About Me

My Instagram

Daily Life

    Ngomong Sendiri

    Perempuan yang Diperdebatkan

    Dari awal gue mulai aktif dan eksis di media sosial, yaitu tahun 2016, gue mulai banyak dihadapi pertanyaan-pertanyaan ciri khas warga +62 yaitu “Kapan mau nikah, Kak?”. Iyak, pertanyaan ini lebih sering gue dapati dari netijen, dibanding dari keluarga atau teman-teman. Mereka kayaknya sih ngerti kalau ada obrolan lain yang lebih berfaedah ketimbang basa-basi nanyain kawin.

    Gue yakin banyak yang risih sama pertanyaan ini. Gue pun juga risih. Pertama, bahkan Nyokap gue sendiri menyarankan gue untuk nggak cepat-cepat kawin. Gue ingat banget waktu gue bilang mau menikah sama Paul di tahun 2018. Kirain dia bakalan seneng karena gue nggak perlu lama-lama pacaran lagi, eh ternyata gue salah. Dia malah menyarankan gue untuk menikah tahun depannya aja. Kedua, yang bayarin pernikahan dan menjalani rumah tangga adalah gue sendiri. Jadi kalau gue belom ada keinginan melanjutkan hubungan dan nggak ada duit, gue nggak akan kawin. Tapi tetap aja netijen selalu kepo seakan-akan mau ngasih sumbangan buat bikin pelaminan.

    Setelah gue akhirnya kawin dua tahun lalu, gue pikir hidup gue akan lebih tentram. Akhirnya akan terbebaskan dari pertanyaan-pertanyaan yang katanya sepele tapi sebenarnya cukup mengganggu. Ternyata nggak. Warga Endonesah ujug-ujug muncul dengan pertanyaan lanjutan, “Kapan mau punya anak, Kak?”. Kalo kata temen gue yang udah punya anak sih hal-hal tersebut nggak akan pernah berhenti. Bahkan kalau lo udah punya anak pun, lo akan ditanya kapan mau nambah. Udah kayak di rumah makan Padang. Cuma satu hal yang nggak ditanya warga +62 yaitu kapan kita mati. Mungkin menurut mereka pertanyaan ini terlalu ekstrim. Oke, noted.

    Kekesalan yang gue miliki ini valid. Menurut gue mempertanyakan urusan rahim perempuan itu nggak sopan dan menginvasi privasi. Namun seperti yang kita semua ketahui, nggak semua orang ngerti soal privasi. Jangankan rahim, wong masih banyak yang gampang aja ngasih nomor pribadi orang lain tanpa izin.

    Mungkin lo berpikir, “Yah, Git. Kalau dengerin omongan netizen tuh nggak ada habisnya. Diemin aja.”. Gue juga maunya gitu. Gue juga berharap gue bisa diam aja dan worry-free selamanya. Tapi berdiam diri ketika lo ditanya berkali-kali hampir setiap hari sama bermacam-macam orang ternyata nggak gampang. Terlebih jika jawaban gue kembali dipertanyakan dan mereka menuntut penjelasan.

    Lama-lama kuping panas, Bos.

    Dari awal mau menikah, gue dan Paul udah memutuskan untuk nggak punya keturunan. Kebetulan gue juga bukan tipe orang yang bisa mesem-mesem aja kalau ditanyain ini. Jadi, kalau ada yang nanya kapan gue mau punya dedek bayi, gue akan jawab apa adanya, “Nggak mau punya.”. Biasanya yang nanya akan kaget, “Loh kok gitu?”. Nah, di poin ini gue akan menimbang-nimbang dengan siapa gue berbicara. Kalau dia keluarga gue atau siapapun yang ada hubungan dekat dengan gue, gue akan elaborasi. I don’t mind having to explain my reason to them because I know they genuinely care. Berbeda jika yang bertanya adalah orang yang sekadar gue kenal atau bahkan netizen. To be completely honest, gue bahkan nggak merasa mereka berhak untuk bertanya kenapa. Mau apapun itu alasan gue, mau itu masuk akal buat lo atau nggak, mau lo setuju apa nggak, kalo itu bukan rahim lo, lo nggak ada hak untuk berkomentar. As simple as that.

    Tapi ternyata jika Engkau adalah perempuan, realita tidak akan sesimpel itu…

    Beberapa kali gue mendapati orang-orang menjadikan tubuh gue sebagai topik pembicaraan. Seru kali, ya? Ngomongin rahim orang di internet. Rasanya gimana gitu kayak lagi di arisan bareng Ibu-ibu komplek.

    Komentarnya macam-macam. Gue dianggap terlalu bar-bar, terlalu ekstrim, terlalu aneh, dan “makin hancur” *entah apa maksudnya*. Bermodal screen shot percakapan gue soal keputusan child free, mereka udah merasa paling tau alasan komplet dan isi otak gue. Mereka udah berani-beraninya mengkritisi keputusan personal gue yang padahal adalah hak gue sepenuhnya.

    Sudah pasti gue punya banyak alasan, sudah pasti gue udah memikirkan semuanya dari A sampai Z, sudah pasti gue udah mendiskusikan hal ini dengan pasangan, dan buat apa gue membeberkan alasan gue untuk childfree kepada netizen yang ujung-ujungnya akan dismissing alasan gue dan menganggapnya nggak valid atau nggak masuk akal. Buat apa gue harus menjelaskan panjang lebar ke orang yang nggak ada urusannya sama gue?

    Mau cibiran tersebut datangnya dari perempuan atau laki-laki, gue cuma bisa dibuat sakit kepala dan nyesek melihat bagaimana manusia bisa seberani itu untuk melanggar otonomi tubuh perempuan lain. Semudah itu mengomentari keputusan orang lain dan hal yang sangat personal tersebut. Tapi perkataan netijen yang satu ini so far menurut gue paling kelewat batas dan kurang ajar.

    Gue nggak tau ada berapa juta manusia yang memiliki cara berpikir seperti Kak Ode. Namun yang jelas buat gue orang-orang seperti Kak Ode adalah tipe manusia yang sebaiknya tidak dicontoh yaitu manusia sotoy, entitled, and clearly he does not know his place.

    Perkara memutuskan untuk nggak punya anak sebenarnya nggak ada hubungannya dengan tertutup atau terbukanya pikiran orang tersebut. Ini sebenarnya hanya soal hak asasi perempuan aja. Perempuan, sebagai pemilik rahim, berhak untuk memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya dia. Dan yang menurut gue juga nggak kalah penting adalah sebagai perempuan, gue memiliki kewajiban untuk unlearn, relearn, & reprogram gagasan soal keperempuanan yang terpatri di otak gue. Termasuk soal motherhood.

    Sebagai perempuan, gue dulu berpikir bahwa menjadi seorang ibu adalah the ultimate thing. Karena selama gue tumbuh besar, gue sering sekali mendengar omongan-omongan yang menyudutkan perempuan yang tidak punya anak, entah itu karena pilihannya atau karena memang dia tidak bisa. Perempuan-perempuan yang nggak punya keturunan seringkali dikasihani. Dikasihani karena hidup sendirian sampai akhir hayat itu dianggap menyedihkan dan seakan-akan tanpa anak hidup dan pengalaman si perempuan tidak lah lengkap. Mereka dikasihani oleh masyarakat seakan-akan mereka adalah perempuan yang gagal.

    Ada kepercayaan umum di masyarakat bahwa perempuan yang nggak melahirkan buah hati bukan lah perempuan yang sesungguhnya. Mengandung janin selama 9 bulan dan melahirkan anak dari rahimnya sendiri adalah pengalaman yang ajaib, yang harus dimiliki seorang perempuan agar dia secara resmi merasakan keperempuanannya.

    Yea, having a fetus to grow in a womb is science and science can be very impressive. Tapi gue nggak setuju bahwa femininitas harus berakar dan diukur dari sana. Selain hal tersebut sangat shallow, mengukur keperempuanan dari kapabilitas mereka menghasilkan anak sudah termasuk pelanggaran otonomi tubuh perempuannya sendiri and that’s such a patriachal mindset to have.

    Karena cara berpikir seperti ini lah yang membuat laki-laki seperti Kak Ode bisa merasa berhak dan lancang berkomentar tentang pilihan gue, seorang perempuan. Laki-laki seperti Kak Ode merasa berhak atas tubuh istrinya. Bahkan dia merasa buat apa dia menikah kalau dia tidak punya anak dari rahim istrinya sendiri. Sorry to break your entitled bubble, but her uterus is not yours. Menikah dengan istri bukan berarti lo memiliki tubuh istri lo.

    Gara-gara orang seperti Kak Ode dan orang-orang berlambe julid yang suka ngatur-ngatur badan perempuan, bertahun-tahun perempuan menganggap dirinya nggak punya pilihan dan merasa diri dia bukan milik dia sendiri, karena harus dihadapi banyaknya perbincangan atas tubuhnya dari orangtuanya, suami, mertua, bahkan saudara dan teman-temannya. Entah berapa ribu perempuan yang hamil dan punya anak karena beranggapan bahwa memiliki anak adalah langkah selanjutnya dan langkah satu-satunya setelah berumah tangga. Entah ada berapa perempuan di luar sana yang merasa sedih dan tidak berharga karena dia nggak bisa memberikan keturunan kepada suaminya. Entah berapa banyak perempuan di luar sana yang akhirnya tidak sadar betul dan tidak mempertanyakan keinginannya memiliki buah hati. Betul-betul karena keinginan sendiri atau karena norma dalam masyakarat? Karena memang ingin menjadi ibu atau karena mertua ingin punya cucu? Karena ingin beribadah atau hanya untuk investasi akhirat? Karena memang ingin mencetak individu yang cemerlang atau supaya nanti ada yang mengurus di hari tua dan mendoakan jika meninggal dunia? Entah berapa banyak perempuan yang menginternalisasi narasi patriarki ini dan kemudian merendahkan perempuan lain yang tidak memiliki momongan?

    Yang kemudian bikin gue geram adalah setelah suami, keluarga, dan masyarakat sekitar memaksa si perempuan untuk memiliki keturunan, tidak jarang orang-orang tersebut kemudian menumpahkan semua kewajiban mengurus anak ke si perempuan saja tanpa peduli gimana keadaannya. Si penuntut nggak peduli bagaimana kesehatan mental si ibu yang baru aja melahirkan, cuma bisa memproduksi sedikit ASI atau bahkan nggak sama sekali, kebingungan karena bayinya nangis terus.

    Si perempuan dituntut untuk memiliki multiperan; sebagai istri yang tetap memasak dan mencuci baju suami, sebagai ibu yang harus menyiapkan makanan, ganti popok, dan siap sedia kalau si anak tiba-tiba terbangun di malam hari, dan sebagai wanita karir jika dia memutuskan untuk tetap ingin memprioritaskan dirinya sendiri. Kalau keteteran di salah satu peran aja, akan ada macam-macam omongan tetangga. “Ih, kok suami mau makan malam malah disuruh masak sendiri?”, “Gimana sih itu anaknya kurus banget. Apa nggak diurus?”, “Kok kamu kerja terus sih? Tega banget nelantarin anak.”. Sementara si laki-laki bisa bebas aja mau nongkrong-nongkrong di cafe sama kolega.

    I think I made my point clear: Tidak memiliki momongan nggak lantas membuat hidup si perempuan tidak bermakna. Tidak memiliki momongan nggak membuat si perempuan lebih rendah dari perempuan lain. Bertanya kapan punya anak itu intrusif, gaslighting perempuan yang nggak mau punya anak itu nggak sopan, mocking perempuan yang nggak mau punya anak kalau dia akan berubah pikiran itu norak, menyebut perempuan yang nggak mau punya anak tidak bersyukur karena ada perempuan di luar sana pingin punya tapi malah nggak bisa itu nggak nyambung. Keputusan personal seseorang nggak harus bergantung pada realita orang lain. Kalian nggak perlu meminta si perempuan untuk memberikan alasan mereka yang masuk akal di pikiran kita, hanya supaya keputusan dia jadi valid. Perempuan bisa membuat keputusan atas diri mereka sendiri dan tubuh perempuan bukan untuk perdebatan kalian.

    Lastly, gue nggak ngerti dengan pertanyaan yang sering dilontarkan ke gue, “Kalo dikasih hamil sama Allah, gimana?”. Mungkin yang nanya sering bolos pelajaran Biologi. Perempuan nggak akan tiba-tiba hamil kalau nggak ada pembuahan. Kecuali kalo lo Maryam (AS). Itu beda cerita.

  • Ngomong Sendiri

    Drama Internet

    Hai teman-teman semuanya, gue lagi bete. Besok gue mesti ke Duisburg karena hari Senin gue harus ngaudit perusahaan yang bikin lubricants. Untungnya sih pabriknya nggak terselubung di daerah terpencil. Letaknya ada…

  • Travel

    A Tale of Silicon Valley

    Kalo lo mendengar kata “Silicon Valley”, mungkin yang terbesit di benak lo adalah perusahan-perusahan techies besar kayak Facebook, Google, Apple, Twitter, bahkan Tesla. Yaa… Gue pun juga begitu sebelum kejadian nggak…

  • Ngomong Sendiri

    Balada Seorang Anak

    Salah satu hal yang paling berkesan dalam menjadi dewasa adalah melihat sisi lain dari orang tua gue. Semenjak dewasa, perlahan-lahan gue sadar bahwa orang tua bukan lah sosok yang sempurna. Perlahan-lahan…

  • Ngomong Sendiri

    #BACOTnyaGitasav

    Wow, kemarin gue baru nulis sekarang nulis lagi? Sungguh #WorkFromHome yang sangat produktif. Ehm, halo semuanya. Semoga sehat selalu dan semoga kita sebisa mungkin di rumah aja kalau bukan karena terpaksa.…