Ngomong Sendiri

Perempuan

Setiap hari gue belajar bahwa nggak semua perempuan hidup dalam keberuntungan seperti gue.

Nggak semua perempuan yang di dalam rumahnya diperkenalkan kepada kesetaraan. Nggak semua perempuan punya orang tua yang meyakinkan mereka untuk jadi apapun yang mereka inginkan. Nggak semua perempuan punya orang-orang di dekatnya bahwa gender mereka bukan lah penghalang. Nggak semua perempuan mendapatkan akses ke pendidikan. Nggak semua perempuan didukung untuk sekolah, tapi malah disuruh segera menikah. Nggak semua orang sekolah di tempat yang guru-gurunya nggak membedakan antara mereka dengan siswa pria. Nggak semua perempuan mendapatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksinya. Nggak semua perempuan mendapatkan akses membeli pembalut jika mereka menstruasi tiap bulannya. Nggak semua perempuan didukung untuk mengalahkan dunia, tapi malah dipaksa untuk diam di rumah. Nggak semua perempuan bekerja di tempat, di mana mereka dibayar sesuai dengan pekerjaannya. Nggak semua perempuan bekerja di perusahaan yang memberikan hak untuk cuti hamil dan melahirkan. Nggak semua perempuan mendapatkan hak mereka, yaitu otoritas akan tubuhnya sendiri. Nggak semua perempuan punya partner yang menghargai kesetaraan dalam rumah tangga. Nggak semua perempuan punya partner yang juga mau memikul beban mengurus anaknya. Nggak semua perempuan pernah merasakan jadi setara.

Dan banyak cerita-cerita lainnya yang gue nggak tau karena gue terlalu lama hidup dengan privilese yang gue punya.

You Might Also Like

15 Comments

  • Reply
    Heny
    March 11, 2020 at 10:07 am

    Aku baru aja nulis tentang perempuan di ig, eh mampir ke blog kk baru lahir juga ttg perempuan.

    Ka, aku ngerti ginian jd gatel buat ngebenerin paham2 berat sebelah ttg gender. Mungkin ka, ini mungkin yah… ka git mmg terpilih utk membuka mata dunia yg tidak manusiawi. Ka git, sehat selalu. Berkah selalu 🙂

  • Reply
    nurmilia kadimin marto
    March 16, 2020 at 8:01 am

    tadinya gak tau kenapa pengen banget baca sesuatu di sela sela jam kerja kosong, eh tiba tiba ingat mampir di blognya kak gita aja…

    terharu saya bacanya kak…

  • Reply
    Syifa
    March 16, 2020 at 2:09 pm

    Tulisan kagit selalu ditunggu untuk open minded diri gue sendiri. Terimakasih sudah berbagi tulisan kagit✨

  • Reply
    Farisa
    March 17, 2020 at 4:26 pm

    Tulisan ka gita menarik karena ke authentic-an dari ka gitanya sendiri. Asli dari dalam pikiran dan hatinya sendiri. Makanya kenapa nyampe bgt ke pikiran dan hati gua

  • Reply
    ERFIYANA
    March 20, 2020 at 6:08 pm

    Aku selalu suka sama orang yang bisa membantu seseorang menjadi sosok yang critical thinking gt,,karena di dunia sekarang critical thinking sangat dibutuhkan. Menurut ku Critical thinking itu menuntut kita utk membuat keputusan yg dilihat dr berbagai pandangan, pendapat, kepala yg semuanya berbeda disitu kita menelaah secara matang sebelum mengambil keputusan. Dan Critical thinking ini menurut ku suatu metode jg utk menurunkan kadar keegoisan seseorang, karena banyak org yg ketika berpendapat ingin selalu benar sendiri dg didasari pandangan hanya dari satu sisi.

    Orang yg bisa membantu ku salah satunya ya OF course kk gita savitri,, thank you kk. Sorry kl panjang lebar wkwk
    Aku harap ocehan ini dibales sm kk gita😅

  • Reply
    Justitia Maulida
    March 24, 2020 at 5:07 am

    Selama himbauan untuk work from home dari pemerintah, jadi suka berselancar di google gitu. Bingung juga akdang-kadang, waktu istirahat buat ngapain ya. Nah aku langsung keinget blognya Kak Gita, siapa tahu ada postingan baru. Yang aku suka dari blog ini adalah pembawaannya yang santai tapi tetep berbobot gitu, cocok banget sama kepribadian aku yang suka hal-hal berbobot tapi mudah dicerna.

  • Reply
    [email protected]
    March 26, 2020 at 12:15 am

    yang selalu ku tunggu, tulisan kakak

  • Reply
    Tarisa hayu
    March 30, 2020 at 2:07 am

    Dan setidaknya aku beruntung menjadi wanita yg bisa menemukan blog dan bisa mengenal sosok kakak meski dlm dunia maya. Makasih atas kerja kerasnya, kagit luar biasa. Aku berharap suatu saat kita bisa bertemu dan berbincang bersama. Aamiin

  • Reply
    Maritzaputri
    April 10, 2020 at 1:04 pm

    Di part ttg perempuan ini, jadi makin sadar kalo permpuan yg lain belm tntu sama kaya yang aku alamin&rasain.. makasih ka gita,ngebuat aku makin bisa mikir lebih intro lagi 😉

  • Reply
    Happy Rahma
    April 19, 2020 at 4:32 pm

    Beruntung banget bisa nemu tulisan yang deep kayak begini. Sederhana, tapi butuh pengakuan dan pemikiran yang luas. Thanks kak git buat semua :”)

  • Reply
    hysni
    April 21, 2020 at 7:15 am

  • Reply
    Shohi Khairani
    April 29, 2020 at 3:17 am

    Kesetaraan gender. Masih perlu banget dibenerin di Indonesia. Di daerahku, perempuan masih susah kalau mau jadi pemimpin. Padahal laki-lakinya pada gak tegas.

  • Reply
    miftahun aprilinafiah
    May 14, 2020 at 9:40 am

    yah, bener banget kak git

  • Reply
    Widiyah
    May 23, 2020 at 7:23 am

    Sebagai anak perempuan, hampir setiap saat b lewati dengan perasaan tercekik, tidak adil dn seringnya berakhir dgn label anak durhaka di dlm rumah krna tdak memenuhi standard menjadi anak perempuan yg baik yg ada di lingkungan sosial maupun keluarga. Menjadi mahluk no 2 di lingkungan kluarga, tp pikul beban paling bnyak di rumah maupun di luar rumah. Sebagian besar tnggung jawab ada di tangan perempuan, perempuan diharuskan untk memastikan dn menjaga semua tatanana dn pola hidup yg sedang berlangsung hrus dalam keadaan baik² saja dn berjalan sebagaimana mestinya mnurut system yg berlaku. Tp perempuan tdak di berikn kebebasan untk menentukan akan menjadi apa dia nnti dn kehidupan seperti apa yg ingin dia jalani. Ini snd adil. Kadang b pkir b org yg sngat aneh krna berpikir seperti ini, tp seiring brjalannya waktu b jd sadar trnyata bukan b yg aneh tp system yg Ada di dalam b pu lingkungan yg kurang beres . . .

  • Reply
    Amelia Rizki
    June 12, 2020 at 12:54 pm

    Enek bgt sama orang-orang yang udah lama menganut budaya patriarki. Membebankan pekerjaan atau hal-hal umum yang memang harus bisa dikerjakan oleh laki-laki maupun perempuan, tapi malah maunya hanya dibebankan pada perempuan saja. Misalnya masalah beresin rumah, nyuci baju, nyuci piring semuanya seakan-akan kodrat perempuan dengan mengatakan perempuan tuh harus bisa gini harus bisa gitu. Padahal kan pekerjaan semacam itu memang bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.

    Clearly,Indonesian need education about gender equality.

Leave a Reply