Ngomong Sendiri

Perempuan yang Diperdebatkan

Dua hari yang lalu Sakti nelfon gue. Gue pikir ada hal yang darurat. Eh, taunya dia lagi mumet ngerjain tugas akhir dan cari selingan pengen ngobrol. Biasanya kalau gue sama dia telfonan, kami saling bertukar cerita. Karena kolam konten yang gue dan Sakti konsumsi di internet cukup berbeda, gue sering berbagi cerita tentang konten-konten menarik yang gue dapat. Sakti lebih sering memberi update-an soal Berlin. Maklum, sejak gue pindah ke Hamburg gue udah nggak tau apa-apa lagi soal kisah ibukota. Alhasil Sakti jadi salah satu sumber beritanya.

Dia cerita kalau dia lagi puasa media sosial. Tujuannya adalah ingin menetralisir otak dia lagi dalam menggunakan medsos kayak Instagram atau Twitter dan memakainya karena memang mau lihat apa yang terjadi di platform tersebut, bukan karena reflek. Itu ide bagus, sih. Gue pun kalau buka medsos seringkali karena reflek. Karena nggak tau lagi mau lihat apa. Padahal fungsi hape ada banyak.

Dari tahun lalu gue udah berwacana untuk istirahat dulu mainan medsos, tapi sampai sekarang belum juga gue lakuin. Apalagi sejak pandemi gini, waktu yang gue punya banyak gue habiskan scrolling timeline. Sebenarnya yang bikin kenapa gue mesti stay away dari medsos buat gue pribadi bukan kontennya. Di Instagram, Twitter, dan YouTube gue banyak mengikuti akun-akun yang informatif. Gue banyak banget dapat pengetahuan baru. Yang bikin gue suka gumoh adalah kelakuan orang-orangnya. Terlebih beberapa tahun belakangan ini.

Dari awal gue mulai aktif dan eksis di media sosial, yaitu tahun 2016, gue mulai banyak dihadapi pertanyaan-pertanyaan ciri khas warga +62 yaitu “Kapan mau nikah, Kak?”. Gue yakin banyak yang risih sama pertanyaan ini. Gue pun juga risih. Pertama, bahkan Nyokap gue sendiri menyarankan gue untuk nggak cepat-cepat kawin. Kedua, yang bayarin nikahan adalah gue sendiri. Kalau gue belom ada keinginan melanjutkan hubungan dan nggak ada duit, gue nggak akan kawin. Tapi tetap aja netijen selalu kepo seakan-akan mau ngasih sumbangan buat bikin pelaminan.

Setelah gue akhirnya kawin dua tahun lalu, gue pikir hidup gue akan lebih tentram. Ternyata nggak. Warga Endonesah ujug-ujug muncul dengan pertanyaan lanjutan, “Kapan mau punya anak, Kak?”. Kalo kata temen gue yang udah punya anak sih hal-hal tersebut nggak akan pernah berhenti. Bahkan kalau lo udah punya anak pun, lo akan ditanya kapan mau nambah. Udah kayak di rumah makan Padang. Cuma satu hal yang nggak ditanya warga +62 yaitu kapan kita mati. Mungkin menurut mereka pertanyaan ini terlalu ekstrim. Oke, noted.

Kekesalan yang gue miliki ini valid. Menurut gue mempertanyakan urusan rahim perempuan itu nggak sopan dan menginvasi privasi. Namun seperti yang kita semua ketahui, nggak semua orang ngerti soal privasi. Jangankan rahim, wong masih banyak yang gampang aja ngasih nomor pribadi orang lain tanpa izin.

Mungkin lo berpikir, “Yah, Git. Kalau dengerin omongan netizen tuh nggak ada habisnya. Diemin aja.”. Gue juga maunya gitu. Gue juga berharap gue bisa diam aja dan worry-free selamanya. Tapi berdiam diri ketika lo ditanya berkali-kali hampir setiap hari sama bermacam-macam orang ternyata nggak gampang. Terlebih jika jawaban gue kembali dipertanyakan dan mereka menuntut penjelasan. Apalagi gue orangnya hyper sensitif. Makin-makin nggak bisa diam aja. Yang ada gedegnya gue makin numpuk.

Lama-lama kuping panas, Bos.

Dari awal mau menikah, gue dan Paul udah memutuskan untuk nggak punya keturunan. Kebetulan gue juga bukan tipe orang yang bisa mesem-mesem aja kalau ditanyain ini. Jadi, kalau ada yang nanya kapan gue mau punya dedek bayi, gue akan jawab apa adanya, “Nggak mau punya.”. Biasanya yang nanya akan kaget, “Loh kok gitu?”. Nah, di poin ini gue akan menimbang-nimbang dengan siapa gue berbicara. Kalau dia keluarga gue atau siapapun yang ada hubungan dekat dengan gue, gue akan elaborasi. I don’t mind having to explain my reason to them because I know they genuinely care. Berbeda jika yang bertanya adalah orang yang sekadar gue kenal atau bahkan netizen. To be completely honest, gue nggak merasa mereka berhak untuk bertanya kenapa. Mau apapun alasan gue, mau itu masuk akal buat lo atau nggak, mau lo setuju apa nggak, kalo itu bukan rahim lo, lo nggak ada hak untuk berkomentar. As simple as that.

Beberapa kali gue mendapati orang-orang yang menjadikan tubuh gue sebagai topik pembicaraan. Tapi perkataan netijen yang satu ini menurut gue paling kelewat batas dan kurang ajar.

Gue nggak tau ada berapa juta manusia yang memiliki cara berpikir seperti Kak Ode. Namun yang jelas buat gue orang-orang seperti Kak Ode adalah tipe manusia yang sebaiknya tidak dicontoh yaitu manusia sotoy, entitled, and clearly he does not know his place.

Perkara memutuskan untuk nggak punya anak sebenarnya nggak ada hubungannya dengan tertutup atau terbukanya pikiran orang tersebut. Ini sebenarnya hanya soal hak asasi perempuan aja. Perempuan, sebagai pemilik rahim, berhak untuk memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya dia. Dan yang menurut gue juga nggak kalah penting adalah sebagai perempuan, gue memiliki kewajiban untuk unlearn, relearn, & reprogram gagasan soal keperempuanan yang terpatri di otak gue. Termasuk soal motherhood.

Sebagai perempuan, gue dulu berpikir bahwa menjadi seorang ibu adalah the ultimate thing. Karena selama gue tumbuh besar, gue sering sekali mendengar omongan-omongan yang menyudutkan perempuan yang tidak punya anak entah itu karena pilihannya atau karena memang dia tidak bisa. Perempuan-perempuan yang nggak punya keturunan seringkali dikasihani. Dikasihani karena hidup sendirian sampai akhir hayat itu dianggap menyedihkan dan seakan-akan tanpa anak hidup dan pengalaman si perempuan tidak lengkap. Dikasihani seakan-akan mereka perempuan gagal.

Ada kepercayaan umum di masyarakat bahwa perempuan yang nggak melahirkan buah hati bukan lah perempuan yang sesungguhnya. Menurut sebagian orang, mengandung janin selama 9 bulan dan melahirkan adalah keajaiban dan baru lah setelah kita mengalami sendiri keajaiban tersebut, kita resmi menjadi perempuan. Ya, gue setuju, science can be very impressive. Tapi gue nggak setuju bahwa femininitas harus berakar dari sana. Selain hal tersebut sangat shallow, mengukur keperempuanan dari kapabilitas mereka menghasilkan anak sudah termasuk pelanggaran otonomi tubuh perempuannya sendiri and that’s such a patriachal mindset to have.

Karena cara berpikir seperti ini lah yang membuat laki-laki seperti Kak Ode bisa merasa berhak dan lancang berkomentar tentang pilihan gue, seorang perempuan. Laki-laki seperti Kak Ode merasa berhak atas tubuh istrinya. Dia merasa nggak ada poin dari pernikahan jika tidak punya anak dari rahim istrinya sendiri. Sorry to break your entitled bubble, but her uterus is not yours. Menikah dengan istri bukan berarti lo memiliki tubuh istri lo.

Gara-gara orang seperti Kak Ode, bertahun-tahun perempuan menganggap dirinya nggak punya pilihan dan merasa diri dia bukan milik dia sendiri karena dihadapi banyaknya perbincangan atas tubuhnya dari orangtuanya, suami, mertua, bahkan saudara dan teman-temannya. Entah berapa ribu perempuan yang hamil dan punya anak karena beranggapan bahwa memiliki anak adalah langkah selanjutnya dan langkah satu-satunya setelah berumah tangga. Entah ada berapa perempuan di luar sana yang merasa sedih dan tidak berharga karena dia nggak bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Entah berapa banyak perempuan di luar sana yang akhirnya tidak sadar betul dan tidak mempertanyakan keinginannya memiliki buah hati. Betul-betul karena keinginan sendiri atau karena norma dalam masyakarat? Karena memang ingin menjadi ibu atau karena mertua ingin punya cucu? Karena ingin beribadah atau hanya untuk investasi akhirat? Karena memang ingin mencetak individu yang cemerlang atau supaya nanti ada yang mengurus di hari tua dan mendoakan jika meninggal dunia? Entah berapa banyak perempuan yang menginternalisasi narasi patriarki ini dan kemudian merendahkan perempuan lain yang tidak memiliki momongan?

Yang kemudian bikin gue geram adalah setelah suami, keluarga, dan masyarakat sekitar memaksa si perempuan untuk memiliki keturunan, tidak jarang orang-orang tersebut kemudian menumpahkan semua kewajiban mengurus anak ke si perempuan saja tanpa peduli gimana keadaannya. Si penuntut nggak peduli bagaimana kesehatan mental si ibu yang baru aja melahirkan, cuma bisa memproduksi sedikit ASI atau bahkan nggak sama sekali, kebingungan karena bayinya nangis terus.

Si perempuan dituntut untuk memiliki multiperan; sebagai istri yang tetap memasak dan mencuci baju suami, sebagai ibu yang harus menyiapkan makanan, ganti popok, dan siap sedia kalau si anak tiba-tiba terbangun di malam hari, dan sebagai wanita karir jika dia memutuskan untuk tetap ingin memprioritaskan dirinya sendiri. Kalau keteteran di salah satu peran aja, akan ada macam-macam omongan tetangga. “Ih, kok suami mau makan malam malah disuruh masak sendiri?”, “Gimana sih itu anaknya kurus banget. Apa nggak diurus?”, “Kok kamu kerja terus sih? Tega banget nelantarin anak.”. Sementara si laki-laki bisa bebas aja mau nongkrong-nongkrong di cafe sama kolega.

Ada mitos yang beredar, katanya perempuan lebih jago multitasking ketimbang laki-laki. Ini salah besar. Perempuan dan laki-laki sama-sama nggak bisa melakukan banyak kegiatan dalam satu waktu. Hanya aja selama ini perempuan terpaksa untuk jadi superwoman karena mereka dituntut demikian.

I think I made my point clear: Tidak memiliki momongan nggak lantas membuat hidup si perempuan tidak bermakna. Tidak memiliki momongan nggak membuat si perempuan lebih rendah dari perempuan lain. Bertanya kapan punya anak itu intrusif, gaslighting perempuan yang nggak mau punya anak itu nggak sopan, mocking perempuan yang nggak mau punya anak kalau dia akan berubah pikiran itu norak. Tubuh perempuan bukan untuk perdebatan kalian.

Lastly, gue nggak ngerti dengan pertanyaan yang sering dilontarkan ke gue, “Kalo dikasih hamil sama Allah, gimana?”. Mungkin yang nanya sering bolos pelajaran Biologi. Perempuan nggak akan tiba-tiba hamil kalau nggak ada pembuahan. Kecuali kalo lo Maryam (AS). Itu beda cerita.

You Might Also Like

44 Comments

  • Reply
    ana zaidah
    August 13, 2020 at 6:36 pm

    Hello kak git, terima kasih udh nulis apa yang menggajal dipikiran semua wanita, dan sekali lagi semua org harus tau bahwa semua wanita punya pilihan masing – masing. We just need respect and support

  • Reply
    Nabila
    August 14, 2020 at 3:00 pm

    Halo, Kak Gita! Seneng banget sama apa yang aku baca di sini, rasanya Kak Gita kaya mewakili apa yang ada di pikiran aku selama ini, yang bentuknya masih abstrak dan ga jelas, tapi Kak Gita bisa menata itu semua dengan rapi, sehingga aku bisa memahami apa yang aku pikirkan selama ini.

    Oiya, Kak, kalau boleh usul, apa Kak Gita bisa ajarin gimana caranya bikin website/blog buat pemula? Thanks, Kak! Terus sukses, and just be yourself!

  • Reply
    Rizki Purnama Sari
    August 15, 2020 at 9:58 am

    Wah setuju banget Kak Git, wanita berhak 100% atas tubuhnya. Sedih banget menyadari di Indonesia masih banyak orang-orang yang berpikir sotoy kaya Kak Odi itu. Selain tubuh, bahkan kebebasan untuk memilih dan memutuskan masa depan pun masih sering dihambat dan dipersulit, padahal perempuan berhak untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, perempuan berhak memiliki cita-cita sampai dia mati, tidak seharusnya impian dan pilihan hidup seorang manusia dibatasi hanya karena ia perempuan.

  • Reply
    Anisa Wahyu Adzkiya Atsar
    August 15, 2020 at 4:38 pm

    Hallo ka Gita seneng banget setelah baca tulisan ini harapannya banyak perempuan di luar sana yang terbuka cara berpikir nya support for you dari dulu sampai sekarang.

  • Reply
    Maysofa mubina
    August 16, 2020 at 11:39 am

    Jujur baru pertama kalinya bener bener memahami hal ini, karna selama ini cuma denger dari omongan orang aja yang mereka juga belum tentu paham arti PEREMPUAN itu sendiri. So, thank u very much. Beruntung bisa nemuin orang kaya ka gita.
    Semangat terus ya ka:)

  • Reply
    Titis
    August 16, 2020 at 11:48 am

    So happy gw bisa jadi perempuan yg bisa memutuskan mau atau tidak punya anak dan suami gw mendukung gw sepenuhnya. Dia gak pernah memaksakan hal yg berkaitan dg tubuh gw, ntah soal sex ataupun perkara punya anak. Gw tinggal menghadapi society aja sih. Ortu dan mertua yg kadang masih cukup bawel. Orang2 sekitar yg (sok) kasihan ama gw. Padahal gw nya happy2 aja. Atau orang2 yg bodoh banget mikir gw kerjaannya apa kalo ga ngurus anak? Like…dude! I have so much more hal2 buat dilakuin atau dipikirin selain perkara punya anak. Really! Gw juga gedeg banget sama aturan KULIAH – LULUS – KAWIN – BERANAK PINAK. Ya sok kalo mau gitu. Tp please jangan jadikan itu standar 🀣
    Lol.
    Oke git! Semangat buat kita! Tossss
    *rasanya pen gw SS trus share semuanya tp gw lagi males nanggepin komentar orang2 karena gw udah pernah nyampein gini dan orang2 malah makin gapaham maksud gw. Jadi yaudahlah…

  • Reply
    Rosiana
    August 16, 2020 at 12:04 pm

    Betul apa yang dituliskan kak Gita, sayangnya masih belum banyak orang-orang khususnya perempuan yang mengerti akan hal tersebut. Seakan menikah itu ditujukan untuk memiliki momongan saja, padahal menikah kan salah satu ibadah ya kak jadi masih banyak hal yang bikin pernikahan itu bermakna meskipun tidak/belum adanya momongan.

    Saya punya Bapak Ibu ke-2 (Sepupunya Ibu) mereka tidak punya momongan hingga saat ini bahkan usia mereka sudah tua, tapi mereka tetap memegang teguh makna pernikahan itu apa, mereka memaknai pernikahan itu bukan sekedar ditujukan untuk memiliki momongan dan istimewanya banyak anak-anak kecil yang sayang serta perhatian kepada mereka.

    Sedikit bercerita ya kak, hehe.
    Stay safe and stay healthy!

  • Reply
    Laila rahmah zahranie
    August 16, 2020 at 2:07 pm

    Hi kak gita, saya sangat setuju dengan tulisan kakak ini. Setiap orang berhak memutuskan apa yang ia ingin lakukan, kerjakan, putuskan dan miliki. Keputusan setiap orang itu adalah hak istimewa tersendiri, yang mana kita punya hak penuh atas hidup kita. Toh kita sendiri yang akan menanggung tanggung jawab atas diri kita di masa depan.
    Thanks kak gita, semoga selalu bisa membuat konten seperti ini

  • Reply
    syiffahasan
    August 16, 2020 at 3:32 pm

    Mungkin Kak Ode nggak tau kali yaπŸ€” kalau nikah itu bukan cuma buat bikin anak, tapi buat ibadah woyy.. terus klo punya anak eh malah nggak bisa ngurusin dan malah nelantarin bukan nya malah jadi dzalim :0

  • Reply
    Hendrik
    August 16, 2020 at 4:01 pm

    Perempuan yang diperdebatkan. Jadi buku nih seru mba git.

  • Reply
    Dewi Annisa Firdaus
    August 16, 2020 at 4:46 pm

    makasih banyak kak gita karena tulisan yang berkaitan perempuan saya jadi banyak belajar untuk lebih belajar mengenal diri sendiri dan melihat pendapat orang lain terutama kaum wanita untuk bisa lebih berani speak up tentang keluhannya sebagai perempuan di lingkungan society yang mungkin masih meyakini hal berkaitan dengan patriarki dalam sebuah keluarga kecil, ataupun dari keluarga besar atau bahkan dari lingkungan yang ada disekitar kita

  • Reply
    Al
    August 17, 2020 at 4:43 am

    Apa yg ditulis kak gita benar” menjadi bhan pnguat prinsip sya tntng mnjdi perempuan, tntang dri sya sndri.

  • Reply
    Adinda Salsabilla
    August 17, 2020 at 5:17 am

    Gabisa berkata kata apa lagi, di bukukan ka biar orang orang bosa open minded soal ini ❀

  • Reply
    Adinda Salsabilla
    August 17, 2020 at 5:18 am

    ❀

  • Reply
    Rina Fitri
    August 17, 2020 at 7:33 am

    I’ve stayed away from socmed kak, dan itu rasanya bener2 calming. Beda sama kagit, yg bikin aku pengen puasa medsos justru karena kontennya. Apalagi Twitter ya. Segala hal yg diretweet, like, sama org, semua served in our timeline. Bener kata kak Kalis, timeline itu kayak pasar dan kadang kita perlu menepi dari lalu lalang itu. Kalo ngga pikiran bakalan berisik terus mempertanyakan ini itu.

  • Reply
    Anais
    August 17, 2020 at 8:20 am

    Halo kak Gita, aku seneng banget setiap kak Gita bahas masalah hak perempuan sebagai manusia kayak gini. Jujur sebagai perempuan yang baru berusia 19 tahun, baru masuk kuliah, baru ingin mengeksplor banyak pengalaman, aku capek udah diwanti-wanti terus sama ibuku soal nikah. Katanya jangan sampe ketuaan, nanti ga ada yang mau atau nnti ga bisa punya anak. Apalagi kakak perempuanku yg kedua sering nyinggung mau cariin jodoh buat aku. Padahal aku sendiri punya keinginan yang banyak untuk dilakuin, aku punya banyak mimpi yang mau aku kejar bukan sekedar tamat kuliah lalu nikah. Aku bukan kuliah untuk cari gelar dan dipandang berpendidikan oleh laki-laki lain, aku kuliah untuk diriku sendiri. Kadang sedih mikirin itu, gimana ke depannya dengan keputusan-keputusan yang mau aku ambil nanti yang pastinya berlawanan sm keluargaku. Aku harap nanti, aku berani memutuskan sendiri seperti apa hidup yang mau aku jalani sebagai perempuan. Semangat!

  • Reply
    Anais
    August 17, 2020 at 8:26 am

    Oh iya aku jdi keinget kutipan buku i am my own home yang ini ” the man who defined himself, who knew his own name from birth to death, usually had a woman at home to attend to the business of providing an emotional life, children, connectedness. A woman alone now doesn’t rest on that comfort; she doesn’t have a ready wife…”

  • Reply
    Verina
    August 17, 2020 at 6:58 pm

    Jadi teringat sama moment beberapa tahun yg lalu. Ada seorang lelaki mau berta’aruf, lewat perantaranya bilang kalau tujuannya mau menikah dan ingin segera punya anak. Jujur, belum mulai proses apapun rasanya jadi takut, lebih ke khawatir kalau nanti sudah menikah lalu tidak langsung hamil bagaimana nasibnya rumah tangga? Dan sebelum jauh melangkah aku mundur saja…

  • Reply
    nurmilia kadimin marto
    August 18, 2020 at 2:17 am

    baru aja beli buku Muslimah yang di Perdebatkan eh kak gita udah nulis lagi nih… baca dulu

  • Reply
    nurmilia kadimin marto
    August 18, 2020 at 2:42 am

    aku mulai ikutin kak gita waktu masih kuliah ditahun 2017 atas rekomendasi teman. waktu pertama kali ikutin kak gi aku terkagum” banget karena selain open minded aku berasa punya teman yg sepemikiran, selama ini aku mikir cara berpikirku aneh dan salah, tapi pemikiran yg kak gi tuangkan seperti menjawab atas pemikiranku, selama ini cara berpikir tidak aneh dan ada benarnya juga. sampai-sampai aku nonton semua vidio youtube kak gi, mulai dari daily act nya sampai opini”nya

    tapi ditahun 2018 aku sempat mulai nggak sependapat dan nggak suka lagi sama kak gi karena pemikiran kak gi mulai berlebihan, aku ngerasa gak sesuai ajaran agama kita. jadi aku sempat berhenti ngikuti kak gi

    tapi nggak tau kenapa aku malah berpikir, pemikiran kak gi masih ada yg sepemikiran sama aku, ok mungkin skarang ada pemikiran kak gi yg sepemikiran sama aku tpi bukan berarti aku harus membenci dan menjudge kak gi terlalu berlebih atau bebas atau apalah… dan gak tau kenapa aku butuh pemikiran kak gi supaya pikiran aku gak kemana-mana dan tertuangkan

    secara tidak sadar atas pemikiranku tentang gi, buat aku bsa dapat pemikiran baru tentang berbeda pendapat. okeleh kita berbeda pendapat tp jgn smpai membenci atau bahkan menjudge dan bsa sja berbeda pendapat kita hanya 30% saja, dan berbeda pemikiran bukan berarti org itu buruk… pemikiran sama sifat itu beda..

    ad org yg sifatnya gak bebas tapi open minded, ad yg sifatnya kalem tpi pemikirannya sempit…
    aku malah salut sama org yg bertato, bebas atau anak punk tpi open minded, solidaritasnya tinggi, bermasyrakat ketimbang org tinggi tapi syg gak open minded

    dan malah fakta yg aku dapat, yg dlunya aku mikir, apakah kak gi nntn kajian apa enggak. trnyta kak gi tuh bkan kayak kita” yg bru jga nntn kajian d ytb langsung di story, kak gi tuh malah nge privasi soal ibadahnya. malah aku jdi kagum banget, kajian ustad yg kak gi nntn tuh yg ilmu agamanya gak di ragukan lagi…

  • Reply
    Deden reinaldi
    August 18, 2020 at 9:25 am

    Yah, bener banget kadang karrna terlalu sering ngurusin hidup orang lain

    Kita malah “menjajah” orang dilingkarang kita sendiri

  • Reply
    Sekar Ilmi
    August 18, 2020 at 3:52 pm

    Yg gua notes smpe skrng adalah
    Semua perempuan bisa memiliki anak tapi ga semua perempuan bisa mendidik anak.
    Masalah pnya keturunan itu sensitif bgt,di kasih atau gak,mau atau gak,itu urusan orng lain.Kalo gua skrng lebih sering eksplore tentang parenting meski gatau nikahnya kapan dan masih pengen lanjut s2 juga.pengen ngelakuin apa yg ga sempet di lakuin sebelum akhirnya getting married dan keburu pnya keturunan dan akhirnya keturunan gue yg jd pelampiasan atas mimpi mimpi yg ga sempet kesampaian.

  • Reply
    De Ihat
    August 19, 2020 at 5:56 pm

    Tulisan Kak Gita emang berani dan jujur. Aku sebagai pembaca menilainya begitu. Tidak mudah lho bisa menulis seberani ini apalagi ini memang bertentangan dengan hal-hal yang sering terjadi di sekitar kita. Terima kasih Kak Git sudah menulis dengan jujur dan berani. Dari tulisan ini saya belajar untuk berani mengungkapkan apa yang tengah dirasa dan yang sedang difikirkan tanpa harus merasa takut dan komentar negatif orang-orang. πŸ™‚

  • Reply
    fitriani, feb
    August 21, 2020 at 6:19 pm

    pandangan baru lagi, selalu salut sama keberanian kagit dalam menuliskan hal yang bertentangan dari yang sering terjadi di lingkungan kita, kayak yang… ini loh pointnya, kenapa begini, kenapa begitu. semua orang punya hak atas dirinya sendiri, jadi ya gak apa-apa kalau emang gak memenuhi yang katanya β€˜standar’ begini begitunya orang lain.

  • Reply
    rimori
    August 22, 2020 at 2:40 pm

    mungkin ladang ibadah yang dipilih setelah menikah tidak dengan melahirkan, membesarkan anak, merawat dan mendidik anak menjadi yang lebih baik

  • Reply
    indah lestari
    August 22, 2020 at 3:46 pm

    Hi Gitt, thank you udah berani nuangin pemikiran ini. Jujur, di umur 21, di puncak kegalauan as a teenager yang lagi milih2 bakal kemana hidup nya setelah kuliah, ada satu ketakutan terbesar, I’m scared how’s life after throughing out my age in 21. I want to choose and make a big deal with my self, tapi gw takut bngt mengecewakan keluarga.

  • Reply
    Fara
    August 23, 2020 at 11:33 am

    Berbeda dengan kak Gita, aku pribadi belum menikah tapi sudah punya cita-cita jadi Ibu dan memang ingin melepas semua karirku.
    Tapi bahkan dari sekarang aja setiap aku mengutarakan keinginanku, teman-teman kerjaku bahkan sering tanya, “terus gelar S2 lo buat apa?” Atau “Lo jauh-jauh S2 di Tokyo cuma buat jadi ibu rumah tangga?”

    Memangnya salah kalau aku bercita-cita jadi Ibu? Tepatnya, memangnya salah kalau aku punya cita-cita menjadi Ibu yang berpendidikan tinggi?

    Intinya emang gak pernah ada yang bener di society kita kak Git.

  • Reply
    Addyna imadah
    August 25, 2020 at 2:01 pm

    Thankss gita, gw jadi sadar kalo tubuh gw itu hak gw. Gw pikir saat kelak jadi seorang istri gw harus totally menyerahkan diri ke suami, ternyata gw masih berhak atas tubuh gw. Rasanya kayk menghirup angin segar. So inspiringgg, spread love!

  • Reply
    Wira Suryawati
    August 25, 2020 at 5:31 pm

    Hai, kak git! Cuma mau bilang, aku sangat sangat suka dengan pemikiran kaka dan selalu ngikutin youtube kak (dengan kata lain, aku ngefans sama kaka :D). Wish, aku dapat berani ngomong dan berdiri di atas pemikiran dan pendapatku sendiri, seperti kaka. Salam dari Makassar kak πŸ–€

  • Reply
    Khatarina yustina lando
    August 28, 2020 at 6:03 am

    You made my mind open, thank you sist

  • Reply
    Oceania
    August 29, 2020 at 3:26 pm

    such a relief…
    semenjak quarantine, rasanya udah lamaa banget gak ngobrol atau bertukar opini dengan kawan puan yang lainnya. baca artikelnya kak gita, seperti diajak ngobrol. seru, asik dan to the point. thanks kak git ! πŸ™‚

  • Reply
    Anissa Faiza
    August 29, 2020 at 4:04 pm

    Aku geram banget sama opininya kak Ode, gapaham aku, seolah idup di Indo bagi cewek tuh susahh bgt gegara social norms yg terlalu patriarki.

  • Reply
    alfilia
    August 29, 2020 at 6:13 pm

    Terima kasih atas tulisannya kak gita πŸ™‚

  • Reply
    Gita
    August 31, 2020 at 10:14 am

    Thank you for saying this kak! even keluarga sendiri juga gitu. Kalau kata kakak sepupu aku sih karena pemahaman mereka yang masih kuno dan kita sudah jauh berkembang jadinya nggak cocok. Semua orang punya hak, dan laki-laki sama sekali nggak ada hak untuk meminta apa yang nggak kita suka dan mau. Kalau baca tulisan kakak aku jadi inget novel kim ji young born in 1982. Me personally mengurus diri sendiri adalah pekerjaan berat dan masih terus menerus dilakukan, tentunya ketika ada niat untuk menghidupi “manusia lain” kita juga udah harus punya persiapan yang amat sangat banyak, dan itu nggak mudah seperti yang dibilang orang.
    Aku sendiri ngerasain, budaya seperti itu masih nempel karena masih ada scene2 di sinetron ind*si*r contohnya yang merendahkan perempuan, menjadikan perempuan sebagai objek. mak gw nonton tiap hari juga :(((

  • Reply
    nana
    September 2, 2020 at 11:03 am

    Betul banget ka git! I am tottaly agree with u. Sumpah ini annoying banget sih. Boro boro kejadian kek gini di orang- orang seumuran kak gita, gue yang masih 17 tahun aja sering banget dapet pertanyaan atau statement kek gini. Gue heran kenapa temen- temen gue bisa se se-strict itu idupnya. Sering banget pas nongkrong bareng tu pada nyritain pengen nikah umur berapa, pengen punya anak berapa, well gue juga ga nge judge sih bcs itu iduonya mereka. Tapi giliran gue ditanyain, mereka selalu kayak mandang gue aneh gitu trus sok sok an ngenasehatin karena gue selalu jawab kalo gue bener- bener engga ada niatan buat punya anak. Even gue juga mikir kawin tuh entaran aja. Gue as a human being merasa kalo masih banyak hal di dunia ini yang bisa gue coba, gue pelajarin, gue jabanin. Gak cuma soal kawin aja. Lebih parahnya lagi gue pernah deket sama cowok dan sebenernya gue merasa gue sama si cowok ini tuh belum bener2 sedekt itu smpe dia ngomong2 in gimana kalo kita nikah nanti, gue bakal jadi istri dia, urusin dia, punya anak, terus dia yang bakal cari duit. What the fck, gue masih 17 tahun ya plis, kita belom sedeket itu dan lo ga punya hak buat ngomong kek gitu. Iya gue tau, bukan berarti omongan dia serius tapi gue muak denger kata- kata kek gitu. Karena dari awal deket dia aja dah kaya gitu sekarang gue jadi mikir 100x lagi. Cara pandang dia sm gue tentang perempuan itu bener bener beda. Anyway thanks banget ka git! Dunia ini emang butuh orang orang open minded kaya ka gita! <3

  • Reply
    Rizfna
    September 2, 2020 at 6:06 pm

    Hi kak Git. Awalnya lagi gabut karena gatau mau apa. Udah bosen sama sosmed. Terus iseng search “a cup of tea” karena udah lama bgt ga ngunjungin blog ini. Alhasil aku membaca artikelmu. Terima kasih telah mengutarakan perasaan perempuan selama ini. Senang bisa tahu kak Gita. Semangat terus ya, kak.

  • Reply
    orin saga
    September 3, 2020 at 5:24 pm

    wow

  • Reply
    Alfia
    September 5, 2020 at 5:08 am

    keren banget kak gita. jujur, kita sepemikiran.
    perempuan kan bukan hanya untuk lahir dan melahirkan, dia juga berhak memilih oponi hidupnya masing-masing. tapi ya gitu, masih banyak perspektif masyarakat (apalagi tetanggaku) yang menganggap perempuan itu tugasnya hanya, melahirkan, masak dan berdandan. siah, jujur ini (tadi itu), pemikiran yang paling ku benci. perempuan juga bisa memilki peran besar.

  • Reply
    R
    September 6, 2020 at 3:59 pm

    Makasih udah nambah wawasan yang belum familiar di lingkungan, karena tulisan ini saya jadi makin mempertanyakan tujuan dari segala tuntutan society 🧐

  • Reply
    olan
    September 11, 2020 at 6:04 pm

    bagus banget menambah wawasan

  • Reply
    Nica
    September 12, 2020 at 4:52 pm

    Kak gita, aku suka banget, akhirnya ada yang speak up tentang ini. People are calling me crazy when I say something like this even my family tho. I thought if no one understand me, but finally I found a lot of girls out there who had the same thought as mine <3

  • Reply
    Aurora
    September 12, 2020 at 7:20 pm

    Halo kak gita. Setuju banget sama apa yang ditulis sama kak gita. Karna setiap orang berhak nentuin hidupnya masing-masing dengan caranya sendiri bukan dengan cara orang lain. Terimakasih banyak kak!

  • Reply
    Arsyi Laila Mubarok
    September 13, 2020 at 12:26 pm

    Kalo aku pribadi sih, lebih baik memaksimalkan apa yang Allah udah berikan. dan yes emang betul kita punya hak atas diri kita, cuman gak 100%. Allah tetep bercampur tangan terhadap apa yang ingin Dia lakukan terhadap kita. aku belum menikah, tapi masih selow aja karena menurutku pernikahan itu ada timelineya masing2. dan kalo kelak aku dikasih kesempatan untuk punya keturunan, why not. itu hadiah dari Allah, dan kalo aku memilih untuk ‘tidak memiliki keturunan’ padahal aku mampu, takut di hisab di akhirat aja gitu huhuhu :'(… dannn kalo aku tidak diberikan kesempatan untuk memiliki keturunan. itu juga enggak masalah. karena itu diluar kekuasaan aku, dan bukan permasalahan yang harus aku khawatirkan secara berlebihan. toh Allah hanya menghisab apa yang Allah takdirkan pada kita, bukan yg tidak ditakdirkan.

    honestly baru buka pertama kali website kak gita, seru juga ya ternyata.. wkwkkwk. kalo kita ngeliat nya secara positive, jadi nambah insight. semangat kak gita <3

  • Reply
    Anindya
    September 15, 2020 at 12:59 pm

    Jujur kak Gita hebat banget untuk membicarakan hal yang cukup sensitif di indonesia dengan bahasa yang selogis mungkin. Serta sejauh pengetahuan aku tentang agama yang masih jauh dari kata ahli, tidak ada perintah yang mewajibkan wanita harus memiliki anak setelah menikah. Hanya saja menurut ku kak, Allah memberi kita anugrah untuk bisa mengandung dan menyusui karena memang ada kebaikan, manfaat, dan tujuan di baliknya. Aku berharap semoga suatu hari nanti ada seorang anak yang beruntung yang bisa memanggil kak Gita dengan sebutan ibu. Sehat dan sukses selalu ya kak!

Leave a Reply