Ngomong Sendiri

Black and White are My Favorite Color, But…

Sejak awal pertama kali ditayangin di bioskop, entah udah berapa kali gue nonton film Avengers: Infinity War. I gotta admit, yang membuat gue akhirnya tergerak untuk nonton lagi dan lagi adalah adegan tiap kali satu per satu Avenger muncul. Gabungan antara background music tiap karakter yang berbeda-beda dengan cara kamera menyorot si Avenger tersebut bikin gue excited dan berasa lagi ada di Marvel Universe. Ditambah dengan cheesy punchlines yang mereka deliver, yang bikin gue makin lelompatan di dalam hati. It’s so cheesy, but apparently it works even for me.

Tapi ada satu hal lain yang bikin gue merasa—walaupun ini film superhero yang biasanya gue anggap childish—patut diacungi jempol dalam menggali karakternya, Thanos. Thanos ini adalah contoh villain paling realistis dari film action super fiktif yang pernah gue tonton. Ehm, ketauan deh referensi film gue minim banget. But it’s true tho. I think at this point I’m pretty bored with the idea of Good vs Evil, White vs Black. Let’s call it simplification of someone or something. Karena walaupun itu film, paling nggak gue mau film itu punya sedikit taste of reality.

Lewat karakter Thanos, para penonton Avengers dikasih lihat kalau sebenarnya nggak ada satu mahluk pun di dunia ini yang bisa kita kasih satu label. Bahkan seorang mahluk non manusia dari planet Titan aja nggak cukup dikasih satu label. Iya, Thanos memang jahat karena dia memiliki misi mau membumihanguskan 50% populasi alam semesta. Kalau kata Doctor Stranger, “Genocide.

Tapi keinginannya untuk menghilangkan setengah mahluk hidup nggak semata-mata dia pingin membunuh aja. Thanos punya misi ingin memberikan keseimbangan sehingga mahluk-mahluk yang tersisa bisa hidup berkecukupan. Punya cukup tanah, cukup sumber makanan, cukup air, dan kecukupan lainnya. He wanted to save them and he would do anything for it. Even sacrificing his little one, Gamora. So, the question would be, is he actually plain evil? Or should we even root for Thanos? Because you know, over population is a real issue.

Another close example to Thanos will be Hitler. Tenang, gue bukan tipe-tipe Muslim yang glorified Hitler karena dia membunuh Yahudi. I think it’s just pure evil. Tapi yang mau gue senggol di sini adalah ternyata salah satu manusia paling bengis yang pernah hidup di dunia adalah seorang vegetarian. Suatu praktik yang mungkin buat para SJW yang sangat concern dengan keprihewanan dan fakta bahwa industri daging adalah salah satu kontributor terbesar dalam emisi karbon, patut diacungi jempol karena Hitler ternyata woke enough untuk nggak mengikuti keegoisannya makan daging dan peduli pada lingkungan. Dan fakta bahwa Hitler nggak merokok dan minum alkohol mungkin juga di mata orang-orang judgemental yang beranggapan bahwa peminum alkohol dan perokok adalah orang-orang nakal, membuat Hitler terlihatnya nggak jahat-jahat amat (seandainya dia nggak ngebunuh orang).

Ok, my point is manusia nggak sesimpel itu. Nggak manusia doang sih, EVERYTHING in this world is not that simple.

Kenapa gue tiba-tiba nulis beginian? Seperti biasa, gue beberapa bulan ini kepikiran karena gue berulang kali melihat fenomena Black-and-White thinking di kehidupan kita. Dan itu ngerembet kemana-mana, salah satunya cancel culture.

I would see some strangers talking about some famous person yang mereka cancel karena mereka pikir si famous person ini terlalu paradoksikal. Atau karena si famous person ini melakukan suatu keburukan tanpa mempertimbangkan kebaikan-kebaikan yang pernah atau sedang dia perbuat, dan itu terjadi sangat sering.

Saking seringnya gue sering kali berpikir, orang-orang itu sebenernya punya ekspektasi apa sih terhadap manusia lainnya? Namanya juga manusia. We consist of many things and our standards of good and evil differ. Mau cari ke ujung dunia manapun juga nggak akan kita menemukan manusia yang tidak problematis. Karena pada dasarnya manusia memang ditakdirkan untuk menjadi problematis. Atau sebenernya para penggiat #cancelculture ini cuma ingin ikut-ikutan anak edgy internet zaman sekarang aja?

Okay. Enough with people cancelling another people. Gue mau mengambil contoh konkrit untuk dibahas, yang kebetulan menjadi pelatuk untuk gue akhirnya membicarakan topik ini.

Tadi pagi gue nonton salah satu video Hijab Alila yang berjudul Proud to be Feminist. Sebelumnya gue udah pernah nonton video mereka yang membahas tentang Illuminati. Hmm… About that illuminati video… I have A LOT to say but ended up not saying anything. Jujur, sampai sekarang gue sangat heran apa yang membuat mereka merasa harus membicarakan tentang teori konspirasi, lalu di-cocoklogi-kan sama agama. Buat apa? Tujuannya apa? Visi dan misinya apa? Namanya aja TEORI konspirasi. TEORI… TEORI… TEORI… Ah, sudahlah. Sangat disayangkan sebenernya. Padahal di video-video mereka yang lain paling nggak pembahasannya masih bisa didiskusikan untuk kemudian dicari jalan tengahnya.

Kali ini Hijab Alila membahas tentang feminisme, karena isu feminisme ini memang lagi marak di tengah-tengah masyarakat kita. Apalagi setelah banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap (mostly) perempuan, anak kecil, dan penyandang disabilitas, yang nggak langsung diusut tuntas oleh pihak berwajib. Ditambah masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih sangat patriarki, tapi nggak sadar mereka udah terjerumus sangaaaaaaat jauh ke lubang patriarki tersebut. So messed up right? It reminds me of The Sunken Place on Jordan Peele’s movie “Get Out”.

Semua itu menambah buruk rape culture yang udah bertahun-tahun mendarah daging di masyarakat kita. Lebih parahnya lagi, kultur patriarki tersebut sering disangkutpautkan sama agama Islam yang sebenernya dalam hal ini cukup innocent.

Menurut gue pribadi, wajar aja akhirnya banyak yang gerah dan menuntut perubahan. Wajar aja akhirnya banyak dari kita yang merasa feminisme harus ditegakkan. Sekarang makin banyak perempuan yang sadar gimana selama ini kita sebenarnya nggak terlalu diikutsertakan di kehidupan bermasyarakat. Bagaimana perempuan selama ini selalu jadi objek pembicaraan, tapi jarang menjadi subjek yang membicarakan.

Cuma… Bukan Muslim Indonesia namanya kalau nggak oversimplifying sesuatu. Baru-baru ini muncul akun macam @indonesiatanpafeminis yang menolak paham feminisme karena katanya nggak sesuai dengan syariat Islam. Mulai banyak ustadz-ustadz yang membahas tentang bahaya feminisme karena katanya itu adalah paham barat. Nggak jarang juga ada yang mencoba untuk nyeret-nyeret teori konspirasi ke pembahasan feminisme, berkata bahwa kata “feminisme” sendiri berarti “kurang iman”.

Di video Hijab Alila tersebut, salah satu narsum menyatakan bahwa dirinya adalah mantan feminis. Lalu dia akhirnya mundur dari feminisme karena merasa konsep LGBTQ tidak sesuai dengan dirinya, seorang Muslim. Ada yang bilang ke dia bahwa inti dari feminisme adalah dukungan atas komunitas LGBTQ dan jika dia tidak mendukung, dia tidak bisa menyatakan bahwa dirinya adalah feminis. Menjadi sesuatu itu tidak boleh setengah-setengah, katanya.

Dari pernyataan beliau di atas lagi lagi gue melihat fenomena yang sama, yang marak terjadi pada manusia di kehidupan sosial kita, Black-and-White thinking and oversimplification of one issue.

Basis dari feminisme adalah mendukung kesetaraan. Bukan membenci laki-laki, tapi patriarki. Bukan ingin sama atau bahkan lebih dari laki-laki, tapi ingin disetarakan, didengarkan suaranya, diakui keberadaannya, dan diberi kesempatan untuk terlibat di dinamika kehidupan. Inget, ya. Setara, bukan sama. Kalau masih ada yang berargumen feminis itu hipokritikal karena teriak-teriak minta kesetaraan tapi giliran disuruh kerja berat nggak mau, ogut sentil nih lambenya.

Gerakan awal feminisme sendiri cukup rasis karena nggak melibatkan atau bahkan mengakui isu-isu perempuan yang dialami women of color. Maka dari itu feminisme gelombang ketiga dan seterusnya mencoba untuk lebih intersectional. Sekarang WOC dilibatkan, perempuan LGBTQ juga dilibatkan. Karena nyatanya ada banyak nuances dan intricacies di dalam komunitas perempuan itu sendiri dan kita memang harus mengakui adanya layers of oppression yang dihadapi banyak perempuan.

Buat gue, ini logika yang mudah. Karena keputusan untuk melibatkan, mendengarkan, dan merangkul kaum marjinal adalah asas kemanusiaan. Dan paham feminisme secara garis besar merangkum itu. Bahwa perempuan, apapun latar belakangnya, jika dia mengalami diskriminasi maka harus dibantu.

Dan jika si narsum dalam video Hijab Alila ini sangat gusar dengan posisinya pada waktu itu sebagai wanita Muslim feminis terhadap LGBTQ, kita memang nggak pernah dituntut selalu menerima konsep suatu kaum. Kita punya hak untuk setuju dan tidak setuju. Yang dituntut dari kita adalah menghargainya. Dengan menghargai aja sebenarnya adalah alasan yang lebih dari cukup untuk kita akhirnya juga melindungi mereka dari segala bentuk diskriminasi yang ada.

Seorang Muslim melindungi tetangganya yang beragama Kristen, bukan berarti si Muslim setuju dengan agama tetangganya. Seorang Muslim melindungi temannya yang gay, bukan berarti dia setuju dengan LGBTQ. It’s about humanity. Your solidarity and humanity should not be selective.

Seringkali kita juga agak takut untuk memberi banyak label ke diri kita. Terlebih jika kita adalah seorang Muslim. Jika kita seorang Muslim, lantas kita nggak bisa mengadopsi ideologi lain di luar kerangka Islam. Seorang Muslim nggak bisa menjadi seorang feminis walaupun ideologi tersebut sebenarnya selaras dengan ajaran agama. Begitu, sih, narasi yang sering gue dengar di komunitas Muslim mainstream.

Walaupun begitu sebenarnya gue sangat bisa mengerti ketakutan beberapa Muslim akan kata “feminisme”. Karena gue dulu juga begitu. Pertanyaan gue juga sama, “Kenapa gue harus mengadopsi pemikiran lain jika Islam udah mengatur semua?

But here is the thing tho, Islam itu sangat sempurna, tapi apa yang terjadi di komunitas Muslimnya sendiri seringkali tidak. Termasuk dalam isu perempuan dan kesetaraan gender. Islam sangat memuliakan perempuan. Tapi seringkali praktik di dalam komunitas Muslimnya melenceng jauh dari teori. Bahkan ayat-ayat di Quran tentang perempuan yang sebenarnya bersifat melindungi, seringkali dijadikan senjata oleh mereka yang berada di lubang patriarki untuk menyerang perempuannya.

Dari kacamata gue, banyaknya orang-orang Muslim yang merasa “Islam” dan “Feminisme” tidak kompatibel adalah karena culturally ada gender roles di tengah-tengah kita, yang mengindikasikan non eksistensi kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan di dalam Islam. Iya, bukan karena Islam-nya. Tapi karena kultur. Karena gender roles yang hadir di tengah-tengah masyarakat sedari dulu kala.

Dalam berpakaian contohnya. How Muslim women should dress are heavily discussed, that we tend to ignore that Quran also mentioned how Muslim men should dress. We as society usually do not scrutinize a Muslim man who wears shorts. We also do not scrutinize a Muslim man who wears thin t-shirt revealing his awrah.

It’s always the women. It has always been and always will be. We objectify women so much even in our discussion that we forgot to focus on the main thing. Bahkan pada kasus kekerasan sosial. What would then happen is what usually happened when a woman got sexually harassed or raped. People would ask what dress she was wearing. We are not interested in how she felt, what kind of help she needs. But we ask what damn dress she was wearing.

Diskusi berlebihan tentang cara berpakaian dan bahkan fitrah perempuan Muslim ini lah yang menurut gue membuat kesan bahwa Islam sangat oppresive kepada perempuannya. Padahal seperti yang gue bilang di atas, Islam sangat innocent dalam hal ini karena Islam sarat akan nilai-nilai kesetaraan gender. Sementara tidak dengan Muslimnya.

Gue nggak melihat di mana alasan kita untuk lantas tidak bisa mengadaptasi keduanya karena gue pribadi nggak takut untuk mengadopsi berbagai ideologi. In my opinion, it is necessary to bring feminism to the table to remind the Muslim community of further discussion of this topic. Untuk menyadarkan bahwa sering kali kita bawa-bawa agama untuk menjustifikasi kultur patriarki kita. Kalau gue boleh quoting Maslaha, “Feminism in Islam is not then an attempt to import ‘alien’ values in Islam; it is a rediscovery of what is already there and a reclamation of faith.

What matters is, being a Muslim and feminist does not contradict each other. Both ideologies advocate equality and oppose gender discrimination. So, for you people out there who hate to be paradoxical, it’s a good thing, right?

Last thing I want to add; Melihat sesuatu dengan menggunakan kacamata hitam dan putih memang bisa memudahkan kita dalam melihat apa yang ada di sekitar kita. Tapi kenyataanya manusia dan dunia nggak sesimpel itu. Try to see things the way they are, not the way we want them to be.

So, please stop being denial dan berargumen bahwa Islam sudah sempurna dalam mengatur isu gender antara laki-laki dan perempuan. Being denial would hinder us from having important conversations, from solving the problem and from improving ourselves as religious community. Iya, Islam memang sempurna. Tapi tidak dengan Muslimnya.

You Might Also Like

28 Comments

  • Reply
    Azzahrah
    May 2, 2019 at 10:45 am

    Setuju banget sama kak git. Society ini terlalu gampang buat ngelabelin suatu hal. Buat apa kita harus ngelabilin? Apa mungkin salah satunya untuk membenarkan atau membela pendapat kita terhadap sesuatu? Karna ketika manusia terluka, tertindas atau sejenisnya, selalu mencoba untuk membenarkan diri agar merasa “aman”.

  • Reply
    Izzatul islam
    May 2, 2019 at 10:50 am

    Aku mau cerita kak. Jadi kemarin aku downloads video kagita yang beropini soal politik dan agak sedikit bahas sexy killers juga. Terus aku post di story whatsapp pas kagita ngomong “siapa tau pak Jokowi sama pak Prabowo lagi ngopi bareng” itu dan kesananya. Langsung deh aku di komen sama temen kalau Islam aku aneh. What? Terus aku suruh hati” sama kagita dan suruh cari panutan yang bener dan dia ngasih aku video hawariyy** . Aku yang hidup di lingkungan seperti macam hijab Alila, dari pakaian dan cara berpikir nya. Maka dari itu temen” aku banyak yang aneh sama pikiran aku soal Islam, toleransi, dll. Sebenernya aku down sih di gituin sama temen sendiri. Pas aku bilang, aku cuma menghargai sesama ko. Menghargai pendapat orang lain. Eh dia bilang, seharusnya kamu gak boleh menghargai kayak gitu, udah tau salah!!.
    Dan sekarang aku mau diem aja kalau aku suka ka Gita. Soalnya kalau aku suka share gitu banyak yang gak terima, lebih baik aku simpan sendiri aja. Padahal impian aku punya yt yang kontennya macem beropini gitu, tapi masih takut. Semoga orang” kyk lingkungan aku dan sok benar lainnya gak menyalah artikan tulisan ka Gita ini.

    • Reply
      Gita Savitri Devi
      May 2, 2019 at 11:27 am

      Yah, mau gimana. Temenmu mungkin sama kayak banyak orang Indonesia lainnya yang nggak ngerti konteks dan mudah ke-triggered sama diversity of thought. Yang dijadikan source atas pemikiranku aja Hawwaariyyun, yang bikin reaction video tapi missing the whole point of what I said. What can I say… Cari teman yang lain aja, yang pikirannya lebih terbuka.

    • Reply
      Shintia
      May 19, 2019 at 4:20 am

      Mbaknya sama kayak diriku :’). Hidup di lingkungan konservatif dan homogen. Tapi bedanya, aku pilih jurusan yang terbuka untuk ngomongin hal kayak gini. Jadi aku lebih melihat dari berbagai perspektif dan gak hitam putih. Di satu sisi aku nyaman, tapi di satu sisi juga gak nyaman. Karena disebut2 islam liberal dan lainnya padahal kerudung panjang. Sedih sih. Tapi yah, aku percaya ilmu yang kita punya bukan digunakan untuk menghukumi orang lain. Dan juga percaya di luar sana ada yang kayak aku (dan ternyata aku nemu di comment post ini, aku seneng bgt!!:’)) keep going mbak. Semoga kita akan dipertemukan dengan orang2 yg memiliki pemahaman yg sama yg tidak menghukumi dan melihat kehdupan dengan kacamata hitam dan putih.

  • Reply
    Teriona
    May 2, 2019 at 11:02 am

    Terbaik memang. Panutan q <3

  • Reply
    Amelina
    May 2, 2019 at 11:33 am

    It all comes down to -> “Islam is perfect. Muslims are not.” read this somewhere on Twitter once. I hope we all, as Muslims, can contribute something and start being better.

  • Reply
    Nisa.M
    May 2, 2019 at 12:28 pm

    Setuju sama linenya kak
    “islam memang sempurna, tapi tidak dengan muslimnya”
    ini inti dari inti tulisan kak gita

  • Reply
    Karmelita
    May 2, 2019 at 12:44 pm

    Aku juga heran sih sama masyarakat Indonesia yang gampang melebelin suatu kaum. Kalau menurut mereka kaum itu jelek yah jelek aja terus seakan-akan mereka yg paling benar.
    Mau cerita kak kemarin aku lihat petisi dan berita tentang flim Kucumbu tubuh indahmu dan emang banyak banget orang gak setuju sama flim itu. Di beberapa kota juga emang udah ada pemboikotan. Nah karena penasaran aku nonton trailernya dan cari-cari informasi tentang flim itu. Menurut aku pribadi flim itu bukan ingin mendukung LGBT tapi emang mau ngeliatin sisi lain kenapa orang tersebut bisa jadi guy dan malah kayanya flim itu bukan menitik beratkan pada LGBT nya sendiri tapi pada sisi kemanusiaan.
    Dan yang aku heran pas aku ngomongin tentang flim itu ke temen, mereka malah bilang “ih jiji banget” dan aku marah sama temen aku yg bilang gini “Gila banget harus menyetubuhi sesama jenis mending sama kamu walaupun kurus” sumpah nya kak pas aku denger nya aku kesel banget pengen nampar aku gk yangka aja dia itu temen aku pas SMP bisa bilang kaya gitu.

    • Reply
      alfa
      May 2, 2019 at 9:51 pm

      Betul. Padahal nonton juga belum, diskusi sama produser dan sutradara juga belum.
      Huft, bukannya dalam islam dianjurkan untuk tabayyun?
      kondisi dikit-dikit protes, dikit-dikit petisi ini sangat mengangkangi proses kreatif para pekerja seni.

      • Reply
        Karmelita
        May 3, 2019 at 2:46 pm

        Iya betul banget padahal flim itu udah mendapatkan berbagai penghargaan internasional. Kita emang gk ngedukung LGBT nya tapi apakah mencaci mereka , pantas?
        Dan yang semakin aku kesel di temen aku yg berkomentar itu mengandung unsur pelecehan seksual . Nah di situ aku ngerasa manusia itu munafik banget ..

  • Reply
    Abdussalam
    May 2, 2019 at 1:47 pm

    Setelah sekian lamaaaaaa,akhirnya gua baca blog gita lagi hfffff😌😌😌

  • Reply
    Sanchia Chaniago
    May 2, 2019 at 2:29 pm

    Dijaman sekarang sih kalau kita menghargai org dibilang mendukung yang salah, ga ngerti sama orang yg ngotot utk debat masalah kaya gitu pengen dimusnahin aja pake batu nya si thanos.
    apalagi masalah pakaian, sedikit cerita dulu waktu baru suka dengar semacam ceramah gitu aku share ke teman aku, terus teman aku blg “semoga pakaiannya syar’i ya” kebetulan aku orangnya gasuka pakai rok dan atribut seperti itu, jujur sih pas digituin aku semacam marah kesal gitu kenapa sih dikit dikit syar’i, bukan menentang tapi masa hanya sedangkal syar’i aja gitu dia memandang islam. lucu sih.

  • Reply
    LINA A.
    May 2, 2019 at 2:49 pm

    Kalau boleh berpendapat coba deh diskusikan secara langsung tentang topik tersebut, untuk menghindari kesalahfahaman. Islam selalu terbuka dengan hal apapun, selama tidak melanggar aturan2 yang telah ditetapkan Al-qur’an dan hadits. Perbedaan pendapat pasti akan selalu ada, dan perkara dengan manusia kita tidak bisa mengendalikan manusia lainnya harus a/b (cukup menasihati dan memberikan contoh baik). Jika orang-orang sudah benar-benar mendalami agamanya dengan baik pasti akan bersikap dan bertutur dengan baik pula.

  • Reply
    Dhika Kusumaranti
    May 2, 2019 at 3:07 pm

    Ngomongin masalah film yg akhirnya bikin kita berfikir bahwa tidak ada orang yg totally jahat, jadi inget film disney Wreck It Ralph. Dr film itu awalnya aku juga paham bahwa orang jahatpun sebernya pengen jd baik, atau sebenernya baik but in their own ways. Makanya kita gak boleh judgmental. Thankyou for sharing ur thoughts Kak Gita. Seeing you since 2016 make me believe that, it is okay to be a person like this. Who has different taste of lyfe, ataupu beda cara berpakaian juga yg ternyata it’s okay lho suka sm kaos yg itu itu saja, over years maybe. Through you, I can easily share what I want to but I just dunno how to write or say it. Allah bless you. Salam untuk Kak Paul

  • Reply
    Vi
    May 2, 2019 at 4:50 pm

    Panutanquuuu semangat terus kakgit.

    • Reply
      Diah Martina
      May 3, 2019 at 12:11 am

      Aku mau cerita nih kak, jadi beberapa hari lalu tuh aku lagi liatin fotonya kak Najwa Shihab di laptop. Terus kakakku nimbrung tuh, terus tiba-tiba bilang. “kenapa Najwa Shihab ngga pake hijab.” jadi dia tuh udah sering banget bahas masalah ini. Biasanya si aku cuma senyam senyum aja. Tapi kemarin aku bilang tuh kaya yang pernah dibilang kak git. “yaudah si gapapa, kita punya peran apa sih di hubungannya ka Najwa sama Tuhannya.” Maksudku kan, pasti Ka Najwa belum berhijab pasti punya alasan tertentu. Terus tau ngga apa yang dibilang kakakku? “jangan jadi islam sekuler lah, ngaji lagi sana.” gitu coba, buat ngga ikut campur ke hubungan seorang individu dengan Tuhan-nya aja udah dibilang sekuler coba.

  • Reply
    alfa
    May 2, 2019 at 9:30 pm

    THIS. *buru2 share ke ‘mereka’

  • Reply
    Krisnapati
    May 3, 2019 at 3:17 am

    orang-orang menjalani kehidupan meraka terikat oleh apa yang mereka anggap sebagai benar dan salah, begitulah cara mereka mendefinisikan “kenyataan”. tapi apa arti benar dan salah? , hanya sebuah konsep samar untuk sebuah kenyataan, semua itu mungkin hanya fatamorgana / Ilusi. mereka hanya tinggal didunia yang dibentuk oleh keyakinan mereka sendiri.

  • Reply
    Flowrence
    May 3, 2019 at 6:47 am

    Mengenai ttg humanity support.. kakak coba nonton deh film indo “Kucumbu Tubuh Indahku” Jari beberapa hari yg lalu aku koken di salah satu review film itu. Nah, aku disitu menulis tidak mendukung LGBTQ ktna tak ssuai ajaran agama tpi stiraknya mengapresiasi seni dr film itu. Lumayan ada aja yg ngotot sma komentar sy bahwa tontonan itu bakal menorai generasi. Pdhl aku percaya gk smua generasi kita doyan nonton film berat gitu. emng klo kita nonton itu kita lgsg jd LGBT? Kan enggak. Kita punya akal budi yaa untuk mengolah ssuatu kok nyalahin filmnya sih. Lagian mreka kok nyangkalin klo itu ada d tengah2 masyarakat kita, hanya emnga kita kurang dieducate jd kgk kliatan mereka yg agak belok.

  • Reply
    Jane
    May 4, 2019 at 7:57 am

    First of all, congrats for the new “home”!

    Analogi Thanosnya pas banget nih soalnya lagi marathon film Avangers lagi dari awal LOL Soal budaya simplifikasi ini pernah dibahas oleh salah satu blogger panutanku, waktu itu sih ngebahas ini karena heboh Pilkada 2016 yang lalu. Buat gue yang nggak paham samsek soal politik, jujur gue pernah ada di kotak hitam maupun putih, baru akhirnya sadar dunia ini emang nggak cuma di dua warna monokrom tersebut.

    Sebagai pemeluk sebuah agama dan manusia yang masih hidup di bumi, I can’t say that I’m 100% a good person, biarlah Tuhan yang mengadili kebaikan gue, buka sosmed aja masih suka julid kan. Tapi, aku akan selalu BERUSAHA untuk menjadi seseorang yang bisa saling menghargai dan menghormati keputusan dan pendapat orang lain. Agama gue mengajarkan untuk saling mengasihi, period. So I hope I can do my best.

    Thank you for sharing your thought, Git!

  • Reply
    Irika Devi
    May 4, 2019 at 3:17 pm

    Soal isu feminisme, saya pernah ikut acara diskusi dengan narsum seorang penulis dan pendakwah yang memang mendalami perang pemikiran. Isu yang dihighlight adalah soal feminisme itu git. Dengan beberapa poin yang dielaborasi di atas, cukup menangkap sudut pandang feminisme yang Gita punya, dan saya pribadi punya pandangan yang sama tentang kesetaraan, bahwa wanita itu sama dengan pria, bahkan di Alquran pun Allah selalu menyebutkan bahwa wanita dan pria, keduanya akan mendapatkan jalan ke surga yang sama bergantung pada amalan dan usaha yang mereka lakukan selama di dunia untuk posisinya nanti. Artinya, Islam sendiri tidak di posisi yang berseberangan dengan kesetaraan. Tapiii…hati2 Git dengan isu feminisme yang berkembang di Western World sana, this is real, bukan hoax. Maaf ya kalau mungkin saya kurang menyimak dengan baik apakah poin ini sudah dihighlight juga di atas. Isu feminisme diangkat kembali ke permukaan, udah pasti dong ada mastermindnya (ini bukan nyangkut2in ke teori konspirasi ya….Anw, semua yg ada di dunia ini, memang sejatinya ada manusia2 yg mendesain, dan kita yang dibawah2 memang hanya pion kok). Korelasi antara feminisme di Barat dengan LGBTQ memang sangat kental, dan bisa diseret ke arah wanita punya hak tubuh (wanita bebas mau menikah ataupun tidak, mau melahirkan ataupun tidak, mau pake baju ataupun tidak), ini yang paling ekstrem yaa….

    Bukan membela soal video Hijab Alila, tetapi kita ga bisa menjudge pandangan orang hanya dari video singkat. Yang saya lihat cara pandang Gita dan apa yang diangkat di video itu memang beda aja, dan ga ada yang salah dari keduanya. Mungkin kapan2 bisa featuring sama Ummu Alila buat diskusi bareng soal feminisme dalam Islam:) 🙂 Menurut sya pribadi, coverage soal kesetaraan dalam Islam itu sudah sangat sempurna, dan ngga melulu in corresponds with patriarchy culture, balik lagi ke personal masing2 dari kita sebagai muslim itu sendiri, apakah laki2 dan perempuannya sudah mengimplementasikan apa yang Quran ajarkan dan Rasulullah contohkan dalam keseluruhan aspek kehidupan kita. 🙂 Thank you for sharing your thoughts

    • Reply
      Gita Savitri Devi
      May 6, 2019 at 9:26 am

      Untuk narasi otoritas tubuh wanita, entah itu menikah/tidak menikah, melahirkan/tidak, pakai baju/tidak, sebenernya nggak sesimpel yang digaungkan oleh pihak feminis, Mbak. Harusnya memang narasi ini lebih dielaborasi lagi karena sering disalahpahami.

      I will try to break it down:
      Narasi tersebut diangkat karena pada kenyataannya otoritas tubuh perempuan adalah privasi dari perempuan itu sendiri, bukan hak milik masyarakat sekitar. Kalau kita ambil contoh Indonesia, isu pernikahan, conceive setelah menikah, dan aurat terlalu lentur dilontarkan masyarakat kepada orang lain. Seakan-akan masyarakat kita nggak mengenal batasan-batasan isu pribadi dan sensitif. Dan terkesan menormalisasi aktivitas tanya-jawab privacy orang. Bahkan masyarakat kita menganggap lumrah untuk mencampuri persoalan aurat perempuan yang mana hubungan vertikal antara si individu dan Tuhannya. Dan menurutku hal tersebut malah menggeser esensi dan makna aurat itu sendiri. Aurat seperti jadi parameter dignity perempuan. Padahal setiap perempuan memiliki dignity dan harus dihargai regardless.

      Seperti contohnya di Jerman, kami nggak pernah mempertanyakan tiga hal di atas karena dianggap tidak sopan. Bahkan menanyakan umur seseorang. Karena setiap individu merasa breaking into someone else’s privacy is a big no-no dan privasi adalah sesuatu yang harus dihargai juga dilindungi. Tapi itu Jerman, kebanyakan dari masyarakatnya cukup cultured untuk mengerti mana persoalan umum dan mana yang pribadi.

  • Reply
    Nad
    May 8, 2019 at 6:48 am

    Couldn’t agree more sih kak sama tulisan ini.
    Kemarin waktu nonton Thanos juga aku gak habis pikir soal konsep black and white yg selalu ada di film-film. Dimana pasti ada protagonis dan antagonis, selalu ada orang yg memang hanya jahat dan layak dimusuhi. I personally don’t like those kind of movie but we can always learn and take the positive just like you did, even though it’s not easy.

    Selain itu, it’s so true kalau Islam sejalan dengan konsep feminisme. Inget jawaban Imam Omar terkait isu ini: Pada masa sebelum Islam, ada kultur mengubur bayi perempuan hidup-hidup karna the people considered it’s degrading to have a daughter. Tapi Qur’an turun with the verse that tells how God condemn those act of burrying their daughter alive. Woman used to be treated even worse. Even the verse of marrying four women was revealed to protect women from all the unappropriate things that used to happen easily in those days. Islam mengangkat derajat perempuan dan kalau masih ada yang men-degrade perempuan, it’s what they got from tradisi dan bukan Islam.

    Sebenernya simpel banget konsepnya. Islam nggak mungkin nggak sejalan dengan apa yang baik-baik. Tapi gue masih nggak ngerti kenapa konsep sesimpel ini tidak mudah dimengerti oleh sebagian besar orang.

    Btw I adore you for speaking up for the good. Aku doakan kak Gita selalu berkarya, makin banyak orang yang terinfluence dengan kebaikan yg disebarkan, dan bisa dikuatkan selalu menghadapi judgmenet mereka yang belum mengerti perspektif kak Gita.

  • Reply
    Gea Muhana
    May 9, 2019 at 3:57 pm

    Kak, aku baru baca setengah. setelah tulisan ini aku akan teruskan sampai akhir. Aku ga mau bantah apa-apa tentang pemikiran yang tertuang ditulisan ini sebab kurleb aku paham begitu banyak pemikiran yang sudah ka git resapi hingga akhirnya ka git menjadi seseorang spt sekarang(yang dibilang liberal oleh orang-orang yang gagal paham/minim riset berbagai pemikiran).
    Aku cukup paham kak tentang banyak hal yang kk pikirkan, kudu bersikap seperti apa, berpenampilan seperti apa, dan lain-lain. Sehingga orang-orang yang belum open-minded sering banget kepleset saat menilai kk sesaat. berhubung bnih, aku ngikutin perjalanan ka gita dari 2016, btw haha.

    Inti komentar ini:
    Saran dari aku satu kak, ini kan tulisan yang cukup kompleks ya kak. Akan lebih tersampaikan jika setelah ini diikuti pembahasan lewat video di channel youtube kk. Mungkin ini resikonya cukup besar, tapi aku yakin ka git bisa mengemas ini dengan apik supaya kita para subscriber dan netizen lainnya dapet taste/poin yang tepat juga.. videonya tidak diplintir oleh orang-orang yang gagal paham.

    oke deh, segitu komentarku.
    terus belajar, pertahankan pendirian, semangat terus ka gita… X)

  • Reply
    ariza
    May 13, 2019 at 5:32 am

    Keterbukaan, toleransi, dan kepedulian antara sesama Mahluk hidup itu sangat penting, Hidup itu bukan pekara pelabelan Mahluk, hidup itu pembelajaran, jika sesuatu tidak melenceng dari koridornya, melihat sisi lain dalam berpikir itu hal yang baik, Siapapun bisa berkata mereka paling Mulia, Tapi Allah Maha Tau, Pada saat kita melihat seseorang nonmuslim yang baik hati, apakah kita harus membencinya karna dia tak satu aliran, seharusnya yang kita lakukan adalah mendoakan dia agar Allah memberinya hidayah, bukannya jika semakin banyak kelembutan yang kita sajikan akan menyelerakan orang lain utuk mengenal lebih banyak tentang agama yang kita percayai ? hidup itu terus belajar, yang penting kita tau sejauh apapun toleransi yang kita berikan, kita punya batasan dalam islam. Semoga Allah selalu melindungi kita.

  • Reply
    Fitria NB
    June 16, 2019 at 1:55 pm

    Kak gitt !!
    Semangat menulis di web ini. Lagi berpikir tentang teori feminisme dan ketemu tulisan ini. Jadi tertarik buat banyak membaca supaya ga melihat dunia dengan kacamata hitam putih aja.

  • Reply
    Nyo aka @heynyoo
    July 12, 2019 at 6:50 am

    Halo Mba Gita, Sebelumnya terima kasih sudah ntn video saya di Youtube channel nya Hijab Alila ya.
    Im aware kalau durasi video terkadang menghemat beberapa penjabaran yang jadinya malah terkesan praktis dan oversimplifying.

    I would appreciate it if you read my further explanation regarding your post here on my Medium blog
    https://medium.com/@nyooron/dear-gita-savitri-black-white-is-still-my-favorite-color-ba317d8533ff

    Have a great day!

  • Reply
    yolanda
    July 16, 2019 at 10:07 am

    Ya Allah udah lama banget gak berselancar di dunia maya, dan setibanya saya mendapatkan kesempatan untuk membuka internet, tiba-tiba aku kepikiran sama kak gita hehehe.. baru aja gak ikutin kak git sebulan tapi rasanya kok kayak ketinggalan banget and then, aku jarang baca blognya kak git. kebetulan kali ini pembahasannya tentang feminisme, jd aku sangat antusias dengan tema ini hehe, soalnya sekarang aku ada di pesantren jd gak bisa sembarangan buka internet. sebenernya aku mau speak up sama tema kali ini tapi, sepertinya aku akan tuangkan pendapatku nanti, kalau hpku udah dibalikin.. aku gak sabar kak gitttttt plus gregetan

Leave a Reply