Ngomong Sendiri

Nggak semuanya kayak gitu

Sepertinya kali ini adalah vakum terlama yang pernah terjadi selama gue nge-blog 10 tahun. Mungkin untuk kalian pembaca setia A Cup of Tea, permintaan maaf dan alasan “Gue sibuk banget nih” udah basi banget ya. Namun apalah gue kalo tidak keras kepala. Gue akan tetap minta maaf dan ngasih alasan klise kenapa gue lama banget meninggalkan laman ini.

Daripada cuma satu kalimat permohonan maaf, gue pikir lebih baik gue cerita aja apa yang sedang terjadi di balik layar saat ini. Sekarang gue sedang juggling di antara banyak kegiatan. Bekerja sebagai Technical Auditor di salah satu perusahaan sertifikasi halal, membuat video untuk kanal YouTube, menulis buku kedua, dan mengurus izin tinggal gue di Jerman. Mari kita kupas satu-satu.

Saat gue menyinggung pekerjaan gue sebagai auditor di Instagram, banyak yang mengira gue adalah “auditor”. Di mana gue mengaudit cash flow perusahaan dan berurusan dengan angka dan pembukuan. Tunggu, apakah ini adalah job desk seorang auditor? Gue nggak tau. Gue ngasal aja sebenernya. Intinya gue bukan ngaudit duit. Yang gue lakukan adalah mengaudit beberapa bagian supply chain suatu perusahaan yang mau mendapatkan sertifikat halal. Dalam soal perhalalan, yang menjadi concern utama adalah dari mana raw materials berasal, proses produksi, packaging, dan transport barang akhir. Karena gue ada background Kimia, yang gue audit adalah hal-hal tersebut. Lagipula perusahaan yang gue audit–dan überhaupt apply sertifikasi halal–adalah perusahaan obat, kosmetik, makanan & minuman, dan terkadang yang nganeh-nganeh seperti filter air dan filter kertas.

Hal yang gue lakukan lainnya adalah membuat video untuk kanal YouTube gue. Sebagai kreator yang nggak bisa bikin video prank atau judul clickbait, gue merasa cukup dirugikan di sini. Karena yang nonton gue adalah manusia-manusia “normal” dan “nggak neko-neko”. Sedangkan nggak banyak orang “normal” yang mencari “video normal” ketika sedang berselancar di YouTube. Biasanya orang menonton YouTube karena ingin melarikan diri dari realita atau paling tidak mencari hiburan di tengah-tengah peliknya kehidupan. Maka dari itu gue harus secara konstan membuat video supaya pendapatan gue nggak turun. Selain itu, untuk segmen Beropini, gue harus banyak-banyak mengobservasi sekeliling dan up-to-date akan hal yang terjadi di sekitar gue untuk menemukan topik menarik untuk dibicarakan. Masalahnya karena gue harus ngaudit dan nulis buku, melakukan hal demikian cukup menantang.

Selanjutnya menulis buku. Saat ini gue sedang dalam proses membuat buku kedua. Alhamdulillah gue udah di ambang-ambang selesai. Paling nggak, gue udah tau mau menulis apa untuk dua bab selanjutnya. Menulis buku itu sebenarnya susah-susah gampang. Gampang kalau kita menyajikan satu waktu khusus untuk fokus dan memiliki kemauan yang kuat sehingga kita bisa terus dalam state of flow, sehingga kita bisa menjaga produktivitas dalam menulis. Susah kalau kita berkali-kali harus juggling antara ini dan itu, sehingga mengganggu proses masuk in the zone sebelum mulai menulis.

“Bukunya tentang apa?”, you might ask. Seperti yang lo tau gue sedang dalam perjalanan menuju 30 before 30, misi yang gue bikin sendiri di mana gue mengunjungi 30 negara sebelum gue mencapai umur 30 tahun. Misi ini gue lakukan bukan hanya untuk jalan-jalan semata, tapi untuk menantang diri gue untuk menjadi individu yang lebih terbuka. Selama ini, selain introvert, gue adalah pribadi yang pemalu dan minderan. Menurut gue satu-satunya hal yang bisa membuat gue berubah adalah dengan menghadapi ketakutan tersebut yaitu interaksi dengan manusia.

Gue tidak mau mengubah ke-introvert-an gue karena, surprise surprise, hal itu nggak bisa diubah. Gue juga tidak merasa menjadi manusia introvert itu merugikan diri gue. Soalnya banyak bener yang tertukar antara introvert dan socially awkward atau bahkan nggak punya social skill. Yang ingin gue perbaiki adalah level kepercayaan diri gue dan mengajarkan diri gue bagaimana berkomunikasi dan bersosialisasi. Buat sebagian orang mungkin kemampuan bersosialisasi itu nggak penting, tapi gue sadar hal tersebut malah bisa membuat diri kita jadi lebih merunduk. Pertama, kita jadi lebih tau tipe-tipe manusia. Kedua, kita jadi bisa tau bagaimana agree to disagree tanpa ngotot memaksakan pendapat. Ketiga, kita jadi belajar bagaimana menjadi pribadi yang tegas, yang tetap pada pendiriannya tapi tidak memojokkan yang lain unless partner bicaranya udah ngeselin dan kurang ajar. Keempat, pemikiran jadi bisa lebih terbuka. Kelima, koneksi dong, Bro.

Kegiatan terakhir yang mengambil perhatian, waktu, dan energi gue adalah mengurus izin tinggal. Saat ini gue sedang pakai visa pelajar walaupun gue udah bukan pelajar lagi. Beberapa hari yang lalu Ausländerbehörde di Altona memberikan gue Fiktionsbescheinigung atau izin tinggal sementara karena gue sangat disarankan oleh mereka untuk mencari pekerjaan tetap untuk mendapatkan visa kerja. Yah begitulah… Walaupun gue sudah menemukan Ikigai gue, karena terbentur realita gue tetap harus melakukan hal yang gue sebenarnya nggak mau yaitu kerja kantoran. Tapi kalau dipikir-pikir nggak buruk-buruk amat sih. Gue hanya butuh kerja full time selama 2 tahun supaya gue bisa dapet permanent residence. Hmmm… Kerja full time 2 tahun buat orang-orang yang udah menemukan posisi wenak itu sebenarnya buruk sih. Apalagi gue orangnya sangat benci rutinitas. Berasa seperti di dalam penjara, lalu diborgol. Mari kita lihat gimana kelanjutannya untuk hal ini. Ngomong-ngomong di buku kedua gue juga banyak misuh-misuh soal visa kok. Jadi untuk kalian-kalian yang heran kenapa gue selalu julid dan menyindir paspor hijau, just read my book.

Oke, gue rasa gue sudah cukup menjabarkan alasan gue menelantarkan blog pribadi ini selama 7 bulan. Sekarang mari kita berbicara tentang hal yang sebenarnya mau gue bicarakan di sini. Gue sedang terganggu–sebenarnya udah dari dulu sih–tapi sekarang makin nggak suka–dengan kalimat “Nggak semuanya kayak gitu.”. Gue yakin kalau lo sering melihat percakapan atau bahkan pertikaian antara netijen, lo sering banget melihat kalimat ini.

  • “Fans K-Pop tuh toxic banget deh!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
  • “Cowok tuh kenapa sih suka banget godain cewek yang lewat di jalan?!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
  • “Cewek tuh harus banget ya keluar rumah pake makeup?” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
  • “Orang Indonesia nggak bisa banget ngantri deh!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”

Orang-orang yang memberikan counter argument “Nggak semuanya kayak gitu” tuh ngeselin. Mereka nggak paham bahwa si OP memang nggak pernah dan nggak ada maksud menilai bahwa semua fans K-Pop itu toxic, semua cowok suka ngegodain cewek di jalan, semua cewek pakai makeup, dan semua orang Indonesia nggak bisa ngantri. OP hanya membuat narasi yang berasal dari opini pribadi dan apa yang lebih sering dia lihat. OP mungkin lebih sering melihat fans K-Pop yang galak-galak dan tukang bully, ketimbang fans yang adem dan santuy. OP mungkin lebih sering bertemu dengan cowok-cowok yang suka godain dia di jalan ketimbang cowok yang diam aja kalau OP lewat. OP mungkin lebih sering melihat cewek yang berias dibanding cewek yang nggak pakai bedak atau pensil alis. OP juga mungkin lebih sering melihat orang-orang Indonesia yang sukanya nyelak antrian, ketimbang yang tertib.

Terlebih, argumen “Nggak semuanya kayak gitu” itu Jaka Sembung bawa golok. Nggak nyambung sama inti dari pembicaraan, tapi diucapkan karena mau sok-sokan kritis, sok-sok “melihat dua sisi”, sok edgy dan sok-sok lainnya, dan sebenarnya cuma buat cari-cari kesalahan dalam suatu kalimat tapi sayangnya nggak ada poinnya.

Saking gue muaknya dengan kalimat ini dan gue tau bahwa akan ada paling tidak SATU orang yang melempar kalimat ini ke apapun omongan gue, gue selalu kasih disclaimer “Nggak semuanya kayak gitu.”. …… Oh shit. I became someone I hate :O

Ada satu situasi yang menurut gue kalimat “Nggak semuanya kayak gitu” itu makin ngeselin, makin salah tempat, dan makin tidak perlu diucapkan. Yaitu ketika kita, cewek-cewek, sedang misuh-misuh terhadap perlakuan cowok-cowok yang kurang ajar. Gue yakin hampir semua perempuan pernah mengalami pelecehan seksual apapun levelnya. Dari yang cuma mendapatkan siulan waktu lagi jalan ke kampus atau kantor, mendapatkan bercandaan seksis dari atasan, ditoel bokongnya saat sedang berada di gerbong KRL, atau bahkan sampai perkosa. Hal ini nyata terjadi. Gue pernah mengalaminya. Adik dan Nyokap gue pernah mengalami. Kalian para pembaca perempuan juga pernah mengalami. Pun ada dari kalian yang nggak pernah, kalian pasti kenal paling tidak satu orang yang pernah jadi korban. Namun mau senyata apapun fakta di atas, akan selalu ada–terutama laki-laki–yang mencoba menampik hal tersebut dengan kalimat “Nggak semua cowok kayak gitu.”.

Pertama, nggak semua pria seperti itu tapi bukan berarti nggak ada. Karena kayak yang gue bilang di atas, banyak perempuan yang mengalami pelecehan seksual dan hal tersebut dilakukan oleh pria. Nggak semua laki-laki seperti itu bukan berarti sexual assault yang dilakukan tidak terjadi. Nggak semua ≠ tidak ada. Kedua, dengan memberikan argumen bodoh seperti ini, orang-orang seperti tidak mengindahkan bahwa ada perempuan-perempuan yang menjadi korban dan gue melihat mereka seakan-akan mencoba untuk tidak mengacuhkan amarah, rasa sedih, rasa jijik, dan segala emosi negatif yang muncul saat insiden tersebut terjadi kepada perempuan.

Lalu apa solusi yang bisa orang-orang ini berikan jika respon mereka terhadap pelecehan seksual adalah “Nggak semua cowok kaya gitu.”? Poin apa yang mereka coba berikan dengan respon sok edgy macam ini? Mereka mau bilang ke kita bahwa kita lagi apes aja? Mereka mau bilang ke kita bahwa mereka berbeda? Mereka berbeda dari pria yang melecehkan kita? Mereka mau bilang kita terlalu berlebihan dalam menghadapi ini semua? Maksudnya apa?

Menurut gue respon tersebut malah menutup kesempatan bagi laki-laki untuk menjadi ally dan membantu perempuan dengan cara memperbaiki inner circle mereka. Hal ini bisa gue bandingkan dengan saat terorisme terjadi dan kebetulan yang melakukan teror adalah orang Islam. Gue sangat lelah dengan Muslim yang berkoar-koar dan banyak bacot (terutama di media sosial) bahwa nggak semua Muslim seperti itu. Ya, memang nggak semua Muslim otaknya sengklek dan menganggap membunuh orang adalah jihad. Tapi sayangnya ada sekian persen dari Muslim yang berpikir demikian. Dan kita sebagai Muslim harusnya bertanggung jawab dan memang memiliki tugas untuk membuat counter narrative dan mempromosikan Islam moderat untuk mencoba mengalahkan para ekstrimis ini. Karena apa? Karena itu agama kita. Karena orang-orang yang ekstrim ini sayangnya memiliki label yang sama dengan kita. Mereka adalam Muslim.

Daripada capek-capek merasa tersinggung, merasa tidak direpresentasikan dengan tepat dan dicap tidak sesuai dengan kemauan lo, dan selalu nge-Nggak semuanya kayak gitu-in apapun narasi yang lo lihat di masyarakat, mendingan lo coba berusaha menjadi representasi yang baik atas apapun label yang lo representasikan.

Jika lo adalah fans K-Pop, daripada lo misuh-misuh melihat orang memberikan imej negatif terhadap itu, mending lo jadikan ini kesempatan untuk menjadi contoh fans K-pop santuy yang berbeda dari apa yang kebanyakan orang lihat. Daripada lo bacot-bacot ke orang non Muslim yang bilang bahwa orang Muslim itu teroris, mending lo usaha untuk membangun citra Islam yang adem-ayem, yang memang sesuai dengan ajaran Rasulullah. Daripada lo (hai para lelaki) merasa tersinggung karena dianggap cabul dan suka melakukan pelecehan, mendingan lo edukasi diri lo DAN mengedukasi fellow men di lingkaran lo bagaimana cara menghadapi perempuan yang sebenarnya.

Hai kamu, memang nggak ada kok yang bilang semuanya kayak gitu. Itu semua cuma otakmu yang tercemar hatimu yang tersinggung dengan “generalisasi” yang orang lain buat terhadap kelompokmu saja. Kita-kita juga tau nggak semuanya kayak gitu. Kita juga nggak lagi ngomongin *kamu*, tapi orang-orang di kelompokmu. Nggak semua narasi harus tentang diri kamu kok. Kamu aja yang sensitip kali ah.

You Might Also Like

18 Comments

  • Reply
    adii
    December 7, 2019 at 10:23 am

    saya termasuk orang yang kurang suka dengan generalisasi sih kak git, soalnya ada beberapa teman ‘perempuan’ yang sering disakitin gitu sama cowoknya dan atas hal itu ketika saya misal buat kesalahan ke mereka, contohnya nyuekin mereka karena lagi sibuk drngan urusan lain. Mereka tuh dengan seenaknya bilang “Semua cowok tuh sama aja, gak ngerti sama cewek. Kesel banget dah” … wth,, gue ngurusin urusin fue yang penting dan satu kali nyuekin dia karena urusan ini dan dengan seenaknya bilang kaya gitu. Bukan gak inhlas jadi pendengar sebenarnya, tapi ya kecewa aja selama ini gue jadi pendengar mereka tuh berarti dilupain gitu aja. Satu hal yang saya mau tanyakan dan meminta tanggapan kak git, salah banget gak kalau jadi orang yang gak suka digeneralisasi-in plus salah emang jadi orang yang kadang-kadang risih dan sensitip?
    Semangat terus kak git !!! Akhirnya blognya update juga, tinggal beropini yang saya tunggu.

    • Reply
      Gita Savitri Devi
      December 7, 2019 at 10:28 am

      Kayak yang gue tulis di atas, jika seseorang memiliki opini/narasi, hal tersebut bukan berasal dari data atau studi tapi dari pengalaman pribadi. Ya berarti memang selama dia hidup dia selalu disakitin cowok. Dengan kamu ngomong kayak gitu berarti dismissing emosi valid yang dia punya. Let her tell her own narrative. You and I, or even your friend, all of us know that NOT ALL MEN are like that kok. Nggak perlu protes “Jangan generalisasi dong!” rasa-rasanya.

  • Reply
    Vina
    December 7, 2019 at 11:30 am

    Kak, bukannya mau geer ya… Kok aku ngerasa kepribadian kita 99,99999999 % mirip, ya? Ketemuan, yuk?

  • Reply
    santiksinta
    December 7, 2019 at 2:39 pm

    Sebenarnya aku bingung ka git mau nanggepin seperti apa. Aku setuju dengan apa yang kaka tulis.. Menurutku kata “ga semuanya kaya gitu”… Ketika kita lagi berpendapat itu rasanya sama kaya kita lagi curhat terus dibilangin “Sabar ya, diluar sana banyak orang yang lebih menderita daripada kamu.”. Hah~..

    Untuk Ka Gita yang sekarang mungkin sedang keluar dari zona jamannya karena kerja kantoran.. Mau bilang Semangat ka Git!!!

  • Reply
    Amedysa
    December 7, 2019 at 3:19 pm

    Yeiy akhirnya setelah lama vakum nulis lagi! Btw aku ga nyangka pas bagian “gue adalah pribadi yang pemalu dan minderan.” Karena ga keliatan banget kak. Berarti kakak bisa confident gini sedikit banyaknya karena rajin traveling 🤔 dampak traveling besar banget ya. Berarti aku harus rajin traveling biar setangguh kak git, tapi duitnyaaaa… 😂

  • Reply
    Phyan
    December 7, 2019 at 6:27 pm

    I got that point. Jujur gua baru sekali ini baca blog lu ampe abis, gua lebih ke penikmat video cinematic youtube lu aja si kak.

    Dengan baca ini gua sadar kalo ternyata dengan ngomong “nggak semuanya kek gitu” membuat lawan bicaranya merasa secara gk langsung pendapat dan pengalamannya gk valid, padahal dia cuman express their emotions aja kan, dengan kita bilang nggak semuanya kek gitu, inti dari pengalaman dan pendapat dia jd gk nyampe. Walaupun keduanya tau emg gk semuanya gitu dan gk berarti itu gk ada, tapi jd lemah poinnya.

    Jd mungkin menurut gua instead of bilang nggak semuanya kek gitu, kenapa gk kita coba dengerin dulu pendapat dan pengalamannya lalu sama sama cari jalan keluar biar masalah (kalo emg itu jd masalah) yg digeneralisasikan itu bisa selesai. Uhh idk what am talking about.
    Semangat teruss kak git, kamu hebat!!!🔥🔥🔥✨✨✨

  • Reply
    Asyifa
    December 8, 2019 at 7:49 am

    Bener sih ka, git. Aku pernah dimana posisi menyampaikan opini kepada lawan bicara dan dia langsung jawab kayak gini ” nggak semua nya kayak gitu” dan jawaban itu seakan akan nggak menghargai pendapat kita, mereka seakan menolak realita yang memang benar adanya terjadi di aku.

    But, setelah baca semua ini, itu menjadi sebuah tamparan buat aku sendiri, bahwa dengan bilang ” nggak semua nya begitu” adalah bentuk respon yang buruk.

    Sometimes, i ever talk about that too. So, tulisan ini menyadarkan aku banget tentang menghargai opini orang lain. Thx kak! Semangat lanjutin nulis buku kedua nya, update diblog selalu ditunggu. Semoga urusan kagit di mudah kan

  • Reply
    Zahira Lafitiana Rizaldi
    December 8, 2019 at 11:12 am

    Gue pribadi setuju sama pendapat Kak Git, karena rasanya generalisasi itu cukup nyebelin sih untuk beberapa situasi. Tapi terlepas dari itu semua, terkadang emang kita aja yang suka sensitif disaat orang lain juga bahkan nggak bermaksud menyinggung kita. Cuma karena udah terdoktrin sama mindset bahwa membenci generalisasi makanya setiap hal langsung dibawa emosi ataupun sensitif.
    Gue salut sama semua kalimat lo Kak Git, eventhough banyak yang gak suka sama lo, lo adalah salah satu sosok yang banyak ngasih inspirasi diumur gue yang lagi dalam masa pancaroba. Keep up the goodwork kak, all the best for you !!!

  • Reply
    liaaa
    December 9, 2019 at 12:14 am

    Gue sebenernya kurang setuju sama mindset generalisasi karena bisa bawa dampak perilaku diskriminatif. Menurut gue dalam menilai orang itu harus tetep objektif berdasarkan kapasitas individu tsb. Generalisasi akan gak adil buat orang yang gak masuk dalam kategori generalisasi yang diberikan, tapi secara takdir dia berada di lingkungan golongan yang digeneralisasikan. Sebagai contoh, ada kasus pramugari memberikan layanan seksual untuk pilot dan penumpang di dalam kabin pesawat, meskipun perbuatan tsb dilakukan oleh oknum, hal ini menimbulkan stigma di masyarakat bahwa pramugari adalah pekerjaan kotor. Akibat nya beberapa pramugari yang gak ngapa ngapain kena perlakuan seperti dijauhi atau disinisin karena pola pikir pengeneralisasian tadi.

    Tapi gue paham maksud kak gita di atas. Tulisan kak gita pointing ke cara merespon seseorang yang lagi ngungkapin emosi tentang betapa muak nya dia karena saking banyak nya orang “seperti itu” yang dia temui. Emang gak seharus nya emosi tsb dikasi jawaban “nggak semua kaya gitu”. Karena dia struggle dan bisa jadi dia victim. Klo lo kedapetan seorang victim lagi curhat sama lo atau lagi seeking for help ke lo, sedih aja klo lo malah ngasi pembelaan ke villain nya. Dan ini salah satu critical thinking yang salah tempat.

    Itu sih pendapat dan apa yang gue tangkep dari tulisan kak gita. Mohon maaf klo apa yang gue tangkep bisa jadi gak sesuai sama maksud kak gita sepenuhnya. Gue berharap kak gita mau berbagi pendapat tentang pendapat gue di atas. Thank you kak git!!!☺️

  • Reply
    Jihan Alfiyya Anbar
    December 10, 2019 at 2:54 pm

    pernah banget di gituin sama temen cowok aku;( pas aku post video kak Gita yang “senyum dong,neng!”. tiba tiba temen cowok ku ngebales kalo “ga semua cowok kayak gitu” . sumpah pada saat itu aku kecewa. apalgi kata- kata itu datang dari seseorang yg emang udah deket sama aku dan aku ga nyangka dia bisa komen gitu.:(
    bener banget apa kata kak Gita, aku juga tau semua cowok ga kayak gitu dan akupun ngepost itu supaya temen temen ku lebih aware lagi soal pelecehan seksual. bukan untuk dapat jawaban “gak semua cowo kayak gitu”. T_T

  • Reply
    ADRIANTO SHIFA AL ARO
    December 13, 2019 at 1:30 pm

    Salah fokus sama cerita kerja di negara maju yang memang literally tegas banget antara kerja di sektor formal dan informal

  • Reply
    Nuna
    December 14, 2019 at 4:48 am

    Based on my point of view kak saat org ngomong ”ga semuanya kayak gitu” itu karna dia personally ga suka sama OP dan apapun tentang pemikiran si OP, makanya di counter dengan respon yg ga mau banget utk menyetujui omongan OP, juga org yg ngomong tsb merasa ada something di dirinya yg tersenggol dan dia mau lindungi itu. I think so

  • Reply
    Nab
    December 14, 2019 at 3:41 pm

    I am a woman but im so done with those toxic female previleges my society or my female friends use in order to get what they want. It's become totally unrational when they just shout like, "Because we are women." as if it can be the justification of what they do.

  • Reply
    Nab
    December 14, 2019 at 3:49 pm

    Sangat mind-blowing, especially for me. Tapi aku benar benar punya pertanyaan kak Git. Konteks di atas kan lebih ke how we respond to someone who expresses their emotion. It’s not right with “Not everyone” answer, but Is it the same if i say i don’t like it when my female friends use “All men are same” in order to get what they want. It becomes totally unrational when they just shout like, "Because we are women." as if it can be the justification of what they do. So they can get what they want.

  • Reply
    popon
    December 15, 2019 at 4:03 am

    hai kak gita, aku suka banget nntnin channel nya kak gita dan ini pertama kali aku baca blognya kak gita. btw kak, aku mau nanya aja nih. ada satu pramugari yang melayani hasrat seksual pilotnya dan akhirnya semua pramugari dianggap seperti itu sampe dikucilkan, dicemooh di masyarakat, bukannya kata ‘nggak semua kayak gitu’ bentu pembelaan dirinya bahwa emang dia nggak kayak gitu dan nggak berhak dicemooh adalah hal yang positif ya kak? mohon tanggapannya ya kak aku masih bingung:’) hehehehe love u kak gita!

  • Reply
    Fitrah
    December 18, 2019 at 5:02 am

    Setiap baca blog dan nonton yt nya kak git, aku selalu “Ha, iya tuh bener-bener.”
    Keep inspiring kak!

  • Reply
    Chindy
    January 23, 2020 at 12:36 pm

    Ka gitt finally comeback yakkk dg bikin konten yg menggebrak otak gini rasanya idup lagi rasanya ada yg dukung lg hihihi. Sempet ta kiraa ka git lupa pass blog nya wkawka

  • Reply
    Winn
    May 19, 2020 at 4:58 am

    Kena banget di aku

Leave a Reply