Ngomong Sendiri

Doraemon Aja Lebih Ngerti…

Berapa kali gue membahas tentang masalah ini di blog? I lost count and sorry for being repetitive. Because it’s actually one of my biggest pet peeves.

Kemarin untuk keratusankalinya salah satu followers gue mempertanyakan apakah gue puasa saat gue lagi di luar Jerman. You might have noticed how sick I am getting the same questions over and over again. The thing is, it’s been happening for years since people started knowing me on social media. Sewaktu gue masih pacaran dulu entah ada berapa banyak orang yang nanya kenapa gue pacaran padahal pacaran dalam Islam itu dosa. Entah berapa banyak orang yang nanyain kapan menikah karena menikah adalah penyempurna agama. Selain itu gue suka jadi segan untuk mengunggah foto makan karena pertanyaan halal dan haram pasti dilontarkan. Entah itu sekadar bertanya atau jelas-jelas mendakwahkan gue untuk cuma makan makanan yang ada sertifikasi halalnya. Sering juga mereka mempertanyakan apakah gue sholat karena mereka nggak pernah liat gue sholat both on my videos and IG stories. This time in Ramadan, so many people asked me why I didn’t fast when I was traveling somewhere.

Karena gue orang Indonesia, gue bisa mengerti apa yang membuat mereka mempertanyakan ibadah gue. Walaupun sampai kapan pun gue nggak bisa menoleransi kelakuan ini. Buat *sebagian* orang Indonesia, banyak pertanyaan personal yang diperlakukan seperti pertanyaan umum basa-basi. Kapan kawin? Kapan punya anak? Dan kalau kita Muslim, urusan agama kita juga dikorek-korek. Soal agama, alasannya selalu sama. Katanya sesama Muslim harus saling mengingatkan. Alasan paling memuakkan sepanjang masa yang memperlihatkan gimana polosnya Muslim di negara kita.

Bukan berita baru kalau orang Muslim suka langsung menelan ayat bulat-bulat. Di sini gue menyalahkan sistem pendidikan. Selama ini kita terbiasa disuapin, didikte. Apapun sistem kita dalam berkehidupan membuat kita menjadi manusia yang nggak kritis dan nggak bisa mikir berlapis. Buktinya ada banyak orang kita yang nggak tau cara membedakan mana hoax dan berita legit. Di dalam kasus ini, banyak orang kita yang nggak ngerti mana pertanyaan pribadi dan pertanyaan yang pantas dilontarkan. Apalagi dengan justifikasi satu ayat di dalam Quran, mereka merasa mempertanyakan ibadah orang lain itu sah-sah aja.

Nggak usah jauh-jauh ngomongin akhlak. Ketidakmampuan memilah antara kelakuan etis dan tidak dalam bersosialisasi dengan manusia lain itu menjadi wake up call bagi gue pribadi bahwa sebagian dari kita harus direvolusi mentalnya. Cakap bersosialisasi adalah salah satu aspek paling dasar yang harus kita kuasai manusia. Tanpa skill komunikasi kita nggak bisa bertahan di kehidupan sehari-hari. Apalagi mau berkarir. Yet some of us failed to do so.

Karena udah menahan muak yang menahun, gue memutuskan untuk menjawab komen satu netizen tersebut di foto gue.

Kenapa sih orang-orang banyak banget yang kepo gue puasa apa enggak?

Pertanyaan simple yang sampai sekarang gue nggak tau jawabannya. Mungkin yang bertanya juga nggak ada tujuan tertentu. Hanya kepo. Hanya ingin tau. Sebagian orang bertanya karena ingin mengukur keimanan gue. Untuk menjustifikasi self image yang ditempelkan orang-orang ke gue bahwa gue adalah Muslim liberal karena kelamaan tinggal di Jerman. *You have no idea how many people talked about my views on religion. Ada yang bilang gue terlalu open minded karena gue merasa aborsi itu urusan yang punya badan. Ada yang bilang gue terlalu open minded karena gue merasa ibadah itu urusan Tuhan dan hambaNya. Entah udah berapa banyak orang yang bilang gue sesat dan kurang ngaji. Ternyata lo bisa di-call out liberal hanya karena lo nggak mau mencampuri urusan personal orang lain. Apparently di ibu pertiwi, lo akan lebih diapresiasi jika lo menjadi tante-tante kepo. Sungguh sederhana sekali pandangan sebagian Muslim akan spektrum spiritual dan kerelijiusan suatu individu.

Ada orang yang bilang karena gue public figure, gue harus mengklarifikasi ibadah gue biar orang lain nggak main ngikutin aja kalau gue nggak puasa. Weird. Ada juga yang bilang dengan gue mengunggah foto atau video makanan dan minuman, gue seakan-akan nggak menghargai orang lain yang sedang berpuasa. Another weird argument. Lo lahir dan besar sebagai Muslim. Yang artinya lo udah terbiasa beribadah puasa sebulan penuh setahun sekali. Tapi sampai sekarang lo masih minta dihargai jika lo lagi berpuasa. Udah bertahun-tahun lo berpuasa, tapi lo masih misuh-misuh kalau ada orang yang makan dan minum. Apalagi lo tinggal di Indonesia yang notabene lo jadi mayoritas dengan segala privilege dan kenyamanan dalam beribadah. Insecure much?

Doraemon aja lebih ngerti

Eventually someone decided to leave a beyond stupid comment in the midst of the whole Ramadan chaos,

Git, lo mesti belajar cara untuk menjawab orang lain. Nggak usah ngegas.

I flipped. I effin’ flipped. This is the biggest pet peeve I mentioned aboved. Being called out as aggressive or intense while I had every reason in the world to be aggressive. It’s not me, Karen. It’s your ignorant a$$.

Rasa muak karena merasa dimisrepresentasikan dan disalahpahami udah ada jauh sebelum rasa muak karena ditanya-tanya mulu urusan agama. Sejak gue duduk di sekolah dasar sampe sekarang gue selalu disudutkan atas diri gue yang minim toleransi atas kebodohan dan keignoranan. Lo tau predikat apa yang gue dapat di SMA? Tergalak dan kedua terjutek satu angkatan. Dan ngegas adalah kata lain yang dipakai untuk melabeli gue karena ngomong kata “ngegas” di tahun 2019 sangat lah quirky. Because 2019 is all about chill and positive vibes.

It’s actually the same spiel. Melabeli orang dengan satu kata tanpa mau mengerti konteks dari keadaannya itu emang kita banget. Gue inget kejadian beberapa bulan silam waktu nama gue muncul lagi ke permukaan di Twitter. Saat itu gue diundang di acara @america untuk jadi pembicara. Acaranya sendiri bertemakan bagaimana seharusnya kita bertingkah laku di media sosial. Kalau kata anak Twitter sih judulnya nggak gue banget, Be Kind on Social Media. Apalagi setelah gue nyebut satu orang “Nyet”. Padahal buat mereka, segala macam binatang dan alat kelamin udah jadi bahasa sehari-hari. Sementara itu mereka seterkejut itu gue ngomong “monyet”. Terus pake acara ngubek-ngubek tweets lama gue pula untuk proving the point kalau gue memang kasar. Memang manusia suka hipokrit dan suka nggak jelas. You can’t prove that particular point when you are dealing with human. Human evolves. Stop bertingkah seakan-akan kita suci nggak pernah berdosa dan nggak problematik.

Same story, orang-orang yang bukan pengikut gue mulai berdatangan satu per satu menuliskan komentar jahat mereka di poster event yang gue unggah di Instagram. Hate comments makin banyak, tapi gue nggak boleh ngapa-ngapain. Gue nggak boleh menghapus, karena tandanya gue orang yang anti kritik. Gue nggak boleh bales, karena berarti gue emang beneran ngegas dan agresif. Ya, memang saking kurang nutrisinya, terkadang orang suka nggak bisa bedain mana mengkritik dan mana straight up hating. Apakah gue mengikuti kemauan para netizen edgy tersebut? Tentu tidak. I clapped back because that’s what I have learned when someone came at you. You stand up for yourself because clearly NOBODY will.

Emang dasar mental bully, sudah tentu gue kemudian dijadikan bahan ejekan sama si anak-anak edgy Twitter tersebut.

Jeuuhh… Tuh kan liat deh si Gita emang doyan marah-marah.

Then what am I supposed to do? Keep my smiley face setelah lo pada maki-maki gue sembarangan? Berdoa kepada Tuhan YME agar dijauhkan dari kalian? Atau berdoa agar kalian diruqiyah?

Tapi kemudian gue belajar kalau melabeli orang tanpa memahami konteks ya emang salah satu sifat manusia. Biasanya orang nggak mau peduli gue ngegas karena apa. Bisa misuh-misuh karena apa. Yang dia peduliin cuma gue ngegas aja. Hobi gue dikit-dikit marah. Mana dia mau capek-capek mikir kalau gue ngegas karena gue merasa privasi gue diinvasi oleh orang asing. Cara pikir beberapa manusia ternyata terlalu sederhana untuk menganalisa sebab-akibat.

What are the takeaways from all of these?

To not be like them. I would never invade someone else’s privacy. I would never ask someone when are they gonna get married or even have kids, THEN have the audacity to judge their decision. Gue nggak akan pernah aqidah-shaming orang lain. Gue nggak akan mau mempertanyakan keislaman orang lain. Gue nggak mau jadi manusia yang ignoran, yang nggak paham mana yang etis dan yang bukan, yang personal dan yang bukan. Gue nggak mau jadi manusia yang seakan-akan nggak pernah diajarin orang tuanya cara bersosialisasi yang baik dan benar.

And I won’t change to be honest. Yes, I often feel myself being misunderstood. Yes, I often feel like I don’t fit in Indonesian society for being outspoken and maybe more “aggresive” than other people. Entah udah berapa kali gue hampir kena gaslighted dan menganggap diri gue emang terlalu ngegas. But I always managed to tell myself otherwise. Dan gue masih percaya sebagian besar pemberian label aggresive dan intense kepada gue–dan gue yakin ke banyak perempuan lain di luar sana–adalah karena banyaknya ekspektasi gender yang dilekatkan kepada wanita. Bertahun-tahun lamanya perempuan dituntut untuk kalem, diem, dan mesem-mesem. You know what? It’s totally okay to be kalem. But don’t expect every woman to behave exactly so. Because, ehm… We don’t live to fulfil other’s expectation.

You Might Also Like

63 Comments

  • Reply
    Aisyah
    May 28, 2019 at 8:48 pm

    Ketika muka mu Arab, pake jilbab, tinggal di indonesia.. 🤣🤣🤣🤣 Abis dah tuh mau apa apa salah, dosa, ditanyain mulu soal Agama, pdhl sini juga belajar tp seakan harus bisa dan lebih tau. Lelahhh sekali digituin.. Mau pake cadar, jilbab, gapake jilbab, salah mulu dah. Padahal kenapa si orang badan juga badan kita, ga ngerugiin mereka juga. Apakah kita harus oplas jadi muka nya Indonesia biar ga di usilin?☺️☺️💪💪💪 Maaf kalo rude.. Gita di luar negri diliatin dr atas ke bawah.. Kalo aku diliatin gitu di indo sini dr kecil.. 😔😔Akhirnya jd insecure😔😔😔#curhat

  • Reply
    Mega Larasati
    May 28, 2019 at 8:57 pm

    Ka gittttt!!! So in love with you. Go ahead! You inspired many people, especially me. People who judge you, they such a prick.

  • Reply
    Nana
    May 28, 2019 at 9:28 pm

    Me too. Udah nikah ditanya kapan punya anak? Itu suami ya ga jago dll deh;(( pdhal mertua sm ortu sendiri pun gk pernah nanya2 gtu;(( bkin stress diri ku aja;(

  • Reply
    Vivi
    May 28, 2019 at 9:44 pm

    Aku follow kamu ajj di cap muslim liberal 😅😪

  • Reply
    Dinz
    May 28, 2019 at 9:55 pm

    I don’t know how to say it, but i have the same felling like you tentang pandangan orang kita yang terlalu sempit, tapi ga mau dikritik, trs cuman bisa julid mungkin itu juga sih yang bikin Indonesia masih aja predikatnya “Negara Berkembang”, salah satu faktornya karena pemikiran masyarakatnya yang selalu tertutup, padahal mah wajar2 aja memiliki pemikiran yang terbuka ya tapi tetep selektif, dan selektif itu pun udah ada dalam insting manusia jadi kenapa harus takut gitu sama open minded atau orang2 yang open minded. Gua ngikutin lu dari awal banget kak, dari masih ngevideoin pake iphone trs juga opening halal guys yg ada lu nya pokoknya pas masih dibawah 100k deh. Gua ngerasa lu emang bener2 keren banget gitu, bisa grow up walaupun banyak rintangan yang lu hadapi dan sekarang diundang ke acara sana-sini, kalo bukan karena ke ignoran lu mungkin lu sekarang cuman ngikutin mau netizen aja, bikin video yang datar2. Tapi gua tau lu ga kayak gitu, lu bisa liat sisi baik dr banyak hal. Itulah kenapa gua masih bertahan ngeidolain lu, walaupun banyak yang lari karena takut lu ngebawa pengaruh buruk padahal itu mah karena mereka nya aja yang pemikirannya sempit. Kita berhak kok ngeidolain dan ngehate siapa aja, tapi inget keduanya ada batesnya, intinya jangan ngilangin keunikan dan hal baik dr diri lu, dan be yourself, also loving yourself always. Semangat terus kak git! You can do it, do anything to reach your dream, stay healthy

  • Reply
    Tenti noviani
    May 28, 2019 at 10:53 pm

    Kaya “ngurusin” hidup orang lain itu udh jadi ‘keharusan’ bagi mereka
    Karna aku juga orang bodoamat jadi kalo ada orang yang ‘se-care’ itu jadi males kaya “ngapain siih ? Kita masing-masing aja udah” gitu..

  • Reply
    Richa
    May 28, 2019 at 11:00 pm

    Same here……. :(((((((

  • Reply
    Betari
    May 28, 2019 at 11:06 pm

    Truly indeed git… gw yg hanya sbg netizen aja kadang muak sama sosmed especially instagram in comment section (entah knp gw jg baca komen). Gilaa gampang bgt orang men-judge akidah dan keislaman seseorang. Yang gw tau jgn merasa diri kita soleh krn Allah gasuka orang yg sombong, lah ini dengan gampangnya menilai orang itu dosa apa kaga.

    Dan yg gw lebih miris, some indonesian gak menghargai proses. Dengan gampangnya mereka “men-dosakan” seseorang padahal mungkin dia lagi berproses atau bahasa jaman nownya berhijrah, jadi lebih baik. Tapi gara2 kata2 orang disekitarnya itu mungkin dia jadi muaak, sebel, dan malah mundur aja dari niat dia semula. Kadang netizen hanya memperdulikan penampilan “berhijrah” lebih penting dibanding akhlak dia sbg muslim. Pray for our country 🙏🏻

    • Reply
      Gita Savitri Devi
      May 28, 2019 at 11:27 pm

      Mungkin nih ya… Mungkin karena trend hijrah sekarang nggak introducing nuances ke orang-orangnya. Karena orang kita from the start emang kurang cultured masalah-masalah beginian. Kurang dewasa. Tapi buru-buru dikasih ilmu haram-halal seabreg.

  • Reply
    Shiff
    May 28, 2019 at 11:24 pm

    People go watch flipped. At least you know how bad judging the others.

    Besides Islam itself order us to always husnudzon. Kalau kepo kenapa mbok orang gak keep it themselves aja sih? kepoan kok dijadiin culture.

  • Reply
    Aprilia
    May 28, 2019 at 11:40 pm

    Miris banget ya kak,greget pple annoying kyk gt.. Kasian malah liat mereka yg nnya seenankny tanpa dpkirin dlu meybe wktu kecil ampe remaja gapernah d ajarin cara bertutur kata dan memilah pertnyaan yg pantes sma keluarganya.. Sehari2 jg ak nemu yg kyk gt malah satu kelas dket gak tp tiba2 jeplak nnya dlm ati cmn bisa geleng2 pala sma bilang ama diri sendiri aduh itu malu dikemanain udh ilang ap ya enak bget nnya kyk gt ='( apalgi klau di sikon yah masih yg sama2 belajar tp ad poin yg blm kita capai yg setara kurang dkit malah lgsg dilabelin dgn bntakan didepan tmen2 ama guru sndiri bhkan itu gaenak bget.. Yah perketat filter toxic pple aj , Tetep Semangat ka Git, just be youre self 🌼 keep inspiring Us yeayy💪

  • Reply
    Kirana
    May 28, 2019 at 11:40 pm

    Kak git, gue pernah baca entah itu komen orang/post/story yang intinya kek gini “yaudah kalo lu gamau diingetin sama sesama muslim lainnya, pas meninggal nanti jangan minta diurusin ya jenazah lu, sendiri2 aja”
    Yang menurut gue “mengingatkan” menurut dia itu yaa termasuk “terlalu mencampuri” urusan agama seseorang. And I was like -____- Wdyt about this ka?

  • Reply
    Wulung
    May 28, 2019 at 11:54 pm

    Pple annoying gaakan ad habisnya ='( perketat filter toiz pple, entah harus kasian ap gmna mereka gt mgkin dari kecil mpe remja gapernah dajar sma keluarga nya untuk bertanya ato bertutur kta yg baik dan pantes itu gmna.. Kdg kezel greget, dlm keseharian ad aj nemu yg gt kak sama =’) dket kga,tetiba seenaknya jeplak nnya beuh pgen diremekkin rsnya tp dlm ati cmn bisa geleng2 pala sma duh ni org gapunya etika sm rasa malu ap ya, Miris :'( hiks.. Just be youre self kak git, keep inspiring us..

  • Reply
    Winny
    May 28, 2019 at 11:56 pm

    Wow, sahurnya langsung dikasih jawaban dong soal kejadian yang mirip. Firstly, thank you for sharing.
    Gue akrab banget sama kata-kata kaya, “Yah, itu kan cuma basa-basi, gak perlu ngegas dong.” Padahal yang dibahas udah bikin gue dongkol banget, entah itu masalah jilbab sampai pilihan yang gue ambil. Bahkan alis gue diinvansi hanya karena terlalu rapi, “kok alisnya rapi banget sih.” ya terus lu mau gue ngapain? Bikin pensil alis bercabang kaya tanduk rusa only to prove that I use make up or do beauty procedure? Ya alis gue emang alaminya gini, dan gue gak peduli juga alis orang lain mau kek mana. Jatuhnya suudzon kan ya, apalagi pake banding-bandingin.

    Atau nih, foto profil yang dimana komuk gue mungkin keliatan jelas.
    “Kok keliatan pesolek ya mukanya?”
    Ya terus gue kudu pasang foto background hitam karena gue muslimah berhijrah atau ngehapusimn foto yang bikin mamak gue ngira gue blokir akun-nya?

    Ada lagi yang kasus ada nonis nanyain mau menu lebaran apa biar ngeshare resepnya ke follower di story instagramnya, salah satu dong nulis “Nggak menghormati orang yang berpuasa *insert emoticon marah*”

    Itu gue bingung sih, kenapa bisa “menghormati” digunakan ketika dengan mudah dan “lemesnya” orang nyinyirin privasi orang lain?

    Mulut dan otak gue selalu battling supaya jangan sampai dari mulut ini keluar chitchat yang udah gak ada tujuannya, nyakitin orang lagi.

    And I’m shocked, bukan karena gak pernah ada orang yang ditanyain kaya gitu sebelumnya, tapi gak nyangka aja bisa sampai sejauh itu. Apalagi “menunjukkan sholat lewat story atau postingan” ridiculous banget. Gue jadi beranggapan ini orang emang mau buktiin lo “liberal”, atau karena saking ngefansnya dia kudu ngeliat lo sholat dulu baru dia bisa sholat dengan tenang?

    Dua-duanya sama aja.

    Sholat aja harus dengan “PoSiTIVe ViBeS InFluEncER” sholat ya sholat aja, anjay. itu kewajiban muslim, fardhu ain, urusan wajib masing-masing. Termasuk masalah zakat, masalah puasa.

    Itu lagi yang nanyain puasa, ya napa sih gak bisa make sedikit akal yang dikaruniakan oleh Allah SWT. Misal ngeliat cewe berhijab, minum pocari, di tengah siang bulan ramadhan, di negara barat. Ya dia muslim, lagi gak puasa mungkin karena lagi haid, minum bebas keliatan orang ya karena orang-orang barat gak akan nanyain, “KoQ TiDack MenGhorMati OraNg YaNg BErPuAsA?”
    Bingung deh gue, Mamak gue ngajarin buat positive thinking ke orang, apapun yang mereka lakukan asal gak ngeganggu gue ya gak ada urusan. Yang gue lebih bingung lagi, ini orang-orang yang “lemes” itu sering bilang kalo kita harus menghormati orang lain, tapi mereka gak sadar kalo itu sama sekali bukam tindakan menghormati. Apalagi itu dicetak entah berapa kali di buku PKN dan agama, masuk juga di soal pilihan ganda UAS/UTS dan jadi jawaban andalan gue saat ngerjain soal cara mengamalkan toleransi. Tapi itu aja ternyata belum cukup buat ngajarin kita makna dari menghormati orang lain.

    Dan yang bikin kesel lagi, hak buat ngebela diri sendiri diambil dong. Ya ampun, ini gue udah dipojokin, gak ada yang belain, tapi bahkan diri gue sendiri dilarang buat ngebantu buat stand up for myself. Katanya biar Tuhan saja yang membalas, ya gue dikasih akal buat apa? Dikasih mulut buat apa? Gue kan gak mau harus Tuhan gue yang nyentil secara langsung. Padahal gue aja sebagai ciptaan bisa banget menjelaskan itu, bisa banget ngasih tau itu lambe bisa jadi senjata paling parah karena lukanya gak keliatan. Yang bisa lebih parah sampai chat broadcasting mohon maaf lahir bathin pas lebaran gak bisa sembuhin.

    Satu hal yang pasti, kesimpulannya selalu itu, gue pernah ada di sisi dimana gue mulai mengiyakan kalo gue mungkin terlalu kaku soal value dan basa-basi orang aja gue pikirin. “LeSS PoSiTiVE VibeS” KATANYA. Ah tapi, selalu aja yang nyadarin gue, misal nemu tulisan ini pas sahur, buat ngingetin kalo gue gak aneh, dan gue gak boleh jadi orang-orang yang kaya gitu.

    Once again, thank u, next.

  • Reply
    Maya
    May 29, 2019 at 12:06 am

    I can totally relate. Growing up in this beloved country, “Udah solat apa belum?” is a nightmare I have to face almost every day. Orang-orang ngurusin banget seseorang udah beribadah atau belum. Mengingatkan katanya. Karena saking seringnya, gue pun bisa menoleransi… apalagi saat itu datang dari orang yang lebih tua. But it all changed after I experienced living abroad. Nobody asked me and strangely I found more peace in my religious life. Urusan ibadah gue jadi tinggal antara gue dan Allah SWT. Nobody cares and it seriously was the best feeling ever. Kembali ke Indonesia.. ketemu lagi situasi-situasi seperti itu… di mana gue jadi merasa seperti dihakimi setiap hari karena hal-hal seperti jilbab gue nggak disampirkan ke dada atau gue solat 5 menit sebelum waktunya habis.

    Nah! Kebetulan soal ini… jadi inget ada yang brought this up waktu kejadian demo/kerusuhan kemarin. Gue liat foto orang solat terus ada caption, “…solat dzuhur aja 5 menit sebelum ashar” Mannn!! Why so judgy? Kita nggak tau kan dia abis apa abis apa atau gimana… ya udahlah… urusan dia. Tapi terus isu diangkat buat mendiskreditkan yang bersangkutan. Gue juga lihat foto pendemo lagi ngerokok dan minum lalu ditulis, “Katanya …. tapi nggak puasa.” or something along that. Gue tidak mengerti esensi dan korelasinya. Sungguh.

  • Reply
    Winny
    May 29, 2019 at 12:17 am

    Wow, sahurnya langsung dikasih jawaban dong soal kejadian yang mirip. Firstly, thank you for sharing.
    Gue akrab banget sama kata-kata kaya, “Yah, itu kan cuma basa-basi, gak perlu ngegas dong.” Padahal yang dibahas udah bikin gue dongkol banget, entah itu masalah jilbab sampai pilihan yang gue ambil. Bahkan alis gue diinvansi hanya karena terlalu rapi, “kok alisnya rapi banget sih.” ya terus lu mau gue ngapain? Bikin pensil alis bercabang kaya tanduk rusa only to prove that I use make up or do beauty procedure? Ya alis gue emang alaminya gini, dan gue gak peduli juga alis orang lain mau kek mana. Jatuhnya suudzon kan ya, apalagi pake banding-bandingin.

    Atau nih, foto profil yang dimana komuk gue mungkin keliatan jelas.
    “Kok keliatan pesolek ya mukanya?”
    Ya terus gue kudu pasang foto background hitam karena gue muslimah berhijrah atau ngehapusimn foto yang bikin mamak gue ngira gue blokir akun-nya?

    Ada lagi yang kasus ada nonis nanyain mau menu lebaran apa biar ngeshare resepnya ke follower di story instagramnya, salah satu dong nulis “Nggak menghormati orang yang berpuasa *insert emoticon marah*”

    Itu gue bingung sih, kenapa bisa “menghormati” digunakan ketika dengan mudah dan “lemesnya” orang nyinyirin privasi orang lain?

    Mulut dan otak gue selalu battling supaya jangan sampai dari mulut ini keluar chitchat yang udah gak ada tujuannya, nyakitin orang lagi.

    And I’m shocked, bukan karena gak pernah ada orang yang ditanyain kaya gitu sebelumnya, tapi gak nyangka aja bisa sampai sejauh itu. Apalagi “menunjukkan sholat lewat story atau postingan” ridiculous banget. Gue jadi beranggapan ini orang emang mau buktiin lo “liberal”, atau karena saking ngefansnya dia kudu ngeliat lo sholat dulu baru dia bisa sholat dengan tenang?

    Dua-duanya sama aja.

    Sholat aja harus dengan “PoSiTIVe ViBeS InFluEncER” sholat ya sholat aja, ey. itu kewajiban muslim, fardhu ain, urusan wajib masing-masing. Termasuk masalah zakat, masalah puasa.

  • Reply
    Amedysa Dewi R.
    May 29, 2019 at 12:49 am

    Mungkin netizen akan berhenti meronta-ronta manakala kak Git isi agenda romadhon yang lengkap dengan kolom puasa, solat, dan isi ceramah+ttd ustadz saat solat taraweh. Dan begitu posting, “ih Gita riya banget.” 🙂🙃

  • Reply
    Putri
    May 29, 2019 at 12:53 am

    Same here :’)
    Aku jadi followers kak git aja dikirain muslim liberal, diem aja waktu orang bahas politik pemilu dibilang “dasar kafir”. Padahal aku emang ga paham politik samsek, daripada nge bacot tapi ga paham, mending diam toh. Temen sama etnis cina malah dibilang kafiir lagi. Duhai manusia bumi pertiwi, bisa ga sih klo melihat sesuatu rada diperluas :”))) *numpang curhat kak hehe

  • Reply
    sarah
    May 29, 2019 at 1:50 am

    salah satu hal yang ga gue ngerti adalah, ketika dikritik sepihak, di judge, dikepoin, disalahkan, kita cenderung harus menerima, memaklumi, berpositif thinking sama yang nge-judge, kalo curhat ke temen dibilang “yaudah maklumin aja, bla bla bla” akhirnya muncul budaya kalo nge-judge orang lain, ngepoin, bahkan nyalahin tidakan orang lain adalah hal yang lumrah, bahkan sebagian bilang wajib– kan mengingatkan, katanya. Kita belum terbiasa sama istilah put yourself in other people’s shoes. Lagian kalo mereka mau bawa-bawa agama, harusnya mereka tau, menasehati orang lain, mengingatkan orang lain juga ada “adab” nya, ga boleh serta merta dilakukan di tempat umum yang diliat banyak orang dan kadang menggiring orang lain untuk setuju sama mereka. Gw ngerasa ngga dewasa aja kalo ada orang yang mempertanyakan kehidupan pribadi orang lain, lucu. Beberapa hari lalu temen gw cerita, dia ditegur orang sampai ditontonin ceramah ustad, dy sampe down banget bukan karna ceramahnya, tapi karna ditegurnya di depan orang banyak dan bikin dia ngerasa terpojok.

    I love how you speak up about this, sebagai public figure, semoga makin banyak yang tercerahkan sama tulisan kayak gini, jangan sampai budaya ngejudge, kepo, julid, makin hari makin dianggap biasa dikehidupan sehari-hari, udah males gw ngadepin kepoan dan kritikan orang yang bahkan ga gw kenal, smp akhirnya dibilang arrogant karna ga ngeladenin mereka, pada akhirnya mau gimanapun dimata mereka yg salah tetep gw, kan lucu.

    • Reply
      Gita Savitri Devi
      May 29, 2019 at 2:38 am

      Denger cerita lo gue jadi teringat sama artikel yang pernah gue baca. Di sana ditulis bahwa more Muslims are less religious dan itu disebabkan bukan karena agamanya, tapi karena umatnya 🤭

  • Reply
    Nur
    May 29, 2019 at 2:05 am

    Seandainya nih y Git, pertanyaannya diganti,
    bukan ‘Gita puasa g sih kalo traveling’ tapi kalo lgi d Jepang puasanya gimana sih? Mulai jam berapa sampai jam berapa? Cuacanya gimana? dsb.
    Apa dirimu akan ‘sensi’ juga?

  • Reply
    felly
    May 29, 2019 at 4:53 am

    totally agree with u kak git!

  • Reply
    Dien N
    May 29, 2019 at 5:52 am

    Jadi inget jaman sma dulu pernah ikut organisasi agama, dan waktu itu ada salah satu guru agama yg bener bener kecewa ketika tau klo bacaan quran gue masih biasa aja, dan kalimat yg beliau lontarkan pada saat itu masih anget di ingatan karna semenyakitkan itu alih alih beliau beralasan karna gue udh join sama organisasi tsb, sudah seharusnya gue pintar plus jago soal agama.
    Saat itu gue cuma bisa nangis dan menyalahkan diri gue sendiri.

  • Reply
    Nidya
    May 29, 2019 at 10:26 am

    ❤❤❤❤❤❤

  • Reply
    Alvinatalia Gucci
    May 30, 2019 at 3:44 am

    Payah bat si emang di sini belakangan ini gak cuma di instagram doang bahkan dalam kehidupan sehari hari pun banyak yang kaya gitu.. Kalo kata gua mah kak “Orang Ngomong lak lakkan nya lempeng bat”. Malah kadang dari situ kita bisa bedain mana orang yang ngerti agama mana yang enggak. Ngerti juga kalo cuma ngerti doang sarua keneh kalo gak dipraktekkin. Gua juga setuju bat tu kak sama kata kk yang banyak orang kita yang nggak ngerti mana pertanyaan pribadi dan pertanyaan yang pantas dilontarkan.
    Kalo boleh cerita kak, pengalaman gua sering ditanyain temen temen gua di sekolah kenapa gua ikut ekskul padus padahal jilbab gua panjang alias syari. ?? Gua sampe sekarang masih bingung kenapa org org itu nanya kaya gitu,:( Dan gua pun diem aja , terlalu bingung buat ngejawab apa ke mereka. Pernah juga cuma masalah kecil gua pernah lagi ketawa ngakak sama temen² gua terus gua ditegur guru kok kamu ketawa nya gitu padahal pakai krudung syari. Dan disitu gua bisa bedain mana orang yang bener bener menasehati kita dan mana orang yg lagi mempermalukan kita. Awal awal gua kaya mental breakdown gitu 🙁

    Btw kak gua termasuk followers baru kakk git, tau kak git dari vlog belum juga sebulanan gua tau ka git… Sampe gua ga mau ketinggalan tentang kk , gua nonton vlog kk kaya maraton drakor 🤣🤣. Dan akhirnya lama lama tau kalo ga git punya vlog, kebetulan suka baca juga jadi maraton juga baca blog blog ka git.. Jadi maaf banget kak kalo gua belum tau banyak tentang ka git. Sangat menginspirasi siiiiih👌

  • Reply
    Yospina
    May 30, 2019 at 6:52 am

    Gita, aku share nih postingannya, semoga ada yang tercerahkan.

  • Reply
    Ima Nurhalimah
    May 30, 2019 at 11:17 am

    Always Keep mving forward git! ❤

  • Reply
    Bunga Yunas
    May 30, 2019 at 1:26 pm

    I catch the point kak, so I’ll wait ur opinion.

  • Reply
    nitizen_husnuzon
    May 31, 2019 at 2:09 am

    Hfft gue juga bingung kenapa ya kita orang Indo yang mayoritasnya muslim terbesar tapi gabisa nerapin sikap toleransi dan husnuzon kesesama. Gue enek banget ketemu orang-orang begitu , mental bullynya orang-orang indo Allahuakbar banget 🙁 Tapi pas di bully bisa nangis2 stress. Mulai dari mana ya ngedukasi orang-orang macam mental bully begini, muak bgt sama penilaian orang setiap kali kita ngelakuin sesuatu yang menurut mereka “beda” langsung sifat merasa paling menguasai ilmu agama paling tinggi dan paling tahu. Padahal kebanyakan cuma belajar agama paling ya sepotong2 :((((((((((

  • Reply
    Goro
    May 31, 2019 at 1:26 pm

    “because good deeds should be done with intention kak, not for attention…”
    seandai saja mereka yang menjudge itu tau diri mereka sendiri tentu mereka tidak akan menjudge
    karena mengetahui diri sendiri itu lebih sulit dibanding menilai orang lain 😀
    senyumin aja sama yang begituan kak ehehehe *peace love and gaul 🙂

  • Reply
    niklosebelas
    May 31, 2019 at 3:07 pm

    Waktu kejadian @america itu, saya pernah baca ada seorang selebtwit yang ngetwit katanya gak habis pikir sama Kak Gita yang bikin akun NetijenBersabda itu… kata dia aneh ada orang yang compile komen-komen jahat di IG terus di publisg kalo ada yang komen gak enak katanya mending di-ignore aja.

    Mata saya langsung terbelalak baca twit tersebut. Like whaaat ? seriously ?
    Yaudah aja sih ya suka-suka orang ya mau bikin akun IG apaan juga… yang pada komen-komen gak enak aja pada suka-suka sendiri gitu… repot bener ngurusin akun IG orang -_-a

    Disitu lah makin jelas kalo (Sebagian) orang Indonesia demen ngurusin urusan orang lain mheheheh

    Kalo urusan ibadah mah gak usah ditanya :”)))) saya dulu udah kenyang diceramahin sodara yang ukhti-ukhti lalu di cap STMJ alias shoat terus maksiat jalan hahah

  • Reply
    Cynthia Delima
    June 1, 2019 at 3:43 am

    Gimana ngk nge-fan sama Kak Git, kisah ke-ngegasan ini setidaknya menyembuhkan luka hatiku (azek). Aku juga sama kaya kak git, sering banget di bilang ngegas ditambah katanya ngk santai, kaku, ngk punya selera humor. Padahal konteks ‘ngatain’ orang itu bukan humor sama sekali (menurutku). Sampe ada yg bilang “kamu gini, nanti jadi perawan tua” dan sekarang Aku baru 16thn woy. Astaghfirullah. Pertanyaannya, emang salahnya jadi orang yang ‘beda’? Emang salah ya kita negur orang yang memang salah? Sumpah kesel banget sama orang yang bilang ‘santai woy, biasa aja lah’, padahal aku pribadi udah biasa aja, dia yg ngengas aku yang disalahin. Ini gimana coba.

  • Reply
    Fitri
    June 3, 2019 at 2:35 pm

    Semenjak tau dan follow kk gita. Ikutin, baca dan tnton apapun yg kk gita post. Dari situ perlahan aku buka pemikiran aku, menelaah sesuatu gg bulet2. Tengkyu so much kk git, ada banyak orng di sini yg mngalamai hal yg sama sprti aku. Keep going dan semoga Allah selalu bersama kk giymta dan kk Paul

  • Reply
    wistha
    June 6, 2019 at 5:27 pm

    Couldn’t agree more. Masih banyak orang yang merasa kalo kita udah temenan sama dia, bahkan sekalipun cuma temenan di media sosial (LoL), berarti dia punya hak untuk mencampuri hal-hal pribadi di hidup kita.
    Padahal, gak semua orang bisa “fine-fine aja” diberi pertanyaan2 sensitif kayak gituu

  • Reply
    Saraswati
    June 7, 2019 at 3:00 pm

    Assalamu’alaikum kak Gita,
    Ich heisse Saraswati
    Ich komme aus Indonesia
    Ich bin eine Studentin in Universität von Medan.
    Yaaa cukup perkenalan diri pake bahasa Jermannya wkwkwkwk.
    Oya sebelumnya aku mau ucapin makasi untuk postingan kakak baik di ig or di instagram.
    Aku bukan fans kakak, tapi aku suka sama pola fikir kakak, dan penampilan kakak on the camera, apalagi yg aku tau kakak tu anaknya introvert.
    Aku juga salah satu anak yg introvert dan bisa di bilang kalo ngomong atau komentar suka ngegas padahal maksud ku gak begitu. Aku juga pengen bisa show di depan camera but tetep aja sulit rasaku. Aku lebih milih diem dan gak gubris orang orang yang udah ngeganggu banget dengan urusan privasiku. Karna kalo aku balas yang ada ntar aku di katain berkerudung kok akhlaknya begitu.

    Waktu aku kuliah semester 2 aku ngecoba buat hijrah. Sulit memang tapi ya gitu, sampai akhirnya semua buat gak nyaman. Dan sekarang aku memilih untuk tetep jadi diri aku sendiri, gak mau denger kata orang lain tapi harus tetep nrima masukan dari orang lain.
    Aku selalu mikir Allah bakal catat sekecil apapun kebaikan kita kok. Makanya kita harus selalu nebar kebaikan sekecil apapun itu. Semangat terus buat kak gita dan kak paul. Terus berkarya, terus untuk memotivasi anak anak mudah apalagi anak mudah indonesia yang kurang jauh menmainnya hehehehe

  • Reply
    Kirana Endah Lestari
    June 11, 2019 at 3:16 pm

    Gue gak pernah suka jadi cewek kalem. capek banget tauk diinjek-injek. Terkadang kita emang harus tegas biar orang tau cara menghormati orang lain. dikantor banyak yang bilang gue galak. tapi gue gak peduli. selama yang gue lakuin bener gue gak takut. Terkadang juga orang gak bisa bedain apa itu ngegas dan tegas. be your self. and I always too.

  • Reply
    Mei
    June 13, 2019 at 7:17 pm

    Cara share tulisan dari web gimana sih,mau share di watsap ini wajibbb

  • Reply
    Mei
    June 13, 2019 at 7:19 pm

    Oke lupakan udah ketemu caranya

  • Reply
    Hanifa
    June 21, 2019 at 8:02 am

    sepertinya ada beberapa keheranan tmn2 yg bisa terjawab dari pemaparan ini:
    https://www.youtube.com/watch?v=6paY-p-apBs

    kesimpulan yang saya tangkep, banyak muslim yang punya semangat ‘karbitan’ dalam berhijrah atau bersosial. Mereka tidak memahami fiqih dakwah, which is itu the art of muslim in social life (hablum minnas) :”))

  • Reply
    Rabdinas
    June 21, 2019 at 12:41 pm

    Semangat berkarya ka git

  • Reply
    Gea Muhana
    June 23, 2019 at 10:41 am

    saat ka gita resah lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan, jujur isi tulisannya bermanfaat bgt kak. feelnya dapet, kita yg ikutin blog ini jg pernah diposisi ka gita. keep support ka gita <3 xoxo

  • Reply
    Fariha nurma
    June 28, 2019 at 3:11 pm

    Terima kasih banyak kak git buat segala tulisan nya, dan juga video2 kakak di youtube. Sekarang aku lebih merasa “melek” akan hal2 yang ada di sekitar ku. Thank u so much

  • Reply
    Vina
    July 11, 2019 at 7:21 am

    I am agree with u.
    ini sebetulnya komennya telat tapi apa salah.
    Di indonesia dari dulu memang sensitif.
    Contoh kecilnya, mau keluar rumah tetangga udah kepo nanyain mau ke mana.
    Itu nggak sekali dua kali, terbilang sering.
    Label ramah sudah mengakar.
    Mungkin karena ramah dan kebiasaan suka tegur sapa, otomatis jadi akrab.
    Dan kalo misalkan nggak melakukan kebiasaan itu, rasanya ada yang kurang.
    Haha, lebih baik menerapkan sikap bodo amat aja untuk hal-hal seperti itu.

  • Reply
    chindy febria
    July 13, 2019 at 6:23 pm

    suka bgt baca blognya kyk semua curhatan gita ada disini yg gabisa dia omongin di yt ato ig. seru bgt bacanya luv u ka git

  • Reply
    Rahma Lestari
    July 15, 2019 at 2:59 pm

    Terimakasih telah menginspirasi kami ka gita, sukses terus ya 🙂

  • Reply
    Zahrotush Sholikhah
    July 15, 2019 at 3:18 pm

    Ini sama banget sih ka gita! Lol! Aku tumbuh gak di Indo dan karena itupun ketika kembali ke Indo cara didik ortuku masih sama seperti pas di LN, kurasa itu yang bangun watak aku jdi “loe-loe, gue-gue” dimana oleh masyarakat lain di sebutnya “tidak ramah”. Dari dulu paling gak suka kalau ada orang ngutil-ngutil hal pribadi seolah-olah urusan kita ada topik umum masyarakat dan semua orang harus tau masalah kita. Waktu share sama ibu, ternyata ibu ngadepin hal yang sama waktu awal-awal mulai kerja di Indo. Dimana sampai sekarang ibu dikenal sebagai salah satu orang yang ‘gak peduli kata orang’, karena beliau bilang orang-orang tidak bisa di edukasi membedakan privasi sehingga lebih baik kita yang tutup kuping dan jalan terus. Mungkin Ibu sudah terbiasa, tapi aku masih belum. Terutama sekarang tempat kerjaku termasuk yang toleransi antar golongannya masih rendah. Sayang, padahal institusi pendidikan.Pusing-pusing….

  • Reply
    salsa faizah
    July 16, 2019 at 5:18 am

    Totally relate. gua tipe orang yang bisa banget langsung ngegas kalo ada orang yang neken2 masalah privasi diri sendiri padahal lagi becanda bacanda seru. like, lu siapa gua gitu. sampe sekarang, bener bener deh yang ngurusin hubungan percintaan gua tu orang orang yang sebenernya ga deket sama gua. ditanya “sebenernya kalian pacaran ga sih?” terus “ga pacaran ko sering jalan bareng?” ya terus kenapaaa helloo ya Allah cape hati jawabnya, sampe nanya “udahhh taken aja, dia baik sama tajir ini”. abis ditanya gini pasti raut muka udah berubah, ngomong jadi ngegas. lah bodoamat dibilang baperan, emang bener ko gua baperan kalo udah masalah privasi. berharap orang oang paham dimana batas dia tau printilan printilan kehidupan gua, tapi ya pada akhirnya harapan cuma harapan. dan lagi lagi, yang paham cuma temen temen deket.

  • Reply
    Muh. Faruq
    July 19, 2019 at 3:44 am

    Baru sekali ini masuk sini, and i think that i just need to read this article to know ‘who really you are’. Aku jg pernah memandang sinis ‘gaya hidup’ kebanyakan orang Indonesia. Sampai ngebuat blog buat menumpahkan segala kekesalan kyak gini. But anyway, i love indonesia so much. Aku berusaha memahami knapa karakter kita begini dengan cara membaca sejarah. Kesimpulannya, itu bukan salah mereka. If you care, back and make it better!

  • Reply
    Madaniy house
    July 20, 2019 at 10:32 pm

    “Saling mengingatkan” .. kalimat kayak gitu tu kayaknya nyentuh banget .. tapi masalahnya kalau mengingatkan karena tulus sesama muslim atau karena julid mencari titik kecil kesalahan kita tetap aja kesannya muak, kesel .. aku agak takut siih kalau mengingatkan orang lain .. aku pernah baca kalau kita tu ngga mesti koar² buat mengingatkan… cukup tunjukkan akhlak yg baik bagi diri sendiri .. salah satu akhlak yg baik tu yah gitu, ngga julidin orang, ngga kepo.. tapi cari kelebihannya yg patut buat dicontoh.. aku ngga pernah sii liat hate comment kak gita, ngga tau kenapa … ngga papa lah kak, dari 500 000 yg menyukai kakk, mungkin haters kak 50an atau berapa gitu.. kita muslim, senjata kita satu doa. Doakan aja mereka .. mungkin mereka ngga tau.. semangat terus kak buat posting² segala hal kebaikan, abaikan segelintir orang yg menyebalkan .. karena kata imam syafii kita tu tak akan pernah selamat dari tajamnya lidah manusia .. semangat!! 😀

  • Reply
    Nurul Hidayah
    July 21, 2019 at 2:57 am

    Gue malah ga ngerti, kenapa di kampung gue sekarang apa-apa malah disebut HARAM. Main hape, haram. Nonton tv/punya tv, haram. Orang yg syukuran/kawinan anaknya trus ada hiburan yang bukan marawis atau siraman rohani, haram. Bupati ngadain acara hiburan-hiburan, haram, musryik. Dan banyak lg deh. Dan yg paling gue ga ngerti adalah kenapa mereka bertingkah anarkis, nyerang bergerombol, bawa-bawa batu trus di lempar ke alat musik di atas panggung. Kalo iya mau ngasih tau itu haram, kenapa ga ngomong baik-baik, gausah ngerusak properti orang lain. Yang main musik juga bakalan berenti ko kalo disuruh berenti dengan cara baik-baik. Kan mereka*yang nyerang* itu santri, harusnya tau dong Islam itu rahmatan lilalamin. Salam dalam islam juga kan artinya damai. Kalo cara mereka kaya gitu, emang itu damai?
    Malah dengan kelakuan yg begitu, akan bikin masyarakat sekitar takut. Padahal, ya mengingatkan mah mengingatkan aja, gausah keterlaluan kaya begitu.
    Aneh bgt kenapa more people jaman sekarang gampang banget meng-haram-kan dan men-dosa-kan sesuatu.

  • Reply
    Alfajrina
    July 22, 2019 at 3:41 pm

    i love u morethan 3000 kak!

  • Reply
    A. Puspadewi
    July 25, 2019 at 9:34 am

    Jujur aja, saya ngga mau nyalahin bahwa yang menyebabkan Indonesian tidak maju adalah karena kita mayoritas Muslim. Saya denial kalau agama yang kita anut ini menghambat progresivitas kita sebagai penduduk Asia Tenggara dengan populasi Muslim terbesar di dunia… but we have to swallow the fact that we still have the misconception of faith. Kita salah mengartikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai “elo Muslim kayak gua, jadi elo harus mau gua koreksi,” which is total bullshit.

    Gua pernah ngalamin yang namanya dikoreksi sama temen sesama Muslim gua dulu dan dia ngoreksi bad habit gua, padahal gua ngerasa dia temen deket gua aja kagak. Rasulullah pun dulu ketika menerima amanah untuk menyebarkan pesan kebenaran, kebaikan, dan kedamaian Islam pertama-tama ke keluarganya dulu, which is his (pbuh) closed ones. Ngga ada yang namanya juga Rasulullah main langsung ngoreksi karena gatel ada sodara sesama Muslim dia yang melenceng dari ekspektasi beliau bagaimana seharusnya seorang Muslim. Dari sini pun sudah jelas bahwa Rasulullah mengajarkan ajaran Islam, bahwa manusia itu ngga bisa dikotak-kotakkan dengan label ‘black’ atau ‘white’, kita itu spektrum. We are colors. We can be a Muslim and be the most rational person on earth, beda sama ekspektasi orang Muslim di Indonesia yang berharap kalo Muslim itu harusnya lemah lembut dan sopan. Wtf. Umar ibn Khatthab aja waktu masuk Islam dan udah jadi Muslim, masih aja sama sifat keras dan kasarnya, cuma lebih tertuntun aja sama Islam.

    Gedeg sama Indonesia yang belajar agama Islam bentar aja udah jadi the most self-righteous person in the world. Mentalitas yang berbahaya. Saya pun mempunyai masalah yang sama dengan Gita dengan orang-orang Muslim di Indonesia.

  • Reply
    Ilham
    July 28, 2019 at 1:37 am

    Begitulah netijen negara ini, mempertanyakan hal yang tidak penting untuk dipertanyakan. Okelah kalo sekadar tidak penting, tapi ini juga sampe mengusik segala pertanyaannya. Kocaknya lagi terkadang ada sebuah musibah di suatu daerah, hanya karna tuh public figure kaga doain di medsos langsung netijen ngecap tuh public figure yang ngga punya rasa simpati.

    Oh tidak, apa yang terjadi dengan negara ini dan orang-orang di dalamnya.

  • Reply
    Nana
    August 2, 2019 at 11:14 am

    Halo Kak Git.

    Sebagian setuju sama apa yang kaka bilang. Dan sempet juga gue beberapa baca komen temen2 di postingan ini.

    Satu hal yang aku highlight, Kak.
    Emang semua ini ga terlepas dari konsekuensi, but konsekuensi ga menutup kita buat ngomong apa adanya, sejujur2nya, kaya yang kakak lakuin sekarang. Konsekuensi terjun menjadi sosok public figure (yang gue yakin banget kak git jauh lebih paham) adalah segala hal yang kita lakuin bakal dipantau sama yang-merasa-serba-tau maha netijen.

    Kita emang ga tau apa motif dibalik orag-orang ini napa pada kepo, nanya ini-itu seolah menjustifikasi (kalo negative thinking-nya ya). Tapi kita yang juga emang CUMA manusya apa daya ga punya power buat ngeliat isi hati seseorang itu sebenernya. Jadi, mau ga mau biar kita ga terjerembab sama pemikiran negatif yang berkelanjutan, kita sendiri yang ngemanage cara pandang kita pada sesuatu. Bisa jadi dialihin, ‘mm mungkin dia emang mau ngingetin..’, ‘mm mungkin dia emang lebih ngerti beginian..’, ‘mm oke coba gue terima dulu pendapatnya dia dan gue cari tau lebih dari literatur. bisa jadi bener’. Perasaan ini dateng ketika kita sadar kalo enggak selamanya kita manusya ini bener alias kita diuji dengan kerendahan hati kita #selfreminder buat gue banget sebenernya.

    But, thumbs up buat kak git yang berani buat ngungkapin hal2 kayak gini becos INI PERLU BANGET ORANG LAIN JUGA TAU. intinya dari kayak gini, munculin topik buat semakin toleran dan menghargai orang lain.

    keep inspiring, Kak git!

  • Reply
    Doraemon Aja Lebih Ngerti… – Alya's blog
    August 14, 2019 at 8:59 am

    […] Doraemon Aja Lebih Ngerti… […]

  • Reply
    utiaisah
    August 20, 2019 at 6:48 pm

    aku juga pernah
    “sholat,jangan kafir”
    “emang kamu ga pernah sholat,udah kayak kafir aja”

    ga ngerti lagi,apa perlu aku sholat dividioin,di depan umum?

  • Reply
    Diah Ayu Pangukir
    August 26, 2019 at 8:36 am

    Sekali lagi setuju bgt sama apa yg ka gita bilang. Gue juga ngerasain yang sama, gatau kenapa Org2 di sekitar gue pada kepo bener sama keislaman gue. Ada aja yg di komenin. Hampir. Tiap. Hari.
    Entah itu di tanya “udah ngaji belum hari ini” “udh solat sunnah apa aja” dll, selain itu juga Selalu kasih komentar ttg hidup gue yg menurut gue ga penting2 amat. Kaya misal nya ngomentarin Musik apaa yg gue denger (most of the time gue dengernya kan lagu korea ya, udh deh abis diceramahin) , film atau drama apaa yg gue tonton, pakaian apaa yg harus nya gue pakai, lama2 jadi muak deh sumpah. Selain banyak komen nih ya, ga jarang org itu nyindir gue juga, di depan banyak org. Gila sih ga abis pikir.
    Tulisan ka gita bener2 mewakili gue banget. Thank you ka gitaaaa

  • Reply
    Lista Novera
    September 8, 2019 at 3:45 pm

    Kak gimana sih caranya supaya tampilan blognya bisa sekeren kak gita? Hehe

  • Reply
    Nurrasni tumiwa
    September 17, 2019 at 6:19 am

    Semangat terus kak, orang lain gasuka kakak tapi kita kita disini suka dan butuh perempuan dengan pikiran seperti kaka. Setiap nonton youtube dan baca blog kaka, aku selalu sadar alhamdulillah aku punya teman 🙂

  • Reply
    Jeylinn
    September 24, 2019 at 2:52 am

    I am with you ka♡

  • Reply
    Asep Rohimat
    September 25, 2019 at 1:25 am

    Asro lebih ngerti kak Gita dari pada doraemon 🙂

    Salam kenal kak, saya Asep dario Garut

  • Reply
    Rinrin Rindawati
    October 21, 2019 at 12:11 pm

    baru baca tulisan kak git yg ini

  • Reply
    Nadia
    November 19, 2019 at 4:23 pm

    sama sih kak git, kadang aku juga kepikiran kayak gitu. tapi ga terlalu berani speak up ke orang-orang aja. lebih memilih dieemmm, karena males ngedebatnya apalagi kalo ditambahin “ngeyel”

Leave a Reply