About Me

My Instagram

Daily Life

    Ngomong Sendiri

    Nggak semuanya kayak gitu

    Sepertinya kali ini adalah vakum terlama yang pernah terjadi selama gue nge-blog 10 tahun. Mungkin untuk kalian pembaca setia A Cup of Tea, permintaan maaf dan alasan “Gue sibuk banget nih” udah basi banget ya. Namun apalah gue kalo tidak keras kepala. Gue akan tetap minta maaf dan ngasih alasan klise kenapa gue lama banget meninggalkan laman ini.

    Daripada cuma satu kalimat permohonan maaf, gue pikir lebih baik gue cerita aja apa yang sedang terjadi di balik layar saat ini. Sekarang gue sedang juggling di antara banyak kegiatan. Bekerja sebagai Technical Auditor di salah satu perusahaan sertifikasi halal, membuat video untuk kanal YouTube, menulis buku kedua, dan mengurus izin tinggal gue di Jerman. Mari kita kupas satu-satu.

    Saat gue menyinggung pekerjaan gue sebagai auditor di Instagram, banyak yang mengira gue adalah “auditor”. Di mana gue mengaudit cash flow perusahaan dan berurusan dengan angka dan pembukuan. Tunggu, apakah ini adalah job desk seorang auditor? Gue nggak tau. Gue ngasal aja sebenernya. Intinya gue bukan ngaudit duit. Yang gue lakukan adalah mengaudit beberapa bagian supply chain suatu perusahaan yang mau mendapatkan sertifikat halal. Dalam soal perhalalan, yang menjadi concern utama adalah dari mana raw materials berasal, proses produksi, packaging, dan transport barang akhir. Karena gue ada background Kimia, yang gue audit adalah hal-hal tersebut. Lagipula perusahaan yang gue audit–dan überhaupt apply sertifikasi halal–adalah perusahaan obat, kosmetik, makanan & minuman, dan terkadang yang nganeh-nganeh seperti filter air dan filter kertas.

    Hal yang gue lakukan lainnya adalah membuat video untuk kanal YouTube gue. Sebagai kreator yang nggak bisa bikin video prank atau judul clickbait, gue merasa cukup dirugikan di sini. Karena yang nonton gue adalah manusia-manusia “normal” dan “nggak neko-neko”. Sedangkan nggak banyak orang “normal” yang mencari “video normal” ketika sedang berselancar di YouTube. Biasanya orang menonton YouTube karena ingin melarikan diri dari realita atau paling tidak mencari hiburan di tengah-tengah peliknya kehidupan. Maka dari itu gue harus secara konstan membuat video supaya pendapatan gue nggak turun. Selain itu, untuk segmen Beropini, gue harus banyak-banyak mengobservasi sekeliling dan up-to-date akan hal yang terjadi di sekitar gue untuk menemukan topik menarik untuk dibicarakan. Masalahnya karena gue harus ngaudit dan nulis buku, melakukan hal demikian cukup menantang.

    Selanjutnya menulis buku. Saat ini gue sedang dalam proses membuat buku kedua. Alhamdulillah gue udah di ambang-ambang selesai. Paling nggak, gue udah tau mau menulis apa untuk dua bab selanjutnya. Menulis buku itu sebenarnya susah-susah gampang. Gampang kalau kita menyajikan satu waktu khusus untuk fokus dan memiliki kemauan yang kuat sehingga kita bisa terus dalam state of flow, sehingga kita bisa menjaga produktivitas dalam menulis. Susah kalau kita berkali-kali harus juggling antara ini dan itu, sehingga mengganggu proses masuk in the zone sebelum mulai menulis.

    “Bukunya tentang apa?”, you might ask. Seperti yang lo tau gue sedang dalam perjalanan menuju 30 before 30, misi yang gue bikin sendiri di mana gue mengunjungi 30 negara sebelum gue mencapai umur 30 tahun. Misi ini gue lakukan bukan hanya untuk jalan-jalan semata, tapi untuk menantang diri gue untuk menjadi individu yang lebih terbuka. Selama ini, selain introvert, gue adalah pribadi yang pemalu dan minderan. Menurut gue satu-satunya hal yang bisa membuat gue berubah adalah dengan menghadapi ketakutan tersebut yaitu interaksi dengan manusia.

    Gue tidak mau mengubah ke-introvert-an gue karena, surprise surprise, hal itu nggak bisa diubah. Gue juga tidak merasa menjadi manusia introvert itu merugikan diri gue. Soalnya banyak bener yang tertukar antara introvert dan socially awkward atau bahkan nggak punya social skill. Yang ingin gue perbaiki adalah level kepercayaan diri gue dan mengajarkan diri gue bagaimana berkomunikasi dan bersosialisasi. Buat sebagian orang mungkin kemampuan bersosialisasi itu nggak penting, tapi gue sadar hal tersebut malah bisa membuat diri kita jadi lebih merunduk. Pertama, kita jadi lebih tau tipe-tipe manusia. Kedua, kita jadi bisa tau bagaimana agree to disagree tanpa ngotot memaksakan pendapat. Ketiga, kita jadi belajar bagaimana menjadi pribadi yang tegas, yang tetap pada pendiriannya tapi tidak memojokkan yang lain unless partner bicaranya udah ngeselin dan kurang ajar. Keempat, pemikiran jadi bisa lebih terbuka. Kelima, koneksi dong, Bro.

    Kegiatan terakhir yang mengambil perhatian, waktu, dan energi gue adalah mengurus izin tinggal. Saat ini gue sedang pakai visa pelajar walaupun gue udah bukan pelajar lagi. Beberapa hari yang lalu Ausländerbehörde di Altona memberikan gue Fiktionsbescheinigung atau izin tinggal sementara karena gue sangat disarankan oleh mereka untuk mencari pekerjaan tetap untuk mendapatkan visa kerja. Yah begitulah… Walaupun gue sudah menemukan Ikigai gue, karena terbentur realita gue tetap harus melakukan hal yang gue sebenarnya nggak mau yaitu kerja kantoran. Tapi kalau dipikir-pikir nggak buruk-buruk amat sih. Gue hanya butuh kerja full time selama 2 tahun supaya gue bisa dapet permanent residence. Hmmm… Kerja full time 2 tahun buat orang-orang yang udah menemukan posisi wenak itu sebenarnya buruk sih. Apalagi gue orangnya sangat benci rutinitas. Berasa seperti di dalam penjara, lalu diborgol. Mari kita lihat gimana kelanjutannya untuk hal ini. Ngomong-ngomong di buku kedua gue juga banyak misuh-misuh soal visa kok. Jadi untuk kalian-kalian yang heran kenapa gue selalu julid dan menyindir paspor hijau, just read my book.

    Oke, gue rasa gue sudah cukup menjabarkan alasan gue menelantarkan blog pribadi ini selama 7 bulan. Sekarang mari kita berbicara tentang hal yang sebenarnya mau gue bicarakan di sini. Gue sedang terganggu–sebenarnya udah dari dulu sih–tapi sekarang makin nggak suka–dengan kalimat “Nggak semuanya kayak gitu.”. Gue yakin kalau lo sering melihat percakapan atau bahkan pertikaian antara netijen, lo sering banget melihat kalimat ini.

    • “Fans K-Pop tuh toxic banget deh!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
    • “Cowok tuh kenapa sih suka banget godain cewek yang lewat di jalan?!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
    • “Cewek tuh harus banget ya keluar rumah pake makeup?” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
    • “Orang Indonesia nggak bisa banget ngantri deh!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”

    Orang-orang yang memberikan counter argument “Nggak semuanya kayak gitu” tuh ngeselin. Mereka nggak paham bahwa si OP memang nggak pernah dan nggak ada maksud menilai bahwa semua fans K-Pop itu toxic, semua cowok suka ngegodain cewek di jalan, semua cewek pakai makeup, dan semua orang Indonesia nggak bisa ngantri. OP hanya membuat narasi yang berasal dari opini pribadi dan apa yang lebih sering dia lihat. OP mungkin lebih sering melihat fans K-Pop yang galak-galak dan tukang bully, ketimbang fans yang adem dan santuy. OP mungkin lebih sering bertemu dengan cowok-cowok yang suka godain dia di jalan ketimbang cowok yang diam aja kalau OP lewat. OP mungkin lebih sering melihat cewek yang berias dibanding cewek yang nggak pakai bedak atau pensil alis. OP juga mungkin lebih sering melihat orang-orang Indonesia yang sukanya nyelak antrian, ketimbang yang tertib.

    Terlebih, argumen “Nggak semuanya kayak gitu” itu Jaka Sembung bawa golok. Nggak nyambung sama inti dari pembicaraan, tapi diucapkan karena mau sok-sokan kritis, sok-sok “melihat dua sisi”, sok edgy dan sok-sok lainnya, dan sebenarnya cuma buat cari-cari kesalahan dalam suatu kalimat tapi sayangnya nggak ada poinnya.

    Saking gue muaknya dengan kalimat ini dan gue tau bahwa akan ada paling tidak SATU orang yang melempar kalimat ini ke apapun omongan gue, gue selalu kasih disclaimer “Nggak semuanya kayak gitu.”. …… Oh shit. I became someone I hate :O

    Ada satu situasi yang menurut gue kalimat “Nggak semuanya kayak gitu” itu makin ngeselin, makin salah tempat, dan makin tidak perlu diucapkan. Yaitu ketika kita, cewek-cewek, sedang misuh-misuh terhadap perlakuan cowok-cowok yang kurang ajar. Gue yakin hampir semua perempuan pernah mengalami pelecehan seksual apapun levelnya. Dari yang cuma mendapatkan siulan waktu lagi jalan ke kampus atau kantor, mendapatkan bercandaan seksis dari atasan, ditoel bokongnya saat sedang berada di gerbong KRL, atau bahkan sampai perkosa. Hal ini nyata terjadi. Gue pernah mengalaminya. Adik dan Nyokap gue pernah mengalami. Kalian para pembaca perempuan juga pernah mengalami. Pun ada dari kalian yang nggak pernah, kalian pasti kenal paling tidak satu orang yang pernah jadi korban. Namun mau senyata apapun fakta di atas, akan selalu ada–terutama laki-laki–yang mencoba menampik hal tersebut dengan kalimat “Nggak semua cowok kayak gitu.”.

    Pertama, nggak semua pria seperti itu tapi bukan berarti nggak ada. Karena kayak yang gue bilang di atas, banyak perempuan yang mengalami pelecehan seksual dan hal tersebut dilakukan oleh pria. Nggak semua laki-laki seperti itu bukan berarti sexual assault yang dilakukan tidak terjadi. Nggak semua ≠ tidak ada. Kedua, dengan memberikan argumen bodoh seperti ini, orang-orang seperti tidak mengindahkan bahwa ada perempuan-perempuan yang menjadi korban dan gue melihat mereka seakan-akan mencoba untuk tidak mengacuhkan amarah, rasa sedih, rasa jijik, dan segala emosi negatif yang muncul saat insiden tersebut terjadi kepada perempuan.

    Lalu apa solusi yang bisa orang-orang ini berikan jika respon mereka terhadap pelecehan seksual adalah “Nggak semua cowok kaya gitu.”? Poin apa yang mereka coba berikan dengan respon sok edgy macam ini? Mereka mau bilang ke kita bahwa kita lagi apes aja? Mereka mau bilang ke kita bahwa mereka berbeda? Mereka berbeda dari pria yang melecehkan kita? Mereka mau bilang kita terlalu berlebihan dalam menghadapi ini semua? Maksudnya apa?

    Menurut gue respon tersebut malah menutup kesempatan bagi laki-laki untuk menjadi ally dan membantu perempuan dengan cara memperbaiki inner circle mereka. Hal ini bisa gue bandingkan dengan saat terorisme terjadi dan kebetulan yang melakukan teror adalah orang Islam. Gue sangat lelah dengan Muslim yang berkoar-koar dan banyak bacot (terutama di media sosial) bahwa nggak semua Muslim seperti itu. Ya, memang nggak semua Muslim otaknya sengklek dan menganggap membunuh orang adalah jihad. Tapi sayangnya ada sekian persen dari Muslim yang berpikir demikian. Dan kita sebagai Muslim harusnya bertanggung jawab dan memang memiliki tugas untuk membuat counter narrative dan mempromosikan Islam moderat untuk mencoba mengalahkan para ekstrimis ini. Karena apa? Karena itu agama kita. Karena orang-orang yang ekstrim ini sayangnya memiliki label yang sama dengan kita. Mereka adalam Muslim.

    Daripada capek-capek merasa tersinggung, merasa tidak direpresentasikan dengan tepat dan dicap tidak sesuai dengan kemauan lo, dan selalu nge-Nggak semuanya kayak gitu-in apapun narasi yang lo lihat di masyarakat, mendingan lo coba berusaha menjadi representasi yang baik atas apapun label yang lo representasikan.

    Jika lo adalah fans K-Pop, daripada lo misuh-misuh melihat orang memberikan imej negatif terhadap itu, mending lo jadikan ini kesempatan untuk menjadi contoh fans K-pop santuy yang berbeda dari apa yang kebanyakan orang lihat. Daripada lo bacot-bacot ke orang non Muslim yang bilang bahwa orang Muslim itu teroris, mending lo usaha untuk membangun citra Islam yang adem-ayem, yang memang sesuai dengan ajaran Rasulullah. Daripada lo (hai para lelaki) merasa tersinggung karena dianggap cabul dan suka melakukan pelecehan, mendingan lo edukasi diri lo DAN mengedukasi fellow men di lingkaran lo bagaimana cara menghadapi perempuan yang sebenarnya.

    Hai kamu, memang nggak ada kok yang bilang semuanya kayak gitu. Itu semua cuma otakmu yang tercemar hatimu yang tersinggung dengan “generalisasi” yang orang lain buat terhadap kelompokmu saja. Kita-kita juga tau nggak semuanya kayak gitu. Kita juga nggak lagi ngomongin *kamu*, tapi orang-orang di kelompokmu. Nggak semua narasi harus tentang diri kamu kok. Kamu aja yang sensitip kali ah.

  • Ngomong Sendiri

    Manusia Bodoh

    Before writing about anything, I want to make it as clear as possible: I drop out of school. Gue memutuskan untuk tidak meneruskan studi Master gue karena ternyata diri gue masih…

  • Ngomong Sendiri

    Doraemon Aja Lebih Ngerti…

    Berapa kali gue membahas tentang masalah ini di blog? I lost count and sorry for being repetitive. Because it’s actually one of my biggest pet peeves. Kemarin untuk keratusankalinya salah satu…

  • Ngomong Sendiri

    Thank you, next.

    Tulisan terakhir ini saya dedikasikan untukmu, Gita. Terima kasih karena sudah menjadi pribadi yang selalu memiliki rasa ingin tahu, ingin mengerti, dan tidak mudah menerima begitu saja semua tradisi dan hal-hal…