About Me

My Instagram

Daily Life

    Ngomong Sendiri

    New Year, New Me?

    Dua tahun lalu kayaknya waktu berjalan cepat dan nggak ada hal signifikan yang terjadi–selain film Rentang Kisah akhirnya rilis. Rasanya karena lagi pandemi, nggak terlalu ada banyak perubahan yang berarti dan waktu berasanya lempeng aja kayak jalan Tol Cipularang.

    Tahun 2021 ternyata nggak sama dengan tahun 2020. Gue lebih banyak jalan-jalan dan lebih banyak beraktivitas. Paling nggak tahun 2021 gue bisa ke satu negara baru buat gue tambahin di list negara yang udah gue kunjungi. Bulan November dan Oktober kerja gue bolak-balik London sampai kolega gue bilang gue ada tempat tinggal kedua di sana *ngarep beneran*. Film Rentang Kisah juga masih berjaya dapat lima penghargaan. Yang nggak kalah penting, gue sendiri pun lebih banyak mengalami perubahan. Bukan fisik loh, ya. Fisik gue masih begini-begini aja. Muka masih kayak bocah SMP di Korea. Tapi perubahan di dalam diri.

    Kalau tahun 2020 ada orang yang nanya di webinar, “Kak, gue tuh insecure banget. Gimana, ya, cara menghadapinya?”. Gue akan bingung jawab apa. “Ngapain ngedengerin perasaan dan pikiran yang nggak nyata, yang bisa jadi bahkan nggak sesuai dengan kenyataan yang lo punya?”. Di otak gue, rasa insecure terlalu kecil untuk bisa menjadi relevan sampai harus menjadi kekhawatiran berarti. Bukan berarti gue nggak pernah insecure. Rasa itu pasti ada. Bahkan gue pernah insecure banget waktu gue kuliah. Tiap hari gue selalu meragukan kemampuan diri untuk bisa lulus. Namun uniknya semenjak lulus, pikiran-pikiran aneh itu hilang aja. Nggak completely, tapi suaranya nggak terlalu kedengeran. Sayup-sayup. Jauh lebih besar semangat gue untuk jalan terus walaupun tujuannya juga nggak jelas apa. Yang gue tau, gue pede aja jalan ke depan.

    Dulu gue suka bingung kalau baca atau mendengar soal inferiority complex. Gue nggak ngerti kenapa–despite their achievements–seseorang bisa merasa dirinya sampah dan yang lebih parah, seperti penipu. Dia tinggal nunggu aja ada orang di luar sana yang tiba-tiba membuka fakta sesungguhnya bahwa dia selama ini cuma berpura-pura bisa. Aneh kan? Eh, nggak lama setelah bingung, ternyata gue dilanda hal yang sama; terlepas dari apa yang sudah gue raih, gue merasa gue cuma berpura-pura bisa.

    Tipikal saya, kalo ada perasaan dan pikiran aneh begini ya gue pikirin dong dia asalnya dari mana. Apakah karena beneran gue setidak mampu itu? Apakah ini karena gue terlalu sibuk ngantor dan jadi kurang waktu buat ngeminterin diri gue sendiri, hence the feeling of inadequancy? Apakah ini karena gue kebanyakan mantengin feed Instagram di mana semua orang–termasuk gue–berlomba-lomba memamerkan pencapaiannya? Atau ini adalah kombinasi semuanya? Mungkin ini adalah kombinasi semuanya. Sekarang, at least gue merasa lebih tenang karena bahkan seorang Michelle Obama pun merasa dirinya sedang menipu orang lain. THE Michelle Obama bisa berpikir bahwa dia sebenarnya nggak begitu-begitu amat.

    Selama masa perenungan di kantor, di rumah, dan di bus, gue jadi sadar bahwa gue ternyata punya hubungan yang cukup unik dengan rasa insecure ini. Kayak love-hate relationship gitu walaupun 80% nya lebih ke hate. Insecure membuat gue merasa jadi orang paling medioker di seluruh dunia. Insecure membuat gue jadi berasa kayak mahluk yang nggak terlalu ada gunanya. Insecure membuat gue jadi suka ngebandingin diri sendiri dan kadang jadi lupa sama nilai-nilai personal yang utama. Namun di sisi lain insecure menghambat dagu gue untuk mendongak ke atas dan menghalau setan di dalam diri untuk berpikir bahwa gue di atas segalanya. Insecure selalu memberi reality check tiap pagi bahwa masih ada orang-orang lain yang jauh lebih pintar dan jauh lebih hebat. Insecure juga yang memotivasi gue untuk terus membuktikan ke diri gue sendiri bahwa gue tidak sedang berpura-pura, bahwa apa yang gue raih selama ini adalah murni hasil dari kemampuan dan kerja keras yang gue lakukan. Insecure adalah salah satu trigger gue untuk terus jalan, bahkan lari, terus belajar, terus mencoba, karena gue tau bahwa apa yang gue kejar belum gue dapatkan walaupun–again–gue nggak tau sebenarnya gue sedang mengejar apa. Insecure terus-terusan melarang gue untuk berhenti karena gue tau bahwa nilai gue saat ini masih 6, belum 9 *gue nggak pernah mau jadi 10, karena kesempurnaan hanya milik Allah, anzay)*

    Makanya di tahun ini gue mau belajar lebih rajin, bekerja lebih giat, dan berdoa lebih kencang. Karena kata si insecure, gue mesti berusaha tiga kali lebih keras dibanding orang-orang biasanya. Apakah gue bisa? Mungkin gue akan bisa karena gue sudah terbiasa. Gue nggak lahir dengan otak cemerlang yang membuat gue gampang aja dapat nilai bagus di sekolah bahkan sampai S3. Boro-boro, pas S1 aja trauma. Gue nggak lahir dari keluarga kaya yang nggak perlu nunggu ulang tahun atau dapat ranking dulu untuk bisa punya sepatu baru. Gue juga nggak lahir dengan muka kayak Ana de Armas yang bisa sukses jadi model dan main di layar lebar. Insecure mengingatkan gue bahwa gue mau tidak mau harus berjuang lebih keras dari orang-orang biasanya. Dan insecure juga ngasih gue reality check sekali lagi, bahwa gue nggak bisa mengandalkan siapa-siapa.

    2021 was all about trying to accept the fact that life is suffering and requires hardwork. 2022 will be about accepting that fact and do something about it. In essence, sebetulnya ini semua balik lagi ke Gita 2018; hidup gue penuh dengan ketidakpastian tapi gue tau kalau gue akan baik-baik aja. Walaupun kali ini butuh lebih banyak usaha.

  • Ngomong Sendiri

    Rambut

    Kemarin artikel tentang seorang atlet panahan dari Korea Selatan yang dirundung sama laki-laki di internet lantaran rambutnya yang pendek menemani perjalanan pulang gue ke rumah dari kantor. Sebagai perempuan gue sudah…

  • Ngomong Sendiri

    The Idea of Muslim Woman

    Gue bukan penikmat stand up comedy, namun kalau Pandji Pragiwaksono bikin show di Jerman gue pasti hadir. Udah tiga kali dia bersama rombongan ke Jerman dan menghibur penonton yang kebanyakan orang…

  • Ngomong Sendiri

    Perempuan yang Diperdebatkan

    Dari awal gue mulai aktif dan eksis di media sosial, yaitu tahun 2016, gue mulai banyak dihadapi pertanyaan-pertanyaan ciri khas warga +62 yaitu “Kapan mau nikah, Kak?”. Iyak, pertanyaan ini lebih…

  • Ngomong Sendiri

    Drama Internet

    Hai teman-teman semuanya, gue lagi bete. Besok gue mesti ke Duisburg karena hari Senin gue harus ngaudit perusahaan yang bikin lubricants. Untungnya sih pabriknya nggak terselubung di daerah terpencil. Letaknya ada…