Ngomong Sendiri

There is No Place Like Home

Setiap kali gue sedang berada di Indonesia, gue sering dapet pertanyaan apakah gue akan kembali ke Jerman lagi. Jika iya, kenapa dan apakah masih ada urusan yang belum terselesaikan sehingga seorang WNI yang tinggal di luar negeri belum bisa pulang ke tanah airnya. Emangnya nggak kangen sama Indonesia?

Dari banyaknya pertanyaan serupa yang dilontarkan orang-orang, gue bisa kasih konklusi kalau konsep tinggal di luar negeri buat sebagian orang adalah hal yang nggak jelas. I get it. Seorang manusia memang butuh tempat menetap selamanya. Seorang manusia memang butuh tempat yang membuat mereka nyaman dengan segala kefamiliarannya. Dan pada umumnya, tempat yang bisa memberikan kenyamanan adalah tempat lahir kita.

Hmmm… seperti biasa isi otak gue semacam mengawang-ngawang dan gue nggak tau mana yang harus gue tulis duluan. Let start with the idea of “home”.

The reality is, I was actually grasping for the actual meaning of home since 2012, marking my two years of living abroad. Pada awalnya, Indonesia terasa sangat nyaman karena kebiasaan. Lahir dan besar di sana memberikan gue banyak banget orang-orang istimewa dan yang pasti cerita-ceritanya. Tempat-tempat yang sering gue kunjungi, suasananya, bahasanya, makanannya. Indonesia felt so familiar and that’s what I called home.

Makin lama gue meninggalkan Indonesia, kefamiliaran itu makin lama pudar. Iya, sih. Bahasa dan makanannya masih sama. Tapi 8 tahun nggak menyaksikan secara konstan perkembangan negara ini, jelas gue ketinggalan banyak hal. Jejeran gedung yang tadinya gue selalu lihat, sekarang udah diganti sama bangunan yang baru yang nggak ada di ingatan gue. Kebiasaan orang-orang lokal yang tadinya gue kenal, sekarang malah gue yang harus menyesuaikan.

Di sisi lain, Jerman makin terasa seperti guru kesayangan karena di sini lah gue pertama kalinya belajar untuk hidup seorang diri. Negara ini lah yang mengajarkan gue untuk jadi orang yang kuat. Negara ini juga yang mengajarkan gue bagaimana menjadi manusia bermental negara pertama. Dan negara ini juga yang memperlihatkan gue keberagaman agama, ras, dan warna kulit. Di sini lah gue dihadapkan oleh perbedaan dan diajarkan bagaimana menghadapinya.

More and more I felt Indonesia is not special anymore. Bukan karena gue tidak nyaman dengan sekitarannya, bukan karena gue tidak familiar dengan keadaannya. Gue terlalu familiar dengan orang-orangnya, budayanya, bahasanya. Indonesia terlalu nyaman buat gue, dan membuat gue sulit untuk berkembang

Satu hal yang gue pelajari dari semua ini, ternyata seorang manusia bisa merasa nyaman di tempat yang bukan tanah kelahirannya. Ternyata definisi rumah hanyalah ada-adaan sebagian orang yang agak khawatir meninggalkan zona nyamannya.
I found my inner peace in Germany, despite all of the inconvenience this country has constantly given me.

Isu nasionalitas adalah salah satu yang sering diangkat ke permukaan. Tinggal di luar Indonesia nggak semerta-merta membuat gue hilang kepedulian terhadapnya. Gue nggak setuju jika berada di sana adalah satu-satunya cara mengekspresikan rasa cinta kita terhadap Indonesia. Karena banyak sekali para diaspora yang setiap harinya diisi dengan kegiatan positif dan mengharumkan nama bangsa. Sedangkan ada banyak juga yang tinggal di Indonesia tapi kerjanya hanya menyusahkan negara. Merusak fasilitas umum, menyuap polisi, korupsi, buang sampah nggak pada tempatnya, nggak membudayakan antre, dan lain sebagainya.

See? You can love your country however you want. You can in fact make your country proud wherever you are. Karena di manapun kita berada, selama yang kita lakukan berdampak positif untuk sekitar, negara juga bangga kok.

Will I ever live in Indonesia forever? Mungkin. Mungkin juga tidak, karena belum terpikirkan oleh gue untuk menetap selamanya di suatu negara. Ahh.. The classic “setelah kuliah harus bekerja dan menetap” banget nggak sih?

Buat gue, mau di Indonesia, Jerman, Korea Selatan, Amerika Serikat, di manapun gue berada asalkan gue mendapatkan kesempatan untuk menantang diri gue. Asalkan gue bisa tetap proaktif berkontribusi untuk kemaslahatan anak manusia. Nggak jadi masalah. I live to experience, not to settle down. But maybe if I am old and tired of growing, I will.

But seriously, guys. The whole idea of home, work, settle down, build a family, etc are so confusing to me.

Why does someone have to stay in their hometown? Why does someone has to have a 9 to 5 job? Why does someone have to settle once she has a family?

Why does life has to be so conventional? Nobody said it has to be. Ya, kan?

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply
    Nisaqadri
    March 15, 2019 at 5:32 am

    Keren kak saya baca tulisan kak gita yg satu ini, saya selalu punya mimpi untuk menantang diri saya buat terus maju dan pingin bgt keluar dari zona nyaman, keluar dari indonesia ngeliat bagaimana dunia luar itu. Kak gita sangat menginspirasi saya, terutama untuk ngubek ngubek isi dunia yg banyak banget ga saya tau dan akhirnya jadi tau. Semoga kk selalu bisa menginspirasi banyak orang kak 🙂

Leave a Reply