Browsing Category

Travel

    Travel

    A Tale of Silicon Valley

    Kalo lo mendengar kata “Silicon Valley”, mungkin yang terbesit di benak lo adalah perusahan-perusahan techies besar kayak Facebook, Google, Apple, Twitter, bahkan Tesla. Yaa… Gue pun juga begitu sebelum kejadian nggak penting berikut terjadi pada gue. Gue mau berbagi cerita bodoh yang gue alami buat jadi selingan tulisan-tulisan (agak) serius di blog ini.

    Bulan ramadan tahun lalu gue berkesempatan untuk mengunjungi Google headquarter di Mountain View, California. Sampai sekarang gue nggak paham kenapa gue diajak sama YouTube karena 90% dari kreator yang diundang adalah kreator tech. Ada SuperSaf, Austin Evans, dan lain-lain yang tentunya nggak pernah gue tonton videonya. But here we are.

    Hari pertama sampai, gue langsung menuju penginapan. Karena Mountain View itu di antah berantah (bayangin coy gue sampe ngelewatin gedung NASA), gue nggak diinapin di hotel, tapi di resort gitu. Namanya Staybridge Suites Sunnyvale. Bangunannya lebih humble daripada tempat inap a la acara YouTube lainnya. Awalnya agak kaget sih. Tumben-tumbenan YouTube going low key. Maklum, biasanya kita-kita ditaro di hotel bintang 5.

    Anyways, keesokan harinya adalah hari pertama kami berkegiatan. Rombongan disuruh berkumpul di lobby sekitar jam 10 pagi karena hari itu adalah jadwal kita ke kantor Google. Karena gue jetlag, gue udah bangun dari jam 3 pagi. Cuma tidur-tiduran di kasur, tapi nggak bisa tidur beneran. Akhirnya gue cuma bisa nonton TV sama main hape.

    Karena bosan, gue memutuskan untuk mandi. Jam 8 gue udah kelar siap-siap. Udah pake baju pergi, udah dandan. Pokoknya udah rapi. Ready to go. Except….. Tiba-tiba gue merasa sepertinya gue datang bulan. Tau kan sensasi cenat-cenut basah gimana gitu yang dirasain awal-awal menstruasi? Dan lebih malesnya lagi, gue lupa bawa pembalut. Yang lebih ngeselinnya lagi adalah gue udah ada firasat kalau gue akan menstruasi waktu itu, tapi gue mengacuhkan firasat tersebut. Mantap.

    Akhirnya gue memutuskan untuk cari mini market di dekat tempat gue nginap. Karena gue nggak ada internet saat itu, jadi gue harus cek dulu lokasinya di Google Maps, screenshot petanya, terus cabut. Permasalahannya, di sekitaran penginapan bener-bener nggak ada apa-apa. Si resort memang punya “mini market”, tapi mereka nggak jual pembalut atau tampon. Mereka cuma jual minuman, makanan ringan, paling banter sikat gigi sama odol.

    Berdasarkan Google Maps, super market terdekat namanya Grocery Outlet. Nggak terlalu jauh kok. Cuma butuh sekitar 38 menit jalan kaki. Sebagai orang yang tinggal di Eropa, jalan kaki 38 menit buat gue nggak masalah. Apa lagi di saat genting kayak gini, mau jalan satu jam juga gue jabanin (spoiler: in the end gue menyesali mindset ini).

    Deket kok. Cuma 38 menit jalan kaki.

    Sebenarnya pergi ke suatu tempat dengan modal screenshot-an Google Maps itu buat gue rada-rada bahaya. Sebagai orang yang sering disorientasi arah, pakai web navigation aja gue suka nyasar, apalagi sekarang gue nggak punya internet. Kebetulan Amerika Serikat itu juga rada mirip sama Jerman. Sama-sama pelit WiFi. Gue nggak bisa segampang itu nemu internet gratis di luar. But whatever.

    10 menit berjalan, semua masih baik-baik aja. Walaupun gue merasa seperti orang nyasar karena jalan di pinggir jalan besar. Sesekali gue juga deg-degan karena infrastruktur di kota itu nggak nyaman buat pejalan kaki kayak gue gini. Tapi masih gue jabanin. Yang penting gue bisa beli pembalut.

    20 menit berjalan, gue mulai rada capek. Gue belum menemukan titik terang dari perjalanan gue ini. Sejauh mata memandang cuma ada jalan tol dan mobil-mobil yang ngebut. Eventually gue harus menyebrangi jalan tol empat baris tersebut. Panjang bener cuy jembatan penyeberangannya. Sampe lelah gue. Di sini gue mulai curiga apakah gue berjalan ke arah yang benar.

    30 menit berlalu, gue masih belum juga ngeliat tanda-tanda si super market. Gue udah melalui area jalan tol, mulai memasuki pemukiman warga. Gue melewati komplek apartemen orang-orang Latin. Terus gue juga udah melewati kantor-kantor korporat Silicon Valley. Di titik ini gue bener-bener kangen Jerman. Nggak akan susah nemuin super market di sini. Cukup ke daerah pemukiman warga aja, tiap berapa blok lo bakal nemuin tempat belanja. Nggak perlu sampe nyebrangin jalan tol empat baris. Nggak perlu jalan samping-sampingan sama truk gede.

    50 menit gue jalan kaki, gue belum sampe juga di Grocery Outlet. Gue mulai merasa dibohongin sama Google Maps. Katanya cuma 38 menit? Tapi sampe sekarang gue masih jalan aja. Betis udah cenat-cenut. Pinggang rasanya mau copot gara-gara menstruasi hari pertama. Mungkin 38 menit versi Google itu adalah kalo yang jalan kaki bule-bule gitu kali ya, yang kakinya panjang-panjang? Gue jadi terngiang-ngiang sama omongan Nyokap gue yang sering skeptis sama Google Maps, karena katanya suka menuntun ke jalan yang salah. Seperti iblis.

    Setelah satu jam luntang-lantung di Silicon Valley, akhirnya gue menemukan titik terang. Akhirnya tulisan “Grocery Outlet” keliatan juga. Gue menyesal mandi pagi saat itu. Gue juga menyesal pakai makeup kalo ujung-ujungnya muka gue bakalan kesemprot debu dan knalpot mobil. Tapi nggak apa… Yang penting pencarian pembalut gue kelar sampai di sini. Cuma permasalahannya gue sekarang butuh satu jam lagi untuk balik ke tempat penginapan, melewati segala macam daerah yang gue lewatin tadi. Kayaknya gara-gara gue jetlag, gue jadi lupa kalau jalanan di Amerika itu lebar-lebar. 38 menit jalan kaki versi mereka sama kayak 1 jam versi negara lain.

    Sejak kejadian itu, tiap kali orang ngomongin Silicon Valley, gue nggak terbayang perusahaan-perusahaan startup atau bahkan Elizabeth Holmes sama Mark Zuckerberg. Gue teringat sama gue yang mesti jalan berkilo-kilo nggak tau kemana cuma buat ngurusin mestruasi gue. Saking traumanya sama kehabisan pembalut, sekarang gue sampai beli reusable pads biar gue nggak usah jalan jauh ke super market lagi.

  • Daily Photos Travel

    Ketika Realita Berasa Mimpi

    Beberapa bulan lalu gue dikontak oleh partner manager gue di YouTube. Jadi begini, teman-teman. Seorang YouTuber dengan subscriber 100.000 ke atas akan dapet partner manager. Gunanya apa? Channelnya bakal ada yang…