About Me

My Instagram

Daily Life

    Ngomong Sendiri

    Drama Internet

    Hai teman-teman semuanya, gue lagi bete. Besok gue mesti ke Duisburg karena hari Senin gue harus ngaudit perusahaan yang bikin lubricants. Untungnya sih pabriknya nggak terselubung di daerah terpencil. Letaknya ada di tengah kota dan hotel tempat gue menginap pun dekat sama stasiun utama. Tapi tetap aja bete. Padahal akhir pekan ini gue rencananya mau merenung sembari bikin materi untuk kanal YouTube. Eh, waktu liat kalender ternyata udah harus kerja. Kesel.

    Untuk melarikan diri dari kerjaan sejenak, gue pingin nulis dan mengeluarkan uneg-uneg gue. Jadi tuh beberapa minggu ini kelopak mata sebelah kiri gue nggak berhenti kedutan. Sebagai tipikal manusia modern, instead ke dokter, gue googling aja untuk mencari tau penyebab kedutan ini. Begini kata Google:

    Karena gue tidak merokok, minum alkohol, minum kafein berlebihan, punya alergi atau kurang gizi *gue nggak yakin dengan ini*, kemungkinan besar mata gue kedutan karena stress dan kebanyakan mantengin gadget. Ehm, lebih tepatnya mata gue nggak berhenti kedutan karena gue kebanyakan mantengin hape dan laptop, yang menyebabkan gue jadi stress.

    Kalau kalian kayak gue, aktif di dunia maya, pasti kalian tau kalau internet belakangan ini lagi kacau-balau. Coronavirus, Black Lives Matter, Yaman, Novel Baswedan, dan lain-lain. Di antara seabrek masalah yang lagi rame, gue bener-bener invested banget soal Black Lives Matter. Waktu itu ada satu orang komentar di video gue soal BLM. Dia berasumsi kalau gue bikin video tersebut hanya untuk ikut-ikutan karena isu ini lagi rame aja.

    Gue juga nggak tau kenapa gue sangat merasa dekat dengan isu ini. Kepedulian ini gue rasakan semenjak gue sadar akan eksistensi white supremacy. Mungkin karena gue familiar dengan negaranya. Mungkin juga karena gue banyak berinteraksi dengan African-American dan sudah familiar dengan diskrimasi yang mereka hadapi. Mungkin karena gue pribadi lebih sensitif jika dihadapkan dengan isu racial injustice karena gue juga POC di Eropa. Nggak tau juga. Yang jelas, beberapa minggu ini gue nggak bisa tidur nyenyak karena gue selalu mengikuti perkembangan kasus ini. Tiap hari gue selalu scrolling timeline, terutama Twitter. (p.s. akun gue hanya dipakai untuk stay updated dengan dunia. Gue nggak menggunakan Twitter untuk bersosialisasi dua arah karena menurut gue sekarang Twitter terlalu toksik). Selain itu gue jadi banyak banget baca berbagai macam artikel, nonton video, film, dan mendengarkan podcasts.

    Setiap hari selalu aja ada hal yang baru yang terjadi dan kebanyakan bikin gue kesal. Polisi sok-sokan ikutan kneeling lah *ew*, Nancy Pelosi dan demokrat lain melakukan moment of silence pake selendang Afrika *apaan sih*, pria kulit Hitam dibunuh karena tidur di parkiran Wendy’s *again?*, ada juga yang digantung di pohon tapi dibilangnya bunuh diri *wtf USA?*, ada juga aktivis perempuan kulit Hitam yang dibunuh setelah jadi korban kekerasan seksual *shit man*, terus beberapa hari lalu ada polisi perempuan yang misuh-misuh karena dapat pelayanan tidak memuaskan di McDonalds karena dia polisi *apaan dah lu*. Pokoknya gue selalu disodorin sama informasi baru dan hal ini secara nggak sadar bikin gue restless.

    Cringe, cringe, cringe

    Ini membuat gue jadi bertanya-tanya tentang psikis netizen, terutama yang berada di Indonesia, yang memang aktif bersosialisasi di Twitter. Sebagai orang yang pakai platform ini hanya untuk mengobservasi manusia dan mengikuti berita, terutama berita internasional, gue terkadang juga terpapar oleh drama-drama internet Indonesia. Misalnya waktu lagi rame-ramenya #ReformasiDikorupsi dan Awkarin ingin memulai karir menjadi aktivis, atau waktu Fatur, si ketua BEM UGM, yang katanya cuma mau cari panggung aja lewat aksi ini dan ujung-ujungnya jadi selebgram. Sempat juga ada yang menyenggol Anya Geraldine yang dianggap cuma posting hal-hal tidak berfaedah padahal sebagai selebgram, dia memiliki tanggung jawab moral untuk memakai platformnya lebih baik lagi. Yang baru-baru ini terjadi, dr.Tirta namanya naik sejak ada pandemi Covid-19 dan beberapa hari yang lalu dirundung netizen karena taunya dia reramean di Holywings.

    Selain drama perfiguran, Twitter Indonesia juga sering diramaikan oleh perdebatan netizen atas suatu tweet atau konten lain di internet yang sebenarnya harmless. Contohnya baru-baru ini ada yang cerita di akun Twitter-nya sewaktu dia ketemu orang yang menyesal tidak menikah. Netizen berdebatnya udah kayak seakan-akan si Mbak ini memaksa semua orang yang baca tweet tersebut buat nikah. Ada juga seorang Mbak-mbak yang ngetweet pengalaman dia konsultasi sama Dokter Gizi mengenai kesehatan anaknya yang menurun karena jadwal makan si anak berubah semenjak pandemi. Netizen tentunya berdebat lagi. Merasa kalau si Mbak ini berlebihan. Entah kenapa dan bagaimana, netizen merasa tersinggung sama thread tersebut. Padahal si Mbak nggak pernah menyindir orang-orang yang sering makan Indomie. Dia juga nggak memaksa orang-orang untuk konsumsi makanan mahal supaya gizinya bisa terpenuhi.

    Ada apaan sih? Rame bener

    Gue pernah bilang ini di Instagram Story: Netizen Indonesia itu kayak semut yang lagi kelaparan. Sekalinya ada remah-remah makanan yang jatuh ke lantai, pasti bakalan dikerubungin rame-rame. Mau itu cuma remahan makanan basi, remahan kerupuk, atau pun remahan spaghetti, pokoknya asalkan bisa dikerubungin, pasti dikerubungin. Dan di antara netizen tersebut, ada juga netizen kayak gue yang lama-lama gumoh liat netizen lain demen banget ribut-ribut nggak jelas.

    Gue pribadi masih bisa mengerti akan keributan soal isu esensial, seperti kritik terhadap pemerintah, isu keadilan sosial, ras ataupun gender. Karena gue percaya perubahan ke arah yang lebih baik akan terjadi jika masyarakat mulai angkat suara dan memulai percakapan atas hal-hal sulit seperti ini. Tapi kalau persoalan nggak penting kayak perbedaan pendapat hal-hal trivial alias sepele, gue selalu merasa heran. Kok bisa netizen punya kapabilitas energi dan mental untuk secara aktif merespon hal seperti itu?

    Menurut gue ini salah satu alasan kenapa akun @tubirfess, @infotwitwor *RIP*, atau kanal YouTube-nya Deddy Corbuzier bisa selalu ramai. Mereka tau betul bahwa banyak netizen yang nggak kritis dan perhitungan terhadap konten apa yang mau mereka investasikan energinya. Mereka tau kalau banyak netizen yang FOMO alias takut kudet sama gosip-gosip terkini. Dan netizen yang FOMO ini juga nggak sadar bahwa mereka secara tidak langsung dimanfaatkan oleh akun-akun tersebut untuk selalu meramaikan konten mereka.

    Hal ini bisa dilihat dari tingginya engagement tiap kali akun semacam ini mengunggah sesuatu konten. Kita ambil contoh video-videonya Deddy Corbuzier deh. Kalau Amerika Serikat punya Ellen Degeneres, Indonesia punya Deddy. Setiap ada hal yang lagi ramai diomongin, Deddy Corbuzier selalu gerak cepat mendatangkan orang-orang tersebut ke kanal YouTube dia dan tentunya views-nya selalu mencapai angka jutaan. Saking netizen haus akan drama, sampe-sampe Krisdayanti sama Raul Lemos aja mesti klarifikasi masalah internal mereka soal Aurel dan Azriel di YouTube-nya Deddy.

    Memantau keributan di media sosial

    Ini sebenarnya bukan hanya permasalahan yang terjadi di perinternetan Indonesia. Netizen luar negeri pun suka ngeributin hal-hal yang nggak ada faedahnya. Makanya kenapa Kardashians dan Jenners bisa kaya. Mereka cerdas karena bisa memanfaatkan sifat manusia yang haus akan gosip dan keributan, dan menjadikan netizen-netizen ini sebagai social currency mereka. Jenius, kan?

    Simpelnya, social currency adalah keberadaan dan pengaruh kita di dunia nyata dan dunia maya. Makin banyak orang ngomongin kita, makin tinggi pula social currency yang kita miliki. Kita jadi makin relevan. Hal ini ujung-ujungnya sudah pasti bisa mendatangkan uang. Bad publicity is good publicity, anyway. Mau si orang ini dicap buruk pun, exposure yang besar sudah lebih dari cukup untuk mendatangkan kekayaan bagi mereka.

    Netizen yang sama, yang mudah terpancing dan ikut serta dalam drama sepele, seringkali mempertanyakan kenapa orang-orang tersebut bisa terkenal. Netizen bingung kenapa orang kayak Awkarin bisa banyak pengikutnya. Netizen bingung kenapa orang-orang banyak nonton videonya Kekeyi. Netizen bingung kenapa Atta Halilintar bisa sering diomongin. Kenapa coba? Soalnya kita nggak berhenti membicarakan mereka. Kalau kita pingin mereka jadi nggak relevan, ya kita harus stop memberikan perhatian kepada mereka. Mau mereka lagi bikin ulah kek, mau lagi kayang kek, mau lagi masak sambil main gundu kek. Nggak usah ditanggapin. Kecuali kalau yang mereka lakukan itu ilegal, melanggar hukum dan norma-norma tertentu, atau mengganggu kemaslahatan bersama.

    Gue ambil contoh dramanya dr.Tirta. Yang membuat dr.Tirta jadi relevan dalam isu pandemi di Indonesia adalah netizen itu sendiri. Di saat kurangnya figur yang bisa diandalkan dalam menanggulangi virus Corona di negara kita, netizen sangat mengapresiasi keberadaan dr.Tirta yang langsung sigap menyebarkan awareness dan turun ke lapangan untuk membantu tim medis. Walaupun pakai goblok-goblokin orang, dia dianggap berada di sisi yang benar dalam persoalan Covid-19 ini. Nah, waktu dr.Tirta ketahuan berada di keramaian, tidak melakukan physical distancing, dan dianggap kontraproduktif dengan pesan yang selama ini disampaikan, netizen langsung merundung dr.Tirta berlebihan. Kenapa bisa kayak gitu?

    Asumsi gue, sejak awal mula dr.Tirta muncul sebagai duta Covid tidak resmi ini, netizen terlalu menyambut dia secara berlebihan. Walaupun begitu, gue bisa mengerti. Pertama, gue melihat netizen Indonesia memang seringkali ekstrim dalam menghadapi ssosok di dunia maya, terlebih jika sosok tersebut sedikit mengundang perhatian. Either you LOVE that person or you HATE that person. Padahal kita bisa, lho, netral aja terhadap seseorang tersebut. Kita nggak perlu suka banget ataupun benci banget. Apalagi terhadap figur yang ada di internet, yang nggak kita kenal secara personal dan hanya mengetahui mereka lewat persona yang mereka bentuk di dunia maya. Kedua, seperti yang barusan gue bilang, karena pemerintah Indonesia juga terlihat sangat tidak kapabel dan cekatan menghadapi masalah ini, masyarakat bingung dan tidak tau harus mengandalkan siapa. Kebetulan ini bukan film Marvel, di mana ada banyak superheroes dan kita tinggal pilih mau stanning yang mana.

    Dr. Tirta memang terlihat salah karena udah melanggar aturan physical distancing *gue nggak lihat klarifikasi dia di IG Live-nya Shopee karena gue nggak mau dimanfaatkan dia untuk tambah naikin social currency-nya. Jadi gue nggak tau apa yang sebenarnya terjadi dan nggak tertarik juga.*. Namun kemarahan netizen bukan hanya karena dia yang melanggar aturan tersebut, tapi juga karena kelakuan dr.Tirta yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Netizen merasa dr.Tirta itu hipokrit. Dr.Tirta hadir dan membentuk citra diri sebagai tokoh protagonis yang akan melawan orang yang menganggap sepele virus Corona. Selama ini dia sekeras itu terhadap orang-orang yang ngeyel nggak mau pakai masker atau diam di rumah. Dia hadir bagaikan oasis, di saat masyarakat sedang dikecewakan pemerintah dan menginginkan sosok Gundala *anjay*.

    Menurut gue seharusnya kehadiran dr.Tirta nggak perlu disambut seheboh itu. Bagus kalau dr.Tirta ikut turun ke jalan. Bagus kalau dia ikutan melakukan pengadaan APD. Bagus kalau dia membantu meringankan beban tenaga medis yang kelimpungan. Namun gue rasa, nggak ada manfaatnya juga kalau netizen terlalu memuji dan mendambakan aksi yang dia lakukan. Karena, if I am being honest, memang sudah idealnya tiap manusia memiliki rasa tanggung jawab moral tersebut dan menjadi proaktif dalam bidang yang ia paling pedulikan.

    Karena, melihat dari kenyataan yang ada, terlalu mendambakan suatu sosok bisa kemudian memberikan kita kekecewaan yang berlebihan. That being said, nggak perlu juga netizen sampai memaki dan menghina dr. Tirta. Pada akhirnya dia cuma manusia biasa. Bukan karakter pahlawan dalam film yang sengaja dibuat sedemikian rupa untuk menyenangkan kita semua, tidak pernah melakukan hal-hal yang kontroversial dan mengundang perdebatan, apapun yang dilakukan selalu disetujui oleh khalayak, dan sempurna di mata semua orang. Sekali lagi, kita semua mesti ingat bahwa kita bukan berada di suatu film. Perlakukan lah dunia nyata layaknya dunia nyata. Perlakukan lah figur dunia nyata ini sebagai manusia biasa. Bukan karakter di layar lebar.

    Maka dari itu, tanggung jawab untuk selalu kritis terhadap isu apa yang layak mendapat perhatian sebenarnya ada di tangan kita. Kita yang semestinya mengontrol bagaimana cara menghabiskan waktu dan energi yang kita miliki. Kita yang semestinya mengontrol apa dan siapa yang mau kita bicarakan. Tidak perlu kita terlalu mendewakan maupun membenci berlebihan suatu figur di internet, apalagi kalau ujung-ujungnya mereka akan diuntungkan dari hal tersebut. Kita yang punya kuasa untuk mengontrol bagaimana kita memandang seseorang.

    Sebelum ada yang protes, gue mau bilang duluan. Iya, gue tau nggak semua netizen kayak begini. Iya, gue juga tau dengan gue ngomongin influencers di atas, gue membuat mereka jadi makin relevan.

  • Travel

    A Tale of Silicon Valley

    Kalo lo mendengar kata “Silicon Valley”, mungkin yang terbesit di benak lo adalah perusahan-perusahan techies besar kayak Facebook, Google, Apple, Twitter, bahkan Tesla. Yaa… Gue pun juga begitu sebelum kejadian nggak…

  • Ngomong Sendiri

    Balada Seorang Anak

    Salah satu hal yang paling berkesan dalam menjadi dewasa adalah melihat sisi lain dari orang tua gue. Semenjak dewasa, perlahan-lahan gue sadar bahwa orang tua bukan lah sosok yang sempurna. Perlahan-lahan…

  • Ngomong Sendiri

    #BACOTnyaGitasav

    Wow, kemarin gue baru nulis sekarang nulis lagi? Sungguh #WorkFromHome yang sangat produktif. Ehm, halo semuanya. Semoga sehat selalu dan semoga kita sebisa mungkin di rumah aja kalau bukan karena terpaksa.…

  • Ngomong Sendiri

    Kita Tidak Sedang Berada di Pantai

    Mungkin ada beberapa dari kalian yang juga merasa overwhelmed dengan berita mengenai Coronavirus beberapa waktu ini. Di satu sisi gue merasa khawatir apakah gue akan terinfeksi juga. Maklum aja, di Jerman…