hidup bersama mrk (keluarga gue saat ini)?”

    Ya kembali lagi itu adalah Takdir,, tp meskipun begitu kita jg punya hak utk seperti orang lain dong.
    Sorry ini agak melenceng bahasnya karena beberapa kalimat terakhir itu adalah curhatan dari sebuah situasi yg gk bisa gue kontrol
    So thank You git..

  • Reply
    Adin
    April 24, 2020 at 4:46 am

    Ortu gue pisah saat gue umur 2 atau 3 tahun. Gue hidup sama ibu gue dan kakek gue. Selama hampir dari kecil sampe sma kelas 1 gue pernah ketemu ayah gue 1 kali dan tiba2 pas lebaran umur gue mungkin 16 tahun gue kaget tiba2 ayah gue dateng dan perasaan gue saat itu campur aduk marah kesel bgt saat itu kenapa dia datang ke kehidupan gue. Pas dia dateng gue cuma salaman doang dan langsung pergi. Besokannya gue dibilang sama keluarga2 gue dan tetangga gue kalo gue ga boleh kaya gitu sama dia karena dia ayah gue. Gue sebel bgt denger mereka ngomong kaya gitu. Mereka ga ngerasain apa yg gue rasain lantas dg gampangnya mereka ngomong kek gitu. Btw ayah gue ga ngasih nafkah bulanan semenjak pisah sama mama gue, gue hidup dari duit kakek gue (kakek gue seorang pensiunan) dari situ gue makan dan sekolah. Gue merasa marah bgt si sama ortu gue dan keluarga gue, sebagai orang yg lebih tua dari gue mereka seolah2 bisa nglakuin dan ngapain apa aja ke gue tanpa mereka mikir kalo gue punya perasaan. Tulisan lo keren bgt ka git. Selama ini gue juga kepikiran kalo gue ga harus ngucapin terimakasih untuk dilahirkan karena gue ga pernah minta ortu gue untuk dilahirkan, gue juga setuju bgt kalo ortu itu emg ga sempurna. Makasih ya ka git semoga lo bisa damai dg itu semua dan sehat selalu 🙂

  • Reply
    Dina Endah
    April 24, 2020 at 8:12 am

    Kita kenal istilah dengan orang tua yang dzalim. .
    Kita sbg manusia tidak bisa menentukan kita orang yang durhaka atau dzalim. Ya gak sih? Karena perilaku manusia itu selalu berubah.
    Yang kita bisa, menjadi manusia yang terbaik dari fersi kita sendiri. Dan itu sudah lebih dari cukup. ❤

  • Reply
    Tya
    April 24, 2020 at 8:13 am

    Well, I read the comments above, and I guess some of them are missing your whole point, it’s a pity. But anyway, gue juga ngerasain hal yang hampir sama sih. Gue sempet jauh dari Ayah dari kecil sampe SMP, Ibu juga galak, dulu pas kecil ga tanggung-tanggung kalo marahin gue depan umum. Sekarang, gue selalu bertanya-tanya, kenapa sih hubungan gue sama orang tua mesti complicated sebegininya? Kenapa ga bisa simple dan penuh rasa sayang? Ini normal ga sih? Tiap gue liat interaksi temen gue sama orang tua mereka, kadang tanpa sadar ada perasaan iri, karena gue sama orang tua gue ga sehangat itu. Kadang paling perhatian pas gue dirantau, pas pulang ya udah cuek bebek aja. Ada juga bagian dari karakter mereka yang gue ga suka dan ngelukain gue. Tapi emang, ujung-ujungnya gue tetep ga bisa ngebenci mereka. Seiring waktu, gue jadi lebih paham kalo mereka juga ga pernah ikut pelatihan jadi orang tua, mereka cuma ngelakuin hal-hal yang mereka tau dan menurut mereka benar, dan mereka punya banyak keterbatasan dan kesalahan. That’s just how parents are, I guess.

    Thanks for writing this post dan menyuarakan banyak hati yang terlalu takut untuk bicara.

  • Reply
    Widya
    April 24, 2020 at 8:31 am

    Kebetulan banget aku lagi mencerna hal kaya gini di pikiranku dan kak gita menuliskannya dengan pas! Thank you kak 🙂

  • Reply
    kuning nanaas
    April 25, 2020 at 3:07 am

    “Sekarang di saat gue udah punya suami, di saat dua tahun lagi umur akan berkepala 3, gue masih harus learn & unlearn. Belajar untuk menjadi manusia yang lebih “normal” dan menghapus banyak hal dalam diri yang gue dapat saat gue kecil, yang ternyata nggak ideal.”

    sebenernya banyak paragaraf yang relate banget kaGit. Alhamdulillah ortu baik-baik aja. Meski sampai sekarang aku masih bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa sedekat itu dengan ayah padahal kecilan aku dibawalah kemana-mana, ketika remaja aku mulai menjaga jarak. Privasi. Ortu aku dulu kurang banget kasih aku privasi emang. Dan, truly madly, aku adalah anak yang sangat sensitif dengan apapun, ‘perasaan’ yang terbesar. Aku 24 tahun dan aku belum berani dan siap memutuskan untuk menikah meski aku ingin segera dipertemukan, tetapi dalam keadaan aku sudah siap. Apa yang aku tunggu? Aku ingin menyelesaikan ‘inner child’ku dulu. Dan, belajar banyak dari orang tua bahwa aku harus beda didikannya untuk anak aku nanti. Meski, tanpa disadari pun ketika lagi puncak emosi negatif, yang terjadi juga ga jauh beda didikannya dengan ortu ke aku waktu dulu. aku punya adik, jadi kadang didikan ortu terefleksikan ke diriku ketika lagi pengen benahin adik. Hahaha. Kadang ada sisi yang sudah tertanam, tapi aku berusaha untuk meminimalisir nanti jika memang dampaknya kurang baik. Cukup aku saja yang punya mental begini, adik dan anak aku nanti jangan 🙂

  • Reply
    asma narun
    April 25, 2020 at 7:14 am

    ini yang biasa membuat saya bingung. walaupun sejelek apapun orang tua pasti ada pelajaran berharga yang dapat kita gunakan di kehidupan nyata saat kita udah pisah dan hidup mandiri jauh dari ortu. saya anak broken home, jujur hal hal buruk yang udah terjadi memang membuat saya sangat trauma sampai sampai saya berpikiran untuk tidak menikah supaya tidak ada hati yang tersakiti karena pelampiasan yang tidak sengaja saya lakukan nanti tapi saya juga tidak yakin ini keputusan bener atau gak. terlepas dari itu semua saya sangat menyayangi kedua orang tua saya, saya benar benar takut kepada mereka bukan hanya karena saya anak yang masih bergantung uang kuliah dari ibu saya namun satu satunya alasan adalah saya takut kepada Tuhan. dan cara terbaik untuk mengatasi semua kekacauan ini adalah dengan melupakannya, saya sudah melupakan dan berdamai dengan diri sendiri. tidak usahlah mengungkit kesalahan ortu. toh juga sudah berlalu, jika jejak kesalahan ortu memengaruhi psikis. saya akan mengatasi sendiri dan tidak lantas kecewa dan menyalahkan ortu. alasannya sederhana yaitu Tuhan.

  • Reply
    Atiq
    April 25, 2020 at 8:53 am

    Iya kak,
    Masuk banget tulisannya sama yang selama ini aku rasain tapi aku nggak nyadar.
    Aku ngerasa ya memang harus hormat gitu sama orang tua, (dengan kehormatan yang mutlak).
    Dan aku memang susah banget untuk terbuka sama orang tuaku,
    Aku rasa orang tuaku bukan menenangkan aku ketika aku mendapat masalah tapi malah menyalahkan aku, seolah-olah memang aku yang sepenuhnya salah atas masalah hidup yang aku alami.
    Thanks Mbak Gita, atas tulisannya, yang mampu ngebuat aku jadi sadar,
    Dan ternyata bukan cuma aku yang ngerasain hal kayak gini

  • Reply
    Khatarina yustina lando
    April 25, 2020 at 5:32 pm

    ❤❤❤❤❤

  • Reply
    olan
    April 26, 2020 at 11:36 am

    nice post

  • Reply
    Rica
    April 26, 2020 at 12:54 pm

    Love this so much.

  • Reply
    rofida safa
    April 27, 2020 at 11:26 am

    hay ka gita
    seneng banget bisa tau isi pikiran gita. aku juga ga bisa membenarkan bahkan menyalahkan critical thinking gita tentang perilaku orang tua ke anak maupun dampak yang bakalan terdampak dari semua perlakuannya ke kita its means hidup kita ketika dewasa nanti.

    gw apriciated banget sama tulisan ini. karena memang semua punya background berbeda-beda dan gak akan pernah bisa sama. tapi git, untuk membuat semua ini merasa baik memang kita diharuskan untuk adu argumen dengan orang tua kita biar mereka tau isi pikiran, hati bahkan sifat dan watak kita, karena aku tau ini bakal terdampak bagi kita saat dewasa nanti. ga tau sih mungkin gita yang memnag ngerti kondisi orang tua dll nya ya emang sih hehe tapi jujur berdamailah dan do the best buat hidup gita ketika gita punya background terdampak kaya gini atas orang tua gita yang telah dilakukan ke gita. so be a wise human for the best future gita :))
    maafin kalo aku ada salah. seneng banget bisa baca dan belajar banyak hal tentang banyak pikiran gita ini. semoga semakin berkah tulisannya. aamiin

  • Reply
    Yanyan
    April 27, 2020 at 11:51 am

    makasih kak, karena tulisan ini ternyata perasaan yang aku rasakan selama ini itu valid. aku gak bisa menyangkal bahwa mamah ku itu baik secara utuh. tapi dia juga manusia yang bisa melakukan banyak kesalahan.

  • Reply
    farah
    April 27, 2020 at 5:04 pm

    Hai kak git, thank you for writing this. It really has represented what’s been on my mind since forever. I’m always afraid to let out my emotions in front of my parents that every time I did (which is so rarely) I always ended up crying because there’s too much to handle. I’m always at loss of words every time I had to argue with them, so I have never gotten the chance to deliver my thoughts well and ended up being beaten by their words and that’s always the end of the story. I’m always questioning why all of this is happening to me, why don’t I get the chance to feel better than this. But this writings has made me realize that our parents may not be perfect and they probably will always behave that way, but we can control ourselves, though. “We can’t control the wind, but we can direct the sail.”
    Sekali lagi thank you for the words, Kak Git.❤

  • Reply
    fifi sofida
    May 1, 2020 at 7:54 am

    Subhanallah, sempfet tahan napas, degdegan, sedih banget baca kalimat demi kalimat. Semoga Allah swt melimpahkan Gita kekuatan, pertolongan, mengobati luka batin Gita, hingga Gita mampu berdamai dengan takdir-Nya.

  • Reply
    keyy
    May 2, 2020 at 12:21 pm

    Tulisan ini bener-bener ngewakilin aku banget. Dan setelah aku tau ternyata banyak juga orang yang merasakan hal yang sama. Makasih tulisannya kak gita, aku jadi ngerasa ga sendirian

  • Reply
    keyy
    May 2, 2020 at 12:35 pm

    tulisanyya ngewakilin banget kaa. Dan ternyata ada banyak orang juga yang ngerasain hal yang sama. Makasi ka gitaa, ternyata aku ga sendirian 🙂

  • Reply
    Sarah
    May 3, 2020 at 12:01 am

    Saya pernah dengar penceramah bilang gini,

    Ada ortu yg bertanggung jawab, ada juga ortu yg menelantarkan anaknya. Thats why, doa untuk orang tua juga dibuat adil oleh Allah…

    Doanya…….”sayangi mereka SEBAGAIMANA mereka menyayangi aku saat aku kecil”…

    dan bukan….”sayangi mereka”

    Adil bukan?

  • Reply
    ami
    May 3, 2020 at 9:19 am

    this really represents my thoughts beautifully. thank you kak gita for sharing this, I hope you will always be surrounded by love and light around you always, even during the stormy days.

  • Reply
    Zati
    May 4, 2020 at 2:15 pm

    Gue setuju kak. Tapi gue mau nanya, menurut kak Gita, dimana sih batasan anak durhaka itu?
    Gue ngga menyerang atau menghujat kak, ini pure nanya. Thanks kak

  • Reply
    Awanda Gita
    May 6, 2020 at 9:10 am

    I scrolling through your previous blog and found so many things to learn, intinya aku belajar jadi it’s ok not to be okay and honest. Menjadi anak adalah dilema juga, menghadapi perbedaan keinginan sendiri dan orang tua tapi keduanya ingin mencari jalan tengah pada akhirnya, let’s negotiate.

  • Reply
    tiara
    May 6, 2020 at 12:09 pm

    oh my god, habis baca ini gua jadi ngerasa bersalah udah ngatain temen gue anak durhaka setelah dia cerita kalo dia ga betah dirumah dengan keadaan ortu yang berantem all day, i feel bad, i’m gonna apologize to her now 🙁

  • Reply
    Muthia Kamal
    May 6, 2020 at 11:48 pm

    Please keep writting. You never dissapoint me

  • Reply
    shafia
    May 7, 2020 at 4:09 am

    and now i find u again, the gigi taga in the past, when i can read ur blog without weird feelin.
    this is u in ur blog, happy to know this.
    atleast, blog gak terlalu rame dari youtube untuk bersuara.
    thats why i choose blog site.

  • Reply
    shafia
    May 7, 2020 at 4:10 am

    and now i find u again, the gigi taga in the past, when i can read ur blog without weird feelin.
    this is u in ur blog, happy to know this.
    atleast, blog gak terlalu rame dari youtube untuk bersuara.
    thats why i choose blog site.
    happy to know u

  • Reply
    Dina
    May 9, 2020 at 2:54 am

    Ngga bisa ngomong apa-apa, tapi ini relate banget mbak git. This, mencari untuk menemukan. Terimakasih sudah berbagi tulisan ini.

  • Reply
    Agung Ramadhan
    May 11, 2020 at 11:50 pm

    i knew it kagit, i’ve been there .. Semenjak saat gue sekolah SMA kemarin gue juga ngerasa terlalu diporsir sama ortu, terutama ibu. I know she want to make me feel so happy, tapi caranya emang yang terlalu terkesan memaksa dan apapun harus jadi apa yg dia mau. Ada satu kutipan film “My Generation” ‘orang tua itu harus dijadikan sebagai role model, it sucks actually’ gue get that point karena, gak semua apa yang mereka lakuin harus kita jdii referensi buat hidup kita, pun jadi seakan akan flat akan aturan-aturan nya. we have a way that i should take by own way, kita bisa sebenernya atur jalan kita sendiri, apapun nanti hasilnya, mau buruk atau engga kita akan bertanggung jawab atas apa yang kita usahain. Thanks kagita, you are my thoughts every single word u written, u spoken, and many… i’ll see u kagit, on another event setelah di depok kemarin gue hadir di booktour tentang kisah, and iam so Happy for that. Danke:) . salam itu ka paul dan keluarga!:)

  • Reply
    Pina
    May 12, 2020 at 11:23 pm

    Dari tulisan-tulisan kak gita beneran berasa ngeliat kehidupan yg sesungguhnya di dunia ini

  • Reply
    Lydia
    May 15, 2020 at 10:03 am

    Tulisan-tulisan mba Gita emang selalu mengena, saya rasa ada banyak yang merasakan seperti ini namun sepertinya hanya mba Gita yang berani dengan jujur bersuara tentang hal ini, karena apa? bagi saya sendiri karena saya terlalu takut juga di cap dengan embel-embel “anak durhaka” , terima kasih mba Gita selama ini saya silent reader dan tulisan-tulisan mba Gita sllu the best untuk pengobat gundah gulana

  • Reply
    jasmine
    May 16, 2020 at 3:49 pm

    aku tau, menjadi seorang anak memang nggak mudah. kadang sering banget di salahkan oleh kedewasaan orangtua. but, ketika kita tau orangtua kita manusia, cukup hanya kita aja yang tau kekurangan beliau. toh ketika kita merenung lebih banyak lagi, justru kelebihannyalah yang lebih banyak dibandingkan kekurangannya. cara mencintai seseorang itu berbeda – beda. dan perlakuan kasih sayang orangtua kepada anaknya pun beda beda. namun yang harus kita yakini adalah semua orangtua pasti menginginkan anaknya lebih baik darinya dan mendapatkan kehidupan yang indah dari dirinya. tanpa kasih sayang dari mereka, nggak mungkin kita dapat ada didunia ini. dan gak mungkin juga kita dapat menulis tulisan secantik ini 🙂 so, berdamailah dengan masa lalu, coba kita sama – sama belajar untuk mengobati luka batin dimasa lalu. caranya? memaafkan dan memperbaiki untuk anak kita kelak.. 🙂 cukup katakan kebaikannya saja, insya Allah hidup kita akan semakin berkah dan rasa cinta itu akan semakin tumbuh dan berkembang 🙂

  • Reply
    FA
    May 17, 2020 at 9:07 pm

    Beribu makasih buat Kak Gita yg udah nulis ini. Isi tulisan ini bener-bener mewakilkan isi pikiran dan hati gua selama ini. Ngga tau bakal sampe kapan ngerasa terperangkap. Tapi seenggaknya gua udah ngga sering tinggal di rumah dan itu bikin gua jauh lebih waras dan tenang pikiran.

  • Reply
    Navicenna
    May 20, 2020 at 9:41 am

    It sames conditional for me. Gue gak pernah berani mengungkapkan apa yang gue rasa, even gue lagi lost my goal karena gue baru aja gagal masuk perguruan tinggi lewat 2 test tesebut, sedihnya lagi nyokap gue sampe bilang “yah gagal deh dua2nya”, tanpa lihat keadaan hati gua yang hancur, kayak hilang harapan, padahal adek gue ngejekin gini “ih, si teteh mau nangis”, tapi nyokap seperti apa yang gue lihat, dia kurang peduli.

  • Reply
    Bumblezee
    May 22, 2020 at 1:12 pm

    gue pernah speak up di twitter tentang “gue ga merasa perlu berterima kasih karena udah dilahirkan dan bertanggung jawab atas mereka kelak ketika gue udah dewasa.” jujur, lahir di dunia bukan hal yang harus gue syukuri, gue ga harus berterima kasih sama mereka karena udah lahirin gue. gue malah akan berterima kasih kalo ga dilahirin, haha. gue juga benci banget dengan narasi bahwa anak HARUS bertanggung jawab terhadap orang tuanya sebagai ungkapan terima kasih, like wtf? mereka yg lahirin gue, ya itu tanggung jawab mereka buat ngerawat gue, that’s all. gaharus ada timbal balik, kan? tapi, dengan pendapat tersebut bukan berarti gue membenci orang tua gue. gue menghargai mereka, gue sayang sama mereka dan gue tetap akan merawat mereka kelak ketika gue udah dewasa. tapi apa tanggapan orang2 di twitter? banyak dari mereka yang anggap gue durhaka, mereka gadapet poinnya. HAHA, miris git

  • Reply
    Marfa
    May 22, 2020 at 5:01 pm

    pengin banget bisa bikin postingan jujur kayagini, rasanya nggak enak bertumbuh dengan banyak bekas luka batin bahkan masih ada yang menganga. rasanya lelah berkali2 berdamai dengan diri sendiri

  • Reply
    Widiyah
    May 23, 2020 at 7:04 am

    Kadang rasa sakit, kecewa dn marah dari anak dianggap tidak valid ato dipaksa untk ditelan kembali krna nnti akan berhadapan dengan kata “durhaka”
    Orang² lupa, klo orang tua juga manusia yg bisa salah. . . Terima kasih ka Git, akhirnya b jd tau b snd sendiri. . .

  • Reply
    futihandayani
    May 23, 2020 at 7:33 pm

    Hello ka git, terimakasih sudah bersuara. Alu juga sephaman dengan kaka but not all your thought. Setuju banget kalau orang tua kita itu ga sempurna. Ada salah dan ada benarnya. Bunda dan bapak gue juga gitu. Bunda gue sangat2 kuno lah dalam mengurus anak, sedangkan bapak gue gapernah ada ikatan batij yang dekat dengan gue, i can say he just give me financial needed. Semua pelajaran hidup gue juga belajar semua dari bunda gue. Hubungan Bunda dan Bapak gue pun bener2 bukan hubungan suami istri yang harmonis, mereka udah ga sekamar, udah jarang ngobrol. Thus, gue sangat stres berada di rumah dan menjadi itu sebuah my new normal life. Mereka ga bercerai karena ya mungkin percerain berat dan ribet masalah administrasi. And me as their daughter doesn’t know how i am supposed to do. cuma bisa berdoa kalau percerain memang cara yang baik, ya gue nerima. Balik lagi menanggapi tulisan ka gita, gue ga setuju kalau kita tidak perlu berterimakasih untuk dilaihrkan di dunia ini, Ya,, emang beener kita adalah sesuatu yang dibuta karena mereka memang minta anak. Tapim kenapa kita ga bersyukur kalau kita ini selama 9 bulan dikandung dengan baik, dirawat, dan disayangi, Karena ada di luar sana yang masih kurang beruntung bahwa orang tuanya pun ga menginginkan mereka, Jadi, kita pun tetap harus berterima kasih karena telah dilahirkan dan dberikan kesempatan untuk merasakan dunia tempat kita menupuk semua amal-amal.

  • Reply
    Rika Harahap
    May 24, 2020 at 10:21 pm

    We have the same voice! And one day i hope can live far from them. Not because i hate them. I need myself a space.

  • Reply
    Arinmo
    May 27, 2020 at 10:01 am

    Gue suka tulisan lo

  • Reply
    Lita
    May 27, 2020 at 4:28 pm

    Kesalahanku yang kusadari kali ini pertama mengapa aku tak membaca blog kak Gita dari dulu nggak ngikutin rutin padahal dilihat dari sudut pandang kak gita itu mewakilkan banyak perasaan. Kedua kesalahanku yaitu terlalu mencela diri sendiri bahwa orang tuaku selalu benar dan aku harus mengikuti kemauan mereka. Oh yaa kak sekedar cerita aku anak terakhir dari 4 bersaudara kakakku semuanya perempuan. Aku lahir saat orang tua ku sudah cukup dibilang usia lanjut sehingga mau tidak mau cara berpikir bahkan pemberian kasih sayang mereka kepadaku itu sangat kuno. Bisa dibilang saya selalu mengikuti kemauan orang tua dan kakak kakak saya. Kadang aku cukup sensi kepada teman saya karena perlakuan orang tua mereka berbeda dengan orang tuaku. Tapi bagaimana lagi begitulah cara mereka melakukan sesuatu terhadap ku akhir-akhir ini aku mengubah cara pikirku jika orang tuaku tidak bisa melakukankannya aku sendiri yang akan mewujudkan agar sesuai dengan keinginan ku sedikit egois tapi tidak cukup menyesal untuk dilakukan .
    Terima kasih kak gita dengan membaca blog kakak memberiku pemahaman bahwa orang tua tidak selalu benar dan ataupun sepenuhnya salah. Tergantung dengan perspektif diri masing masing
    Fighting to kak Gita…

  • Reply
    nkcl_
    May 28, 2020 at 5:52 am

    hallo kak git, terima kasih terima kasih banyak sudah membuat cerita ini, sejujurnya sekarang akupun lg merasakan hal seperti itu

  • Reply
    Anisa Wahyu Adzkiya Atsar
    May 29, 2020 at 3:18 am

    Mewakili perasaanku banget kak 🙂

  • Reply
    Nurrasni tumiwa
    May 30, 2020 at 5:55 pm

    Relate bgt sama keadaanku skrg, mama sama papa hubungannya lagi terombang ambing. Aku dinasehatin sama keluarga buat ajak ngomong mama sama papa, tapi tetap aku gabisa ngomong sama mereka, aku gatau caranya mulainya gimana, rasanya ga punya kekuatan dan takut nyakitin perasaan mereka, takut merasa berdosa. Mungkin karena aku dulu juga ga diberi ruang buat menyalurkan emosiku, jadi sekarang aku lebih sering memendam rasa gitu. Aku ga bisa nangis didepan banyak org walaupun lagi sedih bgt dan pengen nangis, aku merasa kalo nangis didepan org tuh jadi kelihatan lemah bgt sama kek kasihan bgt gitu, aku gabisa curhat ke teman teman terbuka sama apa yang aku rasa karena aku gatau caranya gimana, dan rasanya ganyaman buat ngomong. Terima kasih kak gita untuk tulisannya, mulai hari ini insya Allah aku akan belajar untuk bisa nyampein pendapat aku, nyampein perasaan aku tanpa merasa ganyaman.

  • Reply
    Zakia M S
    June 6, 2020 at 7:32 am

    Baru pertama kali baca blog ini, dan baca yang bagian ini rasanya, semua yang pengen aku sampaikan bisa tersalurkan aja dengan baik dan nyata, karena faktanya adalah banyak anak yang mengunci hati nya , tidak bisa terbuk, dan membiarkan itu jadi privasi yang tidak akan pernah diketahui orangtua nya hanya karena mereka memang tidak pernah diberi privasi, seolah2 memiliki privasi di sebuah keluarga adalah hal yang membuat keluarga tidak harmonis

    Iya, ini adalah cerita yang serupa dengan kehidupan aku selama ini, bisa dibilang orangtuaku adalah tipe yang suka playing victim, paham kan ya, dan ya itu mungkin yang ngebuat aku juga jadi pribadi yang sensitif
    Rasanya ingin ngasih tulisan blog ini ke orangtua aku, biar mereka paham apa yang aku maksud, dan ini bukanlah hal tabu yang aku karang sendiri, bahwa terkadang orangtua bisa menjadi terlalu toxic untuk anaknya, tapi gatau juga apa emang bisa jadi merubah pandangan ibuku atau engga, karena pasti urusannya akan beliau bawa ke arah agama, well,

    intinya aku suka bgt bagian ini, karena ini nyata terjadi

  • Reply
    Rozatul Nafisah
    June 7, 2020 at 10:55 am

    tadi malem aku beradu argumen sama orang tua gara2 masalah adik aku. aku ngasih tau kalo jalan yang mereka pilih itu salah, terus mereka ungkit kalo aku dulu juga ambil jalan yang salah dan bilang nanti adik aku terpengaruh pemikiran aku yang seolah2 gak baik. aku tersinggung sama ucapan orang tuaku. aku bukan orang yang berani beradu argumen karena orang tua aku jarang mau dengarin aku. tapi aku ingat kalo kesalahanku juga banyak kepada mereka, jadi aku berusaha berdamai dan menerima kenyataan atas yaang baru aja terjadi. aku paham orang tua aku bisa aja salah, makanya aku berusaha berdamai sama semuanya.

  • Reply
    Ihat
    June 7, 2020 at 12:45 pm

    Terima kasih sudah menulis ini Kak Gita. Menginspirasi sekali 🙂

  • Reply
    putri
    June 13, 2020 at 7:18 pm

    waw ini yang respon banyak banget vroh….
    ————————————————————————————————————-
    gue kutip dari kata kata ka gita yang… :point_down:

    ” Sebagai anak yang udah ansos dari dulu, tidur sama orang tua itu nggak enak. Untungnya waktu remaja akhirnya gue punya kamar sendiri. Paling nggak gue bisa sendirian. Tapi sayangnya hampir tiap hari jantung gue rasanya deg-degan. Deg-degan karena Nyokap gue bisa tiba-tiba masuk dan nge-gap-in gue lagi main hape, terus hape gue diambil dan isinya dilihat-lihat. Dari remaja gue belajar untuk menyembunyikan hape dan pura-pura sibuk melakukan hal lain. Biar nggak dimarahin.

    “Kenapa kamarnya nggak dikunci aja?” you might ask.

    Nyokap gue nggak ngizinin. Katanya kalau gue mengunci kamar, tandanya ada sesuatu yang disembunyikan. ”

    ——————————————————————————————————-
    gue kira gue sendiri yang ngerasa kek gini ternyata mungkin banyak ya…

    (kadang jadi anak yang terlalu dekat dengan ortu juga merasa tidak enak hati untuk membohongi apalagi untuk punya opini sendiri dan mengungkapkan nya tu butuh beberapa waktu buat ngeluarin uneg uneg, tapi kadang anak yang jarang deket sama ortu yang kerjaan nya semasa sekolah formal cuma sekolah-pulang-makan-tidur-sekolah lagi. dia akan ada jarak dan jarang komunikasi dengan orang orang terdekatnya, yang dimana ketika dia sudah tidak sekolah lagi istilahnya nganggur di rumah dia mau buka percakapan dengan orang terdekatnya saat itu di rumah canggung dan akhirnya mencari teman terbaik diluar sana yang bisa di ajak ngobrol.

    apresiasi banget si gue kak sama lau kak brani tampil beda walau ada konsekuensinya. kadang gue ngeliat orang yang takut dengan orang tua nya untuk melakukan sesuatu karna dia meyakin kalo ngelakuin A pasti reaksinya bakal duakali A dan alhasil si orang itu bakal ngelakuin B yang reaksi ortu nya bakal tiga kali A. itu terjadi di lingkup gue tapi bukan gue pelakunya hehe…

    mungkin cerita sedikit ,dulu pas awal” gue di kasig gedget yang ada internetnya itu lho awal awal kelas 1 smk, lalu suatu ketika gue senyum senyum sendiri dan berprilaku hal yang sama yang kek gue kutip dari tulisan ka gita, dan alhasil emak gue memiliki kecurigaan yang mendalam thdp sikap gue dengan megang gadget, dan dari situ lah gue baru sadar hehe, sebenernya orang orang terdekat kita itu perlu banget yang namanya komunikasi dengan baik dan benar walaupun itu pahit opini yang kita ungkapkan agar apa, agar orang orang terdekat itu tidak ada kecemburuan sosial dan tidak banyak berprasangka hehe…

    semenjak itu gue lebih open aja ke orang orang terdekat gue walau dia nga suka dengan prilaku yang blak blakan, atau karna ke blak-blakan mengungkapkan pendapaat/opini kita thdp suatu hal bakal bikin mereka ilfiel atau merasa “apaan si ni orang ngaco lu ” tapi ya nga papa yang penting menghilang kan prasangka itu lebih indah guys dari pada diem diem budim hahaha….

    kadang gue mikir lebih baik mantan preman dari pada mantan ustadz/ustazah,hehe…
    (entahlah mungkin itu pikiran absurd gue aja yang masih terrngiang ngiang)

    thanks ka git udeh share sangad sangad apresiai banget

  • Reply
    SH
    June 14, 2020 at 8:31 am

    “mau gimana pun juga, itu kan orang tua lo!”

    ASLIIIIIIIIIII INI BENERRRRR BANGEEETTTT!!!!

    Ke orang tua nggak bisa cerita, ke temen juga nggak bisa. Huuufftt.
    Pas momen pandemik gini, entah kenapa gua diomelin mulu, almost all day. Seolah-olah gua apa yang gua lakuin salah semua, gaada benernya. Bantuin orang tua, diomelin karena menurut penilaian mereka cara yang gua lakuin salah. Besides, kalo gua ngga bantuin, dibilang jadi anak kok males banget! Alhasil, selama #dirumahaja rasanya tuh malah nanemnya dosa, bukannya quality time yang kek orang2 bilang. Sad. Sampe pernah suatu waktu, gua mencoba berdialog dengan Tuhan dalam doa, dan bertanya ‘sebenarnya ada ngga sih istilah orang tua durhaka?’, ‘kalau saia gini ke orang tua, salah ga sih?’, dan hal-hal lainnya terkait orang tua & parenting. Mungkin, ini salah satu petunjuk Tuhan yang mengarahkan gua buat baca blog Kagit dan pas banget topiknya so relateeeeee!! At the end, gua diingatkan lagi ‘Kadang kita butuh untuk berani mengakui realita apa adanya untuk bisa berdamai dan menerima’ (Gitasav, 2020). Emang ya, makin nambah umur, jadi harus banyak belajar dan bersabar lagi. Thank U Kagit. Semangaaaattt!!!

  • Reply
    estherlita
    June 20, 2020 at 3:44 pm

    good point Gita.
    Enggak sedikit kok cerita orangtua yang menelantarkan anaknya, atau punya anak tapi enggak niat ngurusinnya, dsb.
    Dengan Gita nulis pengalamannya gini, pasti akan ada yang ngerasa “relate” banget dan ada juga yang enggak.
    ya gapapa juga, cerita masa lalu kan beda-beda, dan efek dari pengalaman masa lalu ke masa depan seseorang dengan yg lain juga belum tentu sama.
    Temen gue dari bayi ditinggal sama ibu kandungnya dan diserahkan ke tantenya (adik ibunya) untuk diurus, sampe dia dewasa ibunya gak pernah nemuin dia atau pun sekedar nanya kabarnya. Terus saat temen gue ini mau nikah, ibunya engga dateng dan malah temen gue yang disalahin orang sekitar , ya dengan kata kata itu “biar gimana juga dia orangtua kamu”. Temen gue cuman ngejawab dengan miris, “Kenapa kalo orangtua yang jahat dan enggak peduli dengan anaknya, enggak dibilang orangtua durhaka ya?”

    Jadi orangtua itu amanah / tugas, untuk dipertanggungjawabkan , bukannya hak untuk menguasai atau mengatur atau menelantarkan hidup orang lain (anak).

  • Reply
    Dini
    June 22, 2020 at 5:18 am

    Gue tau, mungkin komen gue terdengar lebay. Tapi gue nangis baca ini. Gue merasakan perasaan kayak gini ampe di umur 27 tahun. Dimana sepertinya seorang anak ga boleh merasa kecewa, marah, atau benci dengan orangtua. Seakan-akan yg patut dilakuin oleh anak ke ortu nya hanya patuh dan hormat. Seakan-akan gue lahir ke dunia dengan punya hutang untuk melakukan dan menjadi apa yg mereka mau. Gue capek. Tapi mau gimana. Kalo speak up atau bertindak jujur, gue akan bertubrukan dengan norma & agama. Ujung² nya gue yg akan dilabeli salah dll.

  • Reply
    Audi Erenike
    June 30, 2020 at 10:13 am

    makasih ka git. mewakili perasaan bgt😭

  • Reply
    Nafisah
    July 5, 2020 at 6:30 am

    Sumpah bener2 related bgt sama hidup aku, dan 80% aku juga ngerasain sama ky yg ka gita rasain

  • Reply
    ana
    July 9, 2020 at 8:06 am

    Aku termasuk org yg percaya membaca itu termasuk Healing mentally, salah satunya blog kak gita. Makasih udh nulis

  • Reply
    Dwi Puji
    July 11, 2020 at 4:52 am

    I totally relate with you, Kak Git. Tumbuh di keluarga yang sama sekali tidak menghargai privacy sedari kita kecil itu amat sangat berimbas di masa masa aku yang menginjak umur 20 tahun inii..
    Kadang iri dengan teman-teman lainnya yang punya orangtua yang merangkap sebagai teman curhat dan bisa bersikap demokratis terhadap anaknya, bukan malah menghakimi hanya karena mereka adalah orangtua.

  • Reply
    Aurel
    July 21, 2020 at 5:52 pm

    Halo Kak Gita, terimakasih telah menuliskannya dalam sebuah rangkaian kalimat yang sangat menarik. Bahwa ternyata diluar sana bukan hanya aku yang memiliki pemikiran, pengalaman, dan sudut pandang tentang kedudukan orang tua dan anak seperti ini dalam konteks kita yang muslim. Terus menulis dan membuat konten yang menarik Kak! Semoga dengan ini banyak insight yang dibagi dan didapat.

  • Reply
    Putri
    July 28, 2020 at 4:31 am

    Jujur gue sebagai anak sulung merasa sedikit terbebani dengan iming-iming “anak pertama.” Di lain sisi gue juga anak perempuan yang “katanya” harus punya mental sekuat baja. Apa yang pernah gue lewati dipaksa untuk diingat lagi dan diterusin ke ade-ade gue. Padahal ngga semua hal bisa melekat di diri kita kan? Setiap individu memang punya caranya sendiri untuk mempelajari dan menjalani hidup. Tapi kalo dipaksa harus begini dan begitu berat juga lama-lama.
    Gue tetep ga mau jadi durhaka sih. Berusaha bersikap sebaik mungkin mempersembahkan yang terbaik juga untuk mereka. Klise sih emang. Tapi yaudahlah, mau gimana lagi. Ga mau muluk-muluk juga minta hak ini itu. Walaupun cerita cuma jadi gal lobang sendiri, juga gapapa.
    Btw, terimakasih Kak Gita, sudah sedikit mewakili perasaan kecil yang sebenernya ngga bisa diungkapin! Mungkin memang tidak setuju dengan semua opini Kak Git, tapi terimakasih Kak sekali lagi!

  • Reply
    Zara
    July 29, 2020 at 5:53 pm

    Terima kasih Ka Gita, baru aja baca tadi postingan ini.. dan gue Merasa cerita ini truly represented my reality life

Leave a Reply