Browsing Category

Ngomong Sendiri

    Ngomong Sendiri

    Will Smith, Chris Rock, dan Maskulinitas Toksik

    Biasanya hal pertama yang gue lakukan setelah bangun tidur adalah nyariin hape. Anak digital banget nggak sih? Kalo zaman dulu orang pertama kali bangun ngulet dulu, ngumpulin nyawa dulu, anak zaman sekarang langsung meraba-raba bawah bantal dan bawah selimut buat nyari hape. Kalo udah ketemu, biasanya yang gue check duluan adalah Reddit. Nggak tau ya, tapi Reddit itu selalu memberikan gue asupan berita, hal-hal yang barusan terjadi, dan juga hal-hal lucu. Tapi bedanya sama Twitter, Reddit masih bisa kasih positive vibes yang mengingatkan gue pada internet zaman dulu di mana orangnya masih asik-asik.

    Anyway, pagi itu feed Reddit gue dipenuhi dengan klip Will Smith ngegeplak Chris Rock.

    Wew, agak syok sih pas lihat. Tapiii… Hidup di zaman penuh gimmick, sudah pasti pikiran gue pertama kali adalah, “Ah, begini amat Oscar pingin ningkatin rating.”. Tapi makin gue lanjut baca-baca komen di post tersebut, kok orang -orang menanggapinya serius, ya? “Eh, kok kayaknya beneran deh nih? Emangnya si Chris Rock ngomong apa sih sampe Will Smith sebegininya?”. Akhirnya gue tonton lagi tu video, kali ini dengan suara. Maklum, pas nonton pertama kali videonya gue mute gara-gara Paul masih tidur.

    Jada, I love you. G.I. Jane 2. Can’t wait to see you.

    Lah? Udah? Gitu doang? Why is it a big deal?? Sebagai orang yang biasa lihat monolog komedian tiap mereka jadi host acara-acara kayak Oscar gini, jujur gue ngelihatnya biasa aja. Selebriti yang duduk di front row emang biasanya bakalan jadi objek roasting dan selama ini mereka ketawa-ketawa aja. In fact, that’s what the comedian in this particular setting does. Roasting people and telling jokes are part of their job. Ibaratnya lawakan tersebut cuma sebagai bentuk Chris Rock memberi tahu Jada bahwa dia tau si Jada sekarang botak nggak ada rambutnya.

    Ternyata oh ternyata ada backstory lain. Ternyata Jada Pinkett Smith botak nggak sekadar botak, tapi karena punya Alopecia, sebuah kondisi auto-immune yang membuat badan lo menyerang rambut lo sendiri.

    Okay, gue ngerti kenapa Jada saat itu terlihat nggak suka dengan lawakan si Chris Rock. Buat banyak orang, rambut bukan sekadar rambut. Rambut bisa meningkatkan kepercayaan diri, rambut bisa membuat kita merasa empowered, rambut bisa membuat kita merasa seksi dan attractive. Apalagi buat perempuan dan Black women, I agree that hair can be one of the most important aspects in their lives.

    Rambut perempuan hitam atau African-American yang berada di masyarakat yang didominasi orang putih selama ini sering dipakai sebagai salah satu alat diskriminasi. Dari mereka kecil, perempuan hitam diberi tahu bahwa mereka nggak cantik karena rambut mereka tidak lurus. Rambut mereka berantakan atau sering disebut “nappy hair” dan akhirnya banyak dari mereka yang resentful terhadap rambut natural mereka sendiri. Dari mereka muda, mereka udah pakai relaxer supaya rambutnya bisa “lurus”. Bahkan di professional setting, mereka suka disuruh untuk menutupi afronya, dilarang mengepang rambutnya, dengan alasan gaya rambut seperti itu tidak profesional dan tidak sesuai dengan work policy. Makanya kenapa rambut palsu adalah sesuatu yang signifikan dalam kultur African-American. It’s a way for them to reclaim and fight back against racism by making it their own. Intinya gue sangat mengerti sekali jika Jada nggak sreg dengan apa yang Chris Rock katakan.

    Yang gue nggak ngerti justru adalah reaksi Will Smith itu sendiri, yang sampai naik ke atas panggung nampar Chris Rock di tengah-tengah acara sebesar Oscar di depan ratusan orang, karena dia merasa Chris Rock udah menyakiti hati istrinya. Nggak lama setelahnya Will Smith menang piala Oscar sebagai pemain pria terbaik dan dalam pidatonya dia berbicara soal “defending the family.”. Okay, tapi apakah untuk hal spesifik seperti ini, menampar seseorang adalah hal yang perlu dilakukan?

    Sebagai perempuan (dan kebetulan seorang istri), gue nggak akan merasa terbela kalau Paul ujug-ujug assaulting seseorang perkara lawakan super medioker. Malah gue akan malu sih kayaknya. Sebagai netijen sotoy, instead of defending his family, I see it as Will Smith defending his own ego. Ego dia sebagai suami, ego dia sebagai laki-laki, hal tersebut yang membuat akhirnya dia nggak ragu-ragu untuk naik ke atas panggung nampol orang dan akhirnya jadi pusat perhatian semua orang.

    And we all know exactly what it is: Toxic masculinity. Maskulinitas toksik mengajarkan laki-laki untuk menjadi agresif untuk menunjukkan kelaki-lakiannya. Di masyarakat yang patriarki, berantem dan tonjok-tonjokkan dilihat sebagai salah satu cara problem solving yang “lakik banget”. Dibanding dengan duduk bareng, diskusi bareng, saling mendengarkan, cara menunjukkan ketegasan dan kejantanan adalah dengan teriak-teriak dan main kasar.

    Bahkan sebagai cewek kita kudu hati-hati sama cowok agresif. Berdasarkan hasil observasi dan mendengarkan cerita orang-orang, suami yang punya prinsip absolut “defending the family” biasanya malah kasar juga ke keluarga yang katanya akan selalu dia bela. Bukan membuat si istri atau anak jadi merasa aman, tapi malah jadi takut si suami tau dan akan blowing everything out of proportion. Karena orang yang memiliki maskulinitas toksik biasanya nggak tau bagaimana seharusnya dia memperlakukan identitas kelaki-lakiannya dan kemudian menggunakan justifikasi keluarga sebagai akar dari maskulinitasnya. Dia akan merasa hampa kalau nggak ada siapa-siapa yang bisa dia lindungi. Dia akan merasa hampa kalau ternyata istrinya adalah perempuan tegas yang akan baik-baik aja tanpa harus dijagain banget. Dia merasa nggak ada peran dan fungsi sebagai laki-laki.

    Tentu nggak semua laki-laki begini, yaa. Cuma gue cukup sering melihat jenis pria seperti ini di kehidupan gue sebagai pengingat bahwa maskulinitas toksik masih ada dan nyata. Gue sih nggak mau laki gue pamer gagah-gagahan dengan cara kasar ke orang. Basi aja gitu berasanya. Furthermore, I can defend myself.

    Nah, yang menarik, setelah gue lihat beberapa diskursus orang di media sosial, ada lapisan lagi yang kemarin sempat dibahas oleh Black community di internet: Black women sering menjadi korban diskriminasi dan kekerasan bahkan oleh Black men sendiri. Maka dari itu dalam situasi ini banyak dari mereka yang pro Will Smith karena mereka jarang sekali melihat perempuan kulit hitam dibela dan dilindungi seperti apa yang Will Smith lakukan ke Jada. Perempuan kulit hitam selama ini harus melindungi dirinya sendiri dari kekerasan yang terjadi di komunitas mereka sendiri dan rasisme yang mereka alami dari orang luar. Makanya kalau kalian perhatikan, there is this “Strong Black Woman” trope and it stems from racism AND misogyny, that Black woman has to endure everything in order to survive.

    Sebagai orang Asia gue nggak bisa berkomentar banyak soal ini. Gue nggak punya pengalaman hidup sebagai perempuan kulit hitam khususnya di Amerika, but I do see this discussion a lot terutama waktu Stacey Abrams lagi jadi buah bibir karena dia berhasil meningkatkan keikutsertaan African-American untuk voting di Georgia dari hanya 500,000 di tahun 2016 jadi 1,2 juta lima tahun kemudian. Mungkin benar bahwa narasi ini ada juga kontribusinya terhadap dinamika tampolan di malam Oscars waktu itu.

    What about you? What do you think about this whole thing?

  • Ngomong Sendiri

    New Year, New Me?

    Dua tahun lalu kayaknya waktu berjalan cepat dan nggak ada hal signifikan yang terjadi–selain film Rentang Kisah akhirnya rilis. Rasanya karena lagi pandemi, nggak terlalu ada banyak perubahan yang berarti dan…

  • Ngomong Sendiri

    Rambut

    Kemarin artikel tentang seorang atlet panahan dari Korea Selatan yang dirundung sama laki-laki di internet lantaran rambutnya yang pendek menemani perjalanan pulang gue ke rumah dari kantor. Sebagai perempuan gue sudah…

  • Ngomong Sendiri

    The Idea of Muslim Woman

    Gue bukan penikmat stand up comedy, namun kalau Pandji Pragiwaksono bikin show di Jerman gue pasti hadir. Udah tiga kali dia bersama rombongan ke Jerman dan menghibur penonton yang kebanyakan orang…

  • Ngomong Sendiri

    Perempuan yang Diperdebatkan

    Dari awal gue mulai aktif dan eksis di media sosial, yaitu tahun 2016, gue mulai banyak dihadapi pertanyaan-pertanyaan ciri khas warga +62 yaitu “Kapan mau nikah, Kak?”. Iyak, pertanyaan ini lebih…