Ngomong Sendiri

Manusia Bodoh

Before writing about anything, I want to make it as clear as possible: I drop out of school. Gue memutuskan untuk tidak meneruskan studi Master gue karena ternyata diri gue masih belum pulih dari trauma kuliah Bachelor. Gue akan coba menjelaskan bagaimana hubungan yang gue miliki dengan perkuliahan karena buat beberapa orang kuliah itu nggak triggering. Kuliah memang bikin stress dengan segala drama akademiknya, tapi nggak bikin mental sampai merasa terganggu.

Dalam kasus gue, ada hal yang lebih serius yang gue rasakan. Kalau lo membaca buku Rentang Kisah atau paling nggak sering nonton dan ngikutin konten-konten gue di media sosial, lo pasti tau kenapa gue kuliah Kimia. Lo juga tau bagaimana perasaan gue terhadap sains di institusi pendidikan dan gimana senggakcocoknya gue merasa menyemplungkan diri di bidang ini di kampus. Selama gue menjadi mahasiswa, gue merasa sesuram itu ketika kuliah. Bukan karena nilai gue. Bukan juga karena gue butuh waktu yang lama untuk lulus. Berdasarkan pengalaman ternyata gue bisa menjalani itu semua kalau gue cukup mendorong diri gue untuk berusaha. Walaupun gue sempat harus diopname di rumah sakit sebulan lebih, gue bisa lulus kuliah dalam kurun waktu 4,5 tahun dengan nilai yang oke *humble brag*. Bukan soal belajarnya yang bikin mental gue terusik. Gue suka banget belajar. Gue suka banget baca buku, baca artikel, atau baca apapun itu. Gue bisa menghabiskan waktu berjam-jam berkutat dengan apapun itu yang sedang gue pelajari karena gue tipe orang yang mudah penasaran dan punya prinsip “Knowledge is power”. Yang bikin kuliah mengganggu mental gue adalah gue merasa bodoh ketika gue berada di lingkungan kampus. Tepatnya di lingkungan kuliah perkimiaan. I don’t feel I belong there even though I am in fact capable. Ketika gue di tempatkan di kampus, belajar yang tadinya adalah sesuatu yang menarik tidak lagi terasa mengasyikan karena gue seperti sedang berkompetisi dengan mahasiswa lain. Gue memang tidak sedang berkompetisi, tetapi tingkah laku kolega-kolega kampus membuat gue merasa sedang berlomba-lomba siapa yang paling nerd. Nah, kemarin gue menemukan satu alasan lagi kenapa gue nggak suka kuliah Kimia.

Kemarin setelah selesai mengaudit salah satu perusahaan, gue diundang ke rumah partner audit gue saat itu untuk makan malam di rumahnya. Istrinya terutama, “memaksa” gue banget untuk makan di sana dan bahkan bermalam sekalian karena toh esok harinya gue harus mengaudit perusahaan lain. Gue menolak sih. Gue paling nggak suka menginap di rumah orang. Apalagi orang yang gue nggak kenal dan di rumah itu ada anak kecil. I need my own space and my own quality time.

Sepanjang makan, kita nggak ngobrolin banyak tema karena kedua pasangan ini bukan tipe orang yang banyak tau soal pop culture. Salah satu dari secuil topik obrolan adalah gelar. Mereka berdua nggak berhenti membicarakan soal gelar dan karir setelah mendapatkan gelar itu. Fyi, mereka punya latar belakang sains seperti gue dan kebetulan baru selesai PhD. Istrinya bahkan mau lanjut Postdoctoral di research group yang sama. So, anak-anak sains salah jurusan di luar sana. Gue yakin lo ngerti orang macam apa mereka ini *nyari temen*.

Sejujurnya gue nggak masalah kalau mereka membicarakan gelar seadanya aja. Gue juga nggak bisa dong misuh-misuh sama orang yang memang passionate di bidang itu. Terlihat teman gue dan istrinya adalah tipe orang yang memang suka belajar (di universitas). Tapi obrolan kami cukup bikin gue nggak nyaman. Mereka sebegitunya memaksa gue untuk melanjutkan pendidikan Master ketika gue memberitahu mereka bahwa gue udah keluar dari kampus gue.

Studying at a university is apparently not good for my mental health.

Walaupun gue gondok karena mereka menganggap kesehatan mental gue tidak relevan dan membandingkan gue dengan teman-temannya yang tetap bisa lulus Master walau butuh waktu sekian tahun, sebagai sesama orang asing gue bisa merasakan keresahan mereka terhadap sulitnya masuk industri kerja di Jerman kalau lo nggak high qualified dan gue juga bisa mengerti kenapa mereka sebegitunya memaksa gue untuk paling nggak kuliah sampai Master. Gue juga tau, buat orang-orang kayak mereka, Bachelor itu nggak ada apa-apanya. Karena temen gue ini ngasih tau istrinya bahwa gue udah tinggal di Jerman dari 2010 tapi masih pakai visa pelajar seperti mereka dan—yang konyol buat mereka—gue “cuma” acquire Bachelor degree. Sebagai orang yang bisa dumb down alias pura-pura goblok, gue ketawa-ketawa aja pas dia ngenyek-in gue kayak begitu. Tapi dalam hati sih gue empet banget. Gue cuma bisa marah-marah ke Paul doang lewat telfon setelah gue akhirnya sampai di hotel.

Permasalahan gue dengan orang-orang seperti temen gue ini dan mereka di luar sana yang obsesi dengan gelar dan karir profesional yang harus sesuai dengan gelarnya adalah mereka seakan-akan tidak melihat bahwa setiap orang punya definisi sukses yang berbeda-beda. Mereka juga nggak tau bahwa ada banyak cara lain untuk bisa punya uang, jika uang adalah salah satu parameter kesuksesan. Di malam itu tuh gue kayak, “Guys, gue udah berdamai kok dengan jalan yang gue pilih. Pun nanti gue harus kerja kantoran buat ngedapetin visa kerja, itu urusan gue. Lo nggak perlu nyuruh gue macem-macem.”. Tapi gue nggak ngomong gitu sih di sana.

Alasan ini lah kenapa gue benci banget lama-lama di universitas. Gue selalu dikelilingi dengan orang semacam ini. Orang-orang yang bikin gue merasa terkukung, merasa tidak capable dan bersalah karena gue nggak se-passionate itu di bidang kuliah gue. Gue nggak ada obsesi pingin punya gelar Doktor atau bahkan jadi profesor. Gue juga nggak ada obsesi pingin punya karir di perusahaan Kimia. Gue punya cara lain dalam menjalani hidup gue. Walaupun karir gue di media sosial dan dunia entertainment terlihat bodoh seperti menyia-nyiakan kuliah, gue ternyata malah happy banget ngejalanin ini. Gue bisa jalan-jalan, gue bisa kenal orang banyak, dan yang terpenting adalah lewat aktivitas absurd ini gue belajar untuk mengenal diri lebih dalam. Gue punya banyak banget waktu dan kesempatan untuk benar-benar mengeksplorasi diri dan dunia. Tapi sayangnya ketika gue kembali ke bubble kampus, climate di sana seakan-akan tidak mengizinkan gue untuk berlaku demikian. Gue dipaksa untuk nggak bahagia. Lebih tepatnya gue harus mencari-cari celah supaya bisa bahagia walaupun gue nggak suka dengan yang gue kerjakan. Gue seperti dipaksa harus kerja di Lab setelah gue lulus. Tidak diberi kesempatan dan kebebasan melakukan sesuatu di luar hal akademik. Setiap di kampus, gue selalu merasa seperti sedang di penjara bersama orang-orang yang pandangannya cuma ke depan aja. Nggak nengok ke kanan, nggak nengok ke kiri. Dan itu semua membuat gue tersiksa.

Alasan gue nulis kali ini bukan untuk jelek-jelekin temen gue dan bininya. Mereka orang baik. Kemarin juga makanan yang disajikan enak banget. Gue juga bukan mau mencari justifikasi gue cabut dari universitas. Buat apa kan? Toh gue juga udah drop out. Gue cuma sedang mencoba lebih mindful atas perasaan gusar dan suram akan perkuliahan yang selama ini sebenarnya gue rasakan. Sewaktu gue kuliah Bachelor dulu, perasaan ini selalu gue kubur dalam-dalam. Gue surpress sebisa mungkin. Namun tanpa sadar gue menyakiti diri gue sendiri. Ternyata hal tersebut malah meninggalkan trauma yang cukup dalam sampai sekarang. That being said, gue menyesal waktu kuliah dulu nggak ke psikolog untuk mengidentifikasi emosi ini. Gue tau banget saat itu gue butuh terapi. Saat itu gue harusnya ngurusin diri gue yang–sebenarnya sampai sekarang–suka minder dan merasa paling bodoh kalau urusan sekolah. Tapi entah kenapa gue nggak memberikan opsi itu ke diri gue sendiri.

You Might Also Like

10 Comments

  • Reply
    Wardasri
    December 11, 2019 at 10:11 am

    halo, kak gita salam kenal… kebetulan aku udah baca buku ‘rentang kisah’ berhubung aku juga masih belajar nulis dan nge-blog, baru2 ini aku bikin tulisan singkat tentang buku kak gita itu di blog aku tapi ini bukan ‘book review’. ngomong2, aku juga setuju dengan pendapat ‘bahwa setiap orang itu punya definisi sukses yang berbeda-beda’ terutama kalau orang-orang di lingkungan aku itu selalu berfikir kalau kita itu harus dapat pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang kita ambil semasa kuliah, kalau gak nantinya suka dapet cemoohan kurang lebih seperti “kamu kuliahnya jurusan A kok kerjanya jadi B, kan gak nyambung, percuma kuliah ilmunya gak kepake” heran yang kerja siapa yang riweuh siapa. di lain sisi ada juga orang-orang yang berfikir bahwa gelar itu segalanya di lain sisi pula ada juga orang-orang yang menganggap sekolah itu gak penting cuman buang-buang uang.

  • Reply
    Syifa
    December 11, 2019 at 1:38 pm

    Hallo ka git, aku ingin mengatakan bahwa aku sekarang berada diposisi ambisius berlomba-lomba dalam mendapatkan nilai. Dan sedang merasa minder dengan nilai yang tak sebanding dengan mereka. Apalagi sekarang baru aja selesai uas, dan hasil yang sudah dibagikan pada akhirnya mengecewakan ku. Lagi, aku lupa bahwa esensi belajar di sekolah bukan tentang angka yang diperebutkan, tapi tentang sebanyak apa ilmu yang sudah kamu dapatkan dari sekolah. Aku lupa bahwa tujuan sekolah adalah menuntut ilmu bukan malah bersaing dengan mereka yang memang di label kan “smart” dikelas ku. Sekali lagi, terimakasih sudah menuliskan ini, itu membantu ku untuk tidak terus menyalahkan diriku karena tidak dapat menyaingi mereka.

    Dan satu hal, saat aku mengerjakan soal UAS aku berpikir untuk pindah sekolah saja. Aku muak dengan lingkungan disini, terlalu banyak bullying yang terjadi dan teman-teman lain nya diam tak menanggapi bullying tersebut include me. Aku juga muak harus melihat dan sexsual harassment dalam bentuk non fisik, bahkan terkadang aku juga melihat sesuai harassment dalam bentuk fisik.

    Note: aku baru aja pindah sekolah enam bulan yang lalu, sebelum nya aku bersekolah yang berada di kota. Tapi sekarang aku pindah disekolah daerah/perkampungan. Sebelumnya aku tidak mendapati bullying ataupun sexual harassment tapi setelah pindah sekolah di perkampungan menurut ku masih rawan terjadi seperti masalah diatas.

    Tentang semua yang ku tuliskan diatas, aku hanya ingin mengeluarkan emosi yang selama ini mengganggu dibenak ku. Jika berkenan ka git bisa merespon nya.

  • Reply
    Syifa
    December 11, 2019 at 1:57 pm

    Hallo ka git, aku baru duduk dibangku kelas dua sma, dan baru saja pindah sekolah dari sekolah perkotaan menjadi ke desa. Aku tidak yakin bisa memiliki kenangan indah di fase ini seperti orang-orang lain katakan bahwa “masa sma adalah masa terindah” sampai detik ini aku ragu.

    Apalagi keraguan ku ditambah dengan banyak nya bullying, dan sexual harassment non fisik yang sering ku saksikan dan bahkan pernah terjadi padaku. Memang mungkin bullying dan sexual harassment mereka “cuma” sebagai candaan, bahkan teman-teman dikelas berusaha mengabaikan nya, walaupun mereka cukup terganggu dengan itu. Pelaku2 bullying dan sexsual harassment juga memang sudah diketahui dengan cap “nakal” disekolah. Tapi, sampai sekarang sekolah tampak tidak memiliki tindak lanjut atau memberikan sanksi, atau berupa panggilan orang tua. Baik, aku mungkin murid baru disini sejak enam bulan lalu, aku bahkan tidak sanggup harus bertahan disini selama 1,5 tahun lagi hingga lulus.

    Dan yang membuat ku miris, korban dari sexual harassment ini yang pernah di toel pelaku, nggak menindak lanjuti tindakan pelaku. Bahkan untuk speak up kepada guru pun nggak.

    Tapi aku lebih merasa malu lagi, sebagai orang yang melihat kejadian itu secara tidak langsung, yang berusaha mengabaikan semua nya, berusaha ignoran padahal juga merasa risih. I wanna speak up, but i can not.

    Dan selama ini aku menanggap bullying dan sexual harassment itu sepele karena belum pernah mengalami nya sebelumnya. But, right now, i see all, disekolah perkotaan mungkin jarang terjadi seperti masalah diatas, tapi disekolah ku sekarang yang masih tergolong perkampungan hal seperti itu nggak bisa dipungkiri.

    Kira nya ka git bisa beri sedikit solusi untuk menanggapi keresahan yang selama ini aku pendam.

  • Reply
    ayu
    December 13, 2019 at 3:39 am

    Hai kak git!
    Berbicara tentang kuliah dan segala dramanya, aku yg baru masuk semester 1 ini dan 3 hari lagi uas, entah kenapa sudah mulai ngerasa, “ternyata gini toh” dalam hal temen2 di kuliahan. Memang sih aku akui temen2ku (btw kami angkatan kedua jurusan baru di univ ku) ini solid dan aku sayang mereka karena kaya keluarga banget. Tapi, semakin kesini kadang kaya kelihatan “ambis”nya. Memang bener sih kalau ambisi itu hak tiap orang, toh aku jg punya ambisi. Tp yg aku sedihkan adalah ambisi itu sering kali berjalan bareng dgn keegoisan. Sbnrnya aku lebih suka sendiri, karena ambisi ku berjalan, tapi minusnya sosialisasiku jadi kurang. Nah ketika aku udah brusaha bersosialisasi, eh kok malah tmn2 yang kliatan ambisi dan egonya. aku ga nyalahin mereka atas ambisi yg ada, mgkin faktor jauh2 dari kota mereka dan sbagainya yg buat mereka gitu, tp yg aku sayangkan dari ambisi itu adalah jadi mayan keliatan persaingannya gitu, and that’s make me not really enjoying my class. Ketika tmn2 gtu, aku jd mikir yaudah mau ambisius juga. Tapi, aku brusaha tanamkan ke diriku, ambisi tanpa egois. Dan itu susah. Seakan2 ambisi, ya harus egois. Maafkan curhatan ku yg random ini wkwk

  • Reply
    Nia
    December 13, 2019 at 4:17 pm

    Halo kak Gita,
    Jujur ini pertama kalinya sih aku mampir ke blog kakak setelah nonton video ttg “ngga semua laki2” dan selama baca tulisan kakak entah kenapa rasanya ikut pedih gimana gitu jadi pengen banget ninggalin komentar buat kak Gita. Tapi sayangnya, aku bukan org yg terlalu pintar merangkai kata buat ngutarain pendapatku. Intinya, aku salut sama kak Gita yg telah berani bikin keputusan untuk kehidupan kakak sendiri, bukan krn ngikutin arus atau aturan yg udah ada, bukan krn ngikutin masukan dan orang2 lakukan, tapi lebih pada sesuai dg keinginan dan definisi kehidupan kakak sendiri.

    Ketika kak Gita bilang minder atau merasa ngga pinter, sama aku pun pernah merasakan posisi itu kak. Tapi bagiku, sama kayak definisi sukses, bahagia, atau kata sifat lainnya yang menurut org beda2, pinter nya tiap orang juga berbeda. Salah satu cara yg aku lakuin untuk meredam minder dan rasa ngga percaya diriku adalah dengan mengingat bahwa setiap org punya waktunya masing-masing. Dikaruniai Tuhan kelebihan dan kekurangan masing2. Yang pnting aku ngga berhenti berusaha, tetap bergerak.

    Sukses terus kak Gita… Btw selamat untuk pekerjaan barunya hehehe

  • Reply
    Alya kusuma
    December 18, 2019 at 4:50 pm

    Hai, kak gita!!!! Ini petama kali sih buat gw baca blog kaka tapi,gw udh sering nonton konten² di youtube kaka dan itu keren abis. Dan gw suka banget kalau lo lagi ngomong dan itu salah satu alasan gw knp gw suka banget sama kaka. Karena gw selalu menilai orang lain dari cara berbicara dan bahasa yg dia pake kalau lg ngomong…menurut gw kalau tuh orang ngomongnya ga bener terus bahasa yg digunakan yg kasar² gw langsung mendefinisikan kalau tuh orang ga bener. Padahal gw sadar orang yg berkata kasar bukan berarti orang yg ga bener 🙂 Dan gw salut banget sama kaka ketika lo ngambil keputusan itu, pasti lo udah mikirin dengan baik sebelum lo ngambil keputusan itu. Tapi, gw sedikit setuju dan tidak setuju ketika lo bilang “suka minder dan merasa paling bodoh kalau urusan sekolah”gw ga setuju karena menurut gw, sekolah itu emang tempat mencari ilmu dan belajar dari suatu yg kita ga tau menjadi tau tapi, sekolah jg bukan tempat sumber ilmu dan tempat belajar satu ²nya. Dan gw setuju tentang hal ini karena gw selalu merasa paling bodoh diantara temen – temen gw.

  • Reply
    Nurul
    December 20, 2019 at 5:27 am

    I feel you Kak Git. Aku anak sains, ngerasa banget saat kuliah tiap hari tertekan ketika ngerasa jadi mahasiswi bodoh karena kadang gak faham, gak mampu, dan ngeliat temen-temen yang lain pada jago banget. Namun karna tetep usaha dg keras, bisa kelar 3.5 tahun dg nilai yg cukup. Namun ketika lulus, aku lebih memilih untuk kerja di luar bidang kuliah. Gak ada hubungannya sama sekali. Ngerasain gimana dibandingin sama temen-temen yg sekarang udah kerja di bidang sains, Pandangan orang yang anggep “sia-sia dong gelar kuliahnya”. Sakit sih setiap denger. Tapi ya mo gimana, aku udah yakin sama pilihan sekarang. Udah ngerasa bahagia sama apa yg dijalanin sekarang. Semangat Kak Git. Kita punya hak untuk menentukan kebahagiaan kita sendiri. 🙂

  • Reply
    Owl
    December 27, 2019 at 3:35 pm

    this exactly what i’m going thru right now. tiap dateng ke kampus selalu merasa bodoh ngeliat org2 yg ada di atas aku atau bahkan mereka yg udah selangkah lebih maju nyusin skripsi dan bimbing. meanwhile aku dari sejak SK diturunin beberapa bulan lalu sama sekali belum bimbingan. alasannya masih ada kuliah di semester menuju akhir, fokus gabisa kebagi-bagi, padahal deep inside my heart i know i’m capable enough for doing that karena nyatanya tugas-tugas juga sering terbengkalai. memang ya kak, mental health soal studying at uni itu gabisa diremehin. sekarang di sisa satu semester ini, aku lg berjuang gimana caranya biar bisa segera selesai urusan perkuliahan ini. semoga aku bisa menemukan juga ikigai dan “kedamaian” seperti yg kak gita dapetin ya, Aamiin. Sukses terus ka!

  • Reply
    Ilmiknur
    December 28, 2019 at 2:25 pm

    Hai kak gita,
    Gua juga pernah merasakan hal yang sama seperti yang lo rasaian, gue terpaksa kuliah jurusan fisika karena pengen menuruti keinginan bonyok gue yang pengen banget liat anak bungsunya jadi sarjana, sebelumnya dua kakak gue udah selesain gelar masternya dibidang mereka masing-masing. Alhamdulillahnya gue udah lulus tahun ini dan meraih gelar S.Si, sampai akhirnya gue lulus dan ngira bakalan selesai buat nurutin kemauan bonyok, eh taunya mereka pengen gue cepat-cepat lamar kerja. Padahal kemarin sambil kuliah gue udah buat bikin bisnis kecil-kecil sih, gue jatuh cinta sama dunia bisnis dari zaman SD, tapi nyokap gue gak pernah setuju, sampai setelah lulus gue pengen bangun bisnis gue sebelum terjun di dunia pekerjaan yang gue mau. Gue hampir punya sebagian kisah yang sama sama elu kak git, gue juga ngerasa lebih mirip zombie dikampus, gak punya nyawa sama sekali, dan terus nanya kenapa gue ada ditempat kek begini. Tapi sebelum gue lulus, gue keluar kota, dan belajar banyak dari sana, sampai gue sadar tentang semua pembelajaran yang gue dapat dikampus, elu benar universitas bukan tentang ilmu apa yang pelajari harus sama seperti pekerjaan kita, tapi lebih ke pembelajaran mentalnya. Gue setuju banget sama elu kak, gue juga suka banget sama yang namanya baca buku, baca artikel, dan nonton semua yang bikin wawasan gue kebuka, doain gue semoga suatu hari nanti gue bisa wujudkan mimpi gue, sama seperti elu kak yang sekarang selalu bisa inspirasi gue.

  • Reply
    Listya
    December 31, 2019 at 4:23 am

    Hai kak Git, aku juga selalu ngerasa paling bodoh pas kuliah, ga kuliah juga sih pas smk farmasi juga. Kurang lebih yang kak gita rasain pas kuliah sama banget ky yg aku rasain pas smk farmasi. Masa2 sma yg katanya enak itu ga pernah aku rasain. karena di sekolahku semuanya tentang nilai yg bagus, banyak temenku juga ambis, jadi ya bisa diprediksi aku ga enjoy masa2 itu. Hidup itu isinya cuma belajar, begadang, belajar lagi. memang disistemnya sekolahku dulu ketat banget soal pelajaran. Alhasil softskill kek ekskul atau organisasi ga jalan sama sekali. Hal itu ngaruh banget pas aku kuliah, Aku kuliah kimia juga sama ky kak gita. Ini pilihan aku sendiri, karena aku pikir dulu aku lebih suka kerja sama alat lab drpd sama orang, sedangkan di farmasi kita dituntut untuk kerja ngelayanin orang. Di kampus tuntutan beda lagi, harus banyak publikasi, ikut lomba, join organisasi. Standar lingkungan kampusku begitu, yg bikin semester 2-3 berasa paling bodoh karena aku gabisa ikut hal-hal diatas. Alasannya paling dasar karena masalah keluarga dan ekonomi. Sampe rasanya pengen putus kuliah wkwk tapi trus aku sadar aku ke kampus masuk kuliah karena aku emang suka aja belajar, ga perlu membandingkan sama temen yg terlalu ambis ikut ini itu, aku mulai berdamai sama diri sendiri tentang standar lingkungan yang sebenarnya ga jelas.

Leave a Reply