Ngomong Sendiri

“I am not racist. I have many black friends.”

Untuk pertama kalinya dalam hidup gue, hari ini gue abis di-gue juga feminis kok-in sama laki-laki. Gue tau ini membingungkan, so let me try to elaborate.

Amerika Serikat adalah negara yang paling sering gue kunjungi. Kalo ditotalin udah lima kali gue ke sana. Alasannya sih nggak lain dan nggak bukan karena gue suka dengan kelebayannya. Di sana semua tuh lebay. Dari porsi makanan, dari gegap-gempita industri hiburan, kegonjrengan tempat-tempat turis, dan gue emang lebih seneng sama negara yang berbahasa Inggris. Selain itu USA punya soft spot di hati gue karena Bokap gue dulu tinggal di sana 17 tahun. Jadi gue kayak familiar gitu lah sama ini negara.

Karena kefamiliaran ini juga, gue banyak mengikuti berita dan isu-isu sosialnya Amerika Serikat. Ini negara tuh sebenernya udah fucked up dari awal. Dari awal si Christopher Colombus nyasar ke sana karena awalnya pingin ke India. Pas sampe di sana ternyata tanah ini udah ada orang aslinya. Eh tapi si Colombus malah ngebunuh-bunuhin ni orang asli. Belom lagi dateng penjajah lain dari Eropa yang ikutan mereduksi populasi orang asli Amerika dengan segala penyakit mereka (plus ngebunuh-bunuhin jugak sih). Terus fast forward di sebelah timur, lebih tepatnya New England, si orang-orang putih ini memutuskan untuk bikin koloni dan mendirikian negara baru. Nggak cukup sampai situ, mereka nyomot lahan dari Meksiko dengan berperang supaya negaranya jadi makin luas. Long story short, terbentuklah The United States of America.

Jujur gue sampai sekarang nggak ngerti dengan konsep kolonialisme. Kenapa ada orang asing ujug-ujug datang ke negeri orang untuk mengambil lahan dan sumber daya yang udah ada tuannya tersebut. Selain si orang asli sana akhirnya terpinggirkan, dalam kasus terbentuknya USA, mereka sampe mengimpor orang-orang dari Afrika Barat untuk dijadikan budak. Orang putih a.k.a bule tuh emang suka aneh dan sakit jiwa. Mungkin zaman dulu belum ada United Nation ya? Makanya orang bisa sembarangan aja nyaplok kiri, nyaplok kanan. Eh, tapi sekarang UN udah ada, tapi humanitarian issues masih tetap ada aja. Jadi sebenarnya gunanya UN tuh apa sih?

Anyway, setelah berabad-abad merdeka Amerika Serikat ternyata masih belum bisa menyelesaikan masalah etnik dan ras di negara mereka yang juga menurut gue aneh. Padahal negara mereka dibangun oleh imigran. Orang-orang putih–yang adalah imigran–berbondong-bondong ke Amerika, membentuk negara baru, dengan konstitusi yang baru. Namun sampe sekarang masih sering kita lihat konflik antara (mostly) orang putih dengan kelompok minoritas seperti orang hitam, latin, dan native American. Apalagi sejak populismus dan konservativisme meningkat, masalah ras makin kacau di sana.

Sama seperti narasi #NotAllMen yang gue lihat sering dijadikan pointless counter argument laki-laki patriarki ketika dikonfrontasi oleh perempuan, gue juga suka melihat argumen tidak penting ketika orang putih sedang dikonfrontasi oleh–let say–orang hitam jika mereka sedang rasis.

I am not racist. I have many black friends.”

Can you see the similarity? Si orang putih merasa misrepresented dan tidak mau disebut rasis dengan ngelempar alasan “Gue punya banyak temen orang hitam.”.

Permasalahan gue dengan #IHaveBlackFriend dengan #NotAllMen sama. Dua narasi ini menggeser fokus dan mengkerdilkan masalah utama bahwa memang secara sistem ada kelompok-kelompok yang ditekan dan didiskriminasi. Seorang bule nggak bisa menjustifikasi sikap rasisnya dengan alasan dia punya banyak teman orang hitam. Punya teman orang hitam nggak bikin mereka jadi langsung auto-imun terhadap rasisme.

Si orang putih nggak tau dan nggak akan pernah bisa merasakan struggle dan oppression yang dialami oleh orang hitam. Di Amerika Serikat hal ini sudah mengakar sejak mereka dijadikan budak. Bayangin… Udah dari zaman kakek buyutnya. Kakek buyut lo dipisahin dari keluarganya, terus dibawa ke negeri antah berantah pakai kapal untuk dijadiin budak orang putih. Bahkan di era modern sampai sekarang, orang hitam masih mengalami bentuk oppression dari segala aspek. Itulah mengapa black community cenderung lebih mudah untuk terperangkap oleh narkoba, kriminalitas, dan hal-hal gangster tersebut. Karena sulit untuk mereka untuk merangkak keluar dari rabbit hole–the systemic oppresion di negaranya.

Sama seperti #NotAllMen, narasi #IHaveManyBlackFriends membuat seakan-akan masalah rasial yang dialami orang hitam di Amerika cuma seujung kuku. Cuma sepele dan nggak perlu dibesar-besarkan. Yang mengucapkan nggak peduli dengan topik utama, dengan bagaimana opresi yang dialami oleh orang hitam, dengan fakta bahwa orang hitam mendapatkan image kriminal, fakta bahwa mereka sering jadi korban kriminalisasi polisi, fakta bahwa mereka harus selalu membuktikan bahwa mereka bukan orang jahat. Si orang putih nggak peduli dengan itu semua. Mereka hanya ingin membersihkan namanya dari label rasis.

Kembali ke cerita gue di-gue juga feminis kok-in, lo nggak otomatis jadi feminis hanya karena lo menyebut diri lo feminis. Terlebih kalau lo seorang laki-laki yang nggak tau rasanya hidup menjadi perempuan, nggak merasakan detik per detik tinggal di planet ini sebagai perempuan. Lo nggak sadar akan fakta bahwa ada satu sistem yang dibuat oleh laki-laki, yang membatasi ruang gerak perempuan. Lo nggak sadar akan fakta bahwa sampai sekarang pernikahan anak masih terjadi, kekerasan terhadap perempuan masih sering dilakukan oleh laki-laki. Lo nggak pernah merasakan dianggap irrelevant atau bahkan dibungkam. Lo nggak pernah merasakan diposisikan sebagai yang salah padahal lo seharusnya butuh bantuan. Lo nggak pernah diambil identitas lo sebagai cewek, dilarang melakukan apa yang lo impikan, dan didikte kehidupannya agar sesuai dengan harapan orang lain hanya karena lo perempuan.

Lo bukan feminis kalau lo nggak bisa berempati dengan kesulitan yang dialami perempuan. Lo bukan feminis kalau lo nggak menyadari bahwa ada invisible hierarchy di masyarakat kita. Lo bukan feminis kalau lo nggak menyadari bahwa gender memberi pengaruh atas bagaimana seseorang bersikap dengan gender yang berlawanan. Lo bukan feminis kalau lo nggak bisa memberi ruang kepada perempuan untuk menggunakan suaranya dan menyampaikan aspirasinya.

You are not a feminist if you just talk the talk but do not walk the walk.

You Might Also Like

8 Comments

  • Reply
    Mangaip Blog
    December 15, 2019 at 5:27 am

    Tulisannya keren-keren dan sangat menginspirasi, semoga makin sukses blognya. Salam kenal aja ya mbak

  • Reply
    amahrifa
    December 18, 2019 at 3:46 am

    Gita.. sudah nonton Kim Ji Young Born 1982?
    Penasaran sama pendapat Gita 😁

  • Reply
    Rina Prasetyani
    December 25, 2019 at 9:37 am

    Ga pernah bosen baca blog kak Gita 🙂

  • Reply
    Nabilah Kusuma
    December 31, 2019 at 3:05 pm

    Alhamdulillah, jadi lebih open-minded abis baca tulisan ini

  • Reply
    ama
    January 1, 2020 at 2:59 am

    Hai, Kak Git. Tulisan-tulisan kak Git selalu keren!

  • Reply
    Ulfa
    January 10, 2020 at 4:40 am

    Ngomongin masalah Black and White memang ga pernah habisnya. Tentang bagaimana Black diperbudak, dijual belikan and parahnya lagi kalo dia perempuan sering memperoleh sexual harassment. Betul ka git, aku setuju dg pendapat kakak. Aku jg geram sm org2 yg gapaham dg feminis itu sebenarnya gimana? Mereka (perempuan) ga sadar, berada dilingkaran ‘gender roles’ which is constructed by society. It tends to seperate between women and men. Gilak ga sih!?

  • Reply
    Litta Lotti
    March 27, 2020 at 1:35 am

    Gue sering banget denger orang klaim dirinya begitu hahaha

  • Reply
    Hikmah
    March 31, 2020 at 12:55 pm

    Alhamdulillah…. Update lagi blognya, yg selalu ngangeni buat baca tulisan-tulisan ka gita ini

Leave a Reply