Ngomong Sendiri

Manusia Bodoh

Before writing about anything, I want to make it as clear as possible: I drop out of school. Gue memutuskan untuk tidak meneruskan studi Master gue karena ternyata diri gue masih belum pulih dari trauma kuliah Bachelor. Gue akan coba menjelaskan bagaimana hubungan yang gue miliki dengan perkuliahan karena buat beberapa orang kuliah itu nggak triggering. Kuliah memang bikin stress dengan segala drama akademiknya, tapi nggak bikin mental sampai merasa terganggu.

Dalam kasus gue, ada hal yang lebih serius yang gue rasakan. Kalau lo membaca buku Rentang Kisah atau paling nggak sering nonton dan ngikutin konten-konten gue di media sosial, lo pasti tau kenapa gue kuliah Kimia. Lo juga tau bagaimana perasaan gue terhadap sains di institusi pendidikan dan gimana senggakcocoknya gue merasa menyemplungkan diri di bidang ini di kampus. Selama gue menjadi mahasiswa, gue merasa sesuram itu ketika kuliah. Bukan karena nilai gue. Bukan juga karena gue butuh waktu yang lama untuk lulus. Berdasarkan pengalaman ternyata gue bisa menjalani itu semua kalau gue cukup mendorong diri gue untuk berusaha. Walaupun gue sempat harus diopname di rumah sakit sebulan lebih, gue bisa lulus kuliah dalam kurun waktu 4,5 tahun dengan nilai yang oke *humble brag*. Bukan soal belajarnya yang bikin mental gue terusik. Gue suka banget belajar. Gue suka banget baca buku, baca artikel, atau baca apapun itu. Gue bisa menghabiskan waktu berjam-jam berkutat dengan apapun itu yang sedang gue pelajari karena gue tipe orang yang mudah penasaran dan punya prinsip “Knowledge is power”. Yang bikin kuliah mengganggu mental gue adalah gue merasa bodoh ketika gue berada di lingkungan kampus. Tepatnya di lingkungan kuliah perkimiaan. I don’t feel I belong there even though I am in fact capable. Ketika gue di tempatkan di kampus, belajar yang tadinya adalah sesuatu yang menarik tidak lagi terasa mengasyikan karena gue seperti sedang berkompetisi dengan mahasiswa lain. Gue memang tidak sedang berkompetisi, tetapi tingkah laku kolega-kolega kampus membuat gue merasa sedang berlomba-lomba siapa yang paling nerd. Nah, kemarin gue menemukan satu alasan lagi kenapa gue nggak suka kuliah Kimia.

Kemarin setelah selesai mengaudit salah satu perusahaan, gue diundang ke rumah partner audit gue saat itu untuk makan malam di rumahnya. Istrinya terutama, “memaksa” gue banget untuk makan di sana dan bahkan bermalam sekalian karena toh esok harinya gue harus mengaudit perusahaan lain. Gue menolak sih. Gue paling nggak suka menginap di rumah orang. Apalagi orang yang gue nggak kenal dan di rumah itu ada anak kecil. I need my own space and my own quality time.

Sepanjang makan, kita nggak ngobrolin banyak tema karena kedua pasangan ini bukan tipe orang yang banyak tau soal pop culture. Salah satu dari secuil topik obrolan adalah gelar. Mereka berdua nggak berhenti membicarakan soal gelar dan karir setelah mendapatkan gelar itu. Fyi, mereka punya latar belakang sains seperti gue dan kebetulan baru selesai PhD. Istrinya bahkan mau lanjut Postdoctoral di research group yang sama. So, anak-anak sains salah jurusan di luar sana. Gue yakin lo ngerti orang macam apa mereka ini *nyari temen*.

Sejujurnya gue nggak masalah kalau mereka membicarakan gelar seadanya aja. Gue juga nggak bisa dong misuh-misuh sama orang yang memang passionate di bidang itu. Terlihat teman gue dan istrinya adalah tipe orang yang memang suka belajar (di universitas). Tapi obrolan kami cukup bikin gue nggak nyaman. Mereka sebegitunya memaksa gue untuk melanjutkan pendidikan Master ketika gue memberitahu mereka bahwa gue udah keluar dari kampus gue.

Studying at a university is apparently not good for my mental health.

Walaupun gue gondok karena mereka menganggap kesehatan mental gue tidak relevan dan membandingkan gue dengan teman-temannya yang tetap bisa lulus Master walau butuh waktu sekian tahun, sebagai sesama orang asing gue bisa merasakan keresahan mereka terhadap sulitnya masuk industri kerja di Jerman kalau lo nggak high qualified dan gue juga bisa mengerti kenapa mereka sebegitunya memaksa gue untuk paling nggak kuliah sampai Master. Gue juga tau, buat orang-orang kayak mereka, Bachelor itu nggak ada apa-apanya. Karena temen gue ini ngasih tau istrinya bahwa gue udah tinggal di Jerman dari 2010 tapi masih pakai visa pelajar seperti mereka dan—yang konyol buat mereka—gue “cuma” acquire Bachelor degree. Sebagai orang yang bisa dumb down alias pura-pura goblok, gue ketawa-ketawa aja pas dia ngenyek-in gue kayak begitu. Tapi dalam hati sih gue empet banget. Gue cuma bisa marah-marah ke Paul doang lewat telfon setelah gue akhirnya sampai di hotel.

Permasalahan gue dengan orang-orang seperti temen gue ini dan mereka di luar sana yang obsesi dengan gelar dan karir profesional yang harus sesuai dengan gelarnya adalah mereka seakan-akan tidak melihat bahwa setiap orang punya definisi sukses yang berbeda-beda. Mereka juga nggak tau bahwa ada banyak cara lain untuk bisa punya uang, jika uang adalah salah satu parameter kesuksesan. Di malam itu tuh gue kayak, “Guys, gue udah berdamai kok dengan jalan yang gue pilih. Pun nanti gue harus kerja kantoran buat ngedapetin visa kerja, itu urusan gue. Lo nggak perlu nyuruh gue macem-macem.”. Tapi gue nggak ngomong gitu sih di sana.

Alasan ini lah kenapa gue benci banget lama-lama di universitas. Gue selalu dikelilingi dengan orang semacam ini. Orang-orang yang bikin gue merasa terkukung, merasa tidak capable dan bersalah karena gue nggak se-passionate itu di bidang kuliah gue. Gue nggak ada obsesi pingin punya gelar Doktor atau bahkan jadi profesor. Gue juga nggak ada obsesi pingin punya karir di perusahaan Kimia. Gue punya cara lain dalam menjalani hidup gue. Walaupun karir gue di media sosial dan dunia entertainment terlihat bodoh seperti menyia-nyiakan kuliah, gue ternyata malah happy banget ngejalanin ini. Gue bisa jalan-jalan, gue bisa kenal orang banyak, dan yang terpenting adalah lewat aktivitas absurd ini gue belajar untuk mengenal diri lebih dalam. Gue punya banyak banget waktu dan kesempatan untuk benar-benar mengeksplorasi diri dan dunia. Tapi sayangnya ketika gue kembali ke bubble kampus, climate di sana seakan-akan tidak mengizinkan gue untuk berlaku demikian. Gue dipaksa untuk nggak bahagia. Lebih tepatnya gue harus mencari-cari celah supaya bisa bahagia walaupun gue nggak suka dengan yang gue kerjakan. Gue seperti dipaksa harus kerja di Lab setelah gue lulus. Tidak diberi kesempatan dan kebebasan melakukan sesuatu di luar hal akademik. Setiap di kampus, gue selalu merasa seperti sedang di penjara bersama orang-orang yang pandangannya cuma ke depan aja. Nggak nengok ke kanan, nggak nengok ke kiri. Dan itu semua membuat gue tersiksa.

Alasan gue nulis kali ini bukan untuk jelek-jelekin temen gue dan bininya. Mereka orang baik. Kemarin juga makanan yang disajikan enak banget. Gue juga bukan mau mencari justifikasi gue cabut dari universitas. Buat apa kan? Toh gue juga udah drop out. Gue cuma sedang mencoba lebih mindful atas perasaan gusar dan suram akan perkuliahan yang selama ini sebenarnya gue rasakan. Sewaktu gue kuliah Bachelor dulu, perasaan ini selalu gue kubur dalam-dalam. Gue surpress sebisa mungkin. Namun tanpa sadar gue menyakiti diri gue sendiri. Ternyata hal tersebut malah meninggalkan trauma yang cukup dalam sampai sekarang. That being said, gue menyesal waktu kuliah dulu nggak ke psikolog untuk mengidentifikasi emosi ini. Gue tau banget saat itu gue butuh terapi. Saat itu gue harusnya ngurusin diri gue yang–sebenarnya sampai sekarang–suka minder dan merasa paling bodoh kalau urusan sekolah. Tapi entah kenapa gue nggak memberikan opsi itu ke diri gue sendiri.

You Might Also Like

27 Comments

  • Reply
    Wardasri
    December 11, 2019 at 10:11 am

    halo, kak gita salam kenal… kebetulan aku udah baca buku ‘rentang kisah’ berhubung aku juga masih belajar nulis dan nge-blog, baru2 ini aku bikin tulisan singkat tentang buku kak gita itu di blog aku tapi ini bukan ‘book review’. ngomong2, aku juga setuju dengan pendapat ‘bahwa setiap orang itu punya definisi sukses yang berbeda-beda’ terutama kalau orang-orang di lingkungan aku itu selalu berfikir kalau kita itu harus dapat pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang kita ambil semasa kuliah, kalau gak nantinya suka dapet cemoohan kurang lebih seperti “kamu kuliahnya jurusan A kok kerjanya jadi B, kan gak nyambung, percuma kuliah ilmunya gak kepake” heran yang kerja siapa yang riweuh siapa. di lain sisi ada juga orang-orang yang berfikir bahwa gelar itu segalanya di lain sisi pula ada juga orang-orang yang menganggap sekolah itu gak penting cuman buang-buang uang.

  • Reply
    Syifa
    December 11, 2019 at 1:38 pm

    Hallo ka git, aku ingin mengatakan bahwa aku sekarang berada diposisi ambisius berlomba-lomba dalam mendapatkan nilai. Dan sedang merasa minder dengan nilai yang tak sebanding dengan mereka. Apalagi sekarang baru aja selesai uas, dan hasil yang sudah dibagikan pada akhirnya mengecewakan ku. Lagi, aku lupa bahwa esensi belajar di sekolah bukan tentang angka yang diperebutkan, tapi tentang sebanyak apa ilmu yang sudah kamu dapatkan dari sekolah. Aku lupa bahwa tujuan sekolah adalah menuntut ilmu bukan malah bersaing dengan mereka yang memang di label kan “smart” dikelas ku. Sekali lagi, terimakasih sudah menuliskan ini, itu membantu ku untuk tidak terus menyalahkan diriku karena tidak dapat menyaingi mereka.

    Dan satu hal, saat aku mengerjakan soal UAS aku berpikir untuk pindah sekolah saja. Aku muak dengan lingkungan disini, terlalu banyak bullying yang terjadi dan teman-teman lain nya diam tak menanggapi bullying tersebut include me. Aku juga muak harus melihat dan sexsual harassment dalam bentuk non fisik, bahkan terkadang aku juga melihat sesuai harassment dalam bentuk fisik.

    Note: aku baru aja pindah sekolah enam bulan yang lalu, sebelum nya aku bersekolah yang berada di kota. Tapi sekarang aku pindah disekolah daerah/perkampungan. Sebelumnya aku tidak mendapati bullying ataupun sexual harassment tapi setelah pindah sekolah di perkampungan menurut ku masih rawan terjadi seperti masalah diatas.

    Tentang semua yang ku tuliskan diatas, aku hanya ingin mengeluarkan emosi yang selama ini mengganggu dibenak ku. Jika berkenan ka git bisa merespon nya.

  • Reply
    Syifa
    December 11, 2019 at 1:57 pm

    Hallo ka git, aku baru duduk dibangku kelas dua sma, dan baru saja pindah sekolah dari sekolah perkotaan menjadi ke desa. Aku tidak yakin bisa memiliki kenangan indah di fase ini seperti orang-orang lain katakan bahwa “masa sma adalah masa terindah” sampai detik ini aku ragu.

    Apalagi keraguan ku ditambah dengan banyak nya bullying, dan sexual harassment non fisik yang sering ku saksikan dan bahkan pernah terjadi padaku. Memang mungkin bullying dan sexual harassment mereka “cuma” sebagai candaan, bahkan teman-teman dikelas berusaha mengabaikan nya, walaupun mereka cukup terganggu dengan itu. Pelaku2 bullying dan sexsual harassment juga memang sudah diketahui dengan cap “nakal” disekolah. Tapi, sampai sekarang sekolah tampak tidak memiliki tindak lanjut atau memberikan sanksi, atau berupa panggilan orang tua. Baik, aku mungkin murid baru disini sejak enam bulan lalu, aku bahkan tidak sanggup harus bertahan disini selama 1,5 tahun lagi hingga lulus.

    Dan yang membuat ku miris, korban dari sexual harassment ini yang pernah di toel pelaku, nggak menindak lanjuti tindakan pelaku. Bahkan untuk speak up kepada guru pun nggak.

    Tapi aku lebih merasa malu lagi, sebagai orang yang melihat kejadian itu secara tidak langsung, yang berusaha mengabaikan semua nya, berusaha ignoran padahal juga merasa risih. I wanna speak up, but i can not.

    Dan selama ini aku menanggap bullying dan sexual harassment itu sepele karena belum pernah mengalami nya sebelumnya. But, right now, i see all, disekolah perkotaan mungkin jarang terjadi seperti masalah diatas, tapi disekolah ku sekarang yang masih tergolong perkampungan hal seperti itu nggak bisa dipungkiri.

    Kira nya ka git bisa beri sedikit solusi untuk menanggapi keresahan yang selama ini aku pendam.

  • Reply
    ayu
    December 13, 2019 at 3:39 am

    Hai kak git!
    Berbicara tentang kuliah dan segala dramanya, aku yg baru masuk semester 1 ini dan 3 hari lagi uas, entah kenapa sudah mulai ngerasa, “ternyata gini toh” dalam hal temen2 di kuliahan. Memang sih aku akui temen2ku (btw kami angkatan kedua jurusan baru di univ ku) ini solid dan aku sayang mereka karena kaya keluarga banget. Tapi, semakin kesini kadang kaya kelihatan “ambis”nya. Memang bener sih kalau ambisi itu hak tiap orang, toh aku jg punya ambisi. Tp yg aku sedihkan adalah ambisi itu sering kali berjalan bareng dgn keegoisan. Sbnrnya aku lebih suka sendiri, karena ambisi ku berjalan, tapi minusnya sosialisasiku jadi kurang. Nah ketika aku udah brusaha bersosialisasi, eh kok malah tmn2 yang kliatan ambisi dan egonya. aku ga nyalahin mereka atas ambisi yg ada, mgkin faktor jauh2 dari kota mereka dan sbagainya yg buat mereka gitu, tp yg aku sayangkan dari ambisi itu adalah jadi mayan keliatan persaingannya gitu, and that’s make me not really enjoying my class. Ketika tmn2 gtu, aku jd mikir yaudah mau ambisius juga. Tapi, aku brusaha tanamkan ke diriku, ambisi tanpa egois. Dan itu susah. Seakan2 ambisi, ya harus egois. Maafkan curhatan ku yg random ini wkwk

  • Reply
    Nia
    December 13, 2019 at 4:17 pm

    Halo kak Gita,
    Jujur ini pertama kalinya sih aku mampir ke blog kakak setelah nonton video ttg “ngga semua laki2” dan selama baca tulisan kakak entah kenapa rasanya ikut pedih gimana gitu jadi pengen banget ninggalin komentar buat kak Gita. Tapi sayangnya, aku bukan org yg terlalu pintar merangkai kata buat ngutarain pendapatku. Intinya, aku salut sama kak Gita yg telah berani bikin keputusan untuk kehidupan kakak sendiri, bukan krn ngikutin arus atau aturan yg udah ada, bukan krn ngikutin masukan dan orang2 lakukan, tapi lebih pada sesuai dg keinginan dan definisi kehidupan kakak sendiri.

    Ketika kak Gita bilang minder atau merasa ngga pinter, sama aku pun pernah merasakan posisi itu kak. Tapi bagiku, sama kayak definisi sukses, bahagia, atau kata sifat lainnya yang menurut org beda2, pinter nya tiap orang juga berbeda. Salah satu cara yg aku lakuin untuk meredam minder dan rasa ngga percaya diriku adalah dengan mengingat bahwa setiap org punya waktunya masing-masing. Dikaruniai Tuhan kelebihan dan kekurangan masing2. Yang pnting aku ngga berhenti berusaha, tetap bergerak.

    Sukses terus kak Gita… Btw selamat untuk pekerjaan barunya hehehe

  • Reply
    Alya kusuma
    December 18, 2019 at 4:50 pm

    Hai, kak gita!!!! Ini petama kali sih buat gw baca blog kaka tapi,gw udh sering nonton konten² di youtube kaka dan itu keren abis. Dan gw suka banget kalau lo lagi ngomong dan itu salah satu alasan gw knp gw suka banget sama kaka. Karena gw selalu menilai orang lain dari cara berbicara dan bahasa yg dia pake kalau lg ngomong…menurut gw kalau tuh orang ngomongnya ga bener terus bahasa yg digunakan yg kasar² gw langsung mendefinisikan kalau tuh orang ga bener. Padahal gw sadar orang yg berkata kasar bukan berarti orang yg ga bener 🙂 Dan gw salut banget sama kaka ketika lo ngambil keputusan itu, pasti lo udah mikirin dengan baik sebelum lo ngambil keputusan itu. Tapi, gw sedikit setuju dan tidak setuju ketika lo bilang “suka minder dan merasa paling bodoh kalau urusan sekolah”gw ga setuju karena menurut gw, sekolah itu emang tempat mencari ilmu dan belajar dari suatu yg kita ga tau menjadi tau tapi, sekolah jg bukan tempat sumber ilmu dan tempat belajar satu ²nya. Dan gw setuju tentang hal ini karena gw selalu merasa paling bodoh diantara temen – temen gw.

  • Reply
    Nurul
    December 20, 2019 at 5:27 am

    I feel you Kak Git. Aku anak sains, ngerasa banget saat kuliah tiap hari tertekan ketika ngerasa jadi mahasiswi bodoh karena kadang gak faham, gak mampu, dan ngeliat temen-temen yang lain pada jago banget. Namun karna tetep usaha dg keras, bisa kelar 3.5 tahun dg nilai yg cukup. Namun ketika lulus, aku lebih memilih untuk kerja di luar bidang kuliah. Gak ada hubungannya sama sekali. Ngerasain gimana dibandingin sama temen-temen yg sekarang udah kerja di bidang sains, Pandangan orang yang anggep “sia-sia dong gelar kuliahnya”. Sakit sih setiap denger. Tapi ya mo gimana, aku udah yakin sama pilihan sekarang. Udah ngerasa bahagia sama apa yg dijalanin sekarang. Semangat Kak Git. Kita punya hak untuk menentukan kebahagiaan kita sendiri. 🙂

  • Reply
    Owl
    December 27, 2019 at 3:35 pm

    this exactly what i’m going thru right now. tiap dateng ke kampus selalu merasa bodoh ngeliat org2 yg ada di atas aku atau bahkan mereka yg udah selangkah lebih maju nyusin skripsi dan bimbing. meanwhile aku dari sejak SK diturunin beberapa bulan lalu sama sekali belum bimbingan. alasannya masih ada kuliah di semester menuju akhir, fokus gabisa kebagi-bagi, padahal deep inside my heart i know i’m capable enough for doing that karena nyatanya tugas-tugas juga sering terbengkalai. memang ya kak, mental health soal studying at uni itu gabisa diremehin. sekarang di sisa satu semester ini, aku lg berjuang gimana caranya biar bisa segera selesai urusan perkuliahan ini. semoga aku bisa menemukan juga ikigai dan “kedamaian” seperti yg kak gita dapetin ya, Aamiin. Sukses terus ka!

  • Reply
    Ilmiknur
    December 28, 2019 at 2:25 pm

    Hai kak gita,
    Gua juga pernah merasakan hal yang sama seperti yang lo rasaian, gue terpaksa kuliah jurusan fisika karena pengen menuruti keinginan bonyok gue yang pengen banget liat anak bungsunya jadi sarjana, sebelumnya dua kakak gue udah selesain gelar masternya dibidang mereka masing-masing. Alhamdulillahnya gue udah lulus tahun ini dan meraih gelar S.Si, sampai akhirnya gue lulus dan ngira bakalan selesai buat nurutin kemauan bonyok, eh taunya mereka pengen gue cepat-cepat lamar kerja. Padahal kemarin sambil kuliah gue udah buat bikin bisnis kecil-kecil sih, gue jatuh cinta sama dunia bisnis dari zaman SD, tapi nyokap gue gak pernah setuju, sampai setelah lulus gue pengen bangun bisnis gue sebelum terjun di dunia pekerjaan yang gue mau. Gue hampir punya sebagian kisah yang sama sama elu kak git, gue juga ngerasa lebih mirip zombie dikampus, gak punya nyawa sama sekali, dan terus nanya kenapa gue ada ditempat kek begini. Tapi sebelum gue lulus, gue keluar kota, dan belajar banyak dari sana, sampai gue sadar tentang semua pembelajaran yang gue dapat dikampus, elu benar universitas bukan tentang ilmu apa yang pelajari harus sama seperti pekerjaan kita, tapi lebih ke pembelajaran mentalnya. Gue setuju banget sama elu kak, gue juga suka banget sama yang namanya baca buku, baca artikel, dan nonton semua yang bikin wawasan gue kebuka, doain gue semoga suatu hari nanti gue bisa wujudkan mimpi gue, sama seperti elu kak yang sekarang selalu bisa inspirasi gue.

  • Reply
    Listya
    December 31, 2019 at 4:23 am

    Hai kak Git, aku juga selalu ngerasa paling bodoh pas kuliah, ga kuliah juga sih pas smk farmasi juga. Kurang lebih yang kak gita rasain pas kuliah sama banget ky yg aku rasain pas smk farmasi. Masa2 sma yg katanya enak itu ga pernah aku rasain. karena di sekolahku semuanya tentang nilai yg bagus, banyak temenku juga ambis, jadi ya bisa diprediksi aku ga enjoy masa2 itu. Hidup itu isinya cuma belajar, begadang, belajar lagi. memang disistemnya sekolahku dulu ketat banget soal pelajaran. Alhasil softskill kek ekskul atau organisasi ga jalan sama sekali. Hal itu ngaruh banget pas aku kuliah, Aku kuliah kimia juga sama ky kak gita. Ini pilihan aku sendiri, karena aku pikir dulu aku lebih suka kerja sama alat lab drpd sama orang, sedangkan di farmasi kita dituntut untuk kerja ngelayanin orang. Di kampus tuntutan beda lagi, harus banyak publikasi, ikut lomba, join organisasi. Standar lingkungan kampusku begitu, yg bikin semester 2-3 berasa paling bodoh karena aku gabisa ikut hal-hal diatas. Alasannya paling dasar karena masalah keluarga dan ekonomi. Sampe rasanya pengen putus kuliah wkwk tapi trus aku sadar aku ke kampus masuk kuliah karena aku emang suka aja belajar, ga perlu membandingkan sama temen yg terlalu ambis ikut ini itu, aku mulai berdamai sama diri sendiri tentang standar lingkungan yang sebenarnya ga jelas.

  • Reply
    Inge J
    February 21, 2020 at 6:05 pm

    Entah kenapa jadi mau nangis baca tulisan lo git, karena lg ngerasa relate bgt sama yg gw alamin sekarang :’)

  • Reply
    putri
    March 13, 2020 at 9:33 am

    akupun merasa paling bodoh dalam urusan sekolah 🙁 sedih banget ekspetasi nga sesuai realita

  • Reply
    Pega Vidananda
    March 22, 2020 at 5:46 pm

    i feel you kak, gatau kenapa aku nyemplung ke kuliah jurusan ekonomi.. i don’t even have passion in it, dengan latar belakang bahwa pendidikan adalah hal yang utama dalam lingkungan sekitarku aku akhirnya berambisi kuliah di univ yg ak expect oke. Tp makin kesini entah aku semakin gak nyaman sama jurusannya, sistem di univnya, atau bahkan lingkungan pertemananku yg bisa dibilang ambis untuk dpt high score malah bikin aku semakin gak nyaman. Sementara untuk ngelawan rasa jenuh aku nyari kesibukan lain utk ngasah softskill ku di organisasi bahkan kerja juga.. Belakangan kusadari ternyata orang2 dilingkunganku yang bkin aku tambah ngerasa aku ini salah jalur, lebih tepatnya salah lingkungan karena terkungkung sama prinsip yang gak sejalan dan limit to explore what I really passionate about. hal ini bkin aku tampak jadi manusia bodoh

  • Reply
    Katasemesta
    March 26, 2020 at 5:58 pm

    Semua orang punya jalannya masing-masing. punya perspektif dan prinsip yang berbeda, seperti Bill Gates dan pilihannya dan masih banyak yang lainnya. tolak ukur keputusan kita adalah hati kita sendiri, ketika kita ngerasa nggak mampu, jangan dilanjutkan. aku juga pernah di posisi itu kak Gita. dan itu so pressure, kayak kita dituntut jadi orang yang bukan diri kita, dan itu berpengaruh banget sama mental health, kalau dipaksain mungkin kita bakal sepenuhnya jadi orang lain dan kehilangan diri sendiri. dilingkungan yang mendoktrin kita untuk menjadi begini dan begitu sepenuhnya nggak enak. kita ingin bertindakpun rasanya takut di judge, dan berakhir menyalahkan diri sendiri, insecure. keputusan kakak buat berhenti sih menurutku sudah merupakan keputusan yang berani, semoga terbaik juga buat Allah. good luck kak!. buat yang lain mampir dong ke blog aku http://www.katasemesta222.blogspot
    com

  • Reply
    Saifa Ayu
    April 8, 2020 at 5:12 am

    Halo kak Git, rasa2nya aku lagi ditahap yg ‘udh ga betah’ sama semua2nya. Dari mulai kuliah online yg temen aku semuanya pada cepet2an ngerjain tugas dan aku ketinggalan jauh sampe jadi mikir klo aku ga sepinter dan serajin mereka, meskipun aku bisa ngejar semua ketertinggalan aku. Trus udh mulai ga betah sama lingkungan aku tinggal, yg mana aku SD-SMP-SMA-Kuliah masih di daerah yg sama huhuhu. Temen2 aku kuliah bahkan ada beberapa yg kenal sama temen aku pas SMA. Dan aku udh jenuh bgt sama segala yg disekeliling aku yg rasanya stuck gapernah jalan. Walaupun jalan, mungkin itu pelaaannn bgt. Smoga aku punya kesempatan kyk Kak Git yg bisa keliling kemana2 dan ngambil ilmu dari segala tempat dan hal

  • Reply
    Bannareus
    April 11, 2020 at 1:17 pm

    hello mb Gita, aku bangga banget sekarang bilang ke mb kalo penggemar tulisan mb Gita sekarang nambah satu lagi 😀

  • Reply
    elsa safira
    April 19, 2020 at 12:01 pm

    aku tipikal anak yang juga berlomba mencari nilai, padahal aku tau itu salah, tapi ya stereotip keluarga dan lingkungan bahwa ranking dan nilai itu adalah segalanya.

  • Reply
    Hanifah Azizah
    May 9, 2020 at 12:15 am

    Haloo kak gita, setelah baca tulisan di atas aku jadi tahu bahwa aku tidak sendirian dan boleh percaya apa enggk pengalaman hidup kakak sama persis kayak pengalaman hidupku. Sama bgt hingga 90% cuma bedanya kakak udah tau arah karir kakak dan aku masih terbelenggu dgn apakah aku akan menjalani profesi yg berhub dgn jurusan atau tidak. Aku jujur aja seneng ada org kyk kak gita yg gk malu buat nyeritain hal2 beginian. Semoga kak gita happy dan punya karir yg membuat kak gita nyaman dan semoga itu bisa menjadi penawar rasa trauma krn pernah menjalani hal yang tidak disukai. Salam.

  • Reply
    Widiyah
    May 23, 2020 at 7:58 am

    Dulu, pas ada rencana buat kuliah punya ambisi yg besar untk dpat gelar yg bnyak biar keren tp selama proses kuliah berlangsung b mulai sadar buat apa beljar hnya untk dpat gelar? Hnya akan buang² waktu, uang dn tenaga semua jd sia-sia trus pelan² b mulai ubah pola pikir itu dn punya pandangan baru, ttg mnfaat dri apa yg b pelajari dn jd cinta dgn itu. Dn meskipun setelah lulus org² di sekitar kya menyanyangkn pekerjaan yg b dpat tdak sesuai dgn apa yg b pelajari kemarin dn dibilng “kerja tu yg bisa tmbah pengalamna, yg bisa buka wawasan lebih Luas yg sesuai dgn yg kmren kuliah” Dlma hati b ketawa, dn berusaha untk berpkrn positif klopun memang merka beranggpan pekerjaan yg b jalani akan bkin ilmu yg b dpat akan jd percuma, toh b sndri snd berpikirn demikan setdkax untk b pu diri pribadi ada mnfaat yg b dapt dari apa yg kmren b pelajari . . .

  • Reply
    Ohayou IDa
    May 23, 2020 at 10:55 am

    Aku, mahasiswi semester 2.
    Baru, kemaren menginjakkan kaki di ranah perkuliahan, sekarang udah terpegang nilai IP yang mana selalu jadi bahan suatu permasalahan untuk sebagian orang.
    Untuk aku pribadi, gak terlalu memusingkan itu. Malah justru terkesan masa bodoh. Sikapku ini berlaku sejak dari masa Sekolah. Aku bukan tipikal nyentrik yang suka jadi pusat perhatian.
    Tapi ketenangan itu terusik saat temanku dengan frontalnya bilang munafik. Dengan alasan kita butuh nilai bagus untuk bisa kualifikasi diri dan mendapat beasiswa (sebagaimana mahasiswa baru, yang dengan persepsi sukses awal adalah kuliah tanpa uang dari orang). Belum lagi mereka yang berancang-ancang mengambil S2 di luar negeri.
    Itu sangat bagus menurut ku. Ambisi mereka sangat perlu untuk diapresiasi. Hanya saja mental akan sangat tertekan. Dan kenapa terlihat sangat memaksakan?
    Dan yang lebih horor adalah saat menjudge orang lain yang mendapat IP bagus, katanya lewat orang dalam. Aku salah satu sasarannya.
    Sudah dikata juga aku gak suka jadi pusat perhatian, masa bodoh dengan nilai dan tetek-bengek nya. Lah, ini mahasiswa kok gada dewasa-dewasanya. Ya.. walaupun aku akui persepsi dewasa seseorang berbeda-beda.
    Hanya saja, kenapa polemik nilai akademik masih terus mendrama? Gak cukup apa sampe SMA aja_-

  • Reply
    Rika Harahap
    May 24, 2020 at 11:49 pm

    Kurang lebih aku juga ngerasain hal yang sama kak. Dulu, waktu les level B1 bahasa prancis aku selalu ngerasa minder sama temen2 ku. Ngerasa bodoh sendirian di kelas. Asal mau les pasti beban banget. Sampe pada akhirnya perasaan minder menghasilkan emosi lainnya. Emosi itu dateng di saat kelas udh mau selesai. Kek kurang lebih kelas cuman tinggal 8 pertemuan lagi. Tiap kali mau les pasti tiba2 di tengah jalan aku belok ke arah yang berlawanan sama tempat les nangis2 sambil naik motor. Yang pasti yang aku tau aku nggak pengen dateng ke tempat les. Guru les ku sering marah ke aku mau lewat WA ataupun jumpa langsung di pertemuan selanjutnya. Katanya udh mau ujian jangan absen terus nanti ujiannya gagal. Tapi aku diem aja. Dia selalu nanya “Ça va toi, Rika?”. Yang dalam bahasa indonesia artinya “Kamu baik2 aja, Rika?”. Yang jelas pasti aku nggak baik2 aja selama di dalam kelas dan bawaannya badan panas dingin selalu. Tapi aku nggak pernah skip buat nanya temen tentang materi les yang kelewat. Tetep nyalin catatan temen dan belajar di rumah. Alhasil, nilaiku jauh lebih baik ketika aku belajar sendiri daripada belajar di dalam kelas. And, i’ve got my B1 level of french language. Dari situ aku baru sadar kalo aku lebih cocok belajar sendiri aja. Toh belajar bisa dari mana aja dan di mana aja. Gak harus di institusi tertentu.

  • Reply
    Ichal Gusti
    May 26, 2020 at 8:38 am

    Gue bersyukur banget ada tulisan kaya gini, jadi sadar dan ngerti kalo tujuan yang selama ini gue pikiran ternyata bukan yang seharusnya. I am not totally ur fans, but thanks to wrote a mindful thing. Sekali lagi makasih ya ka git.

  • Reply
    Awanda Gita
    May 31, 2020 at 10:25 pm

    Kak, tapi gw bener2 salut. Udah mau ngomong gitu aja, dari tulisan ini gw paham artinya gigih itu apa. But, instead of gigih kita juga harus nemuin peace, dan kesengan kita even kata orang rasa senang yang disebut kebahagiaan itu diciptakan, semuanya tinggal dipilah.

  • Reply
    Jihan Fadhilah
    June 7, 2020 at 9:02 am

    ah, gua baru masuk kampus dan itu orangnya bikin ga nyaman. cuma mikir nilai lulus degree. gua yang nilai pas pasan sering bergulat sama orang orang luar kampus kepanitiaan nasional, lomba. tidak berguna lah dibanding mereka. lah tapi menurut gua sih, gua lebih punya point plus dimana nilai aman pengalaman dapet pemikiran terbuka ga monoton. mau ucapin ke teman kelas gua “jangan nunduk mulu, sekali kali liat sekeliling’

  • Reply
    secret admirer
    June 13, 2020 at 5:17 pm

    from : Me

    bener bgt kk git..aku di sekolah jg ngerasain ky gitu..apalagi di bidang fisika seolah-olah kl udah nginjak halaman sekolah rasanya ky masuk penjara ibarat kata ‘ kl udah masuk gk bisa keluar’ it makes me stressed and selama sekolah yg aku pikirin cuma ‘kapan gue lulus ‘ begituuu teruss

    80% aku jg ky kk Gita suka belajar masuk jurusan yg bla bla bla kepo akan knowledge dll. lagi pula menurut ku seiring berjalannya waktu sekolah seperti bukan sekolah and I hate it

    thanks kk git tulisan ‘manusia bodoh’ menggambarkan aku bgt sukses selalu kk 🙂

    To : You

  • Reply
    SeptinMdy
    August 4, 2020 at 6:33 am

    Makasih Gita, dengan liat tulisan ini beserta isi komentarnya jadi ngerasa gak sendirian. Hihi 🙂

  • Reply
    Nid
    October 2, 2020 at 3:47 pm

    Jujur, nyesel kenapa baru baca tulisan kakak yang ini. Padahal dulu rajin banget pantengin blog kakak.
    Sekarang aku lagi kuliah S2, dan jujur ada penyesalan yang aku alami. Mungkin karna aku bodoh dan merasa minder dengan-dengan teman-temanku, apalagi sekarang aku ambil jurusan yang berbeda jadi aku merasa mulai lagi dari awal. Aku kuliah master karna aku merasa ilmu yang aku dapat di S1 belum cukup untuk bersaing di lingkungan kerja. Selain itu keluarga yang selalu mendorong untuk ambil S2 supaya katanya nanti bisa jadi dosen (padahal ini bukan cita-citaku) dan ini adalah alasan terbesar aku ambil S2.
    Dari dulu hidupku diatur, harus masuk sekolah ini ambil jurusan ini. Harus masuk PTN, kalau gak kuliah di kampung aja. Harus ambil jurusan ini. Kalau selesai kuliah langsung S2. Setelah S2 harus kerja atau jadi dosen atau lulus ujian pegawai negeri. Kalau ada yang lamar dan sesuai kriteria kakak harus terima(karna bapak udah meninggal jadi kakak adalah kepala keluarga).
    Jujur aku sangat tertekan dengan ini semua. Waktu SMA aku depresi sampai punya niat buat keluar dari rumah tinggal sendiri tanpa siapapun. Aku benci tinggal di daerahku yang orang-orangnya suka ngurusin hidup orang, atau keluargaku yang sudah mengatur jalan hidupku. Aku ingin hidup berdasarkan pilihan sendiri, tapi entah kapan bisa kayak gitu.
    Terima kasih kak Gita untuk tulisannya, setidaknya aku merasa tidak sendiri

Leave a Reply