Ngomong Sendiri

Perempuan yang Diperdebatkan

Dari awal gue mulai aktif dan eksis di media sosial, yaitu tahun 2016, gue mulai banyak dihadapi pertanyaan-pertanyaan ciri khas warga +62 yaitu “Kapan mau nikah, Kak?”. Iyak, pertanyaan ini lebih sering gue dapati dari netijen, dibanding dari keluarga atau teman-teman. Mereka kayaknya sih ngerti kalau ada obrolan lain yang lebih berfaedah ketimbang basa-basi nanyain kawin.

Gue yakin banyak yang risih sama pertanyaan ini. Gue pun juga risih. Pertama, bahkan Nyokap gue sendiri menyarankan gue untuk nggak cepat-cepat kawin. Gue ingat banget waktu gue bilang mau menikah sama Paul di tahun 2018. Kirain dia bakalan seneng karena gue nggak perlu lama-lama pacaran lagi, eh ternyata gue salah. Dia malah menyarankan gue untuk menikah tahun depannya aja. Kedua, yang bayarin pernikahan dan menjalani rumah tangga adalah gue sendiri. Jadi kalau gue belom ada keinginan melanjutkan hubungan dan nggak ada duit, gue nggak akan kawin. Tapi tetap aja netijen selalu kepo seakan-akan mau ngasih sumbangan buat bikin pelaminan.

Setelah gue akhirnya kawin dua tahun lalu, gue pikir hidup gue akan lebih tentram. Akhirnya akan terbebaskan dari pertanyaan-pertanyaan yang katanya sepele tapi sebenarnya cukup mengganggu. Ternyata nggak. Warga Endonesah ujug-ujug muncul dengan pertanyaan lanjutan, “Kapan mau punya anak, Kak?”. Kalo kata temen gue yang udah punya anak sih hal-hal tersebut nggak akan pernah berhenti. Bahkan kalau lo udah punya anak pun, lo akan ditanya kapan mau nambah. Udah kayak di rumah makan Padang. Cuma satu hal yang nggak ditanya warga +62 yaitu kapan kita mati. Mungkin menurut mereka pertanyaan ini terlalu ekstrim. Oke, noted.

Kekesalan yang gue miliki ini valid. Menurut gue mempertanyakan urusan rahim perempuan itu nggak sopan dan menginvasi privasi. Namun seperti yang kita semua ketahui, nggak semua orang ngerti soal privasi. Jangankan rahim, wong masih banyak yang gampang aja ngasih nomor pribadi orang lain tanpa izin.

Mungkin lo berpikir, “Yah, Git. Kalau dengerin omongan netizen tuh nggak ada habisnya. Diemin aja.”. Gue juga maunya gitu. Gue juga berharap gue bisa diam aja dan worry-free selamanya. Tapi berdiam diri ketika lo ditanya berkali-kali hampir setiap hari sama bermacam-macam orang ternyata nggak gampang. Terlebih jika jawaban gue kembali dipertanyakan dan mereka menuntut penjelasan.

Lama-lama kuping panas, Bos.

Dari awal mau menikah, gue dan Paul udah memutuskan untuk nggak punya keturunan. Kebetulan gue juga bukan tipe orang yang bisa mesem-mesem aja kalau ditanyain ini. Jadi, kalau ada yang nanya kapan gue mau punya dedek bayi, gue akan jawab apa adanya, “Nggak mau punya.”. Biasanya yang nanya akan kaget, “Loh kok gitu?”. Nah, di poin ini gue akan menimbang-nimbang dengan siapa gue berbicara. Kalau dia keluarga gue atau siapapun yang ada hubungan dekat dengan gue, gue akan elaborasi. I don’t mind having to explain my reason to them because I know they genuinely care. Berbeda jika yang bertanya adalah orang yang sekadar gue kenal atau bahkan netizen. To be completely honest, gue bahkan nggak merasa mereka berhak untuk bertanya kenapa. Mau apapun itu alasan gue, mau itu masuk akal buat lo atau nggak, mau lo setuju apa nggak, kalo itu bukan rahim lo, lo nggak ada hak untuk berkomentar. As simple as that.

Tapi ternyata jika Engkau adalah perempuan, realita tidak akan sesimpel itu…

Beberapa kali gue mendapati orang-orang menjadikan tubuh gue sebagai topik pembicaraan. Seru kali, ya? Ngomongin rahim orang di internet. Rasanya gimana gitu kayak lagi di arisan bareng Ibu-ibu komplek.

Komentarnya macam-macam. Gue dianggap terlalu bar-bar, terlalu ekstrim, terlalu aneh, dan “makin hancur” *entah apa maksudnya*. Bermodal screen shot percakapan gue soal keputusan child free, mereka udah merasa paling tau alasan komplet dan isi otak gue. Mereka udah berani-beraninya mengkritisi keputusan personal gue yang padahal adalah hak gue sepenuhnya.

Sudah pasti gue punya banyak alasan, sudah pasti gue udah memikirkan semuanya dari A sampai Z, sudah pasti gue udah mendiskusikan hal ini dengan pasangan, dan buat apa gue membeberkan alasan gue untuk childfree kepada netizen yang ujung-ujungnya akan dismissing alasan gue dan menganggapnya nggak valid atau nggak masuk akal. Buat apa gue harus menjelaskan panjang lebar ke orang yang nggak ada urusannya sama gue?

Mau cibiran tersebut datangnya dari perempuan atau laki-laki, gue cuma bisa dibuat sakit kepala dan nyesek melihat bagaimana manusia bisa seberani itu untuk melanggar otonomi tubuh perempuan lain. Semudah itu mengomentari keputusan orang lain dan hal yang sangat personal tersebut. Tapi perkataan netijen yang satu ini so far menurut gue paling kelewat batas dan kurang ajar.

Gue nggak tau ada berapa juta manusia yang memiliki cara berpikir seperti Kak Ode. Namun yang jelas buat gue orang-orang seperti Kak Ode adalah tipe manusia yang sebaiknya tidak dicontoh yaitu manusia sotoy, entitled, and clearly he does not know his place.

Perkara memutuskan untuk nggak punya anak sebenarnya nggak ada hubungannya dengan tertutup atau terbukanya pikiran orang tersebut. Ini sebenarnya hanya soal hak asasi perempuan aja. Perempuan, sebagai pemilik rahim, berhak untuk memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya dia. Dan yang menurut gue juga nggak kalah penting adalah sebagai perempuan, gue memiliki kewajiban untuk unlearn, relearn, & reprogram gagasan soal keperempuanan yang terpatri di otak gue. Termasuk soal motherhood.

Sebagai perempuan, gue dulu berpikir bahwa menjadi seorang ibu adalah the ultimate thing. Karena selama gue tumbuh besar, gue sering sekali mendengar omongan-omongan yang menyudutkan perempuan yang tidak punya anak, entah itu karena pilihannya atau karena memang dia tidak bisa. Perempuan-perempuan yang nggak punya keturunan seringkali dikasihani. Dikasihani karena hidup sendirian sampai akhir hayat itu dianggap menyedihkan dan seakan-akan tanpa anak hidup dan pengalaman si perempuan tidak lah lengkap. Mereka dikasihani oleh masyarakat seakan-akan mereka adalah perempuan yang gagal.

Ada kepercayaan umum di masyarakat bahwa perempuan yang nggak melahirkan buah hati bukan lah perempuan yang sesungguhnya. Mengandung janin selama 9 bulan dan melahirkan anak dari rahimnya sendiri adalah pengalaman yang ajaib, yang harus dimiliki seorang perempuan agar dia secara resmi merasakan keperempuanannya.

Yea, having a fetus to grow in a womb is science and science can be very impressive. Tapi gue nggak setuju bahwa femininitas harus berakar dan diukur dari sana. Selain hal tersebut sangat shallow, mengukur keperempuanan dari kapabilitas mereka menghasilkan anak sudah termasuk pelanggaran otonomi tubuh perempuannya sendiri and that’s such a patriachal mindset to have.

Karena cara berpikir seperti ini lah yang membuat laki-laki seperti Kak Ode bisa merasa berhak dan lancang berkomentar tentang pilihan gue, seorang perempuan. Laki-laki seperti Kak Ode merasa berhak atas tubuh istrinya. Bahkan dia merasa buat apa dia menikah kalau dia tidak punya anak dari rahim istrinya sendiri. Sorry to break your entitled bubble, but her uterus is not yours. Menikah dengan istri bukan berarti lo memiliki tubuh istri lo.

Gara-gara orang seperti Kak Ode dan orang-orang berlambe julid yang suka ngatur-ngatur badan perempuan, bertahun-tahun perempuan menganggap dirinya nggak punya pilihan dan merasa diri dia bukan milik dia sendiri, karena harus dihadapi banyaknya perbincangan atas tubuhnya dari orangtuanya, suami, mertua, bahkan saudara dan teman-temannya. Entah berapa ribu perempuan yang hamil dan punya anak karena beranggapan bahwa memiliki anak adalah langkah selanjutnya dan langkah satu-satunya setelah berumah tangga. Entah ada berapa perempuan di luar sana yang merasa sedih dan tidak berharga karena dia nggak bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Entah berapa banyak perempuan di luar sana yang akhirnya tidak sadar betul dan tidak mempertanyakan keinginannya memiliki buah hati. Betul-betul karena keinginan sendiri atau karena norma dalam masyakarat? Karena memang ingin menjadi ibu atau karena mertua ingin punya cucu? Karena ingin beribadah atau hanya untuk investasi akhirat? Karena memang ingin mencetak individu yang cemerlang atau supaya nanti ada yang mengurus di hari tua dan mendoakan jika meninggal dunia? Entah berapa banyak perempuan yang menginternalisasi narasi patriarki ini dan kemudian merendahkan perempuan lain yang tidak memiliki momongan?

Yang kemudian bikin gue geram adalah setelah suami, keluarga, dan masyarakat sekitar memaksa si perempuan untuk memiliki keturunan, tidak jarang orang-orang tersebut kemudian menumpahkan semua kewajiban mengurus anak ke si perempuan saja tanpa peduli gimana keadaannya. Si penuntut nggak peduli bagaimana kesehatan mental si ibu yang baru aja melahirkan, cuma bisa memproduksi sedikit ASI atau bahkan nggak sama sekali, kebingungan karena bayinya nangis terus.

Si perempuan dituntut untuk memiliki multiperan; sebagai istri yang tetap memasak dan mencuci baju suami, sebagai ibu yang harus menyiapkan makanan, ganti popok, dan siap sedia kalau si anak tiba-tiba terbangun di malam hari, dan sebagai wanita karir jika dia memutuskan untuk tetap ingin memprioritaskan dirinya sendiri. Kalau keteteran di salah satu peran aja, akan ada macam-macam omongan tetangga. “Ih, kok suami mau makan malam malah disuruh masak sendiri?”, “Gimana sih itu anaknya kurus banget. Apa nggak diurus?”, “Kok kamu kerja terus sih? Tega banget nelantarin anak.”. Sementara si laki-laki bisa bebas aja mau nongkrong-nongkrong di cafe sama kolega.

I think I made my point clear: Tidak memiliki momongan nggak lantas membuat hidup si perempuan tidak bermakna. Tidak memiliki momongan nggak membuat si perempuan lebih rendah dari perempuan lain. Bertanya kapan punya anak itu intrusif, gaslighting perempuan yang nggak mau punya anak itu nggak sopan, mocking perempuan yang nggak mau punya anak kalau dia akan berubah pikiran itu norak, menyebut perempuan yang nggak mau punya anak tidak bersyukur karena ada perempuan di luar sana pingin punya tapi malah nggak bisa itu nggak nyambung. Keputusan personal seseorang nggak harus bergantung pada realita orang lain. Kalian nggak perlu meminta si perempuan untuk memberikan alasan mereka yang masuk akal di pikiran kita, hanya supaya keputusan dia jadi valid. Perempuan bisa membuat keputusan atas diri mereka sendiri dan tubuh perempuan bukan untuk perdebatan kalian.

Lastly, gue nggak ngerti dengan pertanyaan yang sering dilontarkan ke gue, “Kalo dikasih hamil sama Allah, gimana?”. Mungkin yang nanya sering bolos pelajaran Biologi. Perempuan nggak akan tiba-tiba hamil kalau nggak ada pembuahan. Kecuali kalo lo Maryam (AS). Itu beda cerita.

You Might Also Like

61 Comments

  • Reply
    ana zaidah
    August 13, 2020 at 6:36 pm

    Hello kak git, terima kasih udh nulis apa yang menggajal dipikiran semua wanita, dan sekali lagi semua org harus tau bahwa semua wanita punya pilihan masing – masing. We just need respect and support

  • Reply
    Nabila
    August 14, 2020 at 3:00 pm

    Halo, Kak Gita! Seneng banget sama apa yang aku baca di sini, rasanya Kak Gita kaya mewakili apa yang ada di pikiran aku selama ini, yang bentuknya masih abstrak dan ga jelas, tapi Kak Gita bisa menata itu semua dengan rapi, sehingga aku bisa memahami apa yang aku pikirkan selama ini.

    Oiya, Kak, kalau boleh usul, apa Kak Gita bisa ajarin gimana caranya bikin website/blog buat pemula? Thanks, Kak! Terus sukses, and just be yourself!

  • Reply
    Rizki Purnama Sari
    August 15, 2020 at 9:58 am

    Wah setuju banget Kak Git, wanita berhak 100% atas tubuhnya. Sedih banget menyadari di Indonesia masih banyak orang-orang yang berpikir sotoy kaya Kak Odi itu. Selain tubuh, bahkan kebebasan untuk memilih dan memutuskan masa depan pun masih sering dihambat dan dipersulit, padahal perempuan berhak untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, perempuan berhak memiliki cita-cita sampai dia mati, tidak seharusnya impian dan pilihan hidup seorang manusia dibatasi hanya karena ia perempuan.

  • Reply
    Anisa Wahyu Adzkiya Atsar
    August 15, 2020 at 4:38 pm

    Hallo ka Gita seneng banget setelah baca tulisan ini harapannya banyak perempuan di luar sana yang terbuka cara berpikir nya support for you dari dulu sampai sekarang.

  • Reply
    Maysofa mubina
    August 16, 2020 at 11:39 am

    Jujur baru pertama kalinya bener bener memahami hal ini, karna selama ini cuma denger dari omongan orang aja yang mereka juga belum tentu paham arti PEREMPUAN itu sendiri. So, thank u very much. Beruntung bisa nemuin orang kaya ka gita.
    Semangat terus ya ka:)

  • Reply
    Titis
    August 16, 2020 at 11:48 am

    So happy gw bisa jadi perempuan yg bisa memutuskan mau atau tidak punya anak dan suami gw mendukung gw sepenuhnya. Dia gak pernah memaksakan hal yg berkaitan dg tubuh gw, ntah soal sex ataupun perkara punya anak. Gw tinggal menghadapi society aja sih. Ortu dan mertua yg kadang masih cukup bawel. Orang2 sekitar yg (sok) kasihan ama gw. Padahal gw nya happy2 aja. Atau orang2 yg bodoh banget mikir gw kerjaannya apa kalo ga ngurus anak? Like…dude! I have so much more hal2 buat dilakuin atau dipikirin selain perkara punya anak. Really! Gw juga gedeg banget sama aturan KULIAH – LULUS – KAWIN – BERANAK PINAK. Ya sok kalo mau gitu. Tp please jangan jadikan itu standar 🤣
    Lol.
    Oke git! Semangat buat kita! Tossss
    *rasanya pen gw SS trus share semuanya tp gw lagi males nanggepin komentar orang2 karena gw udah pernah nyampein gini dan orang2 malah makin gapaham maksud gw. Jadi yaudahlah…

  • Reply
    Rosiana
    August 16, 2020 at 12:04 pm

    Betul apa yang dituliskan kak Gita, sayangnya masih belum banyak orang-orang khususnya perempuan yang mengerti akan hal tersebut. Seakan menikah itu ditujukan untuk memiliki momongan saja, padahal menikah kan salah satu ibadah ya kak jadi masih banyak hal yang bikin pernikahan itu bermakna meskipun tidak/belum adanya momongan.

    Saya punya Bapak Ibu ke-2 (Sepupunya Ibu) mereka tidak punya momongan hingga saat ini bahkan usia mereka sudah tua, tapi mereka tetap memegang teguh makna pernikahan itu apa, mereka memaknai pernikahan itu bukan sekedar ditujukan untuk memiliki momongan dan istimewanya banyak anak-anak kecil yang sayang serta perhatian kepada mereka.

    Sedikit bercerita ya kak, hehe.
    Stay safe and stay healthy!

  • Reply
    Laila rahmah zahranie
    August 16, 2020 at 2:07 pm

    Hi kak gita, saya sangat setuju dengan tulisan kakak ini. Setiap orang berhak memutuskan apa yang ia ingin lakukan, kerjakan, putuskan dan miliki. Keputusan setiap orang itu adalah hak istimewa tersendiri, yang mana kita punya hak penuh atas hidup kita. Toh kita sendiri yang akan menanggung tanggung jawab atas diri kita di masa depan.
    Thanks kak gita, semoga selalu bisa membuat konten seperti ini

  • Reply
    syiffahasan
    August 16, 2020 at 3:32 pm

    Mungkin Kak Ode nggak tau kali ya🤔 kalau nikah itu bukan cuma buat bikin anak, tapi buat ibadah woyy.. terus klo punya anak eh malah nggak bisa ngurusin dan malah nelantarin bukan nya malah jadi dzalim :0

  • Reply
    Hendrik
    August 16, 2020 at 4:01 pm

    Perempuan yang diperdebatkan. Jadi buku nih seru mba git.

  • Reply
    Dewi Annisa Firdaus
    August 16, 2020 at 4:46 pm

    makasih banyak kak gita karena tulisan yang berkaitan perempuan saya jadi banyak belajar untuk lebih belajar mengenal diri sendiri dan melihat pendapat orang lain terutama kaum wanita untuk bisa lebih berani speak up tentang keluhannya sebagai perempuan di lingkungan society yang mungkin masih meyakini hal berkaitan dengan patriarki dalam sebuah keluarga kecil, ataupun dari keluarga besar atau bahkan dari lingkungan yang ada disekitar kita

  • Reply
    Al
    August 17, 2020 at 4:43 am

    Apa yg ditulis kak gita benar” menjadi bhan pnguat prinsip sya tntng mnjdi perempuan, tntang dri sya sndri.

  • Reply
    Adinda Salsabilla
    August 17, 2020 at 5:17 am

    Gabisa berkata kata apa lagi, di bukukan ka biar orang orang bosa open minded soal ini ❤

  • Reply
    Adinda Salsabilla
    August 17, 2020 at 5:18 am

  • Reply
    Rina Fitri
    August 17, 2020 at 7:33 am

    I’ve stayed away from socmed kak, dan itu rasanya bener2 calming. Beda sama kagit, yg bikin aku pengen puasa medsos justru karena kontennya. Apalagi Twitter ya. Segala hal yg diretweet, like, sama org, semua served in our timeline. Bener kata kak Kalis, timeline itu kayak pasar dan kadang kita perlu menepi dari lalu lalang itu. Kalo ngga pikiran bakalan berisik terus mempertanyakan ini itu.

  • Reply
    Anais
    August 17, 2020 at 8:20 am

    Halo kak Gita, aku seneng banget setiap kak Gita bahas masalah hak perempuan sebagai manusia kayak gini. Jujur sebagai perempuan yang baru berusia 19 tahun, baru masuk kuliah, baru ingin mengeksplor banyak pengalaman, aku capek udah diwanti-wanti terus sama ibuku soal nikah. Katanya jangan sampe ketuaan, nanti ga ada yang mau atau nnti ga bisa punya anak. Apalagi kakak perempuanku yg kedua sering nyinggung mau cariin jodoh buat aku. Padahal aku sendiri punya keinginan yang banyak untuk dilakuin, aku punya banyak mimpi yang mau aku kejar bukan sekedar tamat kuliah lalu nikah. Aku bukan kuliah untuk cari gelar dan dipandang berpendidikan oleh laki-laki lain, aku kuliah untuk diriku sendiri. Kadang sedih mikirin itu, gimana ke depannya dengan keputusan-keputusan yang mau aku ambil nanti yang pastinya berlawanan sm keluargaku. Aku harap nanti, aku berani memutuskan sendiri seperti apa hidup yang mau aku jalani sebagai perempuan. Semangat!

  • Reply
    Anais
    August 17, 2020 at 8:26 am

    Oh iya aku jdi keinget kutipan buku i am my own home yang ini ” the man who defined himself, who knew his own name from birth to death, usually had a woman at home to attend to the business of providing an emotional life, children, connectedness. A woman alone now doesn’t rest on that comfort; she doesn’t have a ready wife…”

  • Reply
    Verina
    August 17, 2020 at 6:58 pm

    Jadi teringat sama moment beberapa tahun yg lalu. Ada seorang lelaki mau berta’aruf, lewat perantaranya bilang kalau tujuannya mau menikah dan ingin segera punya anak. Jujur, belum mulai proses apapun rasanya jadi takut, lebih ke khawatir kalau nanti sudah menikah lalu tidak langsung hamil bagaimana nasibnya rumah tangga? Dan sebelum jauh melangkah aku mundur saja…

  • Reply
    nurmilia kadimin marto
    August 18, 2020 at 2:17 am

    baru aja beli buku Muslimah yang di Perdebatkan eh kak gita udah nulis lagi nih… baca dulu

  • Reply
    nurmilia kadimin marto
    August 18, 2020 at 2:42 am

    aku mulai ikutin kak gita waktu masih kuliah ditahun 2017 atas rekomendasi teman. waktu pertama kali ikutin kak gi aku terkagum” banget karena selain open minded aku berasa punya teman yg sepemikiran, selama ini aku mikir cara berpikirku aneh dan salah, tapi pemikiran yg kak gi tuangkan seperti menjawab atas pemikiranku, selama ini cara berpikir tidak aneh dan ada benarnya juga. sampai-sampai aku nonton semua vidio youtube kak gi, mulai dari daily act nya sampai opini”nya

    tapi ditahun 2018 aku sempat mulai nggak sependapat dan nggak suka lagi sama kak gi karena pemikiran kak gi mulai berlebihan, aku ngerasa gak sesuai ajaran agama kita. jadi aku sempat berhenti ngikuti kak gi

    tapi nggak tau kenapa aku malah berpikir, pemikiran kak gi masih ada yg sepemikiran sama aku, ok mungkin skarang ada pemikiran kak gi yg sepemikiran sama aku tpi bukan berarti aku harus membenci dan menjudge kak gi terlalu berlebih atau bebas atau apalah… dan gak tau kenapa aku butuh pemikiran kak gi supaya pikiran aku gak kemana-mana dan tertuangkan

    secara tidak sadar atas pemikiranku tentang gi, buat aku bsa dapat pemikiran baru tentang berbeda pendapat. okeleh kita berbeda pendapat tp jgn smpai membenci atau bahkan menjudge dan bsa sja berbeda pendapat kita hanya 30% saja, dan berbeda pemikiran bukan berarti org itu buruk… pemikiran sama sifat itu beda..

    ad org yg sifatnya gak bebas tapi open minded, ad yg sifatnya kalem tpi pemikirannya sempit…
    aku malah salut sama org yg bertato, bebas atau anak punk tpi open minded, solidaritasnya tinggi, bermasyrakat ketimbang org tinggi tapi syg gak open minded

    dan malah fakta yg aku dapat, yg dlunya aku mikir, apakah kak gi nntn kajian apa enggak. trnyta kak gi tuh bkan kayak kita” yg bru jga nntn kajian d ytb langsung di story, kak gi tuh malah nge privasi soal ibadahnya. malah aku jdi kagum banget, kajian ustad yg kak gi nntn tuh yg ilmu agamanya gak di ragukan lagi…

  • Reply
    Deden reinaldi
    August 18, 2020 at 9:25 am

    Yah, bener banget kadang karrna terlalu sering ngurusin hidup orang lain

    Kita malah “menjajah” orang dilingkarang kita sendiri

  • Reply
    Sekar Ilmi
    August 18, 2020 at 3:52 pm

    Yg gua notes smpe skrng adalah
    Semua perempuan bisa memiliki anak tapi ga semua perempuan bisa mendidik anak.
    Masalah pnya keturunan itu sensitif bgt,di kasih atau gak,mau atau gak,itu urusan orng lain.Kalo gua skrng lebih sering eksplore tentang parenting meski gatau nikahnya kapan dan masih pengen lanjut s2 juga.pengen ngelakuin apa yg ga sempet di lakuin sebelum akhirnya getting married dan keburu pnya keturunan dan akhirnya keturunan gue yg jd pelampiasan atas mimpi mimpi yg ga sempet kesampaian.

  • Reply
    De Ihat
    August 19, 2020 at 5:56 pm

    Tulisan Kak Gita emang berani dan jujur. Aku sebagai pembaca menilainya begitu. Tidak mudah lho bisa menulis seberani ini apalagi ini memang bertentangan dengan hal-hal yang sering terjadi di sekitar kita. Terima kasih Kak Git sudah menulis dengan jujur dan berani. Dari tulisan ini saya belajar untuk berani mengungkapkan apa yang tengah dirasa dan yang sedang difikirkan tanpa harus merasa takut dan komentar negatif orang-orang. 🙂

  • Reply
    fitriani, feb
    August 21, 2020 at 6:19 pm

    pandangan baru lagi, selalu salut sama keberanian kagit dalam menuliskan hal yang bertentangan dari yang sering terjadi di lingkungan kita, kayak yang… ini loh pointnya, kenapa begini, kenapa begitu. semua orang punya hak atas dirinya sendiri, jadi ya gak apa-apa kalau emang gak memenuhi yang katanya ‘standar’ begini begitunya orang lain.

  • Reply
    rimori
    August 22, 2020 at 2:40 pm

    mungkin ladang ibadah yang dipilih setelah menikah tidak dengan melahirkan, membesarkan anak, merawat dan mendidik anak menjadi yang lebih baik

  • Reply
    indah lestari
    August 22, 2020 at 3:46 pm

    Hi Gitt, thank you udah berani nuangin pemikiran ini. Jujur, di umur 21, di puncak kegalauan as a teenager yang lagi milih2 bakal kemana hidup nya setelah kuliah, ada satu ketakutan terbesar, I’m scared how’s life after throughing out my age in 21. I want to choose and make a big deal with my self, tapi gw takut bngt mengecewakan keluarga.

  • Reply
    Fara
    August 23, 2020 at 11:33 am

    Berbeda dengan kak Gita, aku pribadi belum menikah tapi sudah punya cita-cita jadi Ibu dan memang ingin melepas semua karirku.
    Tapi bahkan dari sekarang aja setiap aku mengutarakan keinginanku, teman-teman kerjaku bahkan sering tanya, “terus gelar S2 lo buat apa?” Atau “Lo jauh-jauh S2 di Tokyo cuma buat jadi ibu rumah tangga?”

    Memangnya salah kalau aku bercita-cita jadi Ibu? Tepatnya, memangnya salah kalau aku punya cita-cita menjadi Ibu yang berpendidikan tinggi?

    Intinya emang gak pernah ada yang bener di society kita kak Git.

  • Reply
    Addyna imadah
    August 25, 2020 at 2:01 pm

    Thankss gita, gw jadi sadar kalo tubuh gw itu hak gw. Gw pikir saat kelak jadi seorang istri gw harus totally menyerahkan diri ke suami, ternyata gw masih berhak atas tubuh gw. Rasanya kayk menghirup angin segar. So inspiringgg, spread love!

  • Reply
    Wira Suryawati
    August 25, 2020 at 5:31 pm

    Hai, kak git! Cuma mau bilang, aku sangat sangat suka dengan pemikiran kaka dan selalu ngikutin youtube kak (dengan kata lain, aku ngefans sama kaka :D). Wish, aku dapat berani ngomong dan berdiri di atas pemikiran dan pendapatku sendiri, seperti kaka. Salam dari Makassar kak 🖤

  • Reply
    Khatarina yustina lando
    August 28, 2020 at 6:03 am

    You made my mind open, thank you sist

  • Reply
    Oceania
    August 29, 2020 at 3:26 pm

    such a relief…
    semenjak quarantine, rasanya udah lamaa banget gak ngobrol atau bertukar opini dengan kawan puan yang lainnya. baca artikelnya kak gita, seperti diajak ngobrol. seru, asik dan to the point. thanks kak git ! 🙂

  • Reply
    Anissa Faiza
    August 29, 2020 at 4:04 pm

    Aku geram banget sama opininya kak Ode, gapaham aku, seolah idup di Indo bagi cewek tuh susahh bgt gegara social norms yg terlalu patriarki.

  • Reply
    alfilia
    August 29, 2020 at 6:13 pm

    Terima kasih atas tulisannya kak gita 🙂

  • Reply
    Gita
    August 31, 2020 at 10:14 am

    Thank you for saying this kak! even keluarga sendiri juga gitu. Kalau kata kakak sepupu aku sih karena pemahaman mereka yang masih kuno dan kita sudah jauh berkembang jadinya nggak cocok. Semua orang punya hak, dan laki-laki sama sekali nggak ada hak untuk meminta apa yang nggak kita suka dan mau. Kalau baca tulisan kakak aku jadi inget novel kim ji young born in 1982. Me personally mengurus diri sendiri adalah pekerjaan berat dan masih terus menerus dilakukan, tentunya ketika ada niat untuk menghidupi “manusia lain” kita juga udah harus punya persiapan yang amat sangat banyak, dan itu nggak mudah seperti yang dibilang orang.
    Aku sendiri ngerasain, budaya seperti itu masih nempel karena masih ada scene2 di sinetron ind*si*r contohnya yang merendahkan perempuan, menjadikan perempuan sebagai objek. mak gw nonton tiap hari juga :(((

  • Reply
    nana
    September 2, 2020 at 11:03 am

    Betul banget ka git! I am tottaly agree with u. Sumpah ini annoying banget sih. Boro boro kejadian kek gini di orang- orang seumuran kak gita, gue yang masih 17 tahun aja sering banget dapet pertanyaan atau statement kek gini. Gue heran kenapa temen- temen gue bisa se se-strict itu idupnya. Sering banget pas nongkrong bareng tu pada nyritain pengen nikah umur berapa, pengen punya anak berapa, well gue juga ga nge judge sih bcs itu iduonya mereka. Tapi giliran gue ditanyain, mereka selalu kayak mandang gue aneh gitu trus sok sok an ngenasehatin karena gue selalu jawab kalo gue bener- bener engga ada niatan buat punya anak. Even gue juga mikir kawin tuh entaran aja. Gue as a human being merasa kalo masih banyak hal di dunia ini yang bisa gue coba, gue pelajarin, gue jabanin. Gak cuma soal kawin aja. Lebih parahnya lagi gue pernah deket sama cowok dan sebenernya gue merasa gue sama si cowok ini tuh belum bener2 sedekt itu smpe dia ngomong2 in gimana kalo kita nikah nanti, gue bakal jadi istri dia, urusin dia, punya anak, terus dia yang bakal cari duit. What the fck, gue masih 17 tahun ya plis, kita belom sedeket itu dan lo ga punya hak buat ngomong kek gitu. Iya gue tau, bukan berarti omongan dia serius tapi gue muak denger kata- kata kek gitu. Karena dari awal deket dia aja dah kaya gitu sekarang gue jadi mikir 100x lagi. Cara pandang dia sm gue tentang perempuan itu bener bener beda. Anyway thanks banget ka git! Dunia ini emang butuh orang orang open minded kaya ka gita! <3

  • Reply
    Rizfna
    September 2, 2020 at 6:06 pm

    Hi kak Git. Awalnya lagi gabut karena gatau mau apa. Udah bosen sama sosmed. Terus iseng search “a cup of tea” karena udah lama bgt ga ngunjungin blog ini. Alhasil aku membaca artikelmu. Terima kasih telah mengutarakan perasaan perempuan selama ini. Senang bisa tahu kak Gita. Semangat terus ya, kak.

  • Reply
    orin saga
    September 3, 2020 at 5:24 pm

    wow

  • Reply
    Alfia
    September 5, 2020 at 5:08 am

    keren banget kak gita. jujur, kita sepemikiran.
    perempuan kan bukan hanya untuk lahir dan melahirkan, dia juga berhak memilih oponi hidupnya masing-masing. tapi ya gitu, masih banyak perspektif masyarakat (apalagi tetanggaku) yang menganggap perempuan itu tugasnya hanya, melahirkan, masak dan berdandan. siah, jujur ini (tadi itu), pemikiran yang paling ku benci. perempuan juga bisa memilki peran besar.

  • Reply
    R
    September 6, 2020 at 3:59 pm

    Makasih udah nambah wawasan yang belum familiar di lingkungan, karena tulisan ini saya jadi makin mempertanyakan tujuan dari segala tuntutan society 🧐

  • Reply
    olan
    September 11, 2020 at 6:04 pm

    bagus banget menambah wawasan

  • Reply
    Nica
    September 12, 2020 at 4:52 pm

    Kak gita, aku suka banget, akhirnya ada yang speak up tentang ini. People are calling me crazy when I say something like this even my family tho. I thought if no one understand me, but finally I found a lot of girls out there who had the same thought as mine <3

  • Reply
    Aurora
    September 12, 2020 at 7:20 pm

    Halo kak gita. Setuju banget sama apa yang ditulis sama kak gita. Karna setiap orang berhak nentuin hidupnya masing-masing dengan caranya sendiri bukan dengan cara orang lain. Terimakasih banyak kak!

  • Reply
    Arsyi Laila Mubarok
    September 13, 2020 at 12:26 pm

    Kalo aku pribadi sih, lebih baik memaksimalkan apa yang Allah udah berikan. dan yes emang betul kita punya hak atas diri kita, cuman gak 100%. Allah tetep bercampur tangan terhadap apa yang ingin Dia lakukan terhadap kita. aku belum menikah, tapi masih selow aja karena menurutku pernikahan itu ada timelineya masing2. dan kalo kelak aku dikasih kesempatan untuk punya keturunan, why not. itu hadiah dari Allah, dan kalo aku memilih untuk ‘tidak memiliki keturunan’ padahal aku mampu, takut di hisab di akhirat aja gitu huhuhu :'(… dannn kalo aku tidak diberikan kesempatan untuk memiliki keturunan. itu juga enggak masalah. karena itu diluar kekuasaan aku, dan bukan permasalahan yang harus aku khawatirkan secara berlebihan. toh Allah hanya menghisab apa yang Allah takdirkan pada kita, bukan yg tidak ditakdirkan.

    honestly baru buka pertama kali website kak gita, seru juga ya ternyata.. wkwkkwk. kalo kita ngeliat nya secara positive, jadi nambah insight. semangat kak gita <3

  • Reply
    Anindya
    September 15, 2020 at 12:59 pm

    Jujur kak Gita hebat banget untuk membicarakan hal yang cukup sensitif di indonesia dengan bahasa yang selogis mungkin. Serta sejauh pengetahuan aku tentang agama yang masih jauh dari kata ahli, tidak ada perintah yang mewajibkan wanita harus memiliki anak setelah menikah. Hanya saja menurut ku kak, Allah memberi kita anugrah untuk bisa mengandung dan menyusui karena memang ada kebaikan, manfaat, dan tujuan di baliknya. Aku berharap semoga suatu hari nanti ada seorang anak yang beruntung yang bisa memanggil kak Gita dengan sebutan ibu. Sehat dan sukses selalu ya kak!

  • Reply
    thariq
    September 24, 2020 at 6:29 am

    “Dari awal mau menikah, gue dan Paul udah memutuskan untuk nggak punya keturunan. Kebetulan gue juga bukan tipe orang yang bisa mesem-mesem aja kalau ditanyain ini. Jadi, kalau ada yang nanya kapan gue mau punya dedek bayi, gue akan jawab apa adanya, “Nggak mau punya.”. Biasanya yang nanya akan kaget, “Loh kok gitu?”. Nah, di poin ini gue akan menimbang-nimbang dengan siapa gue berbicara. Kalau dia keluarga gue atau siapapun yang ada hubungan dekat dengan gue, gue akan elaborasi. I don’t mind having to explain my reason to them because I know they genuinely care. Berbeda jika yang bertanya adalah orang yang sekadar gue kenal atau bahkan netizen. To be completely honest, gue nggak merasa mereka berhak untuk bertanya kenapa. Mau apapun alasan gue, mau itu masuk akal buat lo atau nggak, mau lo setuju apa nggak, kalo itu bukan rahim lo, lo nggak ada hak untuk berkomentar. As simple as that.”

    Saya setuju dengan kakak bahwa semua pasangan setelah menikah mempunyai hak untuk memiliki anak/tidak,

    Maaf, saya mau ingatkan kakak, untuk ‘orang yang sekadar gue kenal atau bahkan netizen’ itu punya hak untuk bertanya kepada kakak soal ini, ya walaupun (dalam hal ini) pertanyaan sensitif/privasi yang artinya kurang baik. Mereka punya hak untuk bertanya/komentar kepada kakak, tapi tidak wajib untuk menyetujui semua pernyataan/jawaban kakak.

    Saran saya, diperhatikan kembali kata-kata kakak ya. Mungkin maksud kakak juga sama seperti maksud saya.

  • Reply
    Ekaputri Cahya
    September 25, 2020 at 11:22 am

    halo kak gita! thanks for this opinion! point of view yg bisa aku ambil dari tulisan kak gita disini adalah kita sebagai sesama perempuan harus mendukung apapun pilihan perempuan yg lainnya. ketika ada seorang perempuan yg ingin memiliki keturunan tapi belum diberikan oleh Allah swt, kita sebagai perempuan jangan pernah menanyakan hal seperti “kapan punya anak?” “udah lama nikah tapi kok belum punya anak” kita gak pernah tau perjuangan dia untuk mendapatkan seorang anak. sama halnya dengan perempuan karir, ada kalanya perempuan karir lebih memilih untuk berkarir karena ingin memberikan fasilitas yg baik untuk anak-anaknya, apakah dengan menjadi perempuan karir menjadikan seorang perempuan tsb tidak melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu yg baik? . sooo intinya, kita gak pernah tau apa yg ada dibalik pilihan seseorang itu, justru kita sebagai sesama perempuan harus saling support apapun pilihan mereka, karena hanya diri mereka sendiri yg tau mana yg terbaik dan mana kebahagiaan mereka.

  • Reply
    Bima10
    September 28, 2020 at 12:49 pm

    Keep going kak, you know what’s the best for you. Setiap keputusan yang diambil dengan kesadaran penuh dan kesepakatan antar pasangan seharusnya bisa dihormati, bukannya ditanggapi dgn memaksakan pendapatnya sendiri. Sehat selalu buat kak gita and keep inspiring 🙏

  • Reply
    Green
    September 28, 2020 at 2:51 pm

    Setelah menjelajah dunia entah ketemu siapa dibelahan dunia mana ,suatu saat gita mungkin akan berubah pikiran kalo punya anak itu seruu…apalagi anakny tumbuh di negara yg udh maju trus punya ibu yg super cerdas, yg pastinya tau gimana caranya ngerawat anak tanpa bikin trauma dimasa depan…cuma khayalan, ga ada yg tau masa depan juga kan…

  • Reply
    erliana fahmadini
    September 29, 2020 at 8:45 am

    Thanks kk untuk tulisannya 🙂

  • Reply
    smarty
    September 29, 2020 at 12:59 pm

    semoga anda tidak menyesali pilihan anda
    tetaplah belajar hingga anda mendapat pencerahan dari Nya

  • Reply
    nur fadhila
    September 29, 2020 at 6:10 pm

    hai kak gita btw seneng banget punya acuan buat open minded. apa yang kak gita tulis relate banget apalagi di bagian perempuan itu lebih multitasking daripada laki”. meanwhile aku juga kadang bisa ilang fokus kalo ngelakuin pekerjaan more than two jobs.

  • Reply
    Gita Savitri Devi
    September 30, 2020 at 11:17 am

    To Smarty:

    Kak, respon seperti ini adalah salah satu bentuk respon yang insensitive untuk diberikan ke orang yang tidak mau punya anak. Lagipula kalau mau blak-blakan soal penyesalan, banyak juga kok orang tua yang menyesal punya anak. Sayangnya ini jarang dibicarakan aja karena dianggap terlalu dosa dan dikira nanti si orang tua tidak sayang sama anaknya.

  • Reply
    Gita Savitri Devi
    September 30, 2020 at 11:19 am

    To Green:
    Jalan-jalan dan melakukan hal lain juga seru kok, Kak. Nggak mesti dengan momong anak hehe

  • Reply
    hanum
    September 30, 2020 at 2:04 pm

    Gue setuju kak sama perndapat kakak, semua wanita berhak menentukan kemana mereka mau berarah, setiap wanita punya proses hidup masing-masing. Selama kita berbuat baik dan ga ngelewatin line yang ada ga masalah dong. Bukan pelanggaran hukum! owner dari tubuh kita ya kita, bukan orang lain. Selama kita berbuat baik tanpa merugikan orang lain, ga ada yang salah.

  • Reply
    Shining
    September 30, 2020 at 5:31 pm

    Hai Git, akhirnya mampir ke blog kamu dan nemuin post terakhir yang keren banget. Kenapa? Baru kali ini aku baca opini dan penulisan tentang hak perempuan untuk freechild yang lugas dan to the point.
    Ini bisa jadi bahan pertimbangan aku nanti kalau mau ngomong sama keluarga atau pasangan aku nanti. Insya Allah.
    Sebelumnya aku juga sudah pernah ngomong sama saudara aku buat freechild, responnya netral. Bahkan beliau ingetin aku kalau mungkin saja ini pikiran sesaat. Ngga masalah, beliau punya hak untuk merespon pemikiran aku yang mau freechild.
    Sejauh ini kalau lagi kumpul keluarga, aku selalu ngomongin hal ini ke mereka.
    Semuanya normal untuk pro dan kontra bahkan netral, sama normalnya dengan pilihan aku sekarang.
    Terima kasih, buat bacaan yang semenarik ini setelah lama banget ngga baca.

  • Reply
    Nabilah Kusuma
    September 30, 2020 at 9:08 pm

    Wahh, selalu suka dengan cara pikir kak Gita.

  • Reply
    Abu Amaniy
    September 30, 2020 at 11:40 pm

    Fitrah manusia dan makhluk hidup lainnya adalah memiliki keturunan, dan itu baik (secara umum). Banyak kebaikan yang bisa diperoleh dengan memiliki keturunan. Mungkin si penanya berharap kebaikan untuk yang ditanya walaupun pada akhirnya mengambil cara dan respon yang salah dan ga bisa dibenarkan.

    Tapi… kalau ada satu dan lain hal penting yang mendasari keputusan untuk tidak memiliki keturunan juga harus dihormati, sipenanya hendaknya berpikir positif bahwa ada alasan “bukan kaleng-kaleng” dibalik keputusan itu dan berhenti sampai titik dimana yang ditanya tidak berkenan menjawab.

    Sebagai salah satu follower mbak Gita di kanal sebelah walaupun pasif, saya berharap kebaikan untuk keluarga mas Paul dan mbak Gita termasuk dalam hal memiliki keturunan (ini pandangan pribadi sebagai muslim). Semoga apapun keputusan yang diambil, ada alasan yang memang mengharuskan untuk mengambil keputusan itu.

    Saran aja, boleh diterima atau enggak, kalo ada yang nanya lagi cukup dijawab “Doain aja yang terbaik…” untuk menghindari perdebatan siapa yang benar dan salah, karna kebenaran mutlak datang dari TUHAN dan kita cuma pengamat tanda-tanda dariNYA

  • Reply
    Fitriaaana
    October 3, 2020 at 1:21 am

    I’ve been a fan of your writing. Beside I feel lot relatable of what you’ve experience and what you’ve thought, I also admire every single words that you’re trying to put through, you presents your opinion really really well. Keep it up kak git, please keep writing. You’re words help and support tons of people out there, including me. May Allah bless you and Kak Paul always❤

  • Reply
    Frisca
    October 9, 2020 at 3:21 pm

    yah jadi gak bisa baca blog lamanya kak gita lagi deh… dari yang cerita pergi kemonas itu sampe inget yang kejadian 44 hari di RS sendirian disana..
    padahal seru banget baca curhatan ttg kehidupan dari awal perkuliahan di Jerman. tadinya tu kangen pengen baca lagi blog nya ka gita, ternyata blog yg lama udh dihapus 🙁

  • Reply
    Fafa
    October 10, 2020 at 2:50 am

    Kadang aku merasa diriku aneh, tapi setelah membaca ini aku merasa lega ternyata bukan aku yang “gila”.

  • Reply
    Marsha
    October 21, 2020 at 6:00 pm

    Betul git, kadang kasian perempuan itu pressure nya byk. Aku udh married dan ga ingin punya ank. Byk tmenku yg punya baby blues & depresi pasca pnya anak tpi org” kejam bgt, msh aja ngatain mrk yg engga” gendutlah, ga bisa rawat ank lah, nyalahin lahiran cesar.
    Banyak tmn” aku yg nyesel jd ortu, krn mrk ga nyangka punya ank bakal sesulit itu.. kdg org” cuma post anknya di medsos yg bagus” tpi realitanya ga seindah itu.
    Aku harap dgn tulisan gita ini perempuan lain bisa lebih bijak dan kritis klu ambil keputusan, ga ada yg salah mau childfree atau punya ank yg penting tau pro kontranya. Klu ngikutin kata” Netizen ga akan endingnya.

Leave a Reply