Ngomong Sendiri

Tulisan Tentang Toilet

Hi folks, how have u guys been doing? I am currently in the Philippines, di suatu pulau bernama Palawan. Kemaren lusa dari El Nido, gue pindah ke Coron yang katanya lebih bagus. Tapi menurut gue pribadi, soal alam tropikal mah Indonesia yang paling mantep.

Beberapa hari ini gue merasakan rasa syukur yang particularly lebih besar karena gue dilahirin dan dibesarkan sama Emak gue. Seperti biasa, gue nggak bilang ke beliau karena nanti malah geer haha. But she did a great job raising me. She’s an awesome mother.

Salah satu hal yang diajarin sama beliau dari dulu adalah gue harus mencoba ngertiin orang lain dan jangan melulu minta dingertiin. In short, gue dididik untuk aware sama sekitar. Entah itu orang maupun lingkungan. Apparently that lesson really got into my head. After encouraging myself to meet more people, gue melihat gue punya awareness yang cukup besar dari rata-rata orang yang gue temui.

Hal-hal kecil kayak misalnya nggak mengganggu kenyamanan orang atas keseleboran kita, kejorokan kita, ketidakrapihan kita. Sampai ke tidak mengganggu orang lewat sifat dan sikap kita. Dan yang bikin gue sadar adalah betapa pentingnya mendidik seorang anak untuk punya sifat-sifat tersebut. You know human can be selfish, right? Ternyata banyak manusia yang “egois” bukan karena mereka memilih untuk hidup egois, tapi mereka nggak sadar kalo mereka begitu.

Dari tadi gue ngomong nggak jelas sih. Gue kasih contoh simpel deh nih ya. Misalkan kita ke toilet yang kita tahu akan dipake orang lain a.k.a toilet umum. Sering kali gue ngelihat ada semacam pemberitahuan di dalem cubicle toiletnya untuk meninggalkan toilet dalam keadaan awal; bersih dan kering. Dengan adanya pemberitahuan kaya gitu aja menurut gue sebenernya nggak perlu. Obviously lo harus ngebersihin lagi dong? But in reality, banyak orang yang setelah keluar dari toilet, mereka meninggalkan jejak. Entah tetesan-tetesan air yang berasal dari pan*at atau bagian tubuh lain, tetesan darah kalo misalnya itu orang lagi dapet, atau bahkan bekas tokai karena doi abis boker. 

Nah, orang ini mungkin nggak memilih untuk meninggalkan serpihan tokai di toilet tersebut. Tapi dia hanya nggak sadar ada sisa-sisa kecoklatan yang nempel di sisi-sisi toilet dan nggak kepikiran untuk ngecek dua kali. Ketidaksadaran atau keignoranan ini lah yang menurut gue sangat menyedihkan dan tentunya bikin dumbfounded. Karena buat sebagian orang, itu hanyalah tugas yang mudah. Bukan susah kayak Matematika atau Kalkulus. Lo tinggal pake mata lo, lalu scanning sekitar lo apakah semuanya udah seperti sedia kala karena nanti akan ada orang lain yang pake fasilitas ini. Ya kan? Tapi ternyata buat sebagian orang lagi, hal tersebut nggak gampang. 

Menurut gue sifat atau mentalitas kayak gini lah yang bikin gue suka kesel sama manusia. Jarang ada manusia yang bisa ngerti kalo dia itu hidup berdampingan sama orang. Ini nggak sebatas cuma menjaga kebersihan fasilitas umum lho ya. Yang kayak gini bisa berentet ke urusan lain yang lebih kompleks.

Mulai dari sekarang semoga kita bisa lebih aware sama surrounding. It takes the least effort. Nggak akan bikin lo tiba-tiba miskin atau jadi pegel-pegel karena cape. But it would make the biggest difference.

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply
    rinne
    July 5, 2019 at 6:20 am

    Tiba2 gue jadi pengen menjalankan misi rahasia, menempelkan tulisan ini di setiap toilet yang gue temuin.

    “Menyiram toilet dengan bersih bukan susah kayak Matematika atau Kalkulus. Lo tinggal pake mata lo, lalu scanning sekitar lo apakah semuanya udah seperti sedia kala karena nanti akan ada orang lain yang pake fasilitas ini”.

Leave a Reply