Ngomong Sendiri

The Idea of Muslim Woman

Gue bukan penikmat stand up comedy, namun kalau Pandji Pragiwaksono bikin show di Jerman gue pasti hadir. Udah tiga kali dia bersama rombongan ke Jerman dan menghibur penonton yang kebanyakan orang Indonesia. Kali pertama, gue jadi MC bareng Conan, MC senior dan partner kerja gue di toko Boba dulu yang sekarang udah kembali ke Indonesia. Yang kedua masih di Berlin juga dan kali itu dia datang bareng Babe Chabita. Nah, yang ketiga gue nonton di Leipzig bareng Paul, Mas Danan, Putera, dan temen-temen kami lainnya.

Tulisan ini bukan soal Pandji, tapi soal salah satu bit dia yang selalu menempel di otak gue. Suatu kali dia membicarakan soal dirinya yang nggak suka punya penggemar alias fans. Dia bilang fans itu selalu menuntut kita untuk bertingkah laku sesuai dengan keinginan mereka. Sebagai orang yang kebetulan punya followers banyak di media sosial, tentu saja gue bisa mengerti keluh-kesah dia yang ini.

Sejak gue main-main di media sosial, gue memang sedikit kehilangan kemerdekaan. Gue jadi nggak bisa bicara semaunya, nggak bisa bertingkah suka-suka, karena kalau salah dikit bisa dihujat. Sebenarnya ini adalah hal yang wajar. Gue rasa kehilangan kebebasan tersebut juga hadir karena makin besar tanggung jawab yang gue emban. Memang sewajarnya kalau lo adalah seorang figur publik, jaga sikap itu perlu, karena belum tentu semua followers lo adalah orang-orang yang sudah dewasa, yang tetap bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya walaupun dia ngikutin siapa pun itu di Instagram.

Namun perkataan Pandji di sini menurut gue sangat valid; “Fans are demanding. Friends are understanding.“. Kemarin Rachel Vennya lepas jilbab. Orang-orang jadi heboh lintas medsos. Di Instagram rame, di Twitter pun sampai jadi trending topic. Reaksi orang terhadap keputusannya sesuai dengan bit-nya Pandji tersebut. Fans Rachel lebih suka dia pake jilbab dan tentunya mengekspresikan kekecewaan dan kesedihannya entah untuk apa. Bahkan ada yang menganggap Rachel bipolar dan spekulasi macem-macem seperti emak-emak Detik Forum pada ngira Rachel ada masalah sama suaminya. I call it BS.

Menurut gue ini bukan lagi soal seorang public figure dengan pengikut lebih dari lima juta yang memiliki tanggung jawab untuk menjadi contoh baik buat penggemarnya. Ini adalah soal bagaimana Rachel sebagai perempuan–atau dalam kasus ini perempuan muslim–yang dilihat bukan sebagai manusia, namun hanya sebagai ide. Ide kaku yang ada di masyarakat muslim di Indonesia tentang bagaimana perempuan muslim seharusnya. You can argue with me by saying it’s obligatory for muslim women to wear hijab, but don’t deny the fact that you are also dismissing her humanity. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada Rachel, namun pada banyak sekali perempuan muslim di berbagai belahan dunia. We are constantly being pushed to meet the idea of how a muslim woman should be.

Manusia itu manusia yang sangat kompleks. Dia punya masa lalu, masa sekarang, masa depan, aspirasi dan pengharapan, kemarahan dan kekecewaan, identitas, sifat, lingkungan yang membentuk diri, dan konsep diri yang bisa jadi datang dari dalam maupun dari stereotip yang dia tangkap selama dia hidup. Menjadi seorang muslim, bagaimana dia mengamini agamanya dan melihat hubungannya dengan Tuhan juga sama kompleksnya dan konsep tersebut nggak akan pernah selesai digali sampai si manusianya mati.

Memaksakan perempuan muslim untuk berpakaian sesuai dengan ide “perempuan muslim yang ideal” bisa mengkerdilkan perjalanan spiritualitasnya, pencarian makna akan eksistensi dirinya dan Tuhannya, dan menghapuskan segala nuansa yang membuat dirinya manusia. Namun itu yang seringkali kita lakukan ke orang lain.

Seringkali kita, sebagai muslim, dengan alasan sekadar ingin mengingatkan memaksakan kehendak kita ke orang lain. Seringkali kita menyuruh orang berlari padahal dia lagi pelan-pelan berjalan. Seringkali kita menyuruh orang terburu-buru membuat keputusan padahal dia lagi berpikir keras untuk mengerti. Seringkali kita menuntut orang untuk melakukan kewajiban ini dan itu dalam agama, tanpa menerima dirinya sebagai manusia yang utuh.

Sebagai orang yang pernah menghadapi spiritual reset memulai dari nol mencari makna Tuhan dan bagaimana harus memaknainya, gue paham bagaimana sulitnya. Countless arguing with ourselves, agreeing and contradicting, asking thousands of questions to make sense of everything but having to give up and reassuring ourselves that it’s okay to not understand everything. Dan sebagai orang yang constantly disuruh murtad dan dibilang sesat sama warganet hanya karena pemahaman gue soal ketuhanan tidak sesuai dengan mereka, gue juga tau bagaimana rasanya kekhusyukan gue diganggu. Diganggu oleh orang yang sebenarnya nggak ada hak apa-apa atas diri gue namun memaksakan gue untuk bertingkah laku dan meyakini sesuai dengan keinginan mereka. So, I know how hard it would be for Rachel having to deal with thousands of people expressing their disappointment despite the fact that they have no rights to be sad or to be disappointed.

Yang perlu kita ingat orang lain tidak berkewajiban untuk memuaskan ekspektasi kita. Mereka juga tidak ada kewajiban untuk menyesuaikan diri dengan standar kita. Apalagi hal yang sangat personal seperti agama. One’s spiritual journey is only theirs to take. It’s not their parent’s, kid’s, not mine and certainly not yours. Let her move forward at her own pace.

You Might Also Like

42 Comments

  • Reply
    Khomsatun
    December 24, 2020 at 11:58 am

    Memang kurang bijak kalau kita menjudge perempuan muslim yg nggak berhijab, tapi di satu sisi ada perasaan sedih sebagai sesama muslim ketika melihat perempuan muslim yg nggak mengenakan hijab.

  • Reply
    fhanius
    December 24, 2020 at 12:41 pm

    Setuju banget, Kak. Gue juga sangat menyayangkan mereka yang sebegitu gampangnya ngomong kecewa sama keputusan Rachel. Bener2 egois bat sih, mereka ga tau struggle-nya gimana tapi komentarnya kayak yang paling ngerti hidupnya.

  • Reply
    NABILA
    December 25, 2020 at 7:58 am

    love ur thougt ka git <3

  • Reply
    vivi
    December 25, 2020 at 11:42 am

    Gue setuju sama kak gita, capek banget hidup harus menuhin standar dan ekspektaso orang lain. Tapi kayaknya masyarakat kita kultur nya memang susah utk menghargai pilihan hidup orang. Gue pun ngerasasin itu, di posisi gue kasusnya adalah gue memilih gereja yg ga sama sm ortu. Tp gue beluk seberani itu utk speak up ke mereka, jadinya selama gue masih diprovide financially sm mrk, ya gue berusaha ngalah dan menghargai.

  • Reply
    Aku
    December 25, 2020 at 2:37 pm

    Terima kasih kak gitt sudah menuangkan argumen kaka, tulisan kaka buat aku sadar betapa dan betapa aku sering bersikap ‘ngatur’ terhadap hal-hal personal orang lain secara tidak sadar. Aku mengakuinya, semoga aku bisa lebih bijak dalam bersikap. 🥰

  • Reply
    Febyana Samara Talen
    December 25, 2020 at 3:41 pm

    I do agree with you, Kak Gita

  • Reply
    Nabilah
    December 25, 2020 at 4:04 pm

    Memang sedih rasanya melihat perempuan memutuskan untuk melepas hijabnya. Tetapi kita sebagai orang yang hanya melihatnya dari jauh, seharusnya tau akan batasan batasan. Apa susahnya sesama perempuan saling mendukung tanpa menjudge?

  • Reply
    Muffnr
    December 25, 2020 at 7:21 pm

    Waktu aku tau kak rachel lepas hijab aku ngerasa lega, soalnya aku tau aku nggak ikutan sedih/kecewa kayak netijen lain atas keputusannya. Menginggat beberapa tahun lalu aku selalu mayangkan kalau ada artis yg lepas hijab. Sekarang aku lebih ngerti aja si, kalau mereka yg ambil keputusan besar pasti uda mikirin keputusannya mateng² dan pasti ada alasan kuat sehingga mereka ambil keputusan itu. Lagian, mau mereka pakai hijab atau tidak bukan urusan ku kan sebenarnya? :”)

  • Reply
    Annisa Mutiarah
    December 26, 2020 at 1:06 am

    Setuju, every muslim has their own spiritual journey and let it be theirs. We dont deserve to judge them.

  • Reply
    Haesu
    December 26, 2020 at 1:29 am

    Tapi saat kasusnya Rina Nose kakak bikin video YouTube tentang kewajiban memakai kerudung lho. Yah sebaiknya sebagai teman mengingatkan kak, ngelepas kerudung kan salah dalam Islami kok didukung? Kalau untuk mendukung biar gak stress karna “hujatan” netizen sih it’s ok tapi kalau didukung seperti “Tuhan melihat hatimu bukan pakaianmu” itu bodoh banget sih, toxic positivity. Waktu Rina Nose gak ada tuh kakak kaya gini justru “menekankan” betapa pentingnya berhijab bagi wanita muslim. See? Public figure itu pada bermuka dua memang.

    • Reply
      Gita Savitri Devi
      December 26, 2020 at 6:20 am

      Buat gw pribadi kerudung itu wajib, tapi gw bisa dong at the same time melihat perempuan sebagai manusia dan acknowledging struggle mereka? Gw bisa dong at the same time menganggap kerudung adalah private matter dan sebaiknya tidak dipaksakan ke perempuan. Gw kan sebagai manusia capable untuk berpikiran banyak hal.. Bukan berarti di video soal Rina Nose gw bilang jilbab itu kewajiban, terus gw cuma bisa mikir satu hal itu aja point blank tanpa nuances. Bukan perkara public figure bermuka dua, tapi kamu berpikirnya terlalu biner aja mungkin.

  • Reply
    Amalina Rakhmani
    December 26, 2020 at 1:49 am

    Oleh sebab itu didalam Islam menasihati seseorang juga ada adabnya; dengan hikmah (bijaksana), dengan cara yang baik, dan jika harus berdebat harus dengan cara yang paling baik, artinya harus melihat konsidi. Itu jelas ada di Al-Qur’an, An-Nahl: 125. Dan hal-hal seperti ini yang perlu ditanamkan pada masyarakat muslim kita. Namun, kita juga tidak boleh bersikap parsial. Menasihati dg cara-cara baik diatas bukan berarti kita harus membenarkan sikap orang tsb. Ada ketentuan agama yang tidak bisa berubah hanya karena sikap atau tindakan pemeluknya. Disinilah perlunya seseorang belajar menerima masukan/nasihat. Kedua pihak harus saling memahami dan mengerti bagaimana konsep nasihat dalam Islam.

  • Reply
    Wikha
    December 26, 2020 at 2:50 am

    3 hal yang diluar kendali kita
    1. Masa lalu
    2. Masa depan
    3. Pemikiran orang lain terhadap kita.
    So.. buat orang orang yang sering diatur dan dikomen gak jelas sama org lain.. keep moving guys.. i know its hard but they don’t have right buat ngatur hidup kita.
    kalau suka yaa dukung
    Kalau tdk suka, abaikan.
    as simple as that

  • Reply
    idelli
    December 26, 2020 at 2:59 am

    setuju bgt. pas kak rachel punya keputusan lepas hijab pun pasti dia banyak mempertimbangkan itu keputusan yg tepat apa engga, pasti takut sama reaksi netizen yg kita pasti bisa tebak bakalan gimana. kita kebanyakan komenin hidup orang padahal kita ga tau what they went through to get to that place in the first place. kita ga punya hak sedikitpun buat nge-judge orang lain apalagi org yang ga kita kenal.

  • Reply
    Siti Fatimah
    December 26, 2020 at 3:27 am

    Yang tambah bikin bingung adalah kenapa gitu orang sampe segitunya kalo emang nggak setuju sama keputusan Rachel. Kenapa nggak mencoba untuk bersikap ya udah gitu biar itu menjadi urusan Rachel dan Tuhannya. ahh sekarang orang-orang memang sukanya menuntut kesempurnaan dari orang lain tanpa mau melihat kurangnya diri

  • Reply
    Feby
    December 26, 2020 at 3:39 am

    Agree dgn semua pandangan kak git, terkait rachel yg buka kerudung hingga kemudian di judge bnyak org menurut aku jg sngat” tdk manusiawi krn kebanyakan netizen menghujuat pribadinya, kalau memang tidak suka dgn aksisnya melepas hijab yah jgn hujat dia apalagi sampe ngata”in yg udah kelewatan bgt. perbuatan melepas kerudung itu mmng nggak baik tapi bukan berarti kita bebas ngatain orang dengan seenaknya. Kita boleh benci aksinya tapi jangan menyerang pribadinya.

  • Reply
    Hasna
    December 26, 2020 at 4:03 am

    kita emang gatau struggle kak acel sih tpapakah emang dengan meninggalkan kewajiban (melepas hijab) bakal ease her struggle?

  • Reply
    Intan
    December 26, 2020 at 4:33 am

    Tapi gue selalu ga setuju sama komenan rekan sesama selebgram, artis, atau influencer lainnya. Stop komen “i know you rachel” “cantiknyaaa buna… ” “tetep cantik kol rachel” harus bedain sih mana yg toxic mana yang emng support. Dengan komen kaya gitu, itu malah jadi menggiring opini bahwa keputusan rachel melepas jilbab benar gasih? Gue ga bilg ya rachel itu berdosa atau tdk mengimani allah. Tp dr komenan artis kebanyakan banyak yg salah, seakan2 keputusan melepas jilbab adalah benar, seakan2 agama allah dgn keputusan berjilbab adalah salah krn selalu mengkakang umatnya, buktinya seorang yg baik kyk rachel aja memutuskan buat lepas jilbab. Harusnya para artissss atau selebgram yg lain gausah komen yang menggiring pemikirian kaya gitu ya. Tapi apapun keputusan rachel gue pribadi support sih karna namanya manusia pasti ada fase iman kendornya. Terus semangaaat buat berjuang jadi orang baik ya guys tanpa merugikan orang lain.

  • Reply
    cyukiecookies
    December 26, 2020 at 4:34 am

    thank you kak git untuk tulisannya🧡

  • Reply
    Jihan Alfiyya Anbar
    December 26, 2020 at 4:34 am

    Terima kasih kak Gita <3

  • Reply
    Annisa Rizkyta
    December 26, 2020 at 7:36 am

    Well said, Git. Idea yg lo tulis dan publikasi buat gue bukan sekedar opini, tapi argumen yg sehat, berisi, dan punya logis.

  • Reply
    Kina
    December 26, 2020 at 9:13 am

    izin komentar yaa, aku personally setuju dengan pendapat kak gita, dulu pun pada saat Rina Nose lepas hijab aku sangat merasa kecewa dan menyayangkan diikuti dengan banyak juga komentar serupa bahkan sampai berasumsi beliau murtad, tapi dari kejadian tsb aku jadi banyak belajar tentang bagaimana sebenarnya sikap kita terhadap publik figur yg mengambil keputusan serupa. Menurut aku poin yg disampaikan kak Gita tuh lebih ke hak perorangan, terlepas dari menutup aurat itu kewajiban tapi yg kita sering lupa adalah bahwa dia juga punya hak atas dirinya serta hubungannya dgn tuhannya. Aku pribadi juga tidak membenarkan Rachel Vennya atas keputusannya membuka jilbab, tapi tidak setuju bukan berarti boleh menghakimi seseorang, apalagi kalau secara pribadi kita tidak kenal jadi menurut aku kejadian ini bisa dijadikan pelajaran dan refleksi untuk diri sendiri aja sih apalagi perempuan muslim harus bagaimana menyikapi kewajiban tsb. Janganlah jadi netizen yg terlalu banyak mengurusi yg bukan urusannya.

  • Reply
    Devina PS
    December 26, 2020 at 7:12 pm

    Saya sebenarnya kurang lebih sependapat dengan Mbak Gita. Tapi karena saya bilang ‘sebenarnya’ dan ‘kurang lebih’, maka ada ‘tapi’-nya dan ada juga yang saya ingin utarakan berkaitan dengan itu. Izin saya kasih feedback di sini y a Mbak.

    Ssya setuju, orang lain esp kebanyakan orang Indonesia itu budaya-nya ngasih stigma. “Muslimah”, “Janda”, “Duda”, “Public Figure” etc etc dan mendorong orang sesuai pemikiran ideal mereka yang akhirnya menyingkirkan rasa kemanusiaan. Apalagi warganet yang serba usil, apa aja jempolnya nggak tahan buat komentar apa aja yang ada di otaknya tanpa disaring.

    Tapi saya coba berandai-andai, kalau saja Rachel Venya sebelumnya tidak berjilbab dan konsisten melakukannya selama beberapa tahun ini (boleh koreksi waktunya, karena saya kurang tau), apakah netizen akan ramai menuntut dia berjilbab?Jujur, saya rasa tidak. Yah mungkin adalah satu-dua netizen usil yang komentar “kapan berjilbab mbak?” atau “lebih cantik lagi kalau menutup aurat”, tapi sebagian besar followersnya mungkin menerima sebagaimana dia adanya, seperti banyak selebriti muslimah lainnya yang tidak berjilbab.

    Jadi, saya rasa ini murni kekecewaan followers-nya atas ketidakkonsistenan-nya atau karena dia tidak istiqomah. Eh … Tunggu dulu, benar, bukan hak followers-nya akan pencarian jati diri dan perjalanan spiritualnya, tapi kita tidak dapat menafikkan kenyataan ketika seseorang menjadi selebriti dan tetek bengek yang mengikutinya, terima endorsement, iklan, job atau politikus2 yang menebar janji, ada harapan dari pengagum2 mereka, pendukung2 mereka akan ide yang sebenarnya si selebriti sendiri yang menyematkan pada dirinya dan bisa jadi menjadi identitas dirinya.

    Intinya sich, saya cuman mau bilang kalau kita harus memahami masing-masing sudut pandang dan berpijak pada kenyataan. Public Figure cuman manusia biasa, apapun keputusannya, ya dia manusia, bukan malaikat yang nggak luput dari kesalahan, suatu kejahatan kalau masyarakat menghakimi begitu saja, setuju, sekali-sekali emang pikiran mereka harus dibuka. Tapi, public figure juga perlu fans, followers, suka tidak suka, karena public figure juga butuh, kecuali mau putar haluan. Rachel Venya, Salmafina Sunan, Rina Nose, dll, wajar kalau mereka dapat sentjmen kekecewaan dari fansnya, itu juga sangat manusiawi. Yang harus kita edukasi adalah cara penyampaian di media sosial oleh netizen dan untuk public figure bagaimana dia bisa berkomunikasi pada publik, itu nggak cuman dialami selebriti yang lepas hijab saja.

  • Reply
    Devina PS
    December 26, 2020 at 8:02 pm

    Saya juga menyoroti pandangan mbak Gita soal ide kaku mengenai perempuan muslim atau muslimah. Ketika seseorang muslimah yang melepas jilbabnya kemudian an-nahl Kimi oleh banyak Muslim lainnya karena about to say anything about cjd presa colorada Muslim young Brussels pengadilan sebagai manusia. Terlebih kondisi perpolitikan Indonesia saat ini, niqab dan jilbab syar’i dianggap radikal, pun sebaliknya jilbab modis dianggap tidak niat berhijab. Kan kan rasanya saya udah di meng oleh.. beberapa waktu lalu ada issue yang juga diangkat oleh seorang public figure mengenai pelecehan seksual di mana seseorang yang berjilbab itu juga bisa terkena pelecehan seksual jadi di bukan masalah jilbabnya jadi saya kok menangkapnya kalau nggak bahagia Pak Iwan apa-apa karena percuma sih salah mengerjakan bahwa tujuan dari jilbab itu sendiri adalah melindungi kaum perempuan, khususnya muslimah. Belum yang sekedar julid macam jilbab sebagai kedoklah, sok Arab lah, menghilangkan identitas nusantaralah, bentuk pengekanganlah, menutupi anugerah Tuhanlah, wujud pikiran sempit, terbelakang, bahkan radikal, etc etc. Point is, jika seseorang yang lepas jilbab punya hak, maka yang tetap istiqamah mempertahankan jilbabnya meski diterjang godaan dan benturan2 juga layak diapresiasi. Saya apresiasi buat mereka di kolom komentar ini. Terimakasih Mbak Gita atas kesempatannya.

  • Reply
    Devina PS
    December 26, 2020 at 8:11 pm

    Saya juga menyoroti pandangan mbak Gita soal ide kaku mengenai perempuan muslim atau muslimah (yang konon kudu berkerudung). Namun ide yang mengerdilkan ghirah seorang wanita berkerudung justru lebih parah. Terlebih kondisi dunia (bahkan Indonesia) saat ini, niqab dan jilbab syar’i dianggap radikal, pun sebaliknya jilbab modis dianggap tidak niat berhijab, kan kan rasanya saya udah di mang oleh..

    Beberapa waktu lalu ada issue yang juga diangkat oleh seorang public figure mengenai pelecehan seksual di mana seseorang yang berjilbab itu juga bisa dilecehkan. Di sisi lain membantah kaum sexist, tapi juga mengerjdilkan tujuan dari jilbab itu sendiri, yakni melindungi kaum perempuan, khususnya muslimah. Belum yang sekedar julid macam jilbab sebagai kedoklah, sok Arab lah, menghilangkan identitas nusantaralah, bentuk pengekanganlah, menutupi anugerah Tuhanlah, wujud pikiran sempit, terbelakang, sampai hanya untuk kepentingan komersial, etc etc. Point is, jika seseorang yang lepas jilbab punya hak dihargai, maka yang tetap istiqamah mempertahankan jilbabnya meski diterjang godaan dan benturan2 juga layak diapresiasi. Saya apresiasi buat mereka di kolom komentar ini. Terimakasih Mbak Gita atas kesempatannya.

    • Reply
      Gita Savitri Devi
      December 27, 2020 at 5:52 am

      Saya sangat setuju. Baju perempuan adalah otoritas tubuh mereka sendiri. Tidak boleh diusik atas alasan apapun.

  • Reply
    Nana
    December 27, 2020 at 3:10 am

    Yang paling membekas setelah baca tulisan Kak Gita:
    “Yang perlu kita ingat orang lain tidak berkewajiban untuk memuaskan ekspektasi kita. Mereka juga tidak ada kewajiban untuk menyesuaikan diri dengan standar kita.”
    Thank you Kak Git untuk tulisannya ;D

  • Reply
    May Sofa Mubina
    December 27, 2020 at 4:26 pm

    Menurut aku sendiri sih awalnya agak sulit diterima ya opini ka gita soal perempuan berjilbab, ya seperti yang sudah ka gita sampaikan tapi pada akhirnya aku ngerti maksud ka gita dan aku sangat sangat apresiasi keberanian ka gita yang selalu menyampaikan pendapatnya dengan sangat bijak. Insya allah ini akan jadi bekal aku sedikit sedikit supaya mengerti cara kita untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan kebenaran menurut agama kita sendiri. Semoga aja orang orang diluar sana bisa mengerti apa yang dimaksud ka gita, karna jujur ini bagus bgt sih klo kita bisa ya dibilang amar ma’ruf lah buat orang mungkin aja dengan cara kita yang bijaksana ini membuka hati dan pikiran manusia itu sendiri dalam mencari kebenaran dalam hidupnya. Kita ga ada yang pernah tau barangkali yang kita ucapkan akan sangat related buat seseorang, tapi kita juga perlu ingat bahwa kebaikan yang kita lakuin gabisa kita harapkan hasilnya akan sesuai dengan ekspetasi kita, itu kuasa allah.
    Terima kasih yang selalu menginspirasi, Gita Savitri Devi.

  • Reply
    Tasya
    December 28, 2020 at 2:26 am

    setuju banget!!sekian lama tungguin akhirnya ada juga hahahaha

  • Reply
    Kamalia
    December 29, 2020 at 4:20 am

    Saya tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi rechel venya sehingga memutuskan lepas hijab, tapi saya turut bersedih karena melihat saudara sesama mulimah harus melepaskan hijab yang wajib dan diperintahkan langsung oleh Sang Pencipta. Sebagai teman yang mengerti bukan berarti membenarkan tindakan yang dia lakukan, jelas dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. “ngapain mengurusin hidup orang lain” kata2 ini kadang membuat aku merinding “Padahal berdakwah itu adalah perintah dan kewajiban setiap muslim”, bagaimana jadinya kalau tidak ada lagi yang menasehati kita dalam kebenaran… Ya Rabb, Semoga Engkau melindungi kami dari kesombongan. Karena adanya setitik kesombongan itu yang membuat rasa malu dan rasa takut jadi hilang. Astaghfirullah.

  • Reply
    Priska
    December 30, 2020 at 9:39 am

    Beberapa kalimat terakhir dibagian penutup, I need to quote that. Terimakasih tulisannya Mba Git!

  • Reply
    Mistry
    January 1, 2021 at 2:28 pm

    Inspirator kuuu, semanagat truss kak utk menyajikan pemikiran kaka lewat tulisan2 di blog ini, sgt menambah wawasan jg membuka pikiran.

  • Reply
    Qiqi N.
    January 4, 2021 at 3:00 pm

    Kak Gita, mau tanya kak git baca literasi yang bahas mencari makna Tuhan dan bagaimana harus memaknainya dari mana kak?

  • Reply
    Malikah
    January 7, 2021 at 10:34 pm

    Dear Gita,
    Salam kenal, baru kali ini mampir kesini. I couldn’t agree more! Sulit jadi perempuan di negara kita. Semua orang harus mengurusi pakaian bahkan reproduksi kita. Pertanyaan seperti kok buka hijab? kpn pakai hijab?knp blm menikah? knp blm punya anak? kpn nambah anak? Itu terlontar dari org dekat bahkan kadang tidak terlalu dekat. Salam kenal dan hangat dari Switzerland ya.

  • Reply
    Anggra Dinda Rizky Wahyu Permata
    January 14, 2021 at 4:48 pm

    Seperti yang aku rasaian waktu kuliah sekarang. Di mana semua perempuannya pakai gamis dan hijab panjang, sedangkan aku masih pakai celana, kemeja, dan hijab kadang masih selempang sana sini. Laki-laki perempuan gak pernah salaman bersentuhan tangan, tapi gara-gara nggak tau, aku pernah nyodorin tangan aja. Awal masuk kuliah sampek sekarang kadang ngerasa “gila, hina banget. Kayaknya tempatku gak di sini deh”. Liat postingan mereka kalau perempuan sumber fitnah dan harusnya perempuan itu pakai rok biar tidak terlihat bentuk kaki dll aku kayak ketrigger dan ngrasa hina terus. Sampek di titik aku muak dan aku mute. Kayak aku tau ini salah, tapi mau gimana lagi. Aku bingung harus ngapain.

  • Reply
    Hilma Yumna
    January 17, 2021 at 6:44 pm

    Sebuah pencerahan dari debat sama temen seumuran yang ilmunya sama-sama dangkal. Love kak Git.

  • Reply
    Haykal
    January 24, 2021 at 12:04 pm

    I’m just curious. Ini tentang seorang muslim/muslimah yang katanya harus saling mengingatkan ketika ada sesuatu yang dirasa perilaku tersebut menyeleweng dari hukum/tuntutan/semacamnya islam. Tapi di sisi lain kita gaboleh ikut campur masalah orang lain. Kita juga emang gak ada hak untuk nuntut orang lain. Terus ini gimana? Kayak aku ngerasa kata “Toleransi” muncul buat tameng aja. Misalnya nih, misal ada orang yang bilang “sebagai perempuan muslimah kita diharuskan untuk berhijab” dan itu juga dikirim lewat pesan kayak dm atau wa. Dan setelah itu orang tadi dibilangin gini “ya terserah gue lah. Itu hak² gue. Hargai dong!!!”. Kok jadi gini(?) Aku confuse

  • Reply
    ayasiregar
    January 25, 2021 at 9:08 am

    aku sebagai mahasiswa yg itungannya masih muda dan buta bgt ttg masalah rachel vennya kemaren, aku merasa teredukasi bgt dari postingan kak gita. banyak hal-hal yang aku baru tau “ooohhh ternyata gitu yaaa….” semoga kita semua bisa menerima segala infomasi dengan sehat tanpa terpengaruhi omongan2 orang lain.

  • Reply
    Leni
    February 4, 2021 at 10:37 am

    Sepertinya ada yg memang betul2 menyayangkan karna mungkin ngerasa kehilangan ‘saudari muslim’ – nya. Dan mungkin ada Juga orang2 yg toxic dalam beragama yg bukan menyayangkan tapi lebih ke mengutuk : “nanti kena azab. Nanti masuk neraka” etc. Haha. She doesn’t change a lot. A lot change her. Kita gatau apa2 soal persoalan dia dibalik keputusannya. Always love your thoughts ka gitaaaaa mmmmmwahhhh 💋

  • Reply
    syifa
    February 8, 2021 at 7:09 am

    setuju bgt kak gitaa.

    btw, setelah baca buku rentang kisah, pandanganku tentang agama berubah, dari mikir kalau berhijab itu kewajiban, sekarang jadi yakin kalau berhijab itu sumbernya dari hati, dan saat ini aku mulai belajar berhijab, thank u so much kak git…

  • Reply
    syifa
    February 8, 2021 at 7:12 am

    setuju bgt kak gitaa.

    btw, setelah baca buku rentang kisah, pandanganku tentang agama berubah, dari mikir kalau berhijab itu kewajiban yang mengekang, sekarang jadi yakin kalau berhijab itu sumbernya dari hati, dan saat ini aku mulai belajar berhijab, thank u so much kak git…

  • Reply
    Susu Kambing Etawa ProVit
    February 9, 2021 at 9:32 am

    Saya setuju bahwa orang lain tidak berkewajiban untuk memuaskan ekspektasi kita. Mereka juga tidak ada kewajiban untuk menyesuaikan diri dengan standar kita. Karena sesungguhnya kita tidak tau ibadah kita yang mana yang diterima oleh tuhan begitupun dengan ibadah orang lain. Mengingatkan itu bagus namun jangan sampai keseringan hingga memaksakan orang lain apalagi sampe orang lain sakit hati karena sering kita ingatkan terus.

Leave a Reply