Ngomong Sendiri

Rambut

Kemarin artikel tentang seorang atlet panahan dari Korea Selatan yang dirundung sama laki-laki di internet lantaran rambutnya yang pendek menemani perjalanan pulang gue ke rumah dari kantor. Sebagai perempuan gue sudah nggak asing lagi dengan konsep male entitlement. Banyak laki-laki yang merasa bahwa eksistensi perempuan adalah untuk memuaskan mereka entah apapun itu caranya. Maka dari itu jika lo perempuan, mungkin lo pernah disuruh senyum sama Abang-Abang yang lagi nongkrong atau bahkan kolega pria lo di kantor. Itu contoh male entitlement; menurut mereka, salah satu tugas lo sebagai perempuan adalah untuk menghibur dia dan mengisi hari mereka dengan senyuman. Atau yaa seperti yang dialami An San ini, walaupun dia udah menyumbang dua medali emas buat negaranya tercinta, ternyata hal tersebut nggak cukup untuk sebagian pria.

Dalam kasus ini, laki-laki yang nge-bully dia menganggap bahwa cewek berambut pendek itu ~feminis~. Kalo lo suka ngikutin berita All About Korea, lo pasti tau bahwa negara ini nggak seindah drama Hospital Playlist atau Reply 1988. Banyak dari mereka yang suka rasis dan misoginis. Tentu saja hal yang sebetulnya progresif seperti kesetaraan gender memiliki stigma negatif. Ternyata nggak cuma Akhi-Akhi dan Ibu-Ibu AILA aja yang alergi sama feminis. Oppa-oppa Koriya pun.

Sebagai feminis dan perempuan berambut bondol, kejadian yang menimpa An San membuat gue tergelitik untuk bercerita kenapa gue memutuskan untuk membabat habis rambut gue. Dan… *spoiler ahead* kenapa gue menyarankan perempuan untuk—at least sekali seumur hidup—cukur rambut sependek Oppa Koriya yang mau wajib militer.

“Siap, gerak!!”

Dua tahun lalu gue menonton satu video di YouTube tentang perempuan-perempuan yang payudaranya harus diangkat lantaran Kanker. Mereka bercerita gimana sedihnya mereka karena kehilangan sesuatu yang sepertinya sangat mereka hargai. Ada yang cuma murung, ada yang sampe sesegukan. Bisa dimengerti… Sebagai perempuan, payudara adalah salah satu hal yang bisa gue bilang signifikan. Banyak perempuan merasa utuh dengan memiliki payudara, mereka merasa seksi dengannya, payudara bisa memproduksi ASI untuk dikasih ke anak bayi si perempuan yang jadi ibu. Ketika hal yang selama ini menjadi identifikasi womenhood itu hilang, pasti ada rasa sedih, hampa, dan merasa “e-feminine-ated”—if the word even exists.

“Apa yang bakalan gue rasain kalo gue di posisi mereka?”

Pertanyaan ini yang terus-terusan gue tanyakan ke diri gue sendiri bahkan berhari-hari setelahnya. Pengalaman perempuan di video tersebut ternyata membuat gue sadar bahwa gue—sebagai perempuan—bahkan nggak tau apa arti menjadi perempuan. Gue nggak tau apa yang membuat gue mengidentifikasi diri sebagai perempuan selain karena gue secara fisik memenuhi kriteria “perempuan” yang selama ini gue tau; punya payudara, vagina, punya rahim, bisa menstruasi, nggak punya jakun, dan sebagainya.

It sounds simple.

Tapi apakah manusia se-simple itu?

Perlu untuk gue merombak apa yang gue mengerti soal “perempuan” ini. Perempuan adalah manusia dan sepengetahuan gue manusia adalah mahluk yang rumit. Nggak adil rasanya kalau gue hidup, membawa identitas gue sebagai perempuan dari gue orok sampai 20 tahun kemudian, tetapi yang menjadi pegangan gue untuk terus hidup sebagai perempuan hanya tanda-tanda fisik tersebut. Nggak adil untuk diri gue, tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki kesadaran utuh atas dirinya. Nggak adil juga untuk perempuan-perempuan hebat sebelum gue yang sudah memperjuangkan eksistensi kami supaya jadi manusia yang merdeka. Perempuan bukan cuma seonggok raga… Jiwa pun kami punya.

Perjalanan ini gue mulai dengan rambut.

Kenapa rambut? Karena selama gue tumbuh besar Nyokap dan sosayeti menanamkan bahwa rambut panjang itu perempuan banget. Gue masih ingat waktu Nyokap gue marah ketika gue potong rambut super pendek karena pingin ngikutin gaya anak Emo. Ternyata hari itu Nyokap mendengar Ibu-Ibu yang ngomongin gue sama temannya. Katanya mereka bingung gue cewek apa cowok. Maklum aja… Toket gue nggak gede. Waktu gue SMP, gue nggak pakai baju feminim. Kaos oblong dan celana pendek 3/4 selalu jadi gaya andalan gue keluar rumah. Ditambah jalan gue juga rada ngangkang. “Awas kalo kau potong pendek lagi!” Bu Ratna bersabda. Wow, nggak disangka ternyata masalah rambut bisa diseriusin. Semenjak itu terpatri di otak gue bahwa perempuan harus terlihat seperti “perempuan”. Whatever that means.

Karena gue nggak tau cara mencukur, gue minta Paul untuk cukurin rambut gue. Nggak butuh waktu lama, tiba-tiba gue udah bondol. Rambut gue cuma nyisa 15 mm. Apa yang pertama kali gue lakukan? Selfie dan langsung kirim ke Nyokap. Dia syok tapi kali ini nggak marah.

Ngelihat muka gue dikaca dengan kepala semi botak itu aneh. Rasanya kayak dikonfrontasi sama diri gue sendiri; gue yang selama ini punya pemahaman cukup shallow soal keperempuanan, lalu dijembreng sama figur yang nggak sesuai dengan konsep perempuan yang gue tau. Otak gue butuh waktu untuk mencerna apa yang dilihat oleh mata dan ternyata si otak butuh waktu cukup lama.

Sebulan-dua bulan gue nggak tau bagaimana harus menghadapi diri dan identitas seks gue ini. Padahal sepele, cuma cukur rambut. Baru di situ gue sadar gimana kuatnya asosiasi yang gue bikin antara rambut panjang dan gue si perempuan. Ada juga rasa malu dan merasa bodoh. Ada rasa bersalah yang kemudian bertransformasi menjadi menyalahkan diri karena bisa sedangkal ini. Kemudian gue jadi teringat akan Nyokap yang mengakui usahanya untuk menjadikan gue bocah feminim supaya nggak jadi lesbian. I don’t blame her. Mungkin dia hanya mengikuti apa yang dia pelajari dari orang tuanya. Mungkin dia nggak ada waktu dan energi untuk mengkonfrontasi dirinya akan gender. I don’t blame her because unlearning and relearning is exhausting.

But I am glad I did it. I am glad I confronted myself. Memiliki rambut cepak membantu gue untuk memutuskan satu per satu rantai patriarki yang membelenggu gue. Berambut cepak membantu gue untuk membebaskan diri dari dan konsep “cantik” dan objektifikasi. Berambut cepak mengajarkan gue untuk mendefinisikan ulang makna “perempuan” untuk diri ini. Memiliki rambut cepak memberikan gue kekuatan untuk jadi perempuan yang merdeka. This is why I encourage women to do it at least once in their lives. It feels liberating.

Another plus? Sekarang gue bisa senderan di mobil tanpa harus kehalang cepolan. Cuma sayangnya kadang gue harus dihadapi dengan pertanyaan bodoh seperti “Terus laki lo gimana?”. Pertanyaan yang sama persis kalo gue bilang gue nggak mau punya anak. Rahim punya gue, rambut punya gue, badan punya gue, tapi tetep… “Terus laki lo gimana?”

You Might Also Like

26 Comments

  • Reply
    Wulan
    July 31, 2021 at 8:24 pm

    Jika Kaka ada waktu bahas ini di channel YouTube Kaka juga ya ka,selalu nungguin video terbaru dari ka Gita 💕
    Terimakasih selalu menginspirasi.

  • Reply
    Rosiana
    July 31, 2021 at 10:01 pm

    Kejadian potong rambut kak git ini sama persis yang aku alami sih, waktu smp dulu pernah potong rambut sendiri sama temen waktu jamkos. Cukup pendek dari style rambut aku biasanya, malem-malem “disidang” sama ortu garagara ngaco potong rambut sendiri dah gitu kek cowo. Sempat nyesel sih, tapi mau gimana udah terjadi.
    Akhirnya baru setelah dewasa ini aku jadi paham, kenapa harus malu atau nggak enak hati kalau ngelakuin hal-hal diluar kebiasaan kita selagi itu baik dan gak ganggu orang lain contohnya aja potong rambut, as simple as that.
    Dari situ aku belajar, gimana harus menghargai pilihan orang lain yang berbeda dengan kita, setidaknya diem aje udah ketimbang bully orang lain.

  • Reply
    Arin
    August 1, 2021 at 1:19 am

    Cool git!
    Untuk saya yang baru memiliki rambut panjang di usia 17th… rambut pendek meberi pelajarn tersendiri untuk saya…
    Orang tua saya begitu simple “lebih baik potong pendek, kalau belum bisa rawat rambut sendiri” (ortu 22nya PNS ga ad duit tambahan wat nyalon cakep)
    Tidak ad konsep gender yang nempel di rambut…tapi lingkungan sekolah yang bikin saya kadang kesel dengan ortu saya kenapa saya selalu rajin potong rambut…
    Di sisi lain ayah saya selalu rajin memuji saya cantik setiap saya pulang dr tukang cukur (seharga 5000 rupiah) dengan wajah saya yang cemberut (karena membayangkan bullyan teman-teman lelaki perempuan bahkan guru olahraga saya di sekolah).
    Sekaramg saya tau…kalo ortu saya cuma pengen rambut saya sehat, selalin itu ayah saya yang sering bilang cantik sambil mengusap kepala saya yang cepak membuat saya belajar bahwa saya tidak perlu validasi cantik dari semua orang…atau menjadi perempuan untuk orang lain… cukuplah ayah saya yang membiayai saya merawat saya dan rutin membahas konsep cantik setiap kali pulang dari kang cukur hahahah..
    Setelah memiliki suami pun..saya rajin melakukan perawatan rambut bukan untuk suamk saya..karena saya suka memegang rambut saya habis di masker dan vitamin..berasa bersih wangi…
    Dan jika rindu rambut pendek..saya tidak.ragu memangkas habis rambut saya..dan ortu selalu komentar “duh nostalgia yaa..cantiknya anak bunda babe”
    Wkakakakak

    Alhamdulillah

  • Reply
    Tia
    August 1, 2021 at 1:53 am

    Kalo ka git nonton vidio perempuan yg harus diangkat payudaranya di youtube, kalo aku menyaksikan sendiri dengan mata aku, aku menyaksikan satu payudara ibu aku diangkat karena kanker. Aku menyaksikan betapa terpuruknya ibu aku waktu itu, tapi ibu aku lebih kuat dari yg aku bayangin. Awal kemoterapi ibu aku malah minta tolong kakek aku untuk memotomg habis rambutnya karena kata ibu dia lebih gatahan kalo harus liat rambutnya rontok dan membotak dengan sendirinya. Ketika itu aku sadar ibu ku tetap cantik kok walopun gada rambut dan aku mulai memandang semua perempuan itu cantik itu mutlak entah rambut panjang/pendek, kulit hitam/putih, badan kurus/gemuk/sexy SEMUANYA CANTIK!

  • Reply
    Ira
    August 1, 2021 at 2:33 am

    Hai kak gita, aku juga punya pengalaman serupa saat smp dulu. Aku smp mondok btw, perihal laki laki dan perempuan itu ketat banget. Jadi saat itu ada lomba mading, kita ngerjain itu sampe jam 12 malam iseng2 semua anak kelas potong rambut, ada 2 anak yg potong rambut pendek seperti laki-laki. Trus besoknya mereka dipanggil seksi keamanan. Mereka harus pake jepit rambut supaya ga terlihat seperti laki-laki.
    Aku bingung kenapa mereka harus pake jepit rrambut?

  • Reply
    Khairunisa Putri
    August 1, 2021 at 3:01 am

    Wow 😲 menarik sih buat bondol ini, gua pas potong rambut kayak cowok itu bener-bener kerasa liberated sih apalagi bondol yah 😅 menarik as always ka Gita 😍❤

  • Reply
    Nahda
    August 1, 2021 at 3:15 am

    Sekarang pun rambut w cepak pendek, ini mungkin udh kesekian kalinya and i was very comfortable for it. Pernah bgt dikatain rambutnya kok kyk cowo😒. tapi untungnya my fam fine² aja, as long as w nyaman ya why not. Potong rambut jadi pendek menurut w adalah bentuk mengekspresikan diri dan membebaskan diri dari standar kecantikan.

  • Reply
    Ackerman
    August 1, 2021 at 3:42 am

    Ya kak, aku setuju. Stigma laki-laki itu yang kadang nyebelin. Mereka memaksa supaya menjadi apa yang mereka mau ke perempuan.

  • Reply
    Puput
    August 1, 2021 at 5:01 am

    Gue juga ngerasain ka git. Waktu itu gue di temenin mama sama adek gue, iseng – iseng gue minta potong rambut cowok. Mama gue langsung kaget, dikira nya gue lagi setres lah, dll. Gue bingung aja gitu, mau jelasinnya gimana. I mean it’s just a hair. Not big deal

  • Reply
    Dhita
    August 1, 2021 at 5:37 am

    Thanks kak git, yang udah menyuarakan ini.
    Gue udah muak dengan objektifikasi atas male entitlement yang dari dulu, dari gue lahir udah mewabah dan jadi hal yg common di lingkungan gue. Bisa dikatakan, gue growing up with it. Bukan cuma rambut, bahkan ampe tinggi badan, kulit, bentuk badan ampe bentuk jari kaki juga di judge. Serasa, jadi mulai resah kalo ngeliat ada yang ngelimper dikit dari apa yang ‘perempuan’ seharusnya punya.
    Mak gue yang alhamdulillahnya ga determine gue harus ini itu, nyuruh gue potong rambut cepak karena gue males sampoan back to my childhood. Seneng dong? Banget. Ga bakal kepanasan lagi. Afterwards, gue nangis pas society ngomongin gue di belakang, tapi juga making sure kuping gue denger. Dan gue ended up nyalahin nyokap krn maksa gue buat potong rambut.

    Baca tulisan ini menggetarkan hati, ngerasa bodoh karena pernah sesakit itu cuma karena judgement orang yang sebenernya juga ga berbuat sebanyak itu di idup gue.
    Untuk urusan kulit juga begitu, gue jatoh maen sepedaan, jadinya begini, “itu kaki banyak luka ntar berbekas loh, ga bagus lagi.” Dan temen gue yg bekas luka segede gaban, ga disinggung samsek karena doi cowok.

    Plis. Hal yg kayak begitu harus banget dirubah. Gue mendukung gerakan feminis. Perempuan punya hak untuk jadi seperti apa yang mereka mau. Perempuan punya hak untuk berbuat bebas terhadap badannya sendiri.

  • Reply
    Abz
    August 1, 2021 at 7:09 am

    bener banget ka git, kadang sesuatu yang kita lakuin untuk diri kita orang sekitar lingkungan tidak menerima keputusan yang kita ambil. saat ini rambut gue gondrong, orang-orang dirumah pada bilanh “kapan potong rambu”? terus pacar gue juga bilang “ini kapan mau potong rambutnya”. ga tau deh kenapa sesuatu yang gue pilih “untuk saat ini” walaupun pada suatu waktu gue akan motong rambut gondrong gue, bisa besok, bisa, bisa bulan depan, taun depan. apalagi kuliah di seni, kepengen rasain gondrong gimana, dan tenryata banyak yang… mmmm.. ok deh dengarin aja dulu.. tapi ga tau deh minggu depan atau bulan depan mau potong rambut karena capek juga dengarin orang dirumah (apakah ini tindakan yang bener?)

  • Reply
    Amedysa
    August 1, 2021 at 11:36 am

    Insightful banget! Jadi bikin mikir ulang, ya juga yaaaa… 🤔 Tulisannya bagus terus Kak! Manteb lah pokoknya 🙌🏻✨

  • Reply
    Nur Ainun
    August 1, 2021 at 11:51 am

    Dulu waktu smp, aku dan temen² ku sering di cap nakal sama guru di sekolah. Salah satu alasannya krna kami potong rambut mohak, , waktu itu agak drama sih. Krna salah 1 temen ku yang gak pake jilbab, lagi sisiran depan kaca ruang guru trus ketahuan lah kalau rambutnya di mohak. Jadi segenk kami di periksa semua dan ketahuan lah 3 orang di mohak dan 1 orang rambutnya di semir. Heboh dong guru-guru waktu itu, sampai orang tua kami ber4 di panggil. Trus mamak ku di rumah 24 jam marah² dong sampe rambut ku di gunting . Aku gak marah sama mamak ku sih, krna bisa dibilang dia di provokasi sama guru² di sekolah. Cuman kessal sama guru² krna kejadian itu kami di foto² seolah kami kriminal.

  • Reply
    Sky
    August 1, 2021 at 2:33 pm

    Hihhh ansan malah dapet triple crown tauk kak😭😭 sedih sii liat dia di bully

  • Reply
    Sky
    August 1, 2021 at 2:34 pm

    Gold semua lagi

  • Reply
    Afifah Kusuma
    August 2, 2021 at 4:45 am

    jujur, sebenarnya bingung sama cowok-cowok yg modelnya begitu dan juga kaget. Dari kecil, Alhamdulilah dari keluarga gak pernah ada batasan antara cewek dengan cowok harus tampilan seperti apa dan harus gimana. Masalah pekerjaan, penampilan, pendidikan, selama emang kita tertarik sok lakuin dan pelajarin. tapi pas di sociality berasa bet patriakinya, kesengajaan gender dan cewek jgn sekolah tinggi2 dll. Bukan cuma covid aja yg harus hilang dari bumi tapi mental-mental yg kayak gitu juga harus hilang.

  • Reply
    Regina
    August 4, 2021 at 5:51 am

    Jadi keinget kejadian yang barusan terjadi. Gue stress bgt dimaki-maki bapak gue mulu, entah tantrum atau apa hari itu gue potong rambut pake pisau dapur, sampai pendeknya di atas leher. Sehabis gue potong bapak gue malah fokus bilang hasilnya jelek dan dengan respon jengkel bertanya-tanya kenapa gue potong rambut kaga bilang-bilang ke dia. Gue gak ngerti kenapa rambut aja mesti diatur orang lain. Sedangkan perasaan gue diabaikan. Di sisi lain, setiap ngomongin pernikahan bapak gue selalu bilang, kalau punya suami nanti jangan melawan bla bla bla. Gue jadi takutlah menikah, belum apa-apa udah kebayang suatu hari nanti gue lepas dari kontrol yang satu malah masuk ke kontrol yang lain.

  • Reply
    mutiara
    August 4, 2021 at 10:28 am

    Jadi penasaran gimana potong sependek mungkin, trus kmren iseng nanya mama “mama prnh potong pendek bgt kyk ‘potong cowo’” trus mama bilang “dulu mama rambutnya selalu kyk gitu, baru pas punya anak yg agak panjangan dikit. Enak enteng bgt dikepala”
    Wow my mom’s cool, she know her true beauty, jadi semakin yakin aku bakal nyoba potong sependek mungkin, thx ka git, you made me think of that

  • Reply
    Dinah
    August 6, 2021 at 2:29 am

    Pernah potong rambut pendek kira 15 cm karena alasan gerah,hemat shampo, kalo di kuncir suka puyeng dan menjaga lingkungan. Waktu itu pas mau keramas kayanya sampo setetes aja cukup dah. Pas ngaca emang bener sih, jadi bingung, mama juga bilang “jadi kaya laki2” terus ku bilang “emang rambut pendek itu milik laki2?” ….
    Tapi cakep juga aku potong pendek,,, hehe, aku selalu biang gitu pas ngaca..

  • Reply
    Me
    August 8, 2021 at 1:46 am

    Rambut cepak emang enak bgt, adem. Apalagi kalau botak, Weh pas keramas dahsyat bgt ademnya. Tapi kalo ngebotakin rambut udah gak pernah, paling potong pendek aja, kasian sama emak wkwkwk

  • Reply
    Silmy Nurvianty
    August 8, 2021 at 1:47 pm

    Kak Gita, aku tau kakak pertama kali dari konten di yt, berlanjut di ig, hingga sampai ke sini. Tau nggak sih, selain Mbak Najwa, kak Gita ini salah satu cerminan aku untuk betul-betul menjadi perempuan yang bisa “berdiri” sendiri. Semua pemikiran, opini, keseharian kak Gita selalu jadi representasi dari peran perempuan yang sebetulnya, dan itu beneran nampar aku untuk juga tangguh kayak kakak. Perempuan dan pemikiran seperti kakak ini menurut aku aset yang penting banget untuk dunia. Selalu semangat, ya, Kak Gita.. You mean more to me than you will ever know.. Send hug🤗❤

  • Reply
    rolianda
    August 8, 2021 at 7:40 pm

    keingat masa disekolah; ketika rambut kami panjang pasti ada guru-guru galak yg mengunting rambut kami dengan alasan supaya lebih rapi. pokoknya siswa-siswa disekolah kami melarang siswanya berambut panjang. seakan-akan kaum wanitalah yg boleh panjangin rambut. gw menilai semua itu wajar dan normal sih. mungkin harapan mereka agar bisa membedakan mana pria dan wanita. ahahah kayaknya sih 😀

  • Reply
    Dian
    August 19, 2021 at 8:01 pm

    Speak of cutting hair, Aku cukup sering potong rambut dari kecil dengan gaya2 yang ekstrim dibanding kakak2 dan saudara2ku kak Git. Pengalaman potong rambut aku paling pendek itu setelah ultah aku bulan Mei kemarin. Dari kecil selalu potong rambut sama mamaku (kebetulan mama orang salon dulunya). Dan hari itu aku bilang mau potong bondol, ga botak tapi hampir kaya laki2 pada umumnya. Pendek, ga ada poni. Yg aku rasain awalnya aneh, kaya bukan diri aku sendiri. Ngerasa ga cantik, tapi aku ga nyesel. Aku bilang ke mamaku bahwa aku puas. Setelah berhari2 menjalani keseharian dengan rambut yang katanya “rambut laki” ini, aku mulai confident. Somehow aku ngerasa ada di titik kepuasan yang beda. Meskipun mama setelah hari itu selalu bilang jangan potong pendek lagi ,karena aku kelihatan lebih kurus dan ga cantik, tapi aku ga masukin kata2 mama ke dalam hati. Yes, like you said, I don’t blame her because unlearning and relearning is exhausting. Apa yang aku tau sekarang adalah aku, diriku, semua hal yang ku mau adalah milikku. Bukan milik perkataan orang, bukan milik orangtuaku, bukan milik pasangan/keluargaku, apalagi milik society yang udah terbangun dari sejak dulu. Semoga kita perempuan semakin percaya diri untuk ngelakuin apa yang kita suka dan inginkan tanpa harus pusing dengan omongan banyak orang. Cheers to us.

  • Reply
    na.
    August 20, 2021 at 9:53 am

    Tahun lalu sempat kepikiran bondol, tapi ga ada yang motongin, dan pas aku potong sendiri malah model dora 🙁
    Tapi emang kerasa bgt bedanyabiasanya aku ribet nyari kunciran, sekarang pake kerudung tinggal pake aja gaperlu kunciran. beneran adem dan nyaman. kaya yang kagit bilang ‘kalo lagi nyenderan kepala langsung kena ke kursinya/bantalannya. jarang sakit kepala juga.

  • Reply
    NIa
    August 20, 2021 at 4:31 pm

    ‘Ngelihat muka gue dikaca dengan kepala semi botak itu aneh. …. lalu dijembreng sama figur yang nggak sesuai dengan konsep perempuan yang gue tau. Otak gue butuh waktu untuk mencerna apa yang dilihat oleh mata dan ternyata si otak butuh waktu cukup lama.’

    Baca bagian itu kok mata saya jadi pedes karena membayangkan terjadinya perubahan dalam sekejap mata, teringat luar biasanya mereka yang sangat berjuang dengan hidupnya, melawan penyakit juga melawan dan bertahan dengan komenan orang-orang kok gini kok gitu.

    Kalau aku mengalami kebalikannya. Sejak kecil selalu dipotong pendek, nggak boleh panjang. Selain karena kata ortu “belum bisa ngurus dan rawat rambut”, alasannya karena aku memiliki penyakit pernapasan yang sedikit2 alergi, sesak napas, dkk, dan pemikiran ortu adalah : rambut pun salah satu sumber debu. Jadilah dipotong pendek terus. Sampai akhirnya dibolehin panjangin rambut itu pas SMP, rasanya… WOW! bahagia hehe.

  • Reply
    Okky
    September 10, 2021 at 9:14 am

    Ketika Sampai dengan SMP kelas 1 aku cukup sering potong cepak. Di usia segitu, aku memang nggak begitu peduli dengan penampilan dan alasan ku potong cepak adalah KUTU. Lewat masa itu, aku nggak pernah potong cepak lagi sampai kemudian di usia ke 22, aku memutuskan untuk botak. Alasan dibalik adalah karena aku stress. Tapi setelah seselai potong rambut dan ngaca. Sumpah… rasanya kayak bukan aku dan aku jadi paham kenapa ada cewek yang nangis karena potong rambutnya kependekan. Disaat yang sama aku ngerasa seakan habis meruntuhkan tembok yang di buat oleh masyarakat dan diriku sendiri tentang definisi perempuan cantik dan aku merasa bebas.
    Sekarang ini rambutku udah sepanjang pundak dan ingin gundul lagi.

Leave a Reply