Browsing Tag

feminisme

    Ngomong Sendiri

    Rambut

    Kemarin artikel tentang seorang atlet panahan dari Korea Selatan yang dirundung sama laki-laki di internet lantaran rambutnya yang pendek menemani perjalanan pulang gue ke rumah dari kantor. Sebagai perempuan gue sudah nggak asing lagi dengan konsep male entitlement. Banyak laki-laki yang merasa bahwa eksistensi perempuan adalah untuk memuaskan mereka entah apapun itu caranya. Maka dari itu jika lo perempuan, mungkin lo pernah disuruh senyum sama Abang-Abang yang lagi nongkrong atau bahkan kolega pria lo di kantor. Itu contoh male entitlement; menurut mereka, salah satu tugas lo sebagai perempuan adalah untuk menghibur dia dan mengisi hari mereka dengan senyuman. Atau yaa seperti yang dialami An San ini, walaupun dia udah menyumbang dua medali emas buat negaranya tercinta, ternyata hal tersebut nggak cukup untuk sebagian pria.

    Dalam kasus ini, laki-laki yang nge-bully dia menganggap bahwa cewek berambut pendek itu ~feminis~. Kalo lo suka ngikutin berita All About Korea, lo pasti tau bahwa negara ini nggak seindah drama Hospital Playlist atau Reply 1988. Banyak dari mereka yang suka rasis dan misoginis. Tentu saja hal yang sebetulnya progresif seperti kesetaraan gender memiliki stigma negatif. Ternyata nggak cuma Akhi-Akhi dan Ibu-Ibu AILA aja yang alergi sama feminis. Oppa-oppa Koriya pun.

    Sebagai feminis dan perempuan berambut bondol, kejadian yang menimpa An San membuat gue tergelitik untuk bercerita kenapa gue memutuskan untuk membabat habis rambut gue. Dan… *spoiler ahead* kenapa gue menyarankan perempuan untuk—at least sekali seumur hidup—cukur rambut sependek Oppa Koriya yang mau wajib militer.

    “Siap, gerak!!”

    Dua tahun lalu gue menonton satu video di YouTube tentang perempuan-perempuan yang payudaranya harus diangkat lantaran Kanker. Mereka bercerita gimana sedihnya mereka karena kehilangan sesuatu yang sepertinya sangat mereka hargai. Ada yang cuma murung, ada yang sampe sesegukan. Bisa dimengerti… Sebagai perempuan, payudara adalah salah satu hal yang bisa gue bilang signifikan. Banyak perempuan merasa utuh dengan memiliki payudara, mereka merasa seksi dengannya, payudara bisa memproduksi ASI untuk dikasih ke anak bayi si perempuan yang jadi ibu. Ketika hal yang selama ini menjadi identifikasi womenhood itu hilang, pasti ada rasa sedih, hampa, dan merasa “e-feminine-ated”—if the word even exists.

    “Apa yang bakalan gue rasain kalo gue di posisi mereka?”

    Pertanyaan ini yang terus-terusan gue tanyakan ke diri gue sendiri bahkan berhari-hari setelahnya. Pengalaman perempuan di video tersebut ternyata membuat gue sadar bahwa gue—sebagai perempuan—bahkan nggak tau apa arti menjadi perempuan. Gue nggak tau apa yang membuat gue mengidentifikasi diri sebagai perempuan selain karena gue secara fisik memenuhi kriteria “perempuan” yang selama ini gue tau; punya payudara, vagina, punya rahim, bisa menstruasi, nggak punya jakun, dan sebagainya.

    It sounds simple.

    Tapi apakah manusia se-simple itu?

    Perlu untuk gue merombak apa yang gue mengerti soal “perempuan” ini. Perempuan adalah manusia dan sepengetahuan gue manusia adalah mahluk yang rumit. Nggak adil rasanya kalau gue hidup, membawa identitas gue sebagai perempuan dari gue orok sampai 20 tahun kemudian, tetapi yang menjadi pegangan gue untuk terus hidup sebagai perempuan hanya tanda-tanda fisik tersebut. Nggak adil untuk diri gue, tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki kesadaran utuh atas dirinya. Nggak adil juga untuk perempuan-perempuan hebat sebelum gue yang sudah memperjuangkan eksistensi kami supaya jadi manusia yang merdeka. Perempuan bukan cuma seonggok raga… Jiwa pun kami punya.

    Perjalanan ini gue mulai dengan rambut.

    Kenapa rambut? Karena selama gue tumbuh besar Nyokap dan sosayeti menanamkan bahwa rambut panjang itu perempuan banget. Gue masih ingat waktu Nyokap gue marah ketika gue potong rambut super pendek karena pingin ngikutin gaya anak Emo. Ternyata hari itu Nyokap mendengar Ibu-Ibu yang ngomongin gue sama temannya. Katanya mereka bingung gue cewek apa cowok. Maklum aja… Toket gue nggak gede. Waktu gue SMP, gue nggak pakai baju feminim. Kaos oblong dan celana pendek 3/4 selalu jadi gaya andalan gue keluar rumah. Ditambah jalan gue juga rada ngangkang. “Awas kalo kau potong pendek lagi!” Bu Ratna bersabda. Wow, nggak disangka ternyata masalah rambut bisa diseriusin. Semenjak itu terpatri di otak gue bahwa perempuan harus terlihat seperti “perempuan”. Whatever that means.

    Karena gue nggak tau cara mencukur, gue minta Paul untuk cukurin rambut gue. Nggak butuh waktu lama, tiba-tiba gue udah bondol. Rambut gue cuma nyisa 15 mm. Apa yang pertama kali gue lakukan? Selfie dan langsung kirim ke Nyokap. Dia syok tapi kali ini nggak marah.

    Ngelihat muka gue dikaca dengan kepala semi botak itu aneh. Rasanya kayak dikonfrontasi sama diri gue sendiri; gue yang selama ini punya pemahaman cukup shallow soal keperempuanan, lalu dijembreng sama figur yang nggak sesuai dengan konsep perempuan yang gue tau. Otak gue butuh waktu untuk mencerna apa yang dilihat oleh mata dan ternyata si otak butuh waktu cukup lama.

    Sebulan-dua bulan gue nggak tau bagaimana harus menghadapi diri dan identitas seks gue ini. Padahal sepele, cuma cukur rambut. Baru di situ gue sadar gimana kuatnya asosiasi yang gue bikin antara rambut panjang dan gue si perempuan. Ada juga rasa malu dan merasa bodoh. Ada rasa bersalah yang kemudian bertransformasi menjadi menyalahkan diri karena bisa sedangkal ini. Kemudian gue jadi teringat akan Nyokap yang mengakui usahanya untuk menjadikan gue bocah feminim supaya nggak jadi lesbian. I don’t blame her. Mungkin dia hanya mengikuti apa yang dia pelajari dari orang tuanya. Mungkin dia nggak ada waktu dan energi untuk mengkonfrontasi dirinya akan gender. I don’t blame her because unlearning and relearning is exhausting.

    But I am glad I did it. I am glad I confronted myself. Memiliki rambut cepak membantu gue untuk memutuskan satu per satu rantai patriarki yang membelenggu gue. Berambut cepak membantu gue untuk membebaskan diri dari dan konsep “cantik” dan objektifikasi. Berambut cepak mengajarkan gue untuk mendefinisikan ulang makna “perempuan” untuk diri ini. Memiliki rambut cepak memberikan gue kekuatan untuk jadi perempuan yang merdeka. This is why I encourage women to do it at least once in their lives. It feels liberating.

    Another plus? Sekarang gue bisa senderan di mobil tanpa harus kehalang cepolan. Cuma sayangnya kadang gue harus dihadapi dengan pertanyaan bodoh seperti “Terus laki lo gimana?”. Pertanyaan yang sama persis kalo gue bilang gue nggak mau punya anak. Rahim punya gue, rambut punya gue, badan punya gue, tapi tetep… “Terus laki lo gimana?”