Browsing Tag

muslim woman

    Ngomong Sendiri

    The Idea of Muslim Woman

    Gue bukan penikmat stand up comedy, namun kalau Pandji Pragiwaksono bikin show di Jerman gue pasti hadir. Udah tiga kali dia bersama rombongan ke Jerman dan menghibur penonton yang kebanyakan orang Indonesia. Kali pertama, gue jadi MC bareng Conan, MC senior dan partner kerja gue di toko Boba dulu yang sekarang udah kembali ke Indonesia. Yang kedua masih di Berlin juga dan kali itu dia datang bareng Babe Chabita. Nah, yang ketiga gue nonton di Leipzig bareng Paul, Mas Danan, Putera, dan temen-temen kami lainnya.

    Tulisan ini bukan soal Pandji, tapi soal salah satu bit dia yang selalu menempel di otak gue. Suatu kali dia membicarakan soal dirinya yang nggak suka punya penggemar alias fans. Dia bilang fans itu selalu menuntut kita untuk bertingkah laku sesuai dengan keinginan mereka. Sebagai orang yang kebetulan punya followers banyak di media sosial, tentu saja gue bisa mengerti keluh-kesah dia yang ini.

    Sejak gue main-main di media sosial, gue memang sedikit kehilangan kemerdekaan. Gue jadi nggak bisa bicara semaunya, nggak bisa bertingkah suka-suka, karena kalau salah dikit bisa dihujat. Sebenarnya ini adalah hal yang wajar. Gue rasa kehilangan kebebasan tersebut juga hadir karena makin besar tanggung jawab yang gue emban. Memang sewajarnya kalau lo adalah seorang figur publik, jaga sikap itu perlu, karena belum tentu semua followers lo adalah orang-orang yang sudah dewasa, yang tetap bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya walaupun dia ngikutin siapa pun itu di Instagram.

    Namun perkataan Pandji di sini menurut gue sangat valid; “Fans are demanding. Friends are understanding.“. Kemarin Rachel Vennya lepas jilbab. Orang-orang jadi heboh lintas medsos. Di Instagram rame, di Twitter pun sampai jadi trending topic. Reaksi orang terhadap keputusannya sesuai dengan bit-nya Pandji tersebut. Fans Rachel lebih suka dia pake jilbab dan tentunya mengekspresikan kekecewaan dan kesedihannya entah untuk apa. Bahkan ada yang menganggap Rachel bipolar dan spekulasi macem-macem seperti emak-emak Detik Forum pada ngira Rachel ada masalah sama suaminya. I call it BS.

    Menurut gue ini bukan lagi soal seorang public figure dengan pengikut lebih dari lima juta yang memiliki tanggung jawab untuk menjadi contoh baik buat penggemarnya. Ini adalah soal bagaimana Rachel sebagai perempuan–atau dalam kasus ini perempuan muslim–yang dilihat bukan sebagai manusia, namun hanya sebagai ide. Ide kaku yang ada di masyarakat muslim di Indonesia tentang bagaimana perempuan muslim seharusnya. You can argue with me by saying it’s obligatory for muslim women to wear hijab, but don’t deny the fact that you are also dismissing her humanity. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada Rachel, namun pada banyak sekali perempuan muslim di berbagai belahan dunia. We are constantly being pushed to meet the idea of how a muslim woman should be.

    Manusia itu manusia yang sangat kompleks. Dia punya masa lalu, masa sekarang, masa depan, aspirasi dan pengharapan, kemarahan dan kekecewaan, identitas, sifat, lingkungan yang membentuk diri, dan konsep diri yang bisa jadi datang dari dalam maupun dari stereotip yang dia tangkap selama dia hidup. Menjadi seorang muslim, bagaimana dia mengamini agamanya dan melihat hubungannya dengan Tuhan juga sama kompleksnya dan konsep tersebut nggak akan pernah selesai digali sampai si manusianya mati.

    Memaksakan perempuan muslim untuk berpakaian sesuai dengan ide “perempuan muslim yang ideal” bisa mengkerdilkan perjalanan spiritualitasnya, pencarian makna akan eksistensi dirinya dan Tuhannya, dan menghapuskan segala nuansa yang membuat dirinya manusia. Namun itu yang seringkali kita lakukan ke orang lain.

    Seringkali kita, sebagai muslim, dengan alasan sekadar ingin mengingatkan memaksakan kehendak kita ke orang lain. Seringkali kita menyuruh orang berlari padahal dia lagi pelan-pelan berjalan. Seringkali kita menyuruh orang terburu-buru membuat keputusan padahal dia lagi berpikir keras untuk mengerti. Seringkali kita menuntut orang untuk melakukan kewajiban ini dan itu dalam agama, tanpa menerima dirinya sebagai manusia yang utuh.

    Sebagai orang yang pernah menghadapi spiritual reset memulai dari nol mencari makna Tuhan dan bagaimana harus memaknainya, gue paham bagaimana sulitnya. Countless arguing with ourselves, agreeing and contradicting, asking thousands of questions to make sense of everything but having to give up and reassuring ourselves that it’s okay to not understand everything. Dan sebagai orang yang constantly disuruh murtad dan dibilang sesat sama warganet hanya karena pemahaman gue soal ketuhanan tidak sesuai dengan mereka, gue juga tau bagaimana rasanya kekhusyukan gue diganggu. Diganggu oleh orang yang sebenarnya nggak ada hak apa-apa atas diri gue namun memaksakan gue untuk bertingkah laku dan meyakini sesuai dengan keinginan mereka. So, I know how hard it would be for Rachel having to deal with thousands of people expressing their disappointment despite the fact that they have no rights to be sad or to be disappointed.

    Yang perlu kita ingat orang lain tidak berkewajiban untuk memuaskan ekspektasi kita. Mereka juga tidak ada kewajiban untuk menyesuaikan diri dengan standar kita. Apalagi hal yang sangat personal seperti agama. One’s spiritual journey is only theirs to take. It’s not their parent’s, kid’s, not mine and certainly not yours. Let her move forward at her own pace.