Ngomong Sendiri

Kita Tidak Sedang Berada di Pantai

Mungkin ada beberapa dari kalian yang juga merasa overwhelmed dengan berita mengenai Coronavirus beberapa waktu ini. Di satu sisi gue merasa khawatir apakah gue akan terinfeksi juga. Maklum aja, di Jerman ini ada banyak banget yang kena Corona. Menurut data terakhir dari Robert Koch Institut, ada 22.762 kasus positif dengan 86 kematian. Masalahnya adalah selama periode awal penyebaran virus, gue lagi sering-seringnya pergi ke daerah Nordrhein-Westfalen, daerah yang kasus Corona-nya paling banyak. Belom lagi minggu kemarin gue sempat kena demam dan sembuhnya agak lama. Untung nggak pake batuk.

Berita perkembangan Coronavirus comes in one package dengan berita-berita lain yang bikin gue makin cenat-cenut. Hampir semua pemerintah negara gagap dalam menghadapi pandemi. Nggak terkecuali pemerintah negara gue tercinta Indonesia. Gue tau sejak dahulu kala bahwa pemerintah kita nggak pernah kapabel dalam memecahkan masalah apapun. Mau itu kemiskinan, kemacetan, polusi udara, KKN, pencemarah lingkungan, apapun itu. Urusan pandemi pun mereka nggak mampu.

Gue nggak tau gimana gemesnya warga yang harus menghadapi masalah ini basically sendiri. Si Presiden cuma bisa being toxic positive, malah di awal pandemi dia menganjurkan turis untuk berwisata ke Indonesia. Menteri kesehatan cuma bisa guyon dan cengar-cengir, bahkan menantang peneliti Harvard untuk membuktikan kalau Corona benar sudah datang ke negaranya.

Tapi orang-orang kayak gini tetap ada aja yang mendukung. Susah memang kalau mainannya politik figur, bukan policy. Entah harus berapa banyak lagi bukti bahwa mereka gagal menjadi pemimpin. Belum lagi tentara daring yang siap sedia pasang badan dengan segala macam tagar konyol dan argumentasi mereka untuk membela mati-matian junjungannya. Akhirnya apa? Seperti yang sudah-sudah. Masyarakat sipil aja yang berbondong-bondong saling jaga dan saling bantu.

Sejauh ini udah enam dokter di Indonesia yang meninggal karena virus ini. Mereka bukan sekadar statiskik, bukan sekadar nomor, tapi mereka adalah manusia. Punya cerita, punya keluarga, dan mereka jadi garda terdepan yang melindungi masyarakat. Ini terjadi karena mereka-mereka yang punya kuasa, yang harusnya nggak lalai, malah santai. Terus sekarang ancamannya udah makin nyata, anggota DPR dan keluarga mereka dengan privilesenya berbondong-bondong ikut tes Corona.

Apa yang akan dilakukan negara selanjutnya? Minta maaf? Memperbaiki sistem kesehatan? Nggak, lah. Pemerintah udah terbiasa kok menelantarkan dan bikin rakyatnya sengsara. Rakyatnya juga udah pasrah aja dipimpin sama orang-orang yang… Ah, sudah, lah.

Kalau ada yang nanya, “Git, lo bacot banget deh cuma bisa kritik tapi nggak bisa ngasih solusi.”. Gue kan rakyat. Tugas gue ya mengkritik. Yang punya kuasa dan otoritas untuk menyelesaikan masalah-masalah itu ya wakil rakyat dan pemimpin negara. Itu kan sudah tugas mereka. Yang harusnya memberi solusi itu bukan gue, tapi mereka. Last time I checked, paspor gue masih paspor Indonesia.

Selain itu cenat-cenut kepala juga diakibatkan oleh orang-orang muslim yang seperti buih di lautan. Kuantitasnya banyak, tapi kualitasnya kurang. Semangat beragamanya bagus, ghirah-nya tinggi, tapi sayang akalnya jarang dipakai. Nggak sedikit orang-orang ini yang tetap memaksakan untuk sholat berjamaah atau ikut pengajian yang dihadiri banyak orang, padahal kenyataannya udah jelas bahwa dunia luar sedang berbahaya.

Orang macam gini tuh egois. Di saat mereka punya pilihan untuk diam di rumah, mereka memilih untuk melenggang aja karena katanya Coronavirus nggak akan menghentikan langkah mereka untuk ke masjid. Virus tersebut adalah tentara Allah. Sudah tertulis di Lauhul Mahfudz siapa aja yang akan terinfeksi dan siapa aja yang akan mati karena ini.

Terus tau gak yang bikin gue particularly gemes? Ulama-ulama harus banget menceritakan kisah Rasulullah dan sahabat yang dulu pernah mengalami pandemi, dan beliau-beliau ini pun berdiam diri di rumah masing-masing. Just to get their point accross that Coronavirus is a serious problem. Seakan-akan kalau nggak within the scope of Islam, muslim ini nggak bisa mikir. Padahal ini kan pake akal aja. Nggak mesti jadi muslim untuk punya akal. Yhaa…

Hal ngeselin selanjutnya? Sudah tentu orang-orang yang sembarangan bikin DIY hand sanitizer dan menyebarkan resep tersebut padahal nggak ada latar belakang Kimia atau Farmasi. Orang-orang awam mana ngerti kalau konsentrasi alkohol di dalam hand sanitizer harus 60-70%. Orang awam mana ngerti kalau sembarangan nyampurin glycerin atau gel lidah buaya akan mempengaruhi dilution rate, sehingga konsentrasi alkoholnya bakalan menurun. Cuma kan orang-orang yang menyebarkan resep ini juga nggak ngerti, tapi bedanya mereka lebih pede aja untuk tetap sharing tanpa memikirkan konsekuensinya.

Sama halnya dengan orang-orang (biasanya MLM rep) yang menjual produk mereka dengan klaim bahwa produknya bisa membunuh virus. Entah itu suplemen makanan maupun essential oil. Ngomong-ngomong, kalau ada yang klaim bahwa suplemennya bisa “boosting immune system”, itu juga ngaco, ya. Nggak ada vitamin atau apapun itu yang bisa boosting immune system. It’s pseudoscience… Gwyneth Paltrow 101. Hal tersebut hanya bisa “mendukung” sistem imun yang didapat dari makan sehat, istirahat cukup, dan olahraga.

Memang dari dulu gue sensitif sama multilevel marketing. Selain karena business model-nya ilegal (ehm, pyramid scheme), barang yang dijual biasanya mahal banget. Mau itu produk kecantikan, minuman atau suplemen kesehatan, dan bahkan essential oils. Nggak ada bukti legit bahwa produk mereka lebih bagus untuk bisa menjustifikasi label harga yang tinggi tersebut. Dan gue pun jadi makin sensi karena banyak dari mereka yang memanfaatkan ketakutan dan kerapuhan orang-orang dalam masa pandemi sekarang.

Kekesalan terakhir gue miliki terhadap orang-orang yang sok edgy. Pasti kalian pernah lihat paling nggak satu orang, deh.

“Ya elah, ini kan paling cuma kayak virus biasa. Nggak usah berlebihan nanggepinnya.”. “Lebay banget sih sampai nggak keluar rumah atau cuci tangan terus. Takut tuh sama Tuhan, bukan sama Corona!”. “Halah, orang pada heboh banget liat kasus Corona. Selama ini banyak yang mati kelaparan kok pada nggak heboh?”

Shut the f up. Tolong egdy mentality-nya disimpan dulu untuk lain hari. Kali ini Coronavirus memang harus dihadapi dengan serius. Lo mau kasusnya kayak di Italia?

Here is what I want you to think: This is not about you anymore. This is about other people’s lives. Kalau kita menganggap remeh, denial, atau bahkan bodoh nantangin si virus, pandemi ini nggak akan selesai.

Tau nggak? Di negara-negara maju penyakit tuberkulosis udah berhasil dihapuskan. Indonesia? Lain cerita. Karena apa? Karena kita negara santuy. True story, nih. Temen gue yang diperiksa juga mengidap tuberkulosis di Jerman memutuskan untuk berobat aja di Indonesia. Di saat gue harus diisolasi 44 hari sampai sembuh total, orang ini cuma perlu minum antibiotik aja selama 6 bulan. Nggak disuruh diam di rumah. Nggak diisolasi di rumah sakit. Dia bebas berkeliaran ke mana aja. Mantap.

Kalau kita santuy menghadapi Coronavirus ini, penyakit ini akan makin lama hinggap di Indonesia. Sementara itu kesuksesan dunia dalam menghapus suatu penyakit harus dilakukan secara kolektif. Udah bukan saatnya kita pakai mentalitas santai kayak di pantai. Kita sedang tidak berada di pantai, tapi sedang dikelilingi oleh COVID-19.

You Might Also Like

27 Comments

  • Reply
    REFFA
    March 23, 2020 at 4:49 pm

    Iya kak. kesel banget pas kemaren liat story IG temen, lah dia lagi nongkrong di cafe malam mingguan. ya Tuhann. kemaren aku keluar rumah sejam doang karena harus bgt buat tugas kuliah. pas balik ke rumah ga sengaja langsung dapet sms dari BNPB , kaya diingetin buat #dirumah aja. merasa bersalah jadinya aku keluar rumah

  • Reply
    Tita irsani damayanti
    March 24, 2020 at 4:29 am

    Mau nangis

  • Reply
    Ilmiknur
    March 25, 2020 at 2:00 pm

    sepertnya pemikiran kita sama, hanya saja lo punya cukup keberanian buat menyurakan suara elu.. sementara orang kayak gue berharap ada orang membuat perubahan dari kemarin-kemarin

  • Reply
    Mistry
    March 26, 2020 at 3:22 pm

    Sangat setuju sama kakak.

  • Reply
    Sarahnurfa
    March 27, 2020 at 5:59 am

    Akhirnya segala keresahanku ada yang menyuarakan. Makasih kak git.

  • Reply
    Ida Maulida
    March 27, 2020 at 8:40 am

    mungkin itu terjadi karena banyak org di Indo yang kurang pengetahuan kak. mereka cmn mempercayai sesuatu itu berdasarkan dari mulut ke mulut. mereka ga baca berita aslinya gmn si di luar sana, gimana si bahayanya pandemi ini yg ada di seluruh dunia, gimana si virus ini kok bisa membuat manusia mati dengan cara yang tdk biasanya.

  • Reply
    yayan shanty
    March 27, 2020 at 12:52 pm

    iya tuh kak, banyak banget orang yang menyepelekan virus ini, nganggep ini sepele, pada bacot sana sini, ngga tau keadaanya gimana, ngebacot tapi ga berilmu

  • Reply
    Rizki Purnama Sari
    March 28, 2020 at 4:56 am

    I totally agree Kak Git, kebetulan gue tinggal di lingkungan seperti itu kak, banyakkk bgt omongan dari orang2 egdy mentality tentang Coronavirus yang berisik di kuping gue. Kadang gue bingung, kalo enggak dikasih tau, mereka ngebahayain nyawa orang lain, kalo dikasih tau malah kita yang dianggap menyimpang. Di kantor gue itu para bapak-bapak masih aja Shalat Jum’at di Masjid, katanya “Saya mah rela kalo pun harus mati di Masjid” yaaaa emang gue juga rela kalo dia mati, mening kalo langsung mati di Masjid, kalo dia balik malah jadi carrier Coronavirus? terus nyebarin ke orang lain, orang lain yang mati?? :(((( lebih sedihnya lagi kak, di suatu kampung deket rumah gue, ada Ustad yang dakwah, dia bilang “Jangan takut Corona, takut tuh cuma sama Allah” gue kesel bgt, orang2 kampung yang masih awam dan minim informasi tuh jadi banyak yang ke doktrin sama omongan yg sesat itu, sampe akhirnya gue coba bagiin selebaran aja tentang Coronavirus biar warga lebih waspada. Suka heran sama orang kaya gitu, katanya ngerti agama?? tapi egois banget?? eh tapi kan, agama gak ada yg ngajarin jadi manusia egois loh, jangan2 dia cuma “merasa” ngerti, padahal… :'((

  • Reply
    Dewi
    March 29, 2020 at 4:20 am

    Gita,ini isi kepalaku ada di tulisan kamu semua. Malah pas aku berpendapat di depan temen²ku yg tenaga medis,aku dikatain egois. Kan memang himbauannya gak boleh mudik ya,maksudku ikutin dulu himbauannya. Eh aku malah dikatain egois,mereka mau makan apa disana

  • Reply
    Muntaziro
    March 29, 2020 at 4:47 pm

    Pengen nangis kk… Meratapi bumi Pertiwi 🙁

  • Reply
    Tarisa hayu
    March 30, 2020 at 1:59 am

    Jujur aku gak paham lagi sama pemikiran beberapa orang +62, di lingkungan aku bahkan ada yg ngmng “corona ni hoax kali” ya kalee Tuhan, itu manusia pada mati segitu banyak di kira hoax. Terus ada yg bilang “ini sebenernya cuma sakit flu aja yg di gede2in” fck! Segitu dongkolnya aku. Aku berharap smga aja dg kejadian ini otak bisa di pakai lebih lagi untuk mikir dan pandemi ini segera berakhir di indonesia. Aamiin

  • Reply
    ‘Libur’ dari pemerintah – Sabila Rahmawati
    April 1, 2020 at 8:44 am

    […] gw ini juga ternyata udah ditulis sama gita di blognya. Ya sudah, semoga dari uneg- uneg ini ada […]

  • Reply
    Falgi Saputra
    April 2, 2020 at 4:43 pm

    Hi ka Git! Ku mau tanya ni, out of context ya… Hehe.
    Ku baru baca tulisan di Mojok judulnya Hidup Selo. Ku mau tahu dong, di Jerman pace hidupnya kaya apa ya, Ka?
    Thanks for reply….

  • Reply
    Alya
    April 2, 2020 at 7:47 pm

    you’re so smart.. semoga banyak orang” indonesia yang baca blog ini.

  • Reply
    Alya
    April 2, 2020 at 7:48 pm

    semoga banyak orang” indonesia yang baca blog ini.

  • Reply
    Nurul amalia
    April 3, 2020 at 9:27 pm

    Thanks, kak gita

  • Reply
    Ismii
    April 4, 2020 at 3:07 am

    Mengangkat pemikiran orang Indonesia itu susah, loh. Dari sononya udah punya pikiran kek gitu. Sama pemerintah malah dimanfaatin.

  • Reply
    Hilma Aufiana
    April 7, 2020 at 4:49 pm

    Mantap Git. Gue juga lagi gemes sama mak gue dan tetangga yg pada heboh “harusnya tuh ada penyakit kayak gini semua orang dikumpulin, doa bersama.” Yakali, masalah sedunia bisa selesai cuma dengan doa. Harus usaha lah. Kalau doa berjamaah, dikumpulin semuanya, ntar ketular semua lah. Kalau udh pada ketular, yg disalahin pemerintah, Tuhan pun nanti bakal dibilng engga adil… kayaknya orang Indonesia harus nyeimbangin bacot dengan baca deh. Biar yg dibacotin tuh bener, kagak langsung ngomong aja tanpa tahu keadaan kayak gimana

  • Reply
    Chandra
    April 9, 2020 at 10:50 am

    Hi Mba Gita. Tulisannya kece banget, hampir semua isi kepala udah diwakilkan sama tulisan mba. Stay safe disana ya mba. Disini masa kritis pandemi udah lewat, walaupun masih harus waspada. Yakin deh Jerman juga akan menyusul. Salam dari Seoul.

  • Reply
    Shohi Khairani
    April 25, 2020 at 2:39 am

    Semoga orang-orang yang mengaku sebagai “wakil rakyat” baca ini post. Biar mereka tau apa yang rakyat pikirkan soal mereka.

  • Reply
    KopiCola
    May 15, 2020 at 9:58 am

    wah mantap ini tulisannya… 😍

  • Reply
    fathur rahman
    May 17, 2020 at 6:08 pm

    kemaren kemaren bisa dibilang lumayan tuh orang orang pada aware, orang orang pada update kegiatan mereka dirumah, maklum lagi hype-ya #dirumahaja. lah sekarang wah gila sih temen temenku ya tanpa malu atau bersalah update sana sini nongkrong sama temen temenya, nongkrong dicafe, bukber direstoran. padahal kurva kita belum juga turun. hanya yang sembuh sekarang lebih banyak dibanding yang wafat.

  • Reply
    Widiyah
    May 23, 2020 at 9:01 am

    Lagi² di buat kecewa dan sakit hati dengan pemerintah. .

  • Reply
    Anisa Wahyu Adzkiya Atsar
    May 28, 2020 at 3:07 am

    Setuju sama kak Gita bener tuh kak kan banyak orang zaman sekarang yang mencari perlindungan sana sini buat gak tertular sama virus tersebut tapi nyatanya mereka sendiri yang gak sadar diri 👌

  • Reply
    Awanda Gita
    May 31, 2020 at 9:22 pm

    Gw baca ini ketika jumlah pasien positif udah 26ribuan. Makin sedih gw, bingung mau bantu pemerintah mau berlaku apa gw bingung

  • Reply
    Muhammad adnan maulana
    June 1, 2020 at 10:30 am

    Bener tuh kak gita , teman gue tuh byak yang blang yg kna virus itu udah takdir yang mati jga udah takdir.. ehh gue tanya balik de : lu mau ngak kena korona? . Dia: klo udah takdir mah serain ajha.. me: klo lo sendiri ajha yang kna ngak pp, klo lo trinfeksi trus kluarga loh juga ikutan kena lo ngak nyesal ap? …

  • Reply
    oliver wood's gf
    July 16, 2020 at 10:42 am

    sekarang bahkan kasus udah 80k++ org2 malah semakin santai kayak ngga ada apa2… gue dirumah udah 4 bln lebih sedangkan org2 yg acuh dgn santainya nongkrong lah, liburan ke puncak bahkan pas lihat berita yg org2 ke puncak tuh rame bgt cuy, mau kritik ttg covid di Indo pun udah ngga bisa lagi kayak… ive no words abt this pandemic and those silly ppl… semoga aja sebelum 2021 pandemi di Indo selesai dan org2 semakin sadar bahwa pandemj ini serius, seenggaknya yg gak bener2 penting please jgn keluar rumah dulu, dan kita doain buat org2 yg harus kerja diluar sana sehat selalu dan terhindar dr covid. aamiin

Leave a Reply